Love In Tears

Love In Tears
Ikhlas itu lebih baik



Deni baru saja keluar dari lift dan berlari ke arah Ethan yang nampak gelisah.Alisnya yang mengerut ditambah kakinya yang tak berhenti bergerak menandakan betapa gelisahnya dia.


"Bagaimana,apa terjadi sesuatu?",tanya Deni dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


"Tidak.Entah apa yang mereka bicarakan di dalam,tapi mereka masih sama-sama tenang.Aku sudah meminta bodyguard untuk berjaga di dalam",jawab Ethan


"Kita pantau saja dari sini.Kalau memang dia berani macam-macam,kali ini kita harus melaporkannya pada polisi"


Mereka berdua terus memperhatikan ke duanya dari balik dinding kaca restaurant hotel.


"Kakak-kakakku yang ganteng,apa yang sedang kalian lakukan disini",suara yang dibarengi tepukan di pundak mereka sontak mengagetkan Ethan dan Deni.


Keduanya berbalik dan mendapati Alex yang sedang menebar senyum berharap Ethan dan Deni juga menyambutnya dengan seulas senyum.Namun bukannya senyum,Alex justru disambut dengan alis yang mengerut dan raut wajah yang kesal.


"Kalian berdua kenapa?Apa sesuatu yang buruk sedang terjadi?"


Namun keduanya tak menjawab dan kembali fokus menatap ke arah restaurant.Penasaran dengan apa yang mereka lihat,Alex pun mencoba menerawang dari jauh dan melihat Lily sedang duduk dan berbincang dengan seorang wanita Chinese berambut hitam lurus,berpenampilan elegant dan menawan.


Sempat Alex terkesiap lalu kembali tersadar karena rasa penasaran dengan dua sekawan ini.


"Kenapa kalian mengawasi Kak Lily dari sini?Dan siapa wanita cantik yang Kak Lily ajak berbincang?"


Mendengar ucapan Alex barusan,Ethan dan Deni jadi saling menatap dan kembali berbalik menatap Alex dengan mata melotot.


"Wanita cantik katamu?",tanya Deni dan Ethan kompak dengan nada sinis sambil melemparkan tatapan penuh amarah pada Alex


Melihat reaksi menakutkan mereka,nyali Alex jadi ciut.Dia hanya bisa tersenyum kaku sambil melambaikan kedua tangannya di dada pada kedua pria menjelang paruh baya itu.


"Ah tidak,dia tidak cantik!Hanya biasa-biasa saja",jawab Alex berusaha menenangkan keduanya.


Setelah sedikit tenang,Ethan dan Deni kembali mengalihkan pandangannya ke dalam restaurant.Namun mereka terkejut melihat pemandangan aneh yang terjadi di dalam restaurant.


...****************...


Sebelumnya di dalam restaurant.....


"Izinkan aku menikahi Ethan dan menjadi istri keduanya",Michelle mengucapkan begitu saja di hadapan Lily sambil melipat kedua tangannya di dada.


Mendengar ucapan Michelle yang blak-blakan benar-benar membuat Lily terperangah.Dia tak habis pikir mengapa dengan gampangnya Michelle mengucapkan kata-kata itu di depannya.


Setelah minuman pesanan Lily tiba.Dia berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada Michelle.


"Apa alasanmu terobsesi dengan Ethan dan ingin menikahinya meski harus jadi istri kedua?",Lily masih berusaha setenang mungkin menahan dirinya.


"Karena Ethan adalah cinta pertamaku dan dia pasangan yang sangat ideal untukku"


'Hanya sesimpel itu alasannya?',Lily kembali tercengang mendengar alasan Michelle


"Apa kau tidak tahu ada batasan dalam mencintai seseorang.Ethan sudah berkeluarga dan lagi Ethan tak pernah menyukaimu sejak awal pertemuan kalian "


"Tapi aku mencintainya dan alasan itu cukup buatku untuk bisa memilikinya


"Kau sudah gila.Itu bukan cinta melainkan obsesi",Lily meninggikan suaranya.


Lily meremas gelas jusnya dengan kesal seolah ingin menyiramnya ke wajah Michelle.Namun Michelle tak mengatakan apapun.Lily jadi tak tega untuk menyiramnya dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.Mereka sama-sama terdiam cukup lama.


"Kamu pernah mencintai seseorang dan tidak bisa melupakannya hingga belasan tahun?",tanya Michelle dengan suara sedikit sendu.


Lily menghela nafas panjang.Dia merasa Michelle benar-benar egois dengan menganggap permasalahan hidupnya lebih berat dari orang lain.


"Tak hanya mencintai.Kami bahkan jatuh cinta satu sama lain selama sebelas tahun,tapi nyatanya cinta itu berujung dengan pengkhianatan yang menyakitkan",ucap Lily sambil tersenyum pahit.


Michelle tak paham perkataan Lily dan penasaran dengan maksud dari ucapannya itu.


"Apa maksudmu ucapanmu?"


"Aku pernah menikah sekali sebelum menikah dengan Ethan.Dia pria yang ku kenal saat kami baru saja memasuki bangku kuliah.Kami berpacaran selama tujuh tahun dan menikah selama empat tahun sebelum akhirnya kami berpisah karena dia berselingkuh dariku",Lily merasa sangat berat menceritakan pengalaman pahit itu,namun dia berharap Michelle bisa memahami jika cinta tak semudah yang ia harapkan.


"Lalu kenapa kamu menikah kembali dengan Ethan jika pernah mengalami hal buruk seperti itu?Bukankah harusnya kamu trauma dengan pernikahan?",tanya Michelle dengan entengnya.


"Karena dia pria yang menyelamatkan aku dari kemalangan itu.Ethan yang berusaha membuatku tersenyum saat aku sedih.Ethan yang berusaha menyelamatkanku dari keterpurukan.Dan karena Ethan pula aku akhirnya bisa terlepas dari cinta belasan tahun yang menyakitkan itu.Saat itulah aku yakin Ethan lah belahan jiwaku yang sesungguhnya dan aku tidak ragu untuk memulai lembaran baru bersamanya daripada mempertahankan cinta pertama yang bahkan tak pernah berusaha untuk memperjuangkanku",ucap Lily dengan penuh emosi.


Michelle tetegun.Ucapan Lily membuatnya teringat akan kenangan masa lalunya di saat pertama kali bertemu Ethan.Dan Michelle baru menyadarinya,Ethan hanya pernah tersenyum padanya sekali di pertemuan pertama mereka.Senyuman manis itu yang membuatnya jatuh cinta dan terus berharap bisa melihat senyum itu.


Namun di pertemuan berikutnya hingga sekarang,senyum itu tak pernah Ethan tunjukkan lagi.Tiba-tiba ia terpikirkan,mengapa ia begitu terobsesi melihat senyum itu lagi hingga tak bisa melupakan Ethan?Sedangkan Ethan terus melanjutkan hidupnya dan rela berjuang demi wanita yang ia cintai.


Tiba-tiba air mata Michelle menetes.Dia merasa kasihan pada dirinya sendiri karena terus mempertahankan perasaan yang sia-sia selama bertahun-tahun dan membuatnya tak pernah mencoba berhubungan dengan pria lain.


Dan entah mengapa dia baru tersadar setelah berbincang dengan Lily saat ini.Apa karena ini pertama kalinya ia menerima nasehat dari sesama wanita?


Selama ini ia terbiasa hidup mandiri dan tak ingin bergantung pada orang lain.Bahkan Ibunya yang sering memanjakannya tak pernah menceritakan pengalaman pelik seperti yang Lily alami.


"Bahkan jika kita saling mencintai pun tak menjamin hidup kita akan bahagia.Apalagi hubungan yang tanpa didasari dengan cinta.Mungkin saat ini kamu masih menggebu-gebu untuk memilikinya,namun setelahnya,entah kamu yang bosan atau kamu yang tersakiti oleh cinta sepihak itu"


Tangis Michelle semakin menjadi.Kini ia nampak bodoh dihadapan wanita yang bahkan tiga tahun lebih muda darinya.Lily seolah memperlihatkan kenyataan sebenarnya dari oasis yang selama ini ia bangun.


"Maaf!",tiba-tiba kata-kata itu terlontar begitu saja.


Lily nampak terkejut mendengar satu kata yang keluar dari mulut Michelle.


"Aku begini karena selama tiga belas tahun aku hanya terfokus mengingat satu pria yang mungkin tak pernah mengingatku hingga kami bertemu di clubhouse",ucap Michelle sesenggukan.


"Aku bahkan mempersiapkan diri begitu berhasil menduduki jabatan direktur utama dan menyusun rencana pertemuan kami yang seolah-olah tak sengaja dengan menghadiri event yang diselenggarakan Pak Thomas".


Lily terdiam mendengar pengakuan Michelle.


"Tapi aku tidak ragu sama sekali akan kerjasama kami.Itu sebabnya aku semakin percaya diri Ethan akan bekerjasama denganku karena aku tahu dia orang yang selalu yakin akan kemampuannya".


Setelah menghapus air matanya,Michelle mengulurkan tangannya pada Lily sambil tersenyum.


"Terima kasih atas pencerahannya.Baru kali ini aku mendapatkan lawan bicara yang mampu membuat hatiku bergetar"


Dengan senyum lega,Lily menyambut uluran tangan Michelle.


"Aku juga berterima kasih jika kamu benar-benar sadar kali ini.Aku tidak ingin hubungan relasi kalian rusak hanya karena perasaan pribadi.Aku yakin kerjasama kalian akan berlanjut dalam waktu panjang jika kalian sama-sama terfokus pada pekerjaan",ucap Lily yang melembut lalu melepas jabatan tangan mereka.


Michelle meraih gelas berisi virgin mujito yang dipesan Lily untuknya tadi,lalu meminumnya dengan sekali teguk.Seketika rasa lega mengalir ke seluruh tubuhnya.


"Aku harap kita bisa menjadi teman dikemudian hari.Dan jangan lupa hadir di Event pameran tahun depan bersama Ethan",ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan Lily.


Di luar restaurant,Michelle berhenti di depan Ethan.Dia mengulurkan tangan sembari berusaha menghapus air matanya


"Maafkan aku karena telah mengganggu kehidupanmu beberapa hari ini"


Dengan wajah yang masih bingung,Ethan meraih tangan Michelle.


"Ku harap kali ini kamu benar-benar meminta maaf dan tak berusaha mengganggu kehidupanku lagi",jawab Ethan dengan wajah serius.


"Kali ini aku serius meminta maaf.Kata-kata istrimu telah menyadarkanku dari mimpi tak tergapai ini.Semoga kalian selalu hidup bahagia",ucap Michelle lalu pergi begitu saja.


Ethan segera membuang pandangannya pada Lily yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum.Dia pun menyambut Lily dengan senyuman lalu memeluknya dengan erat.


"Apa yang kamu katakan pada Michelle sampai dia bisa sadar?"


"Itu percakapan rahasia antara wanita.Kak Ethan tak perlu tahu"


Deni pun ikut tersenyum lega melihat hal ini berakhir dengan baik.


"Bagaimana kalau sekarang kita makan Kak.Aku benar-benar lapar sekali",tiba-tiba suara Alex menyadarkan Lily akan janjinya pada adik iparnya itu.


"Maaf Alex,kakak lupa.Sekarang kalian tunggu di dalam restaurant,aku akan menyiapkan makan siang segera bersama Chef Bryan",ucap Lily.


"Tunggu,aku akan ikut denganmu",cegat Ethan.


Keduanya pun berjalan ke dapur sementara Alex dan Deni menunggu di dalam restaurant.


Dan hari itu,benar-benar hari terakhir Michelle mengganggu Ethan.Tak ada lagi drama,tak ada lagi hal yang mengejutkan mereka.Michelle benar-benar pulang ke Tiongkok dengan perasaan damai dan ikhlas melepaskan cinta pertamanya dan mencoba mencari pria yang menjadi belahan jiwanya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ethan dan Deni merasa berat untuk saling melepaskan.Namun Deni juga tak ingin melewatkan Tahun baru tanpa keluarga dan kekasihnya.


"Salam untuk keluarga Kak Deni dan Nina.Maaf jika oleh-olehnya tidak sesuai selera mereka",ucap Lily sebelum Deni memasuki ruang check in.


"Tentu mereka akan sangat senang.Hadiah dari kalian bukanlah hadiah biasa",ucap Deni.


"Jangan lupa titipanku untuk Ayah dan Ibuku juga untuk Bi Inah",Lily mengingatkan.


"Siap nyonya Ethan,barang akan sampai sebelum tahun baru!",ucap Deni sambil memberi hormat.


Deni pun memberi pelukan pada Ethan dan Alex bergantian


"Hati-hati di jalan.Jangan lupa beri kabar jika sudah sampai di bandara Soekarno",ucap Ethan.


"Iya,kamu lah orang pertama yang akan aku hubungi begitu aku sampai"


Sementara Alex terlihat sedikit cemberut.Kurang lengkap rasanya jika tak ada Deni diantara mereka.Ethan terlalu kaku untuk diajak bercanda.Dan dia jadi tak punya tameng jika ingin menjahili kakaknya.


"Hari-hari kami tidak akan seru tanpa Kak Deni.Rasanya hidupku akan garing segaring kerupuk tanpa kakak.Apalagi Kak Ethan hanya fokus pada Kak Lily",ucapnya murung.


"Yaelah boy,boy!Kamu disini juga cuma untuk berapa hari.Kalian akan pulang ke Indonesia setelah tahun baru.Berusahalah bertahan di pesta para orang tua selama beberapa hari",ucap Deni sambil merangkul Alex yang lebih tinggi darinya.


Terdengar suara panggilan untuk keberangkatan pesawat tujuan Jakarta,Indonesia.


"Aku jalan dulu ya!Sampai jumpa tahun depan",ucap Deni seraya melambaikan tangan.Nampak matannya berkaca-kaca meninggalkan mereka bertiga yang menunggu hingga Deni tak nampak lalu pulang ke hotel.


...----------------...


Mohon dukungannya dengan like,comment dan giftnya.Terima kasih☺️🙏