
Ethan baru saja terbangun dari tidurnya,setelah semalam mengalami kejadian tak menyenangkan.Dia melirik ke arah Lily yang asyik tertidur dalam dekapan Ethan sambil memeluk tubuhnya.Ethan pun berbalik dan menatap jam yang bertengger di atas nakas,pukul 3 malam.
Dengan pelan Ethan menurunkan kepala istrinya ke atas bantal dan memindahkan tangan serta kakinya ke bantal guling khusus untuk ibu hamil yang dibelinya untuk Lily.
Setelah berhasil melepaskan diri tanpa membuat istrinya terbangun,Ethan keluar dari selimut dan menarik jubah tidurnya yang tergeletak di kursi rias Lily.Sambil berjinjit,ia meninggalkan kamarnya dengan menenteng tas laptop,tempat kacamata dan handphonenya.
Begitu menutup pintu dari luar,Ethan kembali berjalan dengan normal dan menghampiri meja makan.Ia mengeluarkan laptop dan kacamatanya seolah sedang bersiap mengerjakan sesuatu.Setelah merenggangkan tangan serta kepalanya,dia mulai menekan tombol keyboard dengan lincah,tanpa jeda sedikit pun.Sesekali ia berjalan untuk mengambil air,lalu melanjutkan pekerjaannya
Tepat setengah lima subuh,tangannya pun berhenti bergerak.Ia tersenyum lega sambil memijit pangkal hidungnya yang sudah nampak lelah.Baru saja ingin mematikan laptopnya,Lily keluar dari kamar menggunakan baju tidurnya.
"Kamu sudah bangun sayang?",tanya Ethan sambil menoleh ke arah istrinya.
"Kak Ethan ngapain jam segini?",ucap Lily dengan mata yang masih setengah mengantuk.
Lily berjalan Menghampiri Ethan yang masih duduk di kursi.Ia mengalungkan tangannya dari belakang dan mengecup pipi Ethan dengan lembut.
"Aku menyelesaikan kontrak perjanjian milik Michelle,agar bisa diserahkan pagi ini,sebelum Deni berangkat ke Indonesia nanti malam."
Setelah mendengar ucapan Ethan barusan,Lily menatap tajam ke arahnya.
"Apa Kak Ethan tetap ingin melanjutkan kerjasama dengan wanita itu?",tanya Lily penasaran.
Ethan menarik lengan Lily dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
"Kerjasama terap kerjasama.Lagipula proyek ini akan ku serahkan pada paman dan tim perusahaan.Sesuai planning,setelah tahun baru,kita akan pulang ke Indonesia",ucap Ethan sambil mengecup pundak istrinya.
Namun rasa khawatir Lily masih menghantui pikirannya.
"Tidak usah khawatir,Alex akan tiba lusa!Jika diperlukan untuk hadir,aku akan menyuruh Alex yang menemuinya",bujuk Ethan sambil merangkul istrinya.
"Bagaimana kalau dia juga berusaha menodai Alex?Wajahnya kan mirip denganmu!Dia hanya lebih tinggi dan tegap darimu dan wajahnya sedikit lebar.Tidak,tidak!Dia bahkan lebih cocok jadi sasaran empuk para pemangsa pria muda",Lily mulai meracau.
"Sebelum Alex dinodai,dia sudah lebih dulu menyerahkan dirinya",ucap Ethan sambil tertawa.
Namun bukannya tertawa,Lily justru menyentil bibir Ethan,membuatnya terkejut dan memasang tampang berdosa.
"Maaf sayang jangan marah",ucapnya sambil mengecup seluruh wajah Lily hingga ia tertawa geli.
Puas menggoda istrinya,Ethan memeluknya dengan erat,sambil mengelus perut istrinya dengan lembut.
"Kalian tenang-tenang di dalam ya,jangan nakal-nakal di dalam perut Ibu,okey?!",ucap Ethan lembut.
Lily mengalungkan kedua tangannya ke pundak Ethan dan duduk menyamping di pangkuan suaminya.
"Bagaimana kalau Ibunya yang nakal?Apa Ayah akan menghukum?",goda Lily sambil menggigiti bibirnya.
Melihat sinyal dari istrinya,Ethan tertawa kecil.
"Memangnya sekarang jam berapa?",tanya Ethan setengah berbisik.
"Lima belas menit lagi jam Lima"
Ethan pun menyeringai dan menggendong istrinya menuju kamar tidur mereka.
...****************...
Setelah menutup teleponnya,Deni bergegas menuju kamar Ethan dan Lily.Dia tak sabar ingin memastikan kondisi bosnya pagi ini.Setibanya di depan kamar mereka,Deni segera mengetuk-ngetuk pintu
Tak lama kemudian,perawat Lily membuka pintu dan mempersilahkan Deni untuk masuk.Ia lega,setelah melihat Ethan yang tersenyum ke arahnya,seraya menikmati sarapan paginya bersama Lily..
"Kemarilah dan makan bersama kami.Aku tahu,kamu pasti belum sempat sarapan kan?!"
Ethan menghentikan aktivitasnya dan menunggu Deni menghampirinya.
"Apa masih ada makanan untukku?",canda Deni sembari berjalan ke meja makan dan duduk tepat di depan Lily.
Deni berusaha bersikap seperti biasanya dan tak ingin merusak suasana cerah pagi ini.
"Tentu saja!Aku sengaja meminta makanan prasmanan pagi ini.Aku punya firasat jika Kak Deni akan muncul untuk sarapan bersama kami dan ternyata feelingku benar bukan?!",ucap Lily seraya tersenyum cerah,seolah tak ada masalah apapun.
"Karena makanan disini lebih enak daripada yang ada di restaurant,makanya aku kesini"
"Bilang saja kamu malas turun ke bawah",ucap Ethan disertai tawa ringan
"Ya,ya,anggap saja begitu!"
Tanpa menunggu lama,Deni segera mengisi piring kosong yang ada di depannya dan menikmati sarapan ala restaurant hotel,bersama kedua sahabatnya itu.
...****************...
Usai sarapan pagi,Lily segera membereskan meja makan dan piring kotor,sementara Ethan dan Deni berjalan ke ruang tamu dan duduk berhadapan dengan posisi tegak.Tanpa menunggu lama,Deni memulai percakapannya lebih dulu.
"Sepertinya aku harus menunda kepulanganku malam ini!",tiba-tiba Deni menyampaikan keputusan yang sangat berat.
Ethan terkejut dan segera membuang pandangan ke arah Deni,"Kenapa tiba-tiba?"
"Urusan kita dengan Michelle belum selesai.Lagipula masih ada waktu lima hari hingga perayaan tahun baru.Yang terpenting sekarang,apa kamu akan melanjutkan kontrak kerjasama dengannya atau tidak?"
Raut wajah Ethan seketika berubah.Amarah kembali meliputi pikirannya,namun dia berusaha berpikir jernih dan menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.
"Tentu aku harus melanjutkannya.Tidak ada alasan untuk mundur.Semakin aku menghindar,maka dia akan semakin penasaran dan terus menggangguku"
Deni nampak terkejut mendengar ucapan Ethan.
"Jika perlu,aku akan meningkatkan keamanan saat menemuinya.Toh kita akan menyerahkan pengawasan proyek ini pada Pamanku.Aku hanya perlu bertemu dengannya saat tanda tangan kontrak dan saat pembukaan Event."
Deni memejamkan kedua matanya dengan alis yang berkerut.Dia sedang memikirkan apa perlu menyampaikan hal ini atau tidak.Namun menurutnya,tak ada alasan baginya untuk menutupi hal ini dari Ethan.
"Tadi pagi Michelle menghubungiku dan meminta maaf berkali-kali sambil menangis."
Deni mengatakan hal yang membuat Ethan tercengang.
"Apa kamu percaya dengan kata-kata dan air mata palsunya itu?",tanya Ethan tegas
"Tentu saja tidak.Tapi dia memohon untuk melanjutkan kerjasama ini.Dia butuh pembuktian pada keluarganya jika ia mampu melanjutkan kepemimpinan Ayahnya meski ia anak perempuan.Dan Event pameran ini sangat penting sebagai batu loncatan kariernya",ucap Deni
"Meski aku tak percaya dengan air mata buayanya,tapi tidak alasan untuk membatalkannya bukan?",tanya Ethan yang dijawab anggukan oleh Deni
"Aku akan menemui Jason dan mengambil barangku yang tertinggal disana.Akan kuselesaikan kontraknya hari ini dan mengirimkan file nya pada Michelle melalui email.Aku sudah menyampaikan padanya jika kita hanya memberinya tenggat waktu satu hari untuk mengoreksi surat perjanjian itu dan tanda tangan kontrak sehari setelahnya.Begitu pertemuan kalian selesai,aku akan pulang ke Indonesia",Deni coba memberi Ethan ide.
"Kamu tidak perlu membuat kontraknya lagi!",tukas Ethan
Deni tampak bingung dengan ucapan Ethan.
'Bukannya tadi dia bilang tidak masalah untuk bekerjasama?'
"Aku sudah mengerjakannya tadi semalam"
Deni membelalak.Bagaimana bisa ia mengerjakannya dalam waktu semalam,sedangkan ipad milik Deni masih tertinggal di Clubhouse.
"Memangnya kamu ingat kesepakatan yang telah kalian buat?"
Ethan hanya mengangguk.
"Aku sudah mengirimnya via email.Coba kamu cek dan cocokkan dengan catatan yang ada pada ipadmu"
Deni segera memeriksa sesuai perintah Ethan.Dan tanpa melihat ipad miliknya,Deni sudah bisa mengingat secara detail point yang ia tulis,setelah membaca kontrak yang Ethan buat.
"Aku akui,daya ingatanmu memang luar biasa!",ucap Deni kagum
Ethan mengangkat alis dan kedua bahunya bersamaan sambil tersenyum bangga ke arah sahabatnya itu.
"Jadi kita tetap lanjutkan?",tantang Deni
Ethan nampak menyeringai,"mari kita lanjutkan!"
Tanpa menunggu lagi,Deni segera ke kantor dan mencetak kontrak kerjasama tersebut.
...****************...
Setelah Deni berpamitan menemui Michelle,Ethan berbaring santai di atas sofa sambil memutar TV.Ditengah kebosanannya itu,tiba-tiba Ethan teringat sesuatu.Jiwa petualangannya pun bangkit dan segera menghubungi seseorang sambil tersenyum-senyum kecil.
Usai menutup teleponnya,Ethan bergegas menemui Lily dan memintanya untuk mengemas beberapa pakaian miliknya dan milik Lily.
"Memangnya kita mau kemana?",tanya Lily sambil berkemas-kemas memasukkan pakaian ke dalam tas ransel ukuran besar.
"Kejutan!Jangan lupa masukkan selimut tebal",ucap Ethan sambil berusaha memasangkan sepatu sneakers pada istrinya.
Setelah berkemas dan berpamitan pada perawat,mereka berdua segera turun ke lantai dasar.Mobil Ethan sudah terparkir di depan pintu hotel seolah telah menunggu kedatangan mereka.Namun kali ini bukan mobil sport yang sering ia pakai,melainkan mobil toyota hilux double kabin.Ethan pun membantu istrinya naik ke atas mobil dan dengan segera melaju pergi.
Dengan wajah yang berbunga-bunga Ethan tak henti-hentinya tersenyum di sepanjang perjalanan mereka.Sesekali ia menciumi punggung tangan istrinya saking excited nya dengan perjalanan ini.
Melihat wajah sumringah Ethan,Lily semakin penasaran dibuatnya.Dan saat mendekati tempat tujuan mereka,Lily tiba-tiba teringat dengan jalan ini.Jalan menuju Tai O,tempat dimana Ethan membawanya dulu saat hubungannya dengan Adam sedang kacau.
"Apa kita akan menemui Pak Yongsheng",tanya Lily yang masih mengingat nama pemilik rumah,tempat mereka menginap.
Sambil tersenyum,Ethan menganggukkan kepalanya.
Setibanya di Tai O,Ethan memarkirkan mobilnya di tempat biasa ia menyimpannya saat datang kemari bersama Ayahnya.Karena mereka tiba di siang hari,orang-orang sekitar desa banyak yang menyapa Ethan,bahkan para tetua disana sesekali menghentikan langkah mereka untuk sekedar bersalaman dan berkenalan dengan istrinya.
Pak Yongsheng pun menyambut keduanya setelah sebelumnya Ethan mengabari kedatangannya pada beliau.Perasaan canggung menghampiri Lily karena sudah lama tak jumpa dengan beliau,namun hal itu tak berselang lama.Lily kembali akrab begitu mereka disuguhkan makan siang yang benar-benar segar dari beragam jenis ikan serta udang dan kepiting kecil.
"Sangat!Makanan disini benar-benar gurih,manis,segar!Pokoknya tidak bisa ku lukiskan dengan kata-kata!",ucapnya bersemangat dan hanya mengacungkan jempolnya pada Pak Yongsheng,karena terkendala bahasa dengan beliau.
"Sayang,kamu harus belajar sedikit-sedikit bahasa kanton,supaya memudahkanmu berkomunikasi jika kita ke Hongkong",ucap Ethan serius sambil mengeluarkan isi daging kepiting dari cangkangnya untuk Lily
"Kan ada Kak Ethan,aku tidak perlu susah payah belajar.Cukup tahu bahasa sehari-hari saja",ucapnya dengan wajah ceria.
"Ya,semau kamu sajalah.Bagus juga kalau kamu tidak lincah berbahasa kanton,biar kamu bergantung terus denganku saat akan bepergian",goda Ethan membuat Lily tersenyum malu
...****************...
Hujan tiba-tiba turun sore hari.Setelah disuguhkan makan siang,mereka duduk di teras rumah yang menghadap langsung ke sungai sambil menikmati secangkir kopi.Lily duduk dekat dinding pembatas.Ia mengulurkan tangannya keluar,merasakan tiap tetes air hujan yang jatuh dari langit.
Ethan mengambil selimut dari dalam tas ranselnya.Ia membungkus tubuh Lily dengan selimut itu dan duduk sambil memeluknya dari belakang.Pak Yongsheng yang melihat perlakuan Ethan pada Lily ikut bahagia.
"Tak disangka kamu datang lagi dengan membawa calon anak kalian?",ucap Pak Yongsheng sambil tersenyum
"Saat pertama kali membawanya kesini,saya juga tidak terbayang akan menikahinya Pak!"
"Jodoh siapa yang tahu.Tapi dari caramu menatap dia,terlihat sekali jika kamu sangat mencintai istrimu.Bahkan mungkin jauh lebih besar dari perasaanya",ucap Pak Yongsheng lembut.
Tanpa sadar,Lily tertidur di pelukan Ethan.Setelah memperbaiki posisi istrinya,kini Lily berbaring di paha Ethan.Pak Yongsheng pun sedang fokus menikmati rintik hujan sambil menyeruput kopi hangat buatan Lily tadi.
Malam semakin larut dan Lily pun sudah terbangun.Ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.Ethan terlihat sibuk memasang kelambu,kelambu yang Lily gunakan saat kedatangannya pertama kali.Meski sudah satu setengah tahun berlalu,namun barang-barang Pak Yongsheng masih terawat dengan baik.Beliau memberikan selimut tebal untuk dijadikan alas untuk tidur,agar Lily bisa tidur dengan nyaman.
"Kenapa kamu tidak mau kita ke hotel,padahal aku sudah reservasi",tanya Ethan penasaran.
Mereka telah berada di dalam kelambu dengan posisi Ethan terlentang di atas selimut pengganti kasur.Sementara Lily masih sibuk merawat wajahnya.
"Karena aku ingin mengenang masa kebersamaan kita disini",ucap Lily yang kemudian berbaring,setelah melakukan kegiatan rutinnya.
Ethan pun berbalik ke arah istrinya dan menatapnya lama.Setelah memberikan ciuman selamat malam,mereka pun tertidur dalam keadaan saling berpelukan.
...****************...
Ethan dibangunkan oleh dering handphonenya yang terdengar nyaring di dekat telinganya.Setelah berusaha menyadarkan dirinya dari rasa kantuk,ia segera melirik layar handphonenya.Ternyata panggilan dari Deni
"Ethan,kamu kabur kemana lagi?Akhir-akhir ini kamu selalu pergi tanpa mengabariku!",teriak Deni begitu teleponnya diangkat.
Mendengar pekikan Deni,Ethan berusaha menjauhkan teleponnya.Dia tak ingin Lily terbangun,mendengar suara Deni yang mampu memecahkan speaker handphonenya.
"Aku sedang di Tai O",jawabnya begitu handphonenya hening.
"Kamu lupa kita ada tanda tangan kontrak jam sepuluh pagi?"
Ethan mengerutkan alisnya
"Bukannya kita tanda tangan jam satu siang?",Ethan balik bertanya
"Ya Tuhan,Ethan!Jam satu siang itu jadwal mendarat pesawat Alex,kontraknya di jam sepuluh pagi!",teriak Deni.
Ethan menepuk jidatnya
"Berarti aku salah lihat jadwal ya?!",tanya Ethan dengan polosnya.
"Bukan!Tanggal yang salah karena menukar dirinya!!",jawaban Deni sagat tak masuk akal saking kesalnya.
Tanpa basa-basi,Ethan segera membangunkan istrinya.Dia membantu Lily membereskan barang-barangnya ke dalam tas
"Kenapa kita terburu-buru kak?",tanya Lily dengan masih bermalas-malasan diatas selimut
"Maaf sayang,aku salah lihat jadwal.Tanda tangan kontrak dengan Michelle jam sepuluh bukan jam satu"
Seketika mata Lily membulat
"Jam sepuluh!Trus jadwal apa yang kakak lihat sampai bisa teledor begini?"
"Jadwal kedatangan Alex di bandara"
Lily semakin kaget dibuatnya.Ia segera merapikan selimut dan kelambu Pak Yongsheng.Padahal Pak Yongsheng sendiri sedang pergi mencari ikan.
Karena terburu-buru,Ethan menyimpan beberapa lembar uang dolar hongkong dan selembar kertas berisi permintaan maaf sekaligus ucapan terima kasih di atas meja TV dan menindihnya dengan asbak.Dia pun menitip rumah beliau yang tidak terkunci pada tetangga sebelah rumah Pak Yongsheng.
...****************...
Ethan dan Deni serta beberapa jajaran direksi tengah menunggu kedatangan Michelle dan rombongannya,untuk penanda tanganan kontrak kerjasama.Kali ini dia tak melonggarkan penjagaan di sekitarnya.Beberapa bodyguard sudah ia tempatkan di titik masing-masing.Mereka nampak siap siaga memantau jalannya pertemuan ini.
Tak lama kemudian,beberapa mobil sedan datang beriringan dan berjejer rapi di pintu utama hotel.Nampak Michelle dan seorang wanita berpakaian layaknya sekretaris pada umumnya,sedang menenteng tas dan beberapa map tebal,turun dari mobil pertama.Diikuti oleh Pak Thomas dan asisten yang sudah Ethan kenal di urutan kedua.Lalu disusul beberapa pria berpakaian hitam di deretan ketiga hingga kelima.Sepertinya beberapa staff serta tim kuasa hukum dari perusahaan Michelle.
Ethan pun menyambut kedatangan mereka dengan berjalan menghampiri Michelle dan Pak Thomas yang berjalan berdampingan
"Selamat datang di Hotel Royal Pak Thomas,Nona Michelle ",sambut Ethan dengan senyum termanisnya,namun ia tujukan hanya pada Pak Thomas,sementara ia melempar aura dingin dengan senyum sekedarnya pada Michelle.
Setelah sapaan singkat itu,Ethan menuntun tamu kehormatannya ke arah meeting room hotel,di ikuti oleh jajaran direksi dan kuasa hukum kedua belah pihak.
Dengan disaksikan beberapa pasang mata,Ethan dan Michelle menandatangani dua dokumen secara bergantian dan ditandai dengan jabat tangan sebagai bentuk awal kerjasama mereka berdua.
Beberapa awak media asing dan tim dari pihak masing-masing mengabadikan momen jabat tangan ini dengan kamera.Keduanya pun melempar senyum ke arah mereka sebagai tanda keakraban mereka sebagai rekan bisnis.
"Selamat bekerjasama Nona Michelle.Semoga kedepannya tidak ada hal buruk yang terjadi,agar kerjasama perusahaan kita bisa terjalin dengan baik",tutur Ethan lembut namun sarat akan makna"
Michelle pun hanya membalas dengan senyum lalu melepaskan tangannya.Dengan ini kerjasama antara Hotel Royal dan ChengXi Group akan terjalin hingga bulan Juli.
Setelah acara berakhir,Ethan mengantar Pak Thomas dan Michelle hingga ke depan Hotel.
Saat sedang asyik berbincang-bincang,Ethan teralihkan oleh seorang wanita yang berjalan terburu-buru di ikuti oleh wanita lainnya berpakaian perawat.Ethan yang mengenal baik keduanya,nampak terkejut melihat mereka berjalan melaluinya bak orang asing.
"Sayang,kamu mau kemana?"
Ucapan Ethan sontak menghentikan langkah Lily dan segera berbalik ke arah suaminya sambil tersenyum simpul.
Pak Thomas dan Michelle tampak keheranan mendengar Ethan memanggil seorang wanita dengan bahasa yang tidak mereka pahami.Apalagi saat wanita itu berbalik,mereka melihat sosok wanita berparas cantik berlesung pipi dengan perut buncit.Wajah mereka semakin menunjukkan rasa penasaran yang dalam.
Ethan menghampiri Lily seraya memegang tangannya,namun Lily terlihat gelisah seolah ingin segera berpamitan
"Kamu mau kemana dengan ners,sayang?"
"Aku mau ke bandara.Alex baru saja mengirimiku pesan,pesawatnya akan mendarat sebentar lagi.Dia coba mengabari Kak Ethan dan Kak Deni tapi tak ada yang merespon pesannya"
Ethan tiba-tiba teringat akan kedatangan Alex.Dan bersamaan dengan itu,ia juga teringat dengan kedua tamunya yang sedari tadi penasaran dengan perbincangan kedua orang itu.
"Terlanjur kamu disini,aku akan mengenalkanmu pada tamu ku dan kita berpamitan untuk pergi setelahnya okey?"
Tanpa bisa menolak,Lily pun mengikuti perintah Ethan.
"Maaf Pak Thomas,Nona Michelle.Aku baru sempat mengenalkannya.Dia Lily,istriku",ucap Ethan sambil merangkul lengan Lily dan mempersilahkan istrinya menjabat tangan kedua tamunya itu.
Dengan wajah keheranan,Pak Thomas menyambut uluran tangan Lily dengan senyum.
"Hello sir,I'm Lily,Ethan's wife.Nice to meet you!",sambut Lily dengan wajah sumringah
Michelle terlihat sangat syok saat Lily menyalaminya dan memperkenalkan diri.Seketika bulir air mata nampak di sudut matanya,namun ia segera menyekanya dengan sapu tangan.
"Pak Ethan,aku tidak menyangka jika anda sudah memiliki istri.Bahkan sedang dalam kondisi hamil besar",tutur Pak Thomas dengan wajah yang masih tak percaya.
"Saya ingin menjaga privasi istri saya.Dia sedang dalam kondisi hamil yang agak sensitif.Selain itu,dia juga tak bisa berbahasa kanton karena berasal dari Indonesia"
"Indonesia?Pantas saja Pak Ethan lebih sering menghabiskan waktu di Indonesia!Ternyata anda sudah terpaut dengan gadis cantik disana rupanya",canda Pak Thomas.
"Selamat atas pernikahan kalian ya",sambungnya lagi.
Lily memberi isyarat pada Ethan,berusaha mengingatkannya pada Alex.
"Maaf Pak Thomas,Nona Michelle,sepertinya saya harus pergi lebih dulu.Kami ada urusan mendadak yang tak bisa di tunda",pamit Ethan.
"Oh iya,kami juga sudah harus pergi.Saya masih ada urusan lain.Mari Nona Michelle!"
Pak Thomas pun mengajak Michelle untuk pergi.Wanita itu sempat melirik sebentar ke arah Ethan dan Lily,lalu berbalik,mengikuti langkah kaki Pak Thomas.
Ethan dan Lily pun bersiap pergi,begitu kedua mobil tamu mereka telah pergi.Namun baru saja berjalan menuju mobil,Deni yang baru pulang mengantar dokumen,berlari mendekat ke arah mereka.
"Kalian mau kemana?",tanya Deni dengan nafas ngos-ngosan
"Kami ingin menjemput Alex.Dia sudah merengek pada Lily minta dijemput"
Deni pun melirik ke arah jam tangannya,lima menit lagi pukul satu siang.
"Kalian cepatlah pergi,biar aku yang tangani disini.Tamu penting juga sudah pulangkan?"
"Iya.Kami pergi dulu ya!"
Ketiganya pun berjalan menuju mobil dan segera meninggalkan hotel.
...----------------...
Mohon dukungannya dengan like,comment dan giftnya ya,terima kasih☺️🙏
Dan jangan lupa baca karya author yang lainnya,Second Chance....🤗🤗