
"Selamat pagi Pak Ethan",sapa Deni begitu Ethan muncul dari lift.Dia mengikuti Ethan dari belakang yang berjalan menuju ruangannya
"Apa jadwal kita hari ini?,"tanya Ethan sembari bersandar di kursinya dan memijit pangkal hidungnya.
Deni yang tadinya ingin memperlihatkan jadwal mereka hari ini, tiba-tiba membatalkan niatnya dan malah mengamati wajah Ethan yang nampak lesu.Lingkaran hitam disekitar matanya terlihat begitu jelas, seperti orang yang sedang pengar.
"Apa sesuatu telah terjadi semalam?"tanya Deni khawatir."Kau terlihat sangat kacau hari ini"
"Semalam aku tidak bisa tidur", jawab Ethan
"Kenapa?Apa rumah itu berhantu?Jangan-jangan ada hantu perawan disana yang jatuh cinta padamu!", ledek Deni
Namun Ethan tak tertawa mendengar candaan garing Deni.Dia justru memandangi langit dari jendela di ruangannya.
"Mereka bertengkar semalam.Bahkan dia meninggalkan rumah dengan pakaian tidur yang transparan", ujar Ethan dengan ekspresi yang masih sama sedari tadi, suram!
"Suaminya bahkan tidak mengejarnya!Apa sesusah itu mengalah?"
Deni berusaha memahami arah pembicaraan Ethan yang terdengar tidak masuk akal
"Apakah yang sedang bapak bicarakan ini adalah pasangan tetangga, yang selama ini mengganggu hati dan pikiran bapak?", tanya Deni sopan dengan nada menyindir
Ethan ingin menjawab iya,namun dia membatalkannya dan hanya mengangguk.Deni menghela nafas panjang.Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Ethan, karena Ethan terus saja mengelak tentang perasaannya pada Lily
"Apa bapak sedang senggang hingga punya waktu untuk memantau rumah tangga tetangga bapak?"
Ethan terdiam.Dia tidak tahu ingin berkata apa, karena tidak ada pembelaan yang pas, untuk menjawab pertanyaan Deni yang sangat menyinggung itu.
"Saya harap, bapak tidak ikut campur terlalu jauh dalam hubungan rumah tangga orang lain.Saya takut, bapak akan terjerumus ke hal-hal yang tidak ingin saya bayangkan.Apalagi Bapak baru saja menduduki jabatan ini.Jangan sampai hal ini akan mengganggu kinerja bapak dan berdampak buruk bagi posisi Bapak saat ini", Deni memperingatkan Ethan.Kali ini dia mengatakannya dengan serius.
Ethan menghela nafas sembari menatap langit-langit ruangannya,"Sepertinya aku sudah mencoba masuk kedalam celah itu"
Deni mengernyitkan alis, bingung.
"Semalam aku mengejarnya karena takut terjadi apa-apa padanya.Dan saat aku berhasil membujuknya pulang, suaminya mendapati kami jalan berdua dengan istrinya yang sedang memakai jaketku"
"Apa kata...."Deni sempat meneriaki Ethan, namun terhenti saat sadar sedang berada di kantor dan berusaha mengontrol dirinya.Deni memelototi atasannya itu tanpa rasa takut.Kali ini,dia menatapnya bukan sebagai atasan, melainkan seorang sahabat.
"Ethan, apa yang kau lakukan?",bisik Deni, berusaha tidak membuat keributan di kantor
"Entahlah!Aku sendiri tidak tahu apa yang coba kulakukan semalam.Sepertinya aku sudah gila menyukai istri o..."
Belum selesai Ethan berbicara, Deni sudah lebih dulu membekap mulutnya dengan kedua tangannya.Ethan terkejut dan hampir terjatuh dari kursinya.Deni baru melepaskannya saat Ethan memukuli tangannya
"Apa kau sudah gila?!Apa tidak ada wanita lain yang bisa kau dapatkan?!Dia itu istri orang, dasar gila!", ucap deni, masih setengah berbisik.
"Memang kau pikir aku mau seperti ini?Otakku sudah berusaha menolak ikut campur dan menyangkal semua perasaan aneh itu, tapi hatiku rasanya sakit sekali setiap kali melihatnya sedih.Apa kau tahu yang terjadi padaku tiap kali melihatnya menangis?Rasanya aku ingin berlari kearahnya.Memeluk dan menyemangatinya.Dan aku harus menahan siksaan itu, karena sadar dia milik orang lain"
Deni membelalak.Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya,"Kamu sedang di mabuk cinta"
"Sebaiknya buang jauh-jauh perasaanmu itu.Aku tidak mau melihatmu hancur, hanya karena wanita yang sudah bersuami", Deni memperingatkan Ethan dengan nada tegas
"Yaa,aku tahu!", Ethan menjawab dengan raut wajah yang sedih
"Sekarang, tolong fokus dengan pekerjaan kita!Bulan depan kita akan berangkat ke hongkong untuk peresmian cabang hotel yang baru di shanghai"
Deni pun menyerahkan dokumen yang sedari tadi dia bawa untuk diberikan kepada Ethan.Ethan menghela nafas dan mencoba fokus dengan pekerjaannya.Ia berusaha melupakan kejadian kemarin sementara waktu.
...****************...
Lily sedang membantu mempersiapkan pakaian Adam yang akan berangkat besok pagi.Namun dia dan Adam masih sama-sama tak saling bertegur sapa.Dengan ego yang menguasai hatinya, akhirnya Adam berangkat lagi tanpa diantar Lily ke bandara.Adam menghela nafas berat, begitu pemberitahuan keberangkatan pesawat yang dia tumpangi terdengar.
Lily masih berbaring diatas tempat tidur, saat Adam berangkat.Dia merenungi kejadian dua hari lalu dan merasa sedikit bersalah padanya.Lily menyadari, kalau kemarahan Adam juga disebabkan oleh dirinya sendiri.Dia tak mengatakan hal yang terjadi padanya selama Adam tak dirumah.Dia bahkan tidak memberitahu Adam, ketika ibunya mendatangi Lily atau saat Lily masuk ke rumah sakit.Dia selalu membenarkan alasannya tidak memberitahu Adam, agar mereka tak bertengkar tentang hal-hal sepele.Namun yang terjadi, mereka justru semakin sering meributkan hal yang sama dan tak menemui jalan keluar.
Lily mencoba menghibur diri dengan pergi berlibur ke sebuah resort di kepulauan seribu.Dia berharap, sepulangnya dari sana, dia bisa kembali menata hatinya dan memperbaiki hubungannya dengan Adam.
Lily dan Pak Indra baru saja melewati gerbang rumah, saat satpam di rumah Ethan sedang membuka pagar rumah.Ethan mencoba untuk tidak menghiraukan Lily, namun gagal karena Lily sudah lebih dulu menyapanya saat mobil mereka berpapasan.Dia pun balas menyapa Lily yang duduk di kursi belakang.
"Kak, aku ingin meminta maaf atas kejadian dua hari yg lalu.Aku harap Kak Ethan tidak tersinggung atas ucapan Adam"
"Tidak perlu minta maaf!Aku tidak tersinggung sama sekali!Wajar jika seorang suami mengatakan hal semacam itu.Akupun akan melakukan hal yang sama jika mendapati istriku berjalan dengan pria lain"
"Aku juga menyadari hal itu saat dia berangkat tadi pagi.Dan sekarang, aku merasa sedikit menyesal"
"Sedikit?", ledek Ethan
Lily tersenyum mendengar pertanyaan Ethan, "Saaaaaangat menyesal.Tapi tidak pernah menyesali pertemuan kita yang selalu terjadi secara kebetulan.Aku harap, Kak Ethan tidak merasa sungkan padaku dan Adam setelah kejadian itu"
"Cobalah untuk menelpon Adam dan jelaskan semua kesalahpahaman itu", Ethan menasihati
Mereka saling diam.Ethan mendadak teringat ucapan Deni yang menyuruhnya menghindari Lily
"Kalau begitu aku pergi dulu.Aku ada rapat di luar kota",pamit Ethan
Lily mengangguk dan mempersilahkan Ethan pergi lebih dulu.Ethan pun menghela nafas.Dia berusaha menguatkan hatinya, agar tidak menoleh ke arah kaca spion dan berlalu pergi.
...****************...
Lily baru saja tiba di tujuannya.Sesampainya di kamar, dia bergegas mengambil handphonenya.Sesuai nasihat Ethan, Lily berusaha menghubungi Adam, namun tidak ada jawaban.Diapun mengirim pesan untuk adam
"Maaf jika aku menyinggung perasaanmu beberapa hari ini.Aku harap, kita bisa berbaikan begitu kamu kembali dari New York.Dan semoga pekerjaanmu disana selesai dengan lancar"
Lily mengirim pesannya dan berharap Adam segera membacanya, agar suaminya itu tahu betapa menyesalnya dia.Sayangnya pesan yang ia kirim belum terbaca sama sekali.Dia sungguh menyesal, tidak mengantarkan Adam ke bandara.
Setelah lama menunggu dan tak kunjung ada balasan, Lily keluar dari kamarnya dan berjalan menyusuri pantai.Dia berusaha berfikir positif dan menikmati liburannya, walau hatinya sedikit galau belum menerima kabar dari Adam.Dia terus berjalan dengan tatapan kosong, serasa liburannya kali ini tak bisa menghibur kekhawatirannya.
Namun langkah kaki Lily tiba-tiba terhenti, saat tak sengaja melihat Ethan yang sedang berbincang dengan beberapa orang berpakaian seragam resort.Mereka terlihat sedang menjelaskan sesuatu pada Ethan.
Ethan yang sedang fokus mendengarkan penjelasan manajer resort, tiba-tiba terganggu saat tak sengaja melihat Lily sedang menatap ke arahnya.Deni yang berada tepat disamping Ethan, ikut melihat ke arah mata Ethan tertuju.Dia melihat Lily sedang tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Ethan.Dengan cepat, Deni menghentikan semua kegiatan mereka dan memerintahkan seluruh pegawai resort kembali ke kantor.Belum sempat Deni berbicara pada Ethan, Lily sudah berjalan mendekat ke arah mereka berdua
"Kak Ethan sedang apa disini?"
"Seperti yang ku katakan tadi, aku ada rapat di luar kota.kamu?"
"Sedang menata hati"
"Kamu sudah melakukan saranku?",tanya Ethan
"Sudah.Tapi belum dijawab.Mungkin karena masih di pesawat.Handphonenya tidak aktif"
Ethan mengangguk, lalu tiba-tiba teringat jika ia sedang bersama Deni.
"Oh ya Lily, kenalkan ini Deni.Sahabat sekaligus asistenku.Dia yang membuat keributan di rumah sakit saat itu", ucap Ethan dengan nada bercanda
Deni dan Lily pun berkenalan.Mereka berdua terlihat canggung satu sama lain
"Pak Ethan, kita masih ada jadwal yang harus dikerjakan", ucap Deni dengan serius, seolah memberi isyarat kepada Ethan untuk segera menghindari masalah besar.
"Maaf Lily, sepertinya aku harus pergi!Kalau tidak, istriku yang cerewet ini akan memberiku kultum", ujar Ethan sembari menunjuk ke arah Deni.
Deni hanya berdiri tanpa berkata apapun.Lily tertawa begitu menoleh ke arah Deni.Wajah seriusnya justru terlihat lucu dimata Lily.Berbanding terbalik dengan sikapnya saat di rumah sakit waktu itu, sikapnya saat ini sangat tak cocok dengan imagenya yang kocak.
"Sepertinya aku sedang menganggu kegiatan kalian.Kalau begitu,selamat bekerja", Lily mempersilahkan Ethan dan Deni untuk pergi meninggalkannya sendiri.
"Sepertinya kau patut menerima kuliah tujuh menit dariku"ucap Deni begitu mereka menjauh dari Lily
...****************...
Matahari baru saja terbit, saat handphone Lily berdering.Dengan malasnya, dia mencoba meraih handphonenya dan melihat nama Adam dalam panggilan telponnya.Dengan segera, Lily mengangkat telpon Adam.
"Halo!", sapa Lily mencoba untuk terdengar biasa saja.
"Maaf,aku baru saja sampai dan membaca pesan mu"
"Kamu masih marah?", tanya lily cepat
"Tidak!Aku bahkan sudah tidak marah sebelum berangkat.Kamunya saja yang masih ngambek dan tidak mau mengantarku ke bandara"
"Aku minta maaf.Aku menyesal tidak mengantarkan mu ke bandara"
"Mau video call?"
"Tentu"
permintaan video pun masuk dan Lily segera menerimanya.Terlihat wajah lelah Adam dari dalam layar handphone
"Kamu baik-baik saja", tanya lily
"Iya!Aku baru saja sampai, jadi masih jet lag.Tapi tidak apa-apa"
"Maafkan aku"
"Aku juga.Mudah-mudahan pekerjaanku cepat selesai dan aku bisa segera pulang.Ngomong-ngomong, kamu sedang dimana?"
"Aku sedang di resort blue sky beach"
"Bersenang-senanglah selama disana.Ku harap kamu bisa ceria seperti dulu lagi sepulang dari sana"
Lily tersenyum.Akhirnya dia merasa lega setelah berbaikan dengan Adam,"Kamu istirahat saja,aku sudah merasa tenang bisa mendengar kabar darimu"
"Oke!Aku akan menghubungimu lagi begitu punya waktu senggang.l love you", pamit Adam
"I Love you too", Lily pun menutup telponnya.
Rasanya dia ingin kembali tidur, namun cahaya matahari yang menembus masuk melalui ventilasi kamarnya membuatnya tak bisa menutup mata lagi.Dengan malasnya, dia berusaha untuk bangun dan membuka tirai kamarnya.Pemandangan laut menyambut matanya begitu tirai terbuka.
"Ahhh...segarnya..."
Seketika matanya tertuju pada seseorang yang sedang berlari dipinggir pantai.Dia memicingkan matanya berusaha mengenali orang itu,'Kak Ethan!'
Dia segera berlari ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan bergegas mencari sendal.Dia mencoba mengejar Ethan yang tengah berlari dan semakin menjauh.Lily merasa tak sanggup mengejarnya, karena tubuhnya masih sedikit oleng setelah bangun tidur.
"Kak Ethan!!",teriak Lily
Ethan yang mengenali suara itu pun, langsung berhenti dan menoleh ke asal suara.Ia mendapati Lily tengah berlari-lari kecil ke arah nya
"Wah, kak Ethan atlet lari ya?", tanya Lily
Ethan tertawa melihat wajah Lily yang pucat dengan nafas yang tersengal-sengal
"Aku hanya hobi lari pagi, bukan atlet.Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan?Dari wajahmu saja sudah ketahuan, kamu orang yang tak pernah lari pagi", sindirnya
"Kupikir kak Ethan pulang kemarin"
"Rapat kemarin selesai jam delapan malam, jadi aku memutuskan untuk menginap disini."
"Oo..", Lily mengangguk paham
Dia mengalihkan pandangannya ke arah laut.
"Aku jadi sedikit bersemangat, setelah berlari mengejar Kak Ethan", Lily merentangkan tangannya sambil menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya.
Tiba-tiba Ethan merasakan jantungnya berdetak sangat kencang melihat Lily melakukan gerakan itu.Tubuhnya yang penuh keringat, terasa panas dan wajahnya memerah.Dia menatap wajah Lily yang sedang tersenyum ke arahnya.Seketika sensasi aneh terasa menggelitik seluruh tubuhnya.Dengan cepat, Ethan berusaha mengendalikan perasaannya.
"Kak Ethan kenapa?"
Belum sempat Ethan menenangkan perasaannya, Lily sudah lebih dulu mendapati wajahnya yang memerah.
"Wajah kakak merah.Kak Ethan demam?", Lily mengangkat tangannya dan mencoba menyentuh dahi Ethan, namun Ethan menepis tangan Lily dengan halus dan menutupi dahinya dengan tangannya ,agar Lily tak menyentuhnya.
"Aku tidak apa-apa!Maaf Lily, aku harus kembali ke kamar.Ada tugas yang harus ku kerjakan", Ethan langsung berbalik badan dan berlari meninggalkan Lily sendiri.
'Kak Ethan kenapa?',Lily nampak keheranan
...****************...
Setibanya dikamar, Ethan segera berlari ke sofa untuk merebahkan tubuhnya, dengan nafas yang masih tersengal-sengal.Dia seperti orang yang baru saja melihat hantu.Ethan memegangi dadanya yang masih saja berdetak dengan kencang.Ia mencoba menutup matanya,namun Ethan sangat terkejut, karena yang muncul di dalam benaknya adalah wajah Lily
"Ethan, kamu benar-benar sudah gila!Dia itu istri orang!", makinya seraya menampar dirinya sendiri
Ia pun berusaha menenangkan pikirannya,'aku tidak boleh seperti ini'.
Dia merogoh kantong celananya dan mengambil handphone.Dia mencari nomor Deni dan segera menghubunginya, "Halo Deni?"
"Halo,ada apa bos?bukannya hari ini kamu meliburkanku?", suara Deni terdengar parau.
"Ya,aku tahu!Tapi tolong pindahkan barang-barangku dari rumah itu sekarang juga!"
"Apa?kau gila ya!Kau baru menempatinya sebulan, kenapa sudah mau pindah?", Deni terdengar sangat kesal
"Aku tahu!pindahkan saja kembali ke apartemenku.Aku sudah tidak sanggup tinggal disana.Jika ku paksakan, bisa-bisa aku jadi perebut istri orang.Apa kau mau?"
Deni tidak bersuara, lalu menutup telponnya.
...****************...
Lily bersiap-siap untuk pulang begitu waktu sewa kamarnya berakhir.Sedari tadi, dia mencari-cari Ethan, namun tidak ketemu.Dia ingin mengembalikan uang yang dipinjamnya di minimarket waktu itu.Dia merasa tidak enak, karena sudah berjanji akan menggantinya.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya Lily tiba dirumah.Namun pandangannya teralihkan, saat melihat sebuah truk terparkir di depan rumah Ethan.Terlihat beberapa orang masuk lalu keluar dengan membawa kardus dan memasukkannya ke dalam truk.Lily penasaran dan berjalan ke rumah Ethan
"Permisi, mohon maaf sebelumnya?Kalian sedang apa di rumah itu?",tanya Lily pada pria yang sedang berdiri tepat di belakang truk dan memantau setiap kardus yang diangkut ke dalam truk.
"Kami jasa angkut barang bu.Pemilik rumah ini akan pindah"
Lily cukup terkejut mendengar perkataan Bapak itu.Dia sempat menengok sebentar ke arah pintu rumah, namun tak melihat Ethan sama sekali.
"Apa Bapak punya nomor telpon pemilik rumah ini?"
Sepintas, Bapak itu melirik ke arah Lily.Dia terlihat ragu memberikan nomor telepon Ethan pada Lily
"Saya tetangga depan rumah ini!Saya ingin mengembalikan uang yang saya pinjam beberapa hari yang lalu, tapi tidak sempat bertemu dengannya.Kalau Bapak tidak percaya, Bapak bisa menanyakan ke security di rumah saya"
Bapak itu mengangguk percaya, lalu memberi nomor Ethan yang tercantum pada kertas yang dia pegang.Lily menyimpan nomor itu di handphonenya, lalu menghubunginya.
"Halo", sapa Lily begitu Ethan mengangkat telponnya.
"Lily?!", Ethan terdengar sedikit terkejut
"Kak Ethan mau pindah rumah?"
"Aku akan kembali ke apartemen lamaku.Aku hanya menumpang sementara saja di rumah Ibuku", Ethan beralasan
Lily tak bertanya lebih jauh.Dia tampak sedikit kecewa, orang yang baru saja menjadi temannya,kini akan meninggalkannya.Namun dia tak berhak menahannya untuk tetap tinggal.
"Maaf kak, aku mengatakan ini lewat telpon.Apa kak Ethan bisa mengirim nomor rekening kakak padaku?Aku ingin menggantikan uang yang waktu itu aku pinjam"
"Tidak perlu!Anggap saja itu hadiah perpisahan yang aku berikan.Belum tentu kita bisa bertemu lagi lain waktu"
"Tapi aku merasa tidak enak pada kak Ethan.Aku sudah berjanji akan menggantinya waktu itu.Janji adalah hutang bagiku" ,jawab Lily polos
"Hahaha...bagaimana kalau sebagai gantinya,.kamu mentraktirku kapan-kapan, jika kita tidak sengaja bertemu?"
Tanpa pikir panjang,Lily langsung menjawab,"Oke, kapanpun kak Ethan ingin di traktir, silahkan hubungi nomor ini"
"Baiklah!kalau begitu aku tutup telponnya!Sebentar lagi aku ada rapat"
"Oh iya!Maaf jika aku mengganggu waktu kakak.Sampai ketemu lain waktu,Daa"
"Daa"Ethan menutup telponnya.
Lily tersenyum seraya melirik ke arah rumah Ethan untuk terakhir kalinya
'Sampai jumpa lagi tetangga yang baik hati',batin Lily.