
Tiga belas tahun yang lalu...
Michelle Cheng,putri tunggal seorang taipan generasi ketiga di Tiongkok.Kekayaan turun temurun keluarganya berasal dari perusahaan Cheng Xi group yang bergerak di bidang property hingga ke mancanegara.
Kehidupan yang bergelimang harta sejak lahir ditambah kedua orang tua yang selalu memanjakannya,membuat Michelle tumbuh menjadi pribadi yang egois,ambisius,obsesif.Dia selalu ingin menang sendiri dan menghalalkan segala cara demi menggapai keinginannya.
Namun di balik sifatnya yang arogan,Michelle adalah gadis Chinese yang cantik dan sangat cerdas.Terbukti,ia mampu lulus dengan nilai memuaskan di salah satu universitas terbaik di California,negara bagian di Amerika Serikat bagian barat.
Dan dari sanalah pertemuan mereka berawal.Pertemuan antara Michelle dan seorang pria tampan keturunan Hongkong-Indonesia,bernama Ethan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari di siang itu nampak sangat cerah,saat Michelle sedang berkeliling di area universitas yang memiliki lahan seluas 320 hektar,di hari pertamanya memasuki asrama kampus.Ia ingin membiasakan dirinya di tempat baru itu sebelum memulai kegiatan yang akan ia lakukan selama 4 tahun berturut-turut disana.
Usai mengelilingi gedung sekolah bisnis tempat ia akan menimba ilmu,Michelle melanjutkan perjalanannya menuju area perpustakaan studi Asia Timur.Ia ingin rileks sejenak sembari membaca buku.
Saat Michelle sedang menyusuri lorong perpustakaan untuk mencari salah satu buku yang tersusun rapi di rak,ia tak sengaja mendengar suara beberapa pemuda sedang berdebat,namun dengan berbisik.Karena penasaran,ia pun mencari asal suara dari balik celah rak buku.
Michelle pun mendapati empat orang mahasiswa asia yang duduk berhadap-hadapan di area membaca.Mereka terlihat sedang mendiskusikan sesuatu dengan raut wajah yang sangat serius.
Tanpa berpindah dari tempatnya berdiri,Michelle mengamati wajah mereka satu persatu melalui celah rak buku.Pandangannya pun terhenti di salah seorang mahasiswa itu.Ia tertegun memandangi wajahnya yang tampan dengan kacamata bergagang tipis melekat di hidung mancungnya.
Pria itu nampak serius menyimak ketiga temannya yang saling berdebat dengan suara pelan.Alisnya berkerut dan raut wajahnya mengeras ketika ia menyela diskusi ketiga temannya.Namun berbeda dengan ekspresinya yang nampak garang,suaranya justru terdengar lembut saat ia mengemukakan pendapatnya pada ketiga temannya.
Michelle pun semakin terpesona melihat pembawaannya yang kharismatik.Tanpa pikir panjang,ia berjalan menghampiri mereka tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun pada pria yang telah mencuri perhatiannya sejak tadi.
"Hai,maaf aku menyita waktu kalian.Apa kalian mahasiswa asal Asia?"
Mendengar suara Michelle yang tiba-tiba,ke empat mahasiswa yang sedang berdiskusi tadi,lekas berbalik ke asal suara.Namun reaksi ketiga mahasiswa lainnya nampak datar.Mereka hanya mengangguk sambil berkata ya,lalu kembali dengan kesibukannya.
Sedang pemuda berkacamata yang sedari tadi di tatap Michelle,justru bereaksi sebaliknya.Ia tersenyum ramah sambil menyapanya.
"Iya.Kami mahasiswa sekolah bisnis semester 5.Kamu mahasiswi baru?",pemuda itu bertanya kembali padanya.
"Iya.Nama saya Michelle Cheng dari Tiongkok.Saya juga mengambil sekolah Bisnis"
Michelle memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.Namun pemuda itu tak membalas uluran tangan Michelle,ia hanya melipat tangan kanannya ke dada.
"Saya Ethan dari Hongkong dan ini teman saya,Deni dari Indonesia.Di depan saya Dereck dan Steven,mereka berasal dari Taiwan dan Singapore",pria bernama Ethan itu memperkenalkan dirinya dan ketiga temannya.
"Maaf,aku tidak bisa berbincang lebih lama denganmu.Kami sedang berdiskusi tugas kelompok",ucap Ethan pelan.
"Begitu ya.Maaf jika aku mengganggu kalian!",ucap Michelle canggung.
"Tidak apa-apa.Selamat telah bergabung dan menjadi bagian dari kampus ini!",ucapnya sebelum kembali sibuk dengan teman-temannya.
Di hari itu,Michelle jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Ethan dan bertekad untuk menjadikan Ethan miliknya.Ethan adalah pemuda yang sangat sempurna layaknya pangeran berkuda putih yang sering di dongengkan Ibunya sebelum tidur.
Namun Ethan tak pernah membayangkan jika keramahannya di hari itu akan membawanya pada petaka di tahun terakhir masa kuliahnya.
...****************...
Sejak pertemuan pertamanya dengan Ethan,Michelle mulai mencari tahu tentang latar belakang pria idamannya itu.Dari situlah Michelle semakin yakin,jika Ethan pria yang sangat serasi bersanding dengannya karena memiliki latar belakang keluarga yang sama.
Karena disibukkan dengan perkenalan mahasiswa baru,Michelle belum bertemu dengan Ethan lagi selama beberapa minggu.
Usai kelasnya berakhir,ia berusaha mencari keberadaan Ethan dan akhirnya ia menemukannya sedang duduk di salah satu bangku penonton di lapangan basket terbuka.Ethan nampak sibuk dengan laptopnya dan beberapa buku tebal.
"Mau makan siang denganku?",ajak Michelle setelah menghampiri Ethan.Ini pertama kalinya Michelle mengajak Ethan mengobrol sejak hari itu.
Ethan sempat menoleh sebentar,lalu kembali menyibukkan dirinya di layar laptopnya.
"Kamu ingat aku?Aku Michelle yang waktu itu berkenalan denganmu saat di perpustakaan!",sambung Michelle saat melihat wajah acuh Ethan
"Iya,aku ingat.Tapi maaf,aku sedang mengerjakan tugas",tolaknya datar.
Michelle tak kehabisan akal.ia pun duduk di samping Ethan lalu menyandarkan kepalanya di lengan Ethan,berpikir Ethan akan menyukai hal ini seperti pria kebanyakan.
Namun Ethan justru bereaksi berbeda.Dia nampak terkejut dan menggeser badannya menjauh dari Michelle.
"Kita kan sudah berteman!Apa teman tidak bisa melakukan hal seperti ini?",jawab Michelle santai sambil tersenyum seolah ia berbicara dengan kawan lamanya.
"Kurasa kita tidak seakrab itu sampai kau dengan santainya menempelkan kepalamu di lenganku",tegas Ethan.
Dengan tatapan sinis,Ethan segera membereskan barang-barangnya dan meninggalkan Michelle sendiri.
Michelle sempat dibuat terperangah oleh reaksi Ethan.Baru kali ini ada pria yang mengacuhkannya saat ia memberi sinyal untuk mendekat.
"Apa-apaan itu?Apa dia tak suka perempuan?",tanya Michelle pada dirinya sendiri.
Namun penolakan pertama Ethan itu,tak menyurutkan semangatnya mendekati Ethan.Dia justru tertantang untuk mendapatkan perhatian pria itu.
...****************...
Esok harinya,Ethan terlihat sedang duduk di kafetaria kampus bersama salah satu temannya yang Michelle ingat merupakan teman diskusi Ethan bernama Deni.Ia menghampiri keduanya dan duduk di salah satu kursi kosong.
"Hai Ethan,kamu sedang makan siang ya?Aku juga lapar",ucap Michelle manja sambil bertopang dagu menatap ke arah Ethan yang juga menatapnya dengan kesal.
"Hei,kamu tidak lihat kami sedang berbincang?",tiba-tiba suara bentakan terdengar dari samping Michelle.
Ia berbalik dan mendapati Deni sedang memelototinya.
"Aku sedang bicara dengan Ethan,bukan denganmu",jawab Michelle dengan angkuhnya membuat Deni naik pitam
"Kamu tidak tahu sopan santun ya!",Deni berdiri sambil mengepalkan tangannya ke arah Michelle,namun Ethan berusaha menenangkannya.
Para mahasiswa lain yang mendengar keributan mereka,berbalik dan melirik ke arah mereka bertiga.
"Sebelum aku berkata kasar padamu,sebaiknya kamu segera meninggalkan kami",ucap Ethan dengan tatapan tegas.
Melihat wajah marah Ethan,Michelle segera berdiri dari tempatnya duduk sambil tersenyum.
"Aku pergi kali ini karena kamu memintanya.Tapi aku tidak akan berhenti mendekatimu sebelum hatimu luluh dan jatuh cinta padaku",ucapnya lalu berlalu pergi meninggalkan keduanya.
Ethan dan Deni terkejut mendengar ucapan Michelle.Mereka kembali duduk di kursi masing-masing dan tak berhenti berdecak kesal mengingat kata-kata Michelle barusan.
"Dia itu wanita sinting ya?Kamu kenal dia dimana?Apa kamu pernah menghabiskan malam dengan wanita itu?",tanya Deni beruntun sambil menatap tajam ke arah Ethan.
Wajah Ethan seketika merah padam mendengar pertanyaan Deni.
"Kamu gila ya?Kita sudah di tahun-tahun terakhir kuliah,mana ada waktu berurusan dengan wanita.Lagipula siapa yang mau mendekati wanita gila seperti dia.Sejak kemarin dia berusaha mendekatiku dengan agresif padahal aku hanya membalas sapaannya sekali!",Ethan berusaha mengelak.
"Memangnya kalian saling menyapa dimana?Kok aku tidak tahu,padahal kita jarang jalan sendiri?!"
"Dia wanita yang menyapa kita beberapa minggu yang lalu di perpustakaan,kamu ingat?",Ethan berusaha mengingatkan Deni pada Michelle.
Tiba-tiba Deni tersentak begitu mengingat kejadian saat itu.Karena sibuk berdiskusi,ia jadi tak mengenalinya.
"Sudah ku bilang padamu,jangan terlalu bersikap ramah pada orang.Terutama wanita!Wajahmu itu bisa menyalah artikan keramahanmu pada mereka",Deni berusaha menasehatinya.
"Aku hanya tidak enak padanya karena kalian mengabaikan dia.Apalagi dia terlihat asing dengan tempat baru".
"Lain kali kalau kamu bertemu dengannya lagi,kamu tegaskan ke dia untuk tidak mendekatimu"
"Baiklah bu",canda Ethan dengan wajah yang serius.
Deni hanya bisa memanyunkan bibirnya mendengar candaan garing sahabatnya itu.
Setelah beberapa hari berlalu,Michelle tak lagi muncul disekitar Ethan dan Deni.Mereka berfikir,wanita itu sudah menyadari jika tindakannya itu salah dan berhenti mendekati Ethan.Namun perkiraan mereka ternyata salah.
Baru saja Ethan dan Deni akan masuk ke kamar,mereka menemukan sebuah kotak merah berukuran sedang,di depan pintu kamar mereka.Karena penasaran,Deni mengambil kotak tersebut dan membukanya.
Mereka dikejutkan oleh isi dari kotak merah tersebut.Keduanya bergidik ngeri menatap barang yang ada di dalamnya.Keduanya saling berpandangan satu sama lain dengan wajah yang memucat.
"Dia benar-benar perempuan gila!",ucap mereka kompak.