Love In Tears

Love In Tears
Pertengkaran dan cinta



Lily baru saja ingin masuk kedalam rumah, saat mobil Adam tiba-tiba muncul.Lily terkejut, karena Adam tak memberinya kabar dan tiba-tiba sudah berada di depan rumahnya.Ia berlari kearah mobil dengan baju yang masih basah dan menunggu Adam keluar dari mobil.Lily mengarahkan payung pemberian Ethan pada Adam, begitu pintu mobilnya terbuka.Adam nampak mengernyitkan alisnya saat melihat pakaian Lily yang sudah basah kuyup


"Kenapa kamu basah begini?",tanya Adam penasaran


"Aku habis bermain hujan", jawab Lily


"Apa kamu sesenang itu?kamu seperti anak kecil saja",sindir Adam


Lily tidak menjawab.Dia terus memayungi Adam hingga ke depan rumah.Tepat didepan pintu, Adam menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Lily


"Tunggu disini,aku akan menyuruh bibi untuk membawakanmu handuk.Segeralah mandi dan berganti pakaian, nanti kamu sakit!"


Lily mengangguk paham.Bibirnya terlihat sudah membiru karena kedinginan.Lily pun langsung berlari ke kamar mandi di kamarnya, begitu Bi Darsih memberikannya handuk.


Hujan telah berhenti sejak tadi.Setelah mandi dan berganti pakaian,Lily menuju dapur, menyiapkan secangkir kopi dan sandwich untuk Adam yang sedang mandi.Begitu selesai, Lily membawa kopi dan sandwich itu ke ruang kerja Adam.Adam yang sedang sibuk dengan laptopnya,menghentikan kegiatannya dan menyeruput kopi yang dibawa Lily


"Kenapa kamu pulang tanpa memberi kabar?",tanya Lily mengawali pembicaraan


"Aku ingin memberimu kejutan, jadi aku pulang sendiri tanpa mengabarimu",jawab Adam datar


"Kamu belum membuka koperku?Aku ada hadiah untukmu", lanjutnya


Lily tak menjawab.Dia merasa tingkah Adam aneh.Kenapa dia tiba-tiba terdengar sangat lembut?


"Hari ini aku akan lanjut kerja di rumah",ujar Adam begitu menghabiskan sandwichnya.


"Lagi?",tanya lily sedikit kecewa.Baru saja dia menganggap Adam melembut, kini kembali seperti biasanya.


"Ya...kamu tahu sendiri, aku bekerja di perusahaan asing.Otomatis waktu kerjaku lebih banyak karena harus mengurus dua dokumen."


"Aku tahu.Tapi tidak bisakah kamu meluangkan waktu untukku?Kamu baru saja tiba dan sudah langsung mengerjakan tugas kantor lagi!Aku juga butuh diprioritaskan".


Adam tidak merespon.Dia tidak bisa bilang pada Lily kalau sebenarnya dia pulang sebelum pekerjaannya selesai, hanya karena Adam mendengar kabar dari wanita itu.Ia khawatir jika terus membiarkan Lily sendirian, dia akan menghabiskan waktu bersama Ethan.


"Bahkan untuk program kehamilan pun kita tidak ada waktu", Lily coba memancing reaksi Adam.


Namun bukannya senang, Adam justru terlihat kesal.Dia membuka kacamatanya dan menghentikan kegiatannya.Dia menatap ke arah Lily dengan tatapan kesal


"Aku tahu pembahasan ini akan berujung ke hal yang sama.Kufikir kamu akan mendukung karirku demi kebahagiaan kita.Apakah kita menikah karena anak?Sampai segitunya kamu terobsesi dengan anak daripada mendampingiku.Aku sudah sangat muak mendengarnya.Padahal aku sedang berusaha mati-matian demi masa depan kita berdua.Aku bahkan rela pulang cepat agar aku bisa memantaumu dari dekat", suara Adam tiba-tiba meninggi.


Lily hanya terdiam dan tak berani menjawab Adam sepatah kata pun.Matanya mulai berkaca-kaca.Dia sudah bisa menebak akan terjadi keributan jika dia terus membahas hal ini lagi dan lagi.Namun ini bukanlah keinginannya.Lily hanya mengikuti perkataan Ibu mertuanya yang menyuruhnya untuk membujuk Adam begitu pulang dari Tiongkok.


Tak ingin bertengkar lebih jauh, Lily berbalik badan dan berjalan meninggalkan Adam.Namun Adam mengejarnya dan berhasil menahan pintu, saat Lily hendak keluar.Dia menarik tangan Lily dan membuatnya berbalik ke hadapannya.


"Kamu selalu saja seperti ini!Memulai pertengkaran, lalu menghindar sebelum masalah selesai", Adam mencengkram pergelangan tangan Lily dengan erat.


Lily menatap kearah Adam.Dia hanya terdiam,tak sanggup lagi menahan air matanya yang sudah penuh di sudut matanya.


"Bisakah kamu berhenti menanyakan hal yang sama sementara waktu?Aku butuh jawabanmu agar masalah ini tidak menjadi hal yang menggangguku!Aku butuh komitmen darimu,apa kamu tidak mengerti?"Adam kembali meninggikan suaranya.


"Komitmen?Kalau begitu jangan harap hal itu akan keluar dari mulutku!Beri saja alasan yang tepat ke orang tuamu, ke keluarga besarmu, agar aku berhenti membahas hal ini, mengerti?"


Lily berusaha melepaskan tangan Adam dan mendorongnya, yang hanya terdiam setelah mendengar ucapannya.Dia berjalan menuruni tangga dan meninggalkan rumah dalam keadaan menangis.Lily bahkan tidak sadar, dia pergi dengan pakaian dan sendal tipis.Bi Darsih berusaha memanggil dan menghentikan Lily, namun dia tidak menghiraukannya.


Sementara itu, Adam masih merasa kesal dan berusaha kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya, tanpa tahu jika Lily telah meninggalkan rumah.


...****************...


Ethan sedang fokus bekerja, namun keributan dari seberang rumahnya mengganggu konsentrasinya.Rasa penasarannya membuatnya menoleh ke asal suara.Sebenarnya dia sangat risih melihat kelakuan kasar Adam yang tak sengaja Ethan lihat, namun dia berusaha menahan rasa kesalnya seraya mengepalkan tangannya.


Ethan melepaskan kacamatanya dan mencoba untuk tidak mempedulikan kejadian itu, namun suara bantingan pintu membuatnya refleks menoleh sekali lagi.Dia melihat Lily berjalan keluar pagar dengan kesal, sembari terus mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


'Apa yang dia lakukan?Ini sudah malam dan dia keluar dengan baju seperti itu?'


Ethan berusaha tidak peduli.Namun hatinya tidak berhenti khawatir.Apalagi melihat Adam yang malah fokus bekerja, tanpa berusaha mengejar lily.


'Akh,,persetan dengan suaminya!',batin Ethan.


Ethan segera meraih jaket long coat miliknya dan berlari keluar, berusaha mengejar Lily yang sudah menghilang dari blok rumah mereka.Ethan tak berhasil mengejar Lily, namun dia terus mencari keberadaannya dengan mengitari blok demi blok disepanjang kompleks perumahan.


Setelah bersusah payah mengelilingi kompleks perumahan, akhirnya dia menemukan Lily sedang duduk diatas ayunan taman bermain dengan tatapan kosong.Ethan menghela napas panjang.Dia merasa lega telah berhasil menemukannya.Ethan mengatur nafasnya sambil berjalan pelan mendekati Lily.


"Setelah bermain hujan, sekarang bermain ayunan?", Ethan coba membuka percakapan.


Lily yang sedari tadi melamun,tiba-tiba terkejut melihat Ethan berdiri di depannya


"Aku hanya merasa bosan dirumah", Lily menjawab seadanya.


"Sepertinya hari ini aku sangat rindu dengan masa kecilku dan bertingkah kekanak-kanakan", Lily coba memberi alasan pada Ethan.


Ethan tersenyum,dia berjalan kearah ayunan kosong yang berada disamping Lily


"Terkadang aku juga melakukan hal yang kekanak-kanakan.Apa lagi saat melalui masa-masa sulit!Rasanya aku ingin kembali ke masa anak-anak.Masa dimana tidak ada beban hidup",Ethan berusaha mencairkan suasana


"Ngomong-ngomong, Kak Ethan ngapain disini?", tanya Lily begitu merasa sedikit tenang


"Ahh....tadinya aku ingin ke minimarket mencari sesuatu yang bisa dimakan, tapi sepertinya aku tersesat", Ethan mencari alasan


"Ohh...minimarket bukan ke arah sini, tapi ke arah sana", jawab Lily sembari menunjukkan arah yang berlawanan


"Aku takut tersesat lagi.Boleh tidak kamu mengantarku kesana?",Ethan menatap penuh harap, menunggu jawaban dari Lily


"Hmm...boleh!Aku juga lapar.Sedari tadi belum makan", Lily tersenyum sembari memegangi perutnya.


Namun Lily tiba-tiba teringat sesuatu,"Aku tidak membawa dompet dan handphone!Bagaimana kalau aku tunjukkan saja jalan pada kak Ethan dan pulang?Kak Ethan bisa pulang sendirikan?"


"Bagaimana kalau aku tersesat lagi?Jangan khawatir, nanti aku yang traktir!Hitung-hitung kamu menunjukkanku arah jalan, bagaimana?", Ethan menawari


Lily berpikir sejenak,"Ok,tapi jangan traktir!Pinjami saja aku uang.Nanti aku ganti uang Kak Ethan begitu sampai di rumah"


Ethan mengangguk setuju,"Ok!"


Lily pun bergegas untuk pergi, namun Ethan mencoba menghentikan Lily


"Tunggu dulu",Ethan melepaskan jaket long coat yang dipakainya dan memberikannya pada Lily.


Dengan sigap, Lily menolak,"jangan repot-repot kak!Aku tidak apa-apa!"


Lily pun tersadar, dia keluar dengan pakaian dan sendal rumah.Seketika dia merasa malu didepan Ethan


"Tidak apa-apa, pakai saja!Begitu sampai didepan rumah,kamu bisa langsung mengembalikannya"


Dengan malu-malu Lily pun memakai jaket Ethan.'wangi sekali',ucapnya dalam hati


"Terima kasih"


Mereka pun berjalan bersama ke arah minimarket.Sesampainya disana,mereka memesan kopi dan beberapa roti untuk Ethan, lalu duduk di kursi yang tersedia di teras minimarket.Mereka asyik mengobrol, namun wajah Lily terlihat sangat sedih, seolah melakukannya karena terpaksa.


"Apa kamu sedang ada masalah?",tanya Ethan


Lily hanya terdiam, dia tak menjawab pertanyaan Ethan


"Kalau merasa berat untuk menceritakannya, tidak usah dipaksa", Ethan tersenyum ke arah Lily


"Maaf kak, aku tidak terbiasa menceritakan masalahku pada orang lain", ucap Lily sambil menunduk malu.


"Tidak apa-apa!Aku juga tidak berhak untuk memaksamu menceritakannya.Setidaknya perasaanmu bisa membaik setelah berjalan-jalan"


Mereka berdua terdiam.Tanpa sadar, gelas kopi yang mereka pegang sudah kosong.


"Apa perasaanmu sudah sedikit membaik?", tanya Ethan sekali lagi


"Lumayan", jawab Lily


"Terima kasih kak, sudah mau minum kopi denganku.Begini saja sudah membuatku merasa tenang"


Lily menunduk seraya tersenyum, lalu menoleh ke arah Ethan,"Terima kasih juga, Kak Ethan tidak bertanya apapun dan mau menemaniku yang sedang galau"


Tiba-tiba jantung Ethan berdegup kencang dan wajahnya memerah.Dia memandangi Lily yang juga sedang menatapnya.


"Tidak masalah!Aku juga sedang banyak masalah di kantor.Jadi butuh sedikit ketenangan agar bisa memecahkan masalah", jawab Ethan singkat, seraya berusaha menenangkan hatinya


"Aku terbiasa sendiri, jadi sulit untuk menceritakan masalahku pada orang lain.Semoga kedepannya, aku bisa lebih terbuka pada orang yang aku sayangi", Lily tersenyum dengan polosnya.


"Sifatmu justru kebalikan dari sifat adikku.Dia terus saja menceritakan semua masalahnya padaku.Bahkan hubungan percintaannya dia umbar tanpa aku tanya.Aku sendiri sampai bosan mendengar curhatannya",Ethan tertawa mengingat kelakuan adiknya


"Kapan-kapan pertemukan aku dengan dia,agar Kak Ethan bisa menilai, adik mana yang bisa jadi kesayangan Kak Ethan", canda Lily


Mereka berdua tertawa bersama.Ethan merasa lega setelah melihat Lily bisa tertawa lepas.Usai puas bercerita, Ethan mengajak Lily pulang.


...****************...


Ethan dan Lily berjalan tanpa perasaan canggung dan terus saja mengobrol sambil berjalan dengan santai, hingga tiba didepan rumah mereka.Sementara itu, Adam tampak sedang gelisah menunggu Lily di depan pagar rumah mereka.Dia semakin kesal, saat melihat Lily sedang berjalan bersama Ethan seraya tertawa, seakan tak terjadi apa-apa diantara mereka.


"Kamu dari mana saja?Apa kamu tidak lihat, ini sudah jam berapa?", tanya Adam sembari menarik lengan lily dengan kasar.


Dia terus memandangi Lily dan Ethan bergantian.Merasa tak enak, Ethan coba menjelaskan situasi mereka kepada Adam


"Tadi saya ingin ke minimarket, tapi tersesat.Lalu tidak sengaja bertemu Lily di jalan.Dia membantu saya menunjukkan jalan ke minimarket.Jadi aku menawarinya kopi", Ethan memperlihatkan kantong kresek yang ditentengnya agar Adam tidak berpikir yang macam-macam tentangnya dan Lily.


Namun Adam tak menghiraukan penjelasan Ethan.Dia terus saja melihat ke arah Lily, yang sedari tadi tak ingin menatapnya.


"Lalu jaket siapa yang kamu pakai?Setahuku, kamu tak punya jaket seperti ini", tanya Adam lagi


"Ini jaket Kak Ethan.Tadi dia meminjamkannya karena aku memakai baju yang transparan", jawab Lily datar


"Kak Ethan?Sejak kapan...", Adam tidak melanjutkan pembicaraannya.Dia dengan kasar melepaskan jaket Ethan dan langsung memulangkannya.


"Terima kasih sudah meminjamkannya pada istri saya.Tapi lain kali jika anda berpapasan dengannya, tolong suruh dia langsung pulang, apalagi sekarang sudah larut malam"


Mereka saling diam satu sama lain.


"Ayo Lily,cepat masuk"


Tanpa basa basi lagi, Adam menarik lily dengan kasar dan berjalan kearah kerumahnya.Ethan sungguh kesal melihat kelakuan Adam, tapi dia tidak bisa berbuat apapun.Apalagi Lily adalah istri Adam.Dia hanya berharap, Lily tidak mendapat masalah lebih banyak lagi karena dirinya.


Adam masih memegangi lengan lily dengan kencang begitu mereka sampai dikamar tidur.Dia sangat kesal, membayangkan Lily memanggil tetangganya dengan lembut dan menyebutnya kakak.Seketika, ucapan temannya saat dia di Tiongkok terngiang-ngiang di telinganya.


"Adam,bisa tolong lepaskan tanganku?ini sangat sakit!"


Adam akhirnya tersadar,saat Lily meneriakinya.


"Sejak kapan kamu akrab dengan si 'kak Ethan' itu?", tanya Adam dengan menekan kata-kata terakhirnya


"Tadi kami tidak sengaja bertemu dan mengobrol di minimarket.Dia bahkan membelikan aku kopi.Lagipula dia juga lebih tua dariku, jadi apa salahnya kalau aku memanggilnya kakak?"


"Apa kamu tidak berusaha berbohong padaku?Tidak mungkin kalian hanya bertemu malam ini dan menjadi sangat akrab dalam sekejap"


"Apa maksud perkataanmu?", tanya Lily kesal.


Adam tak menjawab, membuat Lily menerka-nerka pikiran Adam,"Kamu curiga aku sering menghabiskan waktu dengannya?Kamu tidak merasa bersalah kenapa aku jadi begini?"


"Tidak!Yang harusnya merasa bersalah itu kamu!Kamu perempuan yang sudah bersuami, tapi berkeliaran di malam hari dengan pakaian seperti itu!Bahkan meminjam jaket lelaki lain dan minum kopi bersamanya di luar!", bentak Adam


Lily terdiam.Dia merasa apa yang dikatakan suaminya itu memang benar.Namun dia juga merasa kesal, karena Adam menuduhnya tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Sudahlah, aku tidak ingin bertengkar denganmu.Aku harap ini terakhir kalinya kamu bertemu dengan pria itu.Jangan membuat kepercayaanku semakin berkurang.Untuk terakhir kalinya ku katakan padamu, aku mau kamu bersabar sampai posisiku di kantor stabil.Aku mencintaimu Lily!Dan perasaanku tidak pernah berubah, sejak kita pertama kali bertemu.Jadi ku harap kita tidak pernah meributkan hal-hal yang bisa membuat hubungan kita goyah", ucap Adam mencoba menenangkan dirinya sendiri


"Aku juga tidak ingin bertengkar terus denganmu.Tapi semakin lama, aku merasa kamu banyak berubah dan semakin jauh dariku.Belum lagi tekanan dari keluarga besar kita, membuatku semakin terpuruk.Kamu bahkan tidak tahu apa yang terjadi padaku belakangan ini.Aku hanya berusaha tidak mengeluh padamu dan menyelesaikan masalahku sendiri, tapi nyatanya aku tidak sanggup.Aku sangat butuh dukungan darimu"


"Aku selalu mendukung apapun keinginanmu, tapi untuk saat ini, aku lebih membutuhkan dukungan darimu.Setidaknya, beri aku waktu untuk menyelesaikan semua tugas-tugas kantor.Apalagi lusa aku harus berangkat ke New York selama seminggu"


"Sudah kuduga jawabanmu pasti tetap sama!Tapi kenapa aku selalu saja kecewa, tiap kali mendengar hal itu dari mulutmu.Silahkan selesaikan semua pekerjaanmu di New York.Semoga saat pulang nanti, kita bisa memiliki pemikiran yang sama seperti dulu"


Lily meninggalkan Adam sendiri dikamar.Dia memutuskan untuk memberi waktu pada Adam untuk berpikir dan menjauh sejenak.Lily merasa sungguh kacau.Hubungannya dengan Adam semakin hari semakin buruk.Dia merasa, Adam sudah semakin jauh ke dalam dunianya sendiri dan tidak mempedulikan keadaannya.


...****************...


Sementara itu, Ethan merasa gelisah di kamarnya.Dia takut, sesuatu yang buruk akan terjadi pada Lily karena perbuatannya.Dia tidak bermaksud merusak hubungan antara Adam dan Lily.Dia hanya tidak tega, membiarkannya pergi dalam keadaan kacau seperti itu.Sesekali ia mengintip ke jendela, namun semua ruangan di lantai dua rumah Lily sudah gelap


'Sial!Apa yang aku pikirkan?!',batinnya


Ia mencoba menenangkan diri dengan memakai headset dan berusaha menutup matanya dengan selimut.Namun tetap tak membantunya untuk tidur dan akhirnya dia tak bisa tidur hingga pagi.