Love In Tears

Love In Tears
Selamat datang anakku....(Tamat)



Tanpa terasa dua bulan telah berlalu setelah kepulangan mereka ke Indonesia.Beberapa hari yang lalu,mereka sempat bertemu Adam di sebuah mall saat akan menghadiri acara makan siang bersama keluarganya.


Tak ada lagi dendam.Mereka sudah berdamai dengan masa lalu,meski masih nampak rasa cinta pada sorot mata Adam.


Perkiraan lahiran Lily pun tinggal menghitung hari.Dokter menyarankan padanya untuk lahiran caesar,namun Lily ingin mencoba untuk lahiran normal.Itu sebabnya dia rutin untuk olahraga ringan dan makan sesuai porsi yang sudah di anjurkan dokter untuknya.


Semakin mendekati HPL,Ethan justru terkendala dengan waktu yang ingin dia habiskan bersama Lily.Pekerjaan Ethan tiba-tiba menumpuk.Bookingan-bookingan hotel di awal tahun,penyewaan ballroom hotel dan resort untuk berbagai event,serta persiapan pembukaan wahana permainan, benar-benar menyita waktunya.


Bahkan setelah mempercayakan beberapa kegiatan pada GM,tetap saja mereka kewalahan tanpa turun tangan langsung Ethan.


Sebenarnya Ethan merasa sangat bersalah pada Lily karena ia telah berjanji akan menghabiskan waktu dengannya, begitu mendekati waktu lahiran.Namun nyatanya agenda pekerjaannya semakin menumpuk.


Untungnya Ibu Ethan dan Alex selalu setia menemani Lily,bahkan saat dia harus berlatih yoga.Keduanya tak pernah lepas menemaninya.


Ya,Lily memilih mengikuti kelas yoga di luar.Ethan pun mengizinkan setelah Alex dan Ibunya mendeklarasikan kesediaannya menemani Lily.


"Hari ini kakak ada kelas kan?",Alex coba mengingatkan Lily saat mereka sarapan pagi bersama.


Ibu Ethan nampak terkejut,"bukannya jadwalnya besok?",tanya Ibu


"Bukan bu!Jadwalnya itu hari ini!",tegas Alex layaknya asisten Lily.Bahkan ia membuatkan agenda untuk kakak iparnya itu.


Ibu menepuk jidatnya.Beliau benar-benar lupa dan sudah terlanjur membuat janji temu dengan teman-temannya.


"Maaf nak,Ibu benar-benar mengira kelas yoga mu besok dan terlanjur membuat janji dengan teman-teman Ibu hari ini",ucap Ibu Ethan dengan raut wajah menyesal


Lily tersenyum,berusaha menenangkan hati Ibu mertuanya.


"Tidak apa-apa bu"


"Ibu ada pertemuan apa?",tanya Ethan penasaran


"Kami berencana ingin membuka taman baca untuk anak-anak jalanan",terang Ibu Ethan


"Kalau begitu kamu absen saja untuk hari ini",saran Ethan pada Lily


Ethan melarangnya pergi karena tak ingin Lily pergi tanpa didampingi Ibu.Dia khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Namun wajah Lily berubah cemberut begitu mendengar Ethan menyuruhnya membolos.


"Padahal aku sudah semangat-semangatnya ikut kelas ini,masa aku harus bolos",ucap Lily sedih.


Ethan kembali merasa sangat bersalah pada istrinya.Dia mengelus punggung tangan Lily untuk menenangkannya.


Baru saja Ethan ingin memberi pengertian pada Lily,tiba-tiba Alex menyelanya.


"Ngapain kakak bingung!kan ada aku yang temani kak Lily!Toh aku juga tidak kemana-mana",ucap Alex santai


Angin segar seakan menyapu wajah Lily.Dia yang tadinya cemberut,kini jadi sumringah setelah Alex menawarkan diri untuk menemaninya.


Lily benar-benar sayang jika harus meninggalkan kelas yoganya meski sehari.Teman-temannya di kelas itu telah memberinya pengalaman baru akan kehidupan berumah tangga.Lily seakan di bawa ke dunia para ibu-ibu yang selama ini belum pernah dia rasakan.Saling berbagi suka duka menjadi seorang ibu,sangat menyentuh hati Lily yang selama ini selalu menutup diri.


Melihat wajah bahagia Lily atas tawaran Alex,Ethan jadi berat hati untuk melarangnya.


"Kalau kamu janji menjaga kakakmu selama kelas,kakak akan izinkan"


Ketiganya kompak melotot ke arah Ethan


"Benarkah?!"


Bahkan mereka kompak menanyakan hal yang sama seolah tak percaya,mengingat selama kehamilan Lily,Ethan jadi sangat protektif.


"Iya"


Lily dan Alex saling berpandangan lalu tersenyum setelahnya.


"Tenang kak!Aku janji akan jadi Paman siaga selama di kelas",ucap Alex dengan percaya diri.


"Kalau ada apa-apa segera hubungi kakak!",pesan Ethan


"Siip"


Lily semakin girang,setelah Alex menyanggupi persyaratan Ethan.Ethan yang melihat wajah gembira Istrinya pun ikut senang.


...****************...


Setelah Ethan dan Ibu pamit untuk menjalankan kesibukan masing-masing,Lily kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap dengan di bantu ners.


Alex yang sudah dari tadi menunggu Lily di mobil,segera membuka pintu dari dalam agar Lily bisa langsung masuk.


Lily duduk disamping Alex,sementara ners duduk di belakang sambil membawa tas perlengkapan Lily.


"Kak Lily sudah siap?",tanya Alex


"Tentu saja"


Alex kemudian menyalakan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat latihan Lily.


Sesampainya disana,Alex dan Lily menyapa ibu-ibu lain yang sudah duduk di atas matras masing-masing sambil menunggu instruktur mereka yang belum datang.


"Selamat pagi",sapa Lily ramah pada teman-temannya


Ibu-ibu yang lain segera berbalik sambil tersenyum ke arah Lily.


"Selamat pagi",balas mereka


Lily segera melepas jaket yang tadi dia gunakan dan menyerahkannya pada ners yang kemudian duduk menunggu Lily di bangku panjang di dekat dinding belakang ruang latihan.


Alex yang sudah biasa di tempat latihan yoga itu,dengan cekatan membuka matras di samping seorang ibu muda yang usia kehamilannya menginjak tujuh bulan.


"Tumben hanya berdua sama Alex,Ibu cantik mana?",tanya Ibu muda bernama Nabila itu.


"Ibu sedang ada kegiatan dengan teman-temannya.Beliau salah jadwal dan akhirnya bertabrakan dengan latihan yoga kami",terang Lily.


Tak berselang lama,instruktur yoga mereka pun datang.Alex berjalan ke belakang dan duduk disamping ners sambil memperhatikan Lily kalau-kalau dia kesulitan.


Namun untungnya sampai kelas selesai,Lily tak menemukan kesulitan apapun.


"Oke cukup sekian kelas kita hari ini.Kita akan kembali bertemu minggu depan",ucap instruktur mereka mengakhiri kelas.


Begitu kelas selesai,Alex dan ners langsung menghampiri Lily.Ners memberinya botol air minum yang sudah ia buka sementara Alex memberi Lily handuk kecil untuk mengelap keringatnya.


"Enak ya punya suami dan keluarga yang perhatian",ucap Nabila yang tengah bersantai di atas matras


"Kak Lily menantu perempuan pertama di keluarga kami makanya seluruh keluarga sayang padanya"


"Alex juga terlihat sayang sekali.Seandainya aku punya adik perempuan,aku akan mengenalkannya denganmu",celetuk Ibu yang sebelahnya lagi.


"Ibu bisa saja!Tapi maaf bu,jika pun ada saya akan menolak.Saya harus menyelesaikan kuliah lebih dulu,kalau tidak,kek!",canda Alex sambil memberi isyarat sayatan di leher.


Para Ibu-ibu muda yang mendengar celotehan Alex pun tertawa lepas tak terkecuali Lily.


...****************...


Setelah asyik berbincang-bincang,Alex membantu Lily untuk berdiri,sementara Ners segera melipat matras milik Lily.Mereka berjalan pelan mengikuti langkah Lily yang mulai berat menuju parkiran.


Setelah Lily duduk,Alex kemudian berjalan kearah pintu pengemudi dan masuk ke dalam mobil.Sama seperti saat mereka berangkat,Alex membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.


Ditengah perjalanan,tiba-tiba Lily mencengkram tangan Alex yang sedang memegang persneling mobil seraya menjerit.


"Akh...!"


Alex yang tersentak kaget,tiba-tiba mengerem mendadak mobilnya di tengah jalan.Bersamaan dengan itu,terdengar pula suara rem berdecit dari arah belakang.


Tak lama kemudian terdengar riuh bunyi klakson.Mobil yang ikut berhenti di belakang Alex kini mencoba menyalip dari arah kanan


"Woi,kalau mau berhenti mendadak jangan di tengah jalan bego!",teriak pria yang tadi berada di belakang mobil Alex.


Sambil menurunkan kaca mobil,Alex terus menunduk dengan wajah bersalah "Maaf pak,saya tidak sengaja!Sekali lagi saya minta maaf"


Melihat wajah penyesalan Alex,pria itupun berhenti mengomel lalu pergi meninggalkan mereka,sementara Alex segera menepikan mobilnya.


"Kak Lily kenapa?",tanya alex


"Perut Kak Lily tiba-tiba nyeri dan Kakak seperti pipis celana,jadi kakak tengok kebawah.Tapi sepertinya kakak bukannya pipis tapi....",ucap Lily ragu dengan raut wajah khawatir


Tiba-tiba Alex memikirkan hal yang tak terduga.Dengan ragu,Alex menoleh ke arah yang di tunjuk Lily.Karpet mobil tempat Lily duduk sudah di penuhi lendir bening disertai bercak darah.Wajah Alex seketika pucat pasih.Dia yang tadinya tenang kini berubah panik.


"Ners,coba lihat!Ini kenapa?",tanya Alex heboh


Ners pun segera mendorong badannya ke arah Lily.Dari belakang kursi Lily ia sudah bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi pada Lily.


"Sepertinya ketuban Bu Lily sudah pecah.Sebaiknya kita segera ke rumah sakit"


Mendengar ucapan Ners,Alex semakin panik hingga membuatnya mematung.


Melihat kepanikan Alex,Lily memukul pelan pipi Alex dan berusaha menyadarkannya.


"Alex,sadarlah.Dengar instruksi kakak baik-baik.Segera bawa kakak ke rumah sakit Pondok Indah,Kakak sudah mereservasi tempat persalinan sebelumnya disana.Bawa mobil seperti biasa,tidak usah ngebut.Segera hubungi kak Ethan begitu kita tiba di rumah sakit,mengerti?",perintah Lily


"I...iya Kak!",jawab Alex terbata-bata.


Setelah Alex mampu mengendalikan dirinya,ia segera mencari alamat rumah sakit yang Lily maksud melalui google maps,lalu melanjutkan perjalanannya dengan kecepatan sedang seperti sebelumnya.


Setibanya di depan rumah sakit,Ners segera masuk kedalam rumah sakit mengambil kursi roda.Sedangkan Alex,membantu Lily keluar dari mobil dan membantunya duduk di kursi roda yang di bawa Ners tadi.


"Ners,tolong temani Kak Lily dulu.Aku ingin menghubungi Kak Ethan",ucap Alex.


"Baik mas Alex"


Alex pun segera kembali ke mobil lalu mengambil handphonenya dan menghubungi Ethan.


"Halo,ada apa Lex?,tanya Ethan


"Halo kak.Kak Lily sudah mau lahiran"


"Apa?Lahiran!",terdengar suara kaget dari seberang telepon.


"Iya.Ners bilang ketubannya sudah pecah,makanya kami membawa kak Lily ke rumah sakit"


"Kamu sudah di rumah sakit pondok Indah sekarang?"


"Iya kak"


"Baik.Tunggu kakak,Kakak akan menyusulmu sekarang!"


...****************...


Alex terlihat gelisah menunggu kedatangan Ethan di depan ruang bersalin khusus VVIP.Perawat sudah menanyakan keberadaan Ethan,namun dia hanya bisa menjawab jika kakaknya masih dalam perjalanan.


Tak lama kemudian,terlihat Ethan dan Deni melangkah dengan cepat ke arah Alex sembari mendorong sebuah koper berukuran besar.


"Alex,kakakmu dimana?",tanya Ethan dengan nafas tersengal-sengal.


"Ada di dalam dengan ners",ucap Alex sambil menunjuk ke arah pintu yang ada di hadapannya.


"Kalau begitu masuklah,kami akan menunggu di luar",ucap Deni.


Ethan pun mengangguk lalu mengetuk pintu ruang bersalin.Seorang perawat bernama Sari terlihat membuka pintu.Dia nampak terkejut saat melihat Ethan


"Saya suami Lily"


Seketika Sari tersadar dari lamunannya.


"Oh,bu Lily!Silahkan masuk pak",Sari mempersilahkan Ethan masuk.


Dengan gugupnya Ethan melangkah masuk ke dalam ruang bersalin sambil membawa koper yang tadi di dorongnya.Dan ruang bersalin pun kembali di tutup oleh Sari begitu Ethan masuk ke dalam ruangan.


...****************...


Dari depan pintu,Ethan melihat Lily yang sudah dipasangi infus.Dia sedang diperiksa oleh dokter Putri,dokter yang selama ini mengontrol kehamilan Lily.Wajah Lily terlihat pucat namun tetap berusaha tersenyum saat melihat kedatangan Ethan.


Setelah menyerahkan koper berisi barang keperluan persalinan pada Ners,Ethan segera menghampiri Lily.Dia membelai rambut istrinya dan menggenggam tangannya dengan erat.


"Selamat siang pak Ethan",sapa dokter Putri pada Ethan


"Siang dok"


"Saya ingin memastikan keadaan Bu Lily dan janinnya sekali lagi sebelum kita membuat keputusan akhir mengenai metode yang akan kita gunakan untuk lahiran Bu Lily.Dan sepertinya tidak ada kendala jika kita tetap menjalankan sesuai rencana awal",ucap dokter Putri.


Ethan akhirnya bernafas lega.


"Jadi Lily bisa lahiran normal untuk kedua bayinya dok?",tanya Ethan memastikan


Ethan dan Lily pun saling berpandangan dengan perasaan lega.Dengan lembut Ethan mengecup kening Lily.


"Karena sekarang masih pembukaan empat dan kontraksinya pun belum terlalu sering,Bu Lily masih bisa bergerak di sekitar ruangan bersalin untuk merilekskan diri.Saya akan kembali lagi nanti.Pak Ethan tak perlu khawatir,suster Sari akan mendampingi bu Lily,jadi kalau terjadi apa-apa dia akan segera menghubungi saya."


"Iya dok,terima kasih banyak"


Dokter Putri pun pamit dan berjanji akan kembali untuk mengontrol Lily.


"Sayang,kamu baik-baik saja",tanya Ethan setelah membantu Lily duduk di tepi ranjang


"Baik,sangat baik.Kak Ethan tidak perlu khawatir.Infus ini membantuku mencukupi kebutuhan cairan".


"Sus,apa istri saya masih bisa makan siang sebelum lahiran?",tanya Ethan mengingat sudah masuk waktu makan siang.


"Tentu pak.Sebentar lagi makanan akan diantarkan".


"Ap...."


Belum sempat Ethan bertanya pada sari,Lily kembali merasakan nyeri di perut bagian bawahnya.Dengan kuat ia memeluk Ethan yang berdiri tepat di hadapannya,seolah berusaha melepaskan rasa sakit yang dia rasakan.


"Kak,bisa tolong elus punggung bawahku?"tanya Lily sembari meringis kesakitan.


"Tentu"


Dengan lembut Ethan mengelus punggung Lily,sementara Lily menyandarkan tubuhnya pada Ethan berusaha mencari posisi yang nyaman agar rasa nyeri di perutnya hilang.Perlahan rasa sakit itu hilang dan cengkeramannya pada tubuh Ethan perlahan melemah.


"Sudah mendingan?",tanya Ethan lembut.


"Iya!",jawab Lily lirih.


Ethan pun membantu Lily untuk turun dari tempat tidur.Sambil memegangi kedua tangan Lily dan membiarkannya bertumpu padanya,Ethan membantu Lily melangkah dengan pelan sambil memeluknya dari depan.


Ethan terus saja mengajak Lily berbincang untuk mengalihkan rasa sakitnya sambil melangkah dengan pelan.Ethan bercerita mengenai perjalanan mereka selama enam bulan di Hongkong.Bagaimana mereka melalui fase mengidam bersama.


Tapi baru saja Lily ingin tersenyum mengingat moment itu,tiba-tiba ia kembali merasakan nyeri di perutnya.Ethan pun menghentikan langkahnya,membiarkan Lily memeluknya dengan erat sambil mengelus punggung bawah Lily dengan lembut.


Setelah rasa nyerinya hilang,Ethan membantu Lily duduk di tepi tempat tidur karena makan siangnya sudah tiba.Ethan pun menyuap Lily dengan pelan sambil berdiri di hadapannya untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Lily kembali merasakan nyeri di perutnya.


...****************...


Beberapa jam berlalu,rasa sakit yang dirasakan Lily semakin lama semakin intens.Dokter Putri pun sudah datang memeriksa kondisi Lily untuk ketiga kalinya.


"Sepertinya sedikit lagi pembukaannya lengkap",terang dokter Putri.


"Aku merasa sangat mulas dan ingin BAB dok",ucap Lily.


"Iya.Itu pertanda jika sudah memasuki pembukaan sembilan.Sebaiknya kita bersiap-siap sekarang....Suster Sari,tolong panggil suster Novi sekarang"


"Baik dok"


"Pak Ethan,apa anda sudah siap?",tanya dokter Putri?"


"Ya dok"


"Lakukan sesuai yang sudah saya ajarkan ya pak"


"Baik dok"


Ethan pun segera naik ke atas tempat tidur dengan posisi berlutut lalu menyandarkan Lily ke depan tubuhnya.Kedua kaki Lily dibuka dengan lutut di tekuk.


Bersamaan dengan itu,suster Sari kembali ke ruang bersalin bersama suster novi.Dengan cekatan mereka membantu Dokter Putri mengenakan perlengkapannya.Setelah mereka semua sudah siap,dokter Putri pun memberi aba-aba pada Lily.


"Ok bu Lily!Seperti yang sudah kita pelajari sebelum-sebelumnya,saya minta Ibu mempraktekannya dengan benar,siap bu?!"


"Iya dok"


"Begitu bu Lily merasakan dorongan itu,segera ambil nafas dalam-dalam lalu tahan dan mulai mengejan ya bu"


Dan sesuai arahan yang diberikan oleh dokter Putri,Lily segera mengambil nafas dalam-dalam begitu mulai merasakan kontraksi dan mengejan.Dia mencoba mengambil kekuatan dari tangan Ethan yang ia selipkan di kedua lengan Lily


"Iya bu,bagus bu pertahankan,ya...terus...terus....terus...oke"


Lily mengambil jeda untuk mengatur nafasnya.Keringat dingin mengucur dari dahinya.Ethan nampak tak tega melihat Lily yang merintih kesakitan sejak tadi,namun tak ada yang bisa ia lakukan selain mendampingi Lily saat ini.


"Sudah sedikit lagi bu.Kita coba sekali lagi ya!"


Mendengar ucapan dokter Putri,sekali lagi Lily menarik nafas panjang lalu menahannya dan meluai mengejan.


"Ya bu bagus...terus...terus....terus....ya!!!"


Bersamaan dengan kata-kata terakhir dokter,terdengar pula suara tangisan bayi.Seketika tersungging senyum di wajah Lily dan Ethan bersamaan.


Meski keduanya masih tegang dengan peristiwa beberapa detik yang lalu,namun rasa bahagia seakan menghapus kekhawatiran itu dalam sekejap.


"baby boy first",ucap dokter Putri yang tersenyum di balik maskernya.


Ethan pun tak henti-hentinya mengelap keringat di kening Lily agar tak menetes masuk ke matanya.


Namun baru beberapa menit Lily bernafas lega dengan kelahiran putranya,tiba-tiba ia kembali merasakan kontraksi seperti sebelumnya.


"Lakukan seperti yang pertama tadi ya bu",pinta dokter Putri.


Untuk kelahiran kedua ini,Lily nampak rileks dari sebelumnya.Dan saking rileksnya,Lily hanya mengejan sekali dan anak keduanya pun lahir dengan tangisan yang jauh lebih keras dari kakaknya


"Wah....Baby girl nya lebih cengeng ternyata",canda dokter Putri.


Rasa kelegaan akhirnya meliputi Ethan dan Lily.Ethan segera memeluk istrinya yang masih bersandar dengan lemas di dadanya.


"Selamat atas perjuanganmu sayang.Hari ini benar-benar hari paling istimewa untukku",bisik Ethan sambil terus mencium pucuk kepala Lily.


Tak terasa air mata Ethan menetes begitu saja.Dia benar-benar tak pernah menyangka akan mengalami moment seperti ini seumur hidupnya.Kini kebahagiannya bertambah berkali-kali lipat dengan kehadiran sepasang bayi kembar emas mereka.


Takdir benar-benar rahasia Tuhan yang tak seorang pun bisa menebaknya.Hingga saat ini pun Ethan masih tak percaya jika takdir telah membawanya sampai sejauh ini.Sekali lagi ia teringat bagaimana Tuhan bekerja mempertemukan dia dan Lily dengan cara yang tak terduga.Dari yang tadinya hanya sebatas istri tetangganya,kini justru menjadi belahan jiwanya yang memberinya kebahagiaan tak terkira dengan kehadiran sepasang buah hati.


Tak henti-hentinya ia bersyukur atas pemberian Tuhan yang begitu berharga dalam hidupnya.Dan seumur hidupnya dia berjanji akan menjaga,mencintai dan tak menyia-nyiakan cinta yang telah ia terima ini.


"I Love You soo much",bisik Ethan


"Me too",jawab Lily dengan suara yang masih lirih


~THE END~


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seluruh keluarga tengah menunggu di depan ruang bersalin.Mereka nampak harap-harap cemas dengan kondisi Lily dan kedua anaknya.Namun mereka bisa sedikit lega setelah mendengar suara tangisan bayi dua kali.Kini mereka hanya penasaran akan keadaan Lily.


Ketiga orang tua mereka segera bangkit dari kursi begitu melihat Sari keluar dari ruang bersalin sambil mendorong dua infant bed dimana cucu mereka sedang berbaring.


Raut bahagia nampak jelas di wajah orang tua Lily,Ibu Ethan,Alex,Deni dan Nina


"Bagaimana keadaan Lily sus",tanya Ibu Lily yang tiba-tiba kepikiran anaknya.


"Bu Lily baik-baik saja.Sekarang sedang di tangani oleh dokter Putri"


"Syukurlah",jawab semuanya kompak".


"Bayinya mau di bawa kemana sus?",tanya Ibu Ethan penasaran"


"Karena bayinya kembar dan hanya memiliki berat masing-masing 2.500 gram dan 2.300 gram,dokter menyuruh kami untuk membawanya ke ruang observasi selama 1x24 jam.Kalau setelahnya tidak ditemukan kendala,mereka akan segera dibawa ke ruangan Ibunya"


Namun ketiga orang tua yang kini menjadi nenek ini masih nampak cemas.


"Tenang bu,Ibu Lily sudah menyusui mereka tadi.Pak Ethan juga sudah mengadzankan kedua anaknya"


Tetap saja wajah mereka masih nampak khawatir


Sari pun nampak bingung.Ia tak tahu harus mengatakan apa karena ketiga raut wajah nenek baru ini masih terlihat cemas.


"Jika berkenan,Bapak dan Ibu bisa ikut kami untuk memantau kedua bayinya dari luar"


Seketika raut wajah ketiganya berubah sumringah.


"Yang benar sus?",tanya Ayah Lily


"Tentu saja,tapi bapak sama Ibu hanya bisa melihat mereka dari luar melalui di dinding kaca"


"Tidak apa-apa sus asal kami bisa memantaunya.Kami hanya takut jangan sampai cucu kami tertukar dengan bayi lain kayak di sinetron",ucap Ibu Ethan.


Seketika Sari terpaku,dia tak bisa mengatakan apa-apa.Dan tak hanya Sari!Alex,Deni dan Nina pun ikut terpaku mendengar ucapan Ibu Ethan


"Kenapa kalian tercengang?Apa kalian tidak percaya itu bisa terjadi di kehidupan nyata?"


Tak ada satu pun dari mereka yang menjawab


...----------------...


Keesokan paginya....


Ethan tak henti-hentinya memandangi wajah kedua anaknya dari balik kaca.Rasaya ia tak sabar menunggu pagi berlalu agar anak-anaknya bisa segera di pindahkan ke ruangan Lily.


Disaat sedang asyik memandangi mereka,tiba-tiba seorang pria datang menghampiri Ethan.


"Selamat atas kehadiran buah hati kalian",suara familiar yang baru berapa hari yang lalu ia temui,Adam.


Ethan menoleh ke arah Adam yang berdiri disampingnya sambil menatap ke arah bayinya dan Lily.


"Ternyata begini rasanya menyambut kehadiran seorang bayi rupanya",ucap Adam disertai senyum namun dengan tatapan sayu.


"Apa kamu tak ingin membuka hati dan memulai kehidupan yang baru?Siapa tahu dengan begitu kamu akan menemukan kebahagiaanmu yang hilang!",saran Ethan


"Hanya dengan cara ini aku bisa menebus kesalahanku pada Lily.Ingatan saat ia memergokiku malam itu tak bisa hilang dari pikiranku"


"Kalau memang seperti itu,aku tidak bisa memaksamu"


Keduanya sama-sama terdiam sambil menghela nafas.


"Apa kamu tidak takut jika tiba-tiba aku berusaha merebut kembali cinta pertamaku?",Adam seolah menguji Ethan


"Aku tidak yakin kamu bisa merebutnya kembali,karena aku sudah belajar banyak dari kesalahanmu",jawab Ethan percaya diri.


Keduanya pun tertawa bersama


"Ethan,bisakah aku meminta sesuatu padamu?",tanya Adam sambil menatap ke arah Ethan.


"Asalkan kamu tidak meminta Lily kembali",canda Ethan.


Mereka kembali tertawa bersama.


"Bisakah kamu menyelipkan namaku pada nama putramu?Adam?"


Kini Ethan yang menoleh ke arah Adam


"Aku bukan berusaha untuk merusak rumah tangga kalian,hanya saja.....",Adam tak melanjutkan kata-katanya.


"Aku tidak bisa berjanji,tapi jika Lily setuju maka aku akan menyelipkan namamu"


Seketika raut wajah Adam berubah cerah


"Benarkah?!"


"Ya"


Mereka pun sama-sama terdiam sambil menatap ke arah kedua bayi mungil Ethan.Tiba-tiba Adam teringat sesuatu dan melirik ke arah jam tangannya.


"Aku harus pergi sekarang.Dua jam lagi aku berangkat ke Hongkong"


"Tak ingin bermalam di hotelku lagi?"tanya Ethan iseng.


"Maaf,tapi hotelmu meninggalkan rasa trauma yang mendalam untukku",ucap Adam sembari menunjuk hidung dan bibirnya.


Mereka saling melempar senyum mengingat kejadian pukul memukul di hotel waktu itu.


"Baiklah,sukses selalu dan hati-hati di jalan"


"Terima kasih do'anya.Sampaikan salamku pada Lily"


"Ya"


Adam pun berbalik dan meninggalkan Ethan yang masih sibuk mengamati kedua bayi kembarnya.