Love In Tears

Love In Tears
Perjalanan ke Ngong Ping 360 dan Tai O Village yang menyenangkan



Pukul tujuh pagi,Ethan sudah bersiap di depan kamar Lily.Karena nomornya tidak bisa dihubungi,dia segera menemuinya dikamar.Ethan terlihat menggunakan baju kaos dan celana pendek.Dia juga memakai sepatu sport dan membawa ransel sedang.


"Hari ini kamu ada kegiatan?",tanya Ethan begitu Lily berdiri didepannya.


"Tentu saja tidak ada"


"Kamu mau menghabiskan dua hari ini denganku?",tanya Ethan


"Mau kemana?"


"Pokoknya kamu berkemas saja.Kali ini kita memakai transportasi umum dan bermalam diluar Hotel"


Butuh waktu lima belas menit untuk Lily bersiap-siap.Mereka tak sengaja berpapasan Adam yang sedang menunggu mobilnya.Dia menatap Lily dengan mata sendu,namun Lily tampak tak menghiraukannya seolah tak saling mengenal.Ethan yang melihat ke arah Adam pun,seolah acuh dengan keberadaannya.Dia meraih tangan Lily dan berjalan meninggalkan Adam sendiri.


"Kita naik apa dan mau kemana?"


"Kita akan naik bus dari sini"


Mereka pun berjalan menuju halte bus.Lily sangat asing di tempat itu,namun tidak merasa takut selama Ethan berada disampingnya.


"Kak Ethan pernah tinggal di hongkong?"Lily membuka pembicaraan saat menaiki bus


"Aku lahir dan besar disini,lalu pindah ke Indonesia,saat Ayahku baru membuka cabang hotel dan resor di Jakarta dan Bali.Aku terbiasa bolak balik Hongkong Indonesia sejak dulu"


Lily terlihat serius mendengarnya


"Jadi bisnis kakak bergerak di bidang perhotelan?"


Lily baru mengetahuinya,karena Ethan tak pernah mengatakannya pada Lily.Lily pun,tak pernah bertanya terlalu jauh mengenai hal pribadi pada Ethan.


"Tepatnya bisnis turun temurun",ucap Ethan seraya tersenyum


"Bisnis ini awalnya milik kakek,saat kakek meninggal,beliau meninggalkan wasiat dan membagi masing-masing hotelnya pada kelima anaknya.Karena ayahku anak tertua,beliau mendapatkan hotel yang berada di Hongkong,sedangkan saudara Ayahku mendapat hotel di beda-beda negara.China,Macau,Jepang dan Korea.Ayahku menikah dengan Ibuku yang berkewarganegaraan Indonesia,jadi Ayah coba melebarkan bisnisnya di beberapa titik wisata di Indonesia"


Lily terlihat takjub mendengar ucapan Ethan.tiba-tiba dia tersadar sesuatu


"Apa hotel yang kita tempati itu milik kak Ethan?!"


Ethan tak menjawab dan hanya tersenyum


"Apa itu alasannya aku mendapat kamar Royal Suite untuk tamu VVIP?"


"Bukannya kamu yang memesan kamar?"


"Iya, tapi aku merasa tidak memesan kamar itu?",Lily coba mengingat lagi


"Kita sudahi pembicaraan tentang aku,kamu sendiri?"


"Ayahku dosen di fakultas hukum Universitas Indonesia dan Ibuku kepala sekolah di SMA international British School.Aku anak tunggal.Ibu melahirkan ku diusianya yang sudah tidak muda.Makanya mereka sangat memanjakanku.Mereka bahkan langsung mengizinkanku menikah begitu aku memintanya"


Lily menoleh kearah jendela bus.Dia tiba-tiba terlihat murung.


"Aku tak menyangka pernikahanku hancur,bahkan sebelum usiaku menginjak tiga puluh tahun"


Ethan mencoba menghibur Lily dengan menepuk bahunya


"Tidak ada kata terlambat untuk mengakhiri takdir menyakitkan ini,jadi jangan disesali"


...****************...


Tanpa sadar,mereka sudah sampai ke tujuan.Lily merasa terkejut sekaligus senang,sudah lama dia ingin mengunjungi tempat ini.Mereka sedang berada di ngong ping 360


Ethan membeli tiket lalu mengajak Lily menaiki kereta gantung crystal private cabin.Lily tak berhenti takjub dengan pemandangan alam yang terlihat dari atas,sedangkan Ethan hanya fokus pada ekspresi Lily yang berubah-ubah,setiap kali mendapati sesuatu yang menakjubkan.Sesampainya diatas,mereka menjelajahi beberapa tempat.Mulai tian tan buddha,po lin,ngong ping piazza,NP tea house.Mereka membeli beberapa souvenir dan bahkan mencoba menaiki 286 anak tangga.Mereka juga menulis harapan di pohon bodhi tree


"Kalau boleh tahu,apa yang kamu tulis di pohon harapan tadi",tanya Ethan saat menaiki bus menuju tai o village


"Bukannya itu rahasia?Kalau aku memberi tahu kak Ethan,maka itu bukan lagi doa"


Ethan mengangguk mengalah


"Aku berharap diberi kekuatan melewati ujian ini.Kalau kakak?",ucap Lily penuh harap


"Hmm,,aku berharap wanita yang aku tatap selama ini,bisa balas menatapku",ucap Ethan seraya menatap ke arah Lily


"Wanita beruntung.Semoga keinginan kakak terkabul."


"Kalau Kak Ethan berhasil dengan wanita itu,kakak wajib mengenalkannya padaku,oke?",sambungnya


Ethan hanya mengangguk seraya tersenyum


Mereka akhirnya tiba di tai o village,desa nelayan yang sederhana dan unik.Sesampainya di sana,Ethan terlihat mencari rumah seseorang.Ethan mengetuk pintu sebuah rumah panggung,yang berada tepat di pinggir sungai.Tiba-tiba,seorang lelaki paruh baya,keluar dari rumah tersebut.Beliau sangat terkejut saat mengamati Ethan dengan seksama.Merekapun berbincang dengan bahasa kanton yang Lily sama sekali tak mengerti.Ethan lalu memperkenalkan Lily pada bapak itu.


"Lily,ini pak Yongsheng,dia bekerja dengan Ayah.Beliau menyuplai ikan untuk Hotel dan rumah kami".


Lily dan Pak Yongsheng pun bersalaman dan saling menyapa


"Malam ini aku akan bermalam disini.Aku akan mengantarmu ke hotel terdekat setelah kita makan"


Ethan lalu mempersilahkan Lily untuk masuk kedalam rumah pak Yongsheng.Lily mengamati sekeliling rumah.Ruang tamunya lapang,menyatu dengan ruang nonton.Serta ada satu kamar dan dapur.Ethan mengajak Lily kesebuah pintu menuju teras yang mengarah ke sungai.Lily sekali lagi merasa takjub.Pemandangan indah terlihat dari sana,beberapa rumah saling berdempetan dan tersusun rapi di pinggiran sungai.Seolah berada di Venesia versi Hongkong.


"Kamu tunggu disini,aku akan menyiapkan makan malam bersama Pak Yongsheng"


Lily mengangguk.Dia pun duduk dan merenggangkan kakinya,setelah lelah berjalan seharian.Namun,perjalanan hari ini sungguh membuatnya senang dan itu tidak akan dia rasakan,jika bukan karena Ethan.


Tercium aroma lezat dari arah dapur.Seketika Lily merasa lapar dan sesekali menelan ludahnya saking tak sabarnya.Tak lama,Ethan muncul dengan membawa beberapa piring berisi aneka macam masakan,mulai ikan bakar,sup ikan dan saos cumi.Rasanya Lily langsung ingin mencomotnya,jika bukan di rumah orang.Lalu Pak Yongsheng pun ikut keluar membawa nasi,piring dan ceret serta beberapa gelas.Baru saja dipersilahkan,Lily langsung mengambil semua menu yang ada dan segera memasukkannya ke dalam mulut.Seketika raut wajahnya berubah senang,seakan baru saja menemukan harta karun yang tak ternilai harganya.


...****************...


Setelah puas makan,Lily tak berhenti berterima kasih pada Pak Yongsheng lalu berpamitan.Ethan pun mengantarnya ke satu-satunya Hotel yang ada di desa itu.Namun sial,begitu tiba disana,ternyata kamar hotel penuh dan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali.


"Maaf,harusnya aku reservasi dulu sebelum memutuskan kesini"


"Tapi kamu lihat sendiri kondisi rumah Pak Yongsheng,hanya cukup untuk kami berdua"


"Aku bisa tidur di teras,asalkan ada kelambu atau tenda.Itu sudah cukup nyaman."


Setelah lama berjalan,Lily melihat jembatan gantung di atas sungai",Kak Ethan,apa kita boleh kesana sebentar?"


"Tentu"


Air sedang pasang,membuat pemandangan sungai lebih indah,apalagi sedang bulan purnama,langit terlihat terang,walaupun sudah larut malam.Lily tersenyum dan menoleh ke arah Ethan yang berjalan pelan kearahnya.Dia memberi isyarat,agar Ethan mempercepat langkahnya.Namun bukannya bergegas,Ethan justru terpesona melihat senyum Lily yang nampak jelas dibawa sinar bulan yang terang.Dia hanya berdiri terpaku,lalu tersadar saat Lily berteriak memanggil namanya.Ethan pun berjalan menghampiri Lily


"Aku sangat berterima kasih pada Kak Ethan untuk pengalaman hari ini"ucap Lily begitu Ethan berdiri disampingnya


"Sekarang perasaanmu sudah sedikit tenang?"


"Tidak!"


Ethan mengernyitkan alisnya.


"Tidak sedikit,tapi sepenuhnya sudah tenang.Kalau aku tidak bertemu dengan kak Ethan malam itu,entah seberapa trauma aku hari ini"


Raut wajah Ethan pun berubah lega


"Aku pun merasa lega.Setidaknya aku bisa membantumu melalui masa-masa sulit itu sebelum pulang ke Indonesia"


"Semoga kak Ethan mendapatkan hati wanita yang kak Ethan cintai.Kak Ethan adalah pria yang sangat baik dan perhatian.Tidak mungkin dia menolak kakak.Aku sungguh-sungguh berdoa untuk kebahagiaan kakak"


Ethan hanya bisa tersenyum.


Setelah puas menikmati pemandangan di sungai,mereka pun berjalan kembali ke rumah Pak Yongsheng.


Setelah mandi,Lily sibuk memasang kelambu,sementara Ethan bergantian mandi.Begitu kelambunya terpasang,Lily masuk dan berbaring di atas matras yang sudah di buka sebelumnya.Dari dalam kelambu,Lily menoleh kearah Ethan yang baru saja selesai mandi.Lily tak sengaja melihat Ethan yang hanya memakai celana dan bertelanjang dada.Dengan segera,Lily menutupi matanya menggunakan selimut tipis pemberian Ethan.Dia merasa canggung,seolah baru saja kedapatan mengintip seseorang.


"Lily,kamu sudah tidur?"


Lily tidak menjawab.Dia berpura-pura tidur.Sampai beberapa menit kemudian,dia benar-benar tertidur.


...****************...


Lily merasakan cahaya matahari menembus kelopak matanya.Dia menahan silau matahari dengan tangannya dan mencoba membuka matanya perlahan,namun tak bisa.Sekujur tubuhnya terasa sangat berat.Samar-samar Lily melihat sosok pria dengan garis wajah yang sempurna,mendekat dan mengecup keningnya.Baru saja Lily ingin mengatakan sesuatu,tiba-tiba tubuhnya terguncang.Terdengar suara yang tidak asing memanggil namanya


"Lily,bangun!Sudah pagi!"


Refleks,mata Lily langsung terbuka lebar dan akhirnya,sakit di sekujur tubuhnya mulai terasa.Dia berusaha merenggangkan badannya dan mendapati Ethan yang berdiri tepat disampingnya.


"Perlu bantuan?"


Bukannya menjawab,Lily malah sibuk melihat wajah Ethan dari bawah.Dia terlihat mirip dengan pria dalam mimpinya.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Iya!Hanya saja,nyawaku belum terkumpul seluruhnya"


Ethan tertawa kecil mendengar candaan receh Lily.


"Bisa bantu aku duduk?"


Ethan menarik tangan Lily dan membantunya untuk duduk.Dia melirik ke arah jam tangannya,pukul tujuh pagi.


"Sore ini kamu sudah harus balik ke Indonesia,jadi kita harus bergegas supaya kamu tidak terlambat"


"Apa kita tidak ada waktu untuk naik perahu dan melihat lumba-lumba?Aku sangat ingin melihatnya sebelum pulang"


"Itu akan memakan waktu lama,kita bahkan tidak bisa memastikan apa akan bertemu lumba-lumba itu atau tidak"


Namun Lily terus saja merengek,membuat Ethan akhirnya mengalah,setelah berhasil dirayu.Dengan cepat,Ethan menghidupkan mesin kapal dan membawa Lily melihat lumba-lumba yang sangat ingin dilihatnya.Begitu tiba didekat lokasi lumba-lumba itu berada,dia mematikan mesin perahu.


"Kita tunggu setengah jam.Jika tidak muncul,kita tetap pulang"


Lily mengangguk paham


Dua puluh menit berlalu,sama sekali tidak ada tanda-tanda kemunculan lumba-lumba.Tersisa tujuh menit,bahkan ekornya pun belum terlihat sama sekali.Lily sedikit kecewa,saat Ethan berjalan ke arah mesin kapal untuk menghidupkannya,tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak dari bawah air menuju kapal.Lily menoleh kearah air itu,lalu terkejut saat mendapati sepasang lumba-lumba sedang loncat disekitar kapal


"Lumba-lumbanya datang!",teriak Lily dengan semangat


Ethan pun tersenyum melihat Lily yang kegirangan bukan main


"Berikan mereka makanan",perintah Ethan sembari menunjuk kearah ember kecil berisi ikan,yang ada dihadapan Lily.


Dengan cepat,Lily mengambilnya dan melemparkannya ke arah lumba-lumba. lumba-lumba itupun saling berebutan memakan ikan pemberiannya.Lily terlihat sangat senang dan kegirangan


"Sudah puas?",tanya Ethan


Lily hanya mengangguk.


"Kita pulang sekarang ya?"


Lily mengacungkan jempolnya.Ethan pun menyalakan mesin kapal dan memutar kearah mereka datang tadi.


...****************...


Akhirnya mereka tiba di hotel pukul dua siang.Lily segera membereskan barang-barangnya dari dalam kamar hotel tempatnya menginap dan berjalan keluar.Ethan menunggunya di depan pintu kamar,dia sudah berjanji pada Lily akan menemaninya ke kamar yang seharusnya ditempati Lily dan Adam.Begitu tiba didepan kamar,Lily tak langsung mengetuk pintu.Dia berbalik ke arah Ethan yang sedari tadi berdiri dibelakangnya,sembari menatap ke arah Lily.Dengan senyum yang tulus,Lily mengulurkan tangannya ke arah Ethan.Seakan paham maksud Lily,Ethan pun mengulurkan tangannya ke arah Lily dan saling berjabat tangan


"Senang telah menghabiskan waktu bersama anda Pak CEO.Semoga kita bisa berjumpa di lain kesempatan",ucap Lily dengan mata sedikit berkaca-kaca,namun berusaha untuk tersenyum


"Jangan lupa kabari aku begitu tiba di Indonesia.Semoga masalahmu bisa segera selesai dan secepatnya kita bisa bertemu lagi"


Lily menarik tangannya dan berbalik menuju kamarnya.Dia mengetuk pintu.Tak lama kemudian,Adam membuka pintu dan Lily pun masuk.Adam segera menutup pintu,tanpa menyapa Ethan sama sekali.Dengan raut wajah sedih,Ethan berbalik meninggalkan kamar Lily.