Love In Tears

Love In Tears
Bonus : Jelang penikahan 1 Kenapa harus di pingit?



Ethan sedang bolak balik di atas tempat tidurnya.Rasanya dia tak bisa tidur malam ini.Wajahnya tampak kesal dan gelisah,padahal dia baru saja selesai menggelar acara lamaran resmi ke keluarga Lily.


'Kenapa?Kenapa harus ada yang seperti ini?Kenapa tidak langsung saja?Kenapa?Akhhh....'


Tiba-tiba dia meronta-ronta di atas tempat tidurnya seperti orang kesurupan.Alex yang masuk ke kamar Ethan tanpa mengetuk pintu, terperangah melihat tingkah kakaknya yang aneh.


"Kak?Kamu kenapa?Apa kamu salah minum obat?",tanya Alex seraya berjalan ke sofa dan menyandarkan tubuhnya.


Ethan terperanjat mendengar suara Alex yang masuk ke kamarnya tanpa permisi.


"Hei,sejak kapan kamu masuk ke kamarku?Apa kamu tidak melihat papan peringatan di depan pintuku?Dasar bocah tengik",ucap Ethan kesal.


Alex tak peduli ocehan Ethan dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil soda,lalu kembali ke tempatnya duduk tadi.


"Kakak kenapa?Bukannya kakak harusnya bahagia bulan depan akan menikah?Apa kakak sekarang menyesali keputusan kakak?",godanya dengan wajah mengejek.


Ethan melempar bantal ke wajah Alex,yang membuatnya memanyunkan bibirnya.


"Aku memikirkan kesepakatan tentang pingit memingit atau apalah itu.Kenapa Lily mengajukan itu tadi?Apa dia tidak masalah tidak bertemu denganku selama sebulan?Apa dia tidak begitu cinta padaku?Apa hanya aku yang bersemangat ingin bertemu dengannya tiap hari?",Ethan terlihat sangat putus asa.


Alex yang sedang meneguk soda,tiba-tiba menyemburkan minumannya karena tersedak.Seketika sekujur tubuhnya merinding,mendengar ucapan kakaknya.


"Kak!Apa benar kamu kakakku?Aku tak menyangka kamu semenggelikan ini,hahahaha....",Alex tertawa terpingkal-pingkal.


Ethan menggerutu dalam hati,melihat Alex sibuk menertawakan dirinya.


"Kak,kak!Kak Ethan ini terlalu polos untuk pria berumur.Kalau Kak Lily meminta tidak bertemu selama sebulan,ikuti saja!Bukannya ini kesempatan bagus untuk Kak Ethan menikmati masa bujang yang tinggal menghitung minggu?Ayolah kak!Daripada kakak frustasi,mendingan kita mengadakan pesta bujang.Biarkan Kak Lily menikmati waktunya menyendiri.Kakak dan aku harus party sebelum menikah.Kesempatan ini tidak akan datang dua kali",Alex coba mempengaruhi kakaknya.


"Maksudmu?Aku tidak mengerti".


Alex menggelengkan kepalanya seraya menghampiri kakaknya yang masih duduk di atas ranjang.


"Ckckck...!Kak,apa yang sebenarnya kamu lakukan sepanjang hidupmu tiga puluh dua tahun ini?Pesta bujang pun kamu tak tahu?",ucapnya iba seraya menepuk-nepuk pundak Ethan.


"Aku tidak punya waktu untuk berpesta selama kuliah.Aku tidak sepertimu yang terpaksa kuliah karena perintah Ayah dan Ibu.Aku kuliah karena aku memang suka belajar".


"Maka dari itu,ini kesempatan untuk kak Ethan merasakannya sekali seumur hidup.Serahkan pada adikmu yang tampan ini!Aku akan membuat pesta yang tak akan pernah kak Ethan lupakan sampai mati!",ucapnya penuh percaya diri.


Ethan hanya menyeringai.


"Apa kakak masih ada kontak dengan teman-teman SMA kakak?".


"Tidak!Mereka memintaku bergabung dalam group alumni,tapi aku menolaknya".


Alex terperangah.


"Ckckck...!Hidupmu sama sekali tidak berwarna.Aku heran apa yang disukai Kak Lily dari kakak".


Ethan kesal dan mengapit kepala Alex di lengannya dan baru melepasnya begitu adiknya mengangkat tangan memohon ampun.


"Sudahlah,aku akan meminta bantuan Kak Deni untuk mengundang teman-teman pria kakak.Biar kita bisa mengadakan party dengan meriah!"


"Terserah kamu!Sekarang kembali ke kamarmu,aku mau tidur",ucap Ethan seraya merebahkan tubuhnya ke kasur.


"Malam ini,aku ingin tidur dengan kakak.Tidak,selama sebulan ini aku akan tidur denganmu",Alex merebahkan tubuhnya ke tempat tidur tanpa permisi.


"Hei,apa yang kau lakukan?Kembali ke kamarmu sekarang!",teriak Ethan.


Namun Alex tak menghiraukan perintah kakaknya.Dia malah mengapit tubuh Ethan hingga sulit bergerak.


"Yaaa!!!Lepaskan aku!!!"


...****************...


Ethan mengetuk-ngetuk meja kantornya dengan gelisah.Berulang kali dia coba menghubungi Lily namun panggilannya selalu di reject.


'Apa sepenting inikah pingit itu sampai-sampai bicara pun tidak mau?'


Ethan menghela nafas panjang seraya memutar-mutar kursinya dengan lemas.Deni yang baru saja masuk dalam ruangan Ethan,terlihat bingung melihat tingkah bosnya itu.


"Ada apa?Kenapa wajahmu lesu begitu?Bukannya harusnya kamu senang,bisa segera menikah dengan Lily?",tanya Deni seraya menyodorkan beberapa dokumen ke meja Ethan.


"Aku lesu bukan karena tak bersemangat ingin menikahi Lily.Aku hanya tidak sanggup jika tak bertemu Lily selama sebulan ini".


Deni tertawa.Dia merasa lucu melihat wajah sedih Ethan.


"Apa kau beneran Ethan yang ku kenal?Kenapa kau sebegitu lemahnya hanya karena tak bertemu sebulan!Padahal setelah menikah,kamu sendiri akan melihatnya sampai bosan setiap hari".


"Aku tidak akan pernah bosan,meski harus melihatnya dua puluh empat jam".


Deni memegangi dadanya,seolah seseorang telah menembakinya.


"Ethan yang sekarang selalu membuatku bergidik dengan kata-katanya".


Seketika tumpak kertas melayang ke arah wajah Deni,namun dia berhasil menghindar dan tertawa setelahnya.


"Sebentar lagi Alex akan datang dan menemui mu",ucap Ethan.


"Ada apa?Apa lagi yang akan dilakukan bocah satu itu".


"Katanya dia akan mengadakan pesta bujang untukku dan ingin meminta bantuanmu untuk mengundang teman SMA kita".


Deni terlihat sangat senang.


"Pesta bujang?!".


"Iya,apa kamu pernah ke pesta seperti itu?".


"Tentu saja!Tiap teman kita ada yang menikah,mengadakan pesta seperti itu,kamu saja yang tak mau hadir jika mereka mengundang!".


"Apa kamu tahu itu pesta seperti apa?",tanya Ethan penasaran.


Deni terlihat membayangkan sesuatu sambil tersenyum.


"Sebaiknya kamu tidak usah mencari tahu,agar pestanya bisa jadi kejutan buatmu",ucap Deni nyengir.


"Kalau begitu,Pak!Hari ini aku minta cuti untuk menyusun pesta bersama bocah dari gua hantu.Dan selamat menikmati waktu pingit mu,aku akan mengabari waktu dan tempatnya jika sudah sepakat dengan Alex",sambungnya seraya berjalan meninggalkan ruangan Ethan.


"Ya,ya,ya!Terserah kamu saja,aku juga sedang tidak bersemangat untuk bekerja".


Tiba-tiba handphone Ethan berdering.Dengan semangatnya,Ethan melihat nama penelpon.Namun wajahnya tiba-tiba murung melihat nama Ibunya tertulis di layar handphonenya.


"Halo bu?".


"Halo sayang.Kenapa suaramu lesu begitu?Apa pekerjaanmu terlalu banyak?".


"Tidak.Ibu sedang dimana?".


"Ibu sedang bersama Lily dan Ibunya.Kami ada di butik sedang mempersiapkan gaun pernikahan untuk Lily.Karena pernikahanmu sudah dekat,jadi Ibu memesan baju yang sudah jadi saja dan sedang mencocokkannya di badan Lily".


"Ibu bersama Lily?",tanya Ethan semangat.


"Iya,dia sedang mencoba gaun".


"Apa aku bisa bicara dengannya bu?".


"A!a!a!...Bukannya kamu sudah setuju untuk dipingit?Kamu tidak boleh melanggar itu!".


"Tapi bu....".


"No,no,no!Kamu harus menepati janji".


Ethan mendengar samar-samar suara Lily dari telpon.Rindunya pada Lily seakan terobati.


"Sudah dulu ya,ibu tutup telponnya".


"Tunggu du...".


Belum sempat dia bicara,Ibunya sudah menutup telpon.Ethan menghela nafas lega,setidaknya suara Lily yang terdengar dari panggilan telpon Ibunya bisa melepaskan rasa rindunya pada Lily.