Love In Tears

Love In Tears
Sesuatu yang terungkap



Lily dan Adam baru saja tiba di Hongkong.Mereka bergegas ke hotel karena sebentar lagi Adam akan ke pertemuan penting dengan seorang klien.Dan tiga hari berturut-turut, Adam akan berkeliling ke pabrik yang ada di Hongkong dan Taiwan.


Adam menyuruh Lily untuk berjalan-jalan keliling kota dengan tour guide, agar tak bosan di hotel sendiri.Namun Alya memilih beristirahat saja di hotel dan pergi besok hari.Dan baru saja sampai di kamar hotel, Lily sudah sibuk membongkar isi koper dan menyiapkan pakaian yang akan di pakai Adam.


"Kira-kira kamu selesai pertemuan jam berapa?"tanya lily


"Paling cepat jam dua belas malam, aku sudah tiba di hotel"


"Hubungi aku jika kamu pulang telat"


"Baik Nyonya Adam", jawabnya dengan senyum diwajahnya.


Lily balas tersenyum lalu memasangkan dasi suaminya.


"Aku tidak akan membuat Nyonya Adam menunggu", bisik Adam ke telinga Lily, lalu mengecup pipi dan bibirnya


Dengan senyum cerah, Lily melambaikan tangan pada Adam yang berjalan keluar kamar dan meninggalkannya sendiri.


...****************...


Tak terasa waktu menunjukkan pukul dua belas malam lewat.Lily tampak sedikit gelisah.Dia coba menghubungi Adam, namun handphonenya masih dalam keadaan non aktifkan.Dia menunggu dengan sabar, namun sudah satu jam berlalu dan belum ada kabar darinya.Lily mencoba untuk tidak berfikir yang aneh-aneh dan memutuskan untuk turun ke lobi, menunggu Adam di sana.


Baru saja Lily berbelok menuju lift, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seorang pria dan wanita yang sedang bercumbu di ujung lorong satunya, tepat di depan pintu salah satu kamar Hotel.Tadinya dia berusaha tak menghiraukannya, namun Lily seperti mengenali sosok pria itu.Karena penasaran, dia pun memperhatikan pasangan yang sedang asyik bercumbu itu dengan seksama.Namun, seketika kakinya terasa lemas dan rasa panas menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhnya hingga ke ubun-ubun saat memastikan pria yang bercumbu dengan wanita itu tak lain adalah suaminya sendiri, Adam!


Lily segera berbalik badan dan berjalan menjauh Dia bersandar pada dinding sembari menutup mulutnya, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.Pandangannya kabur, tubuhnya bergetar.Tiba-tiba terlintas ingatannya bersama Adam beberapa jam yang lalu.


"baik Nyonya Adam","Aku tidak akan membuat Nyonya Adam menunggu".Air matanya mengalir di kedua sudut matanya.


Lily berusaha menguatkan dirinya.Ia berbalik sekali lagi, ingin memastikan yang dilihatnya itu bukan ilusi.Namun sekali lagi, Lily mendapati suaminya asyik bercumbu dengan wanita lain.Nampak kedua tangan wanita itu melingkar di bahu Adam, sementara Adam menahan kedua kaki wanita yang dia lingkarkan ke pinggangnya.Mereka sangat menikmati adegan panas itu, tanpa peduli jika mereka berada di tempat umum.Perlahan mereka masuk ke dalam kamar dan sudah tak terlihat lagi.


Lily tak kuasa melihat adegan mesra suaminya dengan wanita lain.Kakinya terkulai lemas, seakan tak mampu menahan berat badannya.Ia pun terduduk di lorong hotel dengan ketakutan, benar-benar tak siap dengan apa yang baru saja dia lihat.Lily hanya bisa menangis tanpa berfikir apa-apa lagi.


Sepuluh menit berlalu, dia berusaha menguatkan fisik dan hatinya.'Aku harus kesana'


Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Lily memberanikan diri menghampiri kamar mereka.Dia mengetuk pintu kamar dengan keras.Tak lama kemudian, seorang wanita membuka pintu.Rambut merahnya terlihat acak-acakan dan lipstiknya sudah memenuhi pipinya.Dia hanya memakai selimut tipis, menutupi tubuhnya yang seksi dan tanpa busana sama sekali.Dia tampak terkejut melihat Lily yang berdiri dihadapannya.


Tanpa bertanya apapun, Lily menerobos masuk ke dalam kamar.Wanita itu berusaha menahan Lily agar tidak masuk ke daam kamar.Namun Lily yang sudah dipenuhi amarah, mendorong wanita itu hingga terjatuh di sudut kamar.Dia berjalan ke arah tempat tidur dan mendapati Adam tanpa busana dengan setengah tubuhnya ditutupi selimut.Adam sangat terkejut, melihat istrinya kini berdiri dihadapannya.


"Dasar pria brengsek!!", tanpa pikir panjang Lily meninju Adam tepat di hidungnya.


Adam mengerang kesakitan sembari memegangi hidungnya.Lily pun merasakan ngilu pada tangannya, namun dia berusaha menahannya.Rasa sakit yang dirasakan tangannya saat ini, tidak sebanding dengan luka yang ditorehkan Adam padanya.


Adam terkejut melihat darah ditangannya, sementara Lily sudah keluar dari kamarnya.Dia berlari kearah lift dan terus menekan tombol yang ada di dinding.Dia sungguh tidak siap dengan hal ini dan berusaha menghindar.Dia tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari Adam dan tidak ingin melihat wajahnya.


Dan saat Lily sedang menunggu pintu lift terbuka, suara Adam yang memanggil namanya sudah terdengar dari lorong hotel.Lily semakin panik dan terus memencet tombol Lift.Dia sangat takut saat Adam muncul dan berjalan ke arahnya.Disaat yang bersamaan, pintu lift pun terbuka dan seseorang yang Lily kenal sedang berdiri di dalam lift.


"Lily!"


Ethan sangat terkejut melihat Lily berdiri di depannya dengan kondisi yang kacau dan berurai air mata.Lily terlihat seperti orang kelimpungan, melihat Ethan yang ada di hadapannya lalu menoleh ke samping kiri secara bergantian, seolah sedang di kejar sesuatu.Ethan penasaran dengan apa yang membuat Lily begitu ketakutan.Dengan cepat, ia menekan tombol tunggu lalu menghampiri Lily.Dia menoleh kearah yang sama dengan yang Lily lihat sejak tadi.Betapa terkejutnya Ethan ketika melihat Adam berjalan kearah mereka, dengan kemeja yang tak terkancing dan hidung yang berlumuran darah.Tepat dibelakang Adam, terlihat seorang wanita berambut merah, yang hanya memakai selimut tipis dan berjalan mengikutinya.Ethan kembali mengalihkan pandangannya pada Lily.Dia pun langsung memahami situasi kacau ini.Ethan merasa sangat geram.Ia menghampiri Adam dan langsung menarik kerah bajunya


"Dasar pria brengsek!!", Ethan meninju Adam, tepat di hidungnya yang masih berdarah karena Lily.Adam pun tersungkur tak berdaya.Namun wanita itu, dengan sigap menahan tubuh Adam dari belakang.


Ethan berbalik dan berjalan kearah Lily.Dia menarik tangan Lily, sembari menekan tombol lift sebelahnya.Tak lama kemudian, pintu lift terbuka dan Ethan masuk dengan tangan yang masih memegangi Lily.Setelah pintu lift tertutup, kaki Lily tiba-tiba terasa lemas dan dia hampir terjatuh.Dengan sigap, Ethan menahan tubuh Lily agar tidak terjatuh


"Kamu tidak apa-apa?", tanya Ethan khawatir


Lily menggelengkan kepalanya.Dia berusaha berdiri dengan tegak sambil menghapus air matanya.Lily bertumpu pada dinding lift.Tatapan matanya kosong, seakan tak peduli jika Ethan ada disampingnya.Sementara Ethan hanya bisa memandanginya dari belakang dan membiarkannya seperti itu sambil tetap mengawasinya.


Pintu lift pun terbuka dan mereka tiba di lantai satu.Lily berjalan dengan lunglai keluar lift, sementara Ethan terus mengikutinya dari belakang dan menjaganya.Dia berjalan keluar hotel, mengitari taman dengan tatapan kosong, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.Setelah lelah berjalan tanpa arah, akhirnya Lily duduk di kursi taman hotel.Ethan yang sejak tadi mengikutinya, ikut duduk tepat di belakang Lily.


"Tolong bilang padaku kalau ini mimpi, kak"


Ethan tidak menjawab


Lily kembali menangis dan meratapi kemalangan dirinya,"Tolong bilang padaku ini mimpi!"


Seolah sedang kesurupan, Lily memukuli dirinya sendiri tanpa henti sambil meratap.Tak tahan melihat Lily yang seperti itu, Ethan memeluknya dari belakang dan menahan kedua tangan Lily agar berhenti memukuli dirinya sendiri.


"Kenapa dia tega melakukan ini padaku, kak?Kenapa dia mengizinkanku ikut jika ingin bercumbu dengan wanita lain?Kenapa?", teriaknya sambil terus meronta-ronta


"Lily, kumohon tenangkan pikiranmu",ucap Ethan tegas


"Sekarang apa yang harus aku lakukan kak?Aku bahkan tidak membawa paspor dan dompet.Handphoneku terjatuh entah dimana.Aku berada ditempat yang asing dan dia tega melakukan ini padaku.Aku sangat benci dia kak!Aku tidak ingin melihat wajahnya",teriaknya dan masih meronta-ronta


"Aku mohon tenanglah!",Ethan meninggikan suaranya.


Seketika Lily terdim.Ethan melonggarkan pelukannya begitu Lily berhenti meronta dan benar-benar melepaskannya setelah dia tenang.Lily pun berbalik kearah Ethan.Air matanya seakan tak bisa berhenti mengalir.Dengan perasaan iba,Ethan pun menyentuh pipi Lily dan menghapus air matanya.


"Kalau kamu mau, aku akan menyiapkan kamar untukmu.Kamu bisa menjernihkan pikiranmu disana.Setelah itu, baru pikirkan hal selanjutnya", suara Ethan melembut


"Tidak kak!Aku tidak ingin merepotkan kak Ethan lagi.Saat ini saja aku sudah begitu merepotkan kakak"


"Lalu kamu hanya akan tinggal diam seperti ini?",tanya nya sedikit kesal


Lily tidak menjawab.


Lily merogoh saku bajunya.Dia mengambil kunci dan menyerahkannya pada Ethan dengan tangan gemetar.


"Sekarang kita ke lobi.Tunggu di sana dan jangan kemana-mana,oke?"


Lily hanya mengangguk setuju seraya menunduk.Ethan memegang tangan Lily dan menuntunnya berjalan kembali ke hotel.Setelah memastikan Lily duduk,Ethan memanggil salah satu staff lobi.


"Dao yan shi shen me?(Ada apa pak direktur)?",tanya staff lobi


"Qing zhao gu ta.Bie rang ta li kai zhe li (Tolong jaga dia.Jangan biarkan dia pergi dari sini)."


"Hai Dao yan (Baik Pak direktur)"


"Ingat!jangan kemana-mana dan tunggu aku disini, mengerti!"


Lily mengangguk.


Ethan pun berlalu meninggalkan Lily dan berjalan menuju kamar Lily dan Adam menginap.


...****************...


Adam terlihat sedang menunggu di depan pintu kamar hotelnya sembari memegang handphone Lily, saat Ethan berjalan menghampirinya.Kemarahan Ethan yang sudah mereda, mendadak muncul kembali.Namun saat ini dia sedang tidak ingin berurusan dengan Adam dan hanya terfokus pada Lily.Ethan pun langsung merebut handphone Lily dari tangan Adam dan menatapnya dengan kesal.


"Dimana istriku?",tanya Adam tanpa basa-basi


"Sekarang kamu sadar dia itu istrimu?", tanya Ethan kesal


"Tidak usah ikut campur!Itu urusan antara aku dan Lily"


Ethan menyeringai, seakan tidak percaya mendengarkan ucapan Adam barusan, "Aku bahkan berusaha untuk tidak ikut campur dan berharap untuk kebahagiaan kalian.Tapi apa yang aku lihat barusan?Rasanya aku sangat ingin menghajarmu sekarang, sekalipun kamu suaminya", Ethan berusaha menahan diri.


Namun dengan emosi, Adam langsung menarik jas Ethan,"Sudah kuduga,kau punya perasaan lain terhadap istriku!Jangan kira karena kejadian ini, lantas kau akan mengambil kesempatan mendekatinya "


"Sepertinya otakmu butuh diperbaiki!Aku sedang tidak ingin meladenimu, jadi kalau kau ingin memukulku, silahkan pukul aku!Tapi aku akan mengusirmu dari hotelku!"


Adam terdiam mendengar ucapan Ethan barusan.Perlahan, dia melepaskan jas Ethan dan berusaha menenangkan diri.


"Sebelum menerka-nerka perasaanku terhadap istrimu,sebaiknya perbaiki dulu kelakuanmu!",Ethan merapikan jasnya yang kusut


Adam tertegun.Ucapan Ethan benar-benar membuat mentalnya down.Ethan pun tak menghiraukan Adam dan langsung masuk ke kamar mereka,berusaha mencari barang-barang Lily.Untungnya, Lily menyimpan semua dokumen penting dalam satu tas, jadi Ethan tak perlu menggeledah isi kamar mereka.Dia juga mengambil pakaian Lily yang sudah tersusun rapi dalam lemari dan memasukkannya dalam paper bag.Ethan membiarkan pintu terbuka tanpa membawa kunci kamar, lalu pergi meninggalkan Adam sendiri.


Saat di lift, Ethan menghubungi Deni dan memerintahkannya menyiapkan kamar untuk ditempati Lily.


"Den, minta resepsionis menghubungi housekeeper dan menyiapkan kamar royal Suite malam ini juga"


"Royal Suite?Siapa yang akan menginap?Apa tamu penting?"


"Lily"


"Lily?Lily ada di hongkong?Tidak, tidak, bukan itu ...Kenapa kau menyiapkan kamar untuknya?", Deni terdengar syok mendengar ucapan Ethan.


"Ceritanya panjang.Nanti akan ku beritahu padamu.Aku ingin kamar itu sudah siap dalam waktu sepuluh menit"


"Tap Eth....."


Ethan langsung mematikan sambungan teleponnya .Saat ini, dia hanya ingin segera menemui Lily.Dia takut Lily akan melakukan hal yang tidak-tidak.Begitu pintu lift terbuka,Ethan berlari menuju lobi.Dia lega begitu melihat Lily masih berada ditempat dia meninggalkannya bersama staff lobi.


"Jie shou (terima kasih)"


"Tong yang, Dao yan xian sheng (sama-sama pak direktur), Staff lobi segera meninggalkan mereka berdua.


"Ini barang-barangmu.Coba cek, apa masih ada barang yang kamu perlukan!"


Lily segera mengeceknya dan semuanya lengkap,bahkan handphone nya sudah ada didalam tas itu,"Kak Ethan dapat handphoneku dimana?"


Ethan coba mencari alasan,"di koridor hotel dekat kamarmu"


"Aku tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa pada kak Ethan", Lily hanya menunduk terdiam


"Tak perlu berterima kasih.Cukup jalani hidupmu dengan baik, agar aku tidak cemas"


Lily menoleh kearah Ethan.Rasanya dia sangat malu melihat wajah Ethan setelah kejadian hari ini.


"Bagaimana kalau kamu pesan kamar dan beristirahat"


Lily mengangguk dan berusaha menguatkan diri.Dia berjalan dengan gontai ke arah resepsionis, lalu menyodorkan kartu kreditnya sambil melamun.Ethan pun segera memberi isyarat kepada resepsionis untuk mengambil kartu kredit milik Lily.


Seakan paham dengan maksud Ethan, sang resepsionis berpura-pura mengambil kartu Lily dan mengembalikannya bersama dengan sebuah kunci kamar.Lily tidak merespon apapun, bahkan tidak merasa heran pada resepsionis yang memberinya kunci tanpa meminta password kartu kreditnya dan hanya mengikuti Ethan yang mengantarnya menuju lantai kamar tempatnya menginap.


Setibanya dikamar, Ethan menyimpan paper bag dan tas lily diatas meja, di ruang tamu kamar hotel. Sedangkan Lily berjalan dengan lesu menuju ke tempat tidur dan langsung membuang dirinya ke atas kasur.Ethan mengikutinya dari belakang.Dia menarik selimut dan memakaikannya pada Lily, membiarkannya beristirahat.


Setelah memastikan Lily baik-baik saja,Ethan duduk dan istirahat di sofa di ruang tamu kamar hotel Lily.Dia merasa khawatir dan tidak ingin meninggalkannya sendiri.Tanpa sadar, dia pun tertidur di sofa dalam keadaan duduk.