Love In Tears

Love In Tears
Bermain aman



Sepuluh minggu kemudian....


Ethan bersiap-siap berangkat ke kantornya.Hari ini dia dan Deni akan meninjau langsung persiapan Event seni yang sebulan lagi akan di gelar.Dia sedang berdiri di depan cermin untuk memasang dasi,saat Lily datang menghampirinya.


"Biar aku pakaikan dasinya!",pinta Lily.


Dengan senyum cerah,Ethan mempersilahkan Lily untuk memasangkannya dasi.


Lily pun menghampiri Ethan yang tak beranjak dari tempatnya berdiri.Dengan cekatan,dia melilitkan dasi suaminya saking seringnya ia melakukannya.Usai memasangkan dasi Ethan,Lily menatap lekat ke arah suaminya,seakan ingin mengatakan sesuatu namun tertahan di kerongkongannya.


Sudah lama sejak Ethan dan Lily terakhir kali melakukan hubungan suami istri.Bahkan sebelum Ethan mengetahui jika istrinya hamil,saat dia melakukan perjalanan bisnis ke Hongkong.


Dia menjadi protektif karena kondisi ngidam Lily yang tak ketulungan.Dan semakin over protektif setelah kejadian pingsannya Lily.Dia sampai memantau Lily melalui cctv yang dipasang di dalam kamar hotelnya dan berusaha menghindarinya untuk sementara waktu.


Namun hal yang berbeda dirasakan oleh Lily.Sesekali dia merasa sangat rindu buaian Ethan yang lima bulan ini tak dia dapatkan.Dan keinginannya itu semakin kuat begitu kondisinya mulai stabil.Namun Ethan tak pernah memenuhi hasratnya.Dia hanya menciumnya dan tidur sambil berpelukan tanpa melakukan apapun.Hal itu membuat Lily merasa sangat kesal.


Padahal Jenny pun sudah menyampaikan pada mereka jika kegiatan itu aman setelah memasuki pertengahan kehamilan dan tidak akan mempengaruhi bayi mereka.Namun tetap saja Ethan takut untuk melakukannya.


Kali ini Lily berinisiatif untuk mendekati Ethan lebih dulu.


"Kak!boleh aku mencium kak Ethan?",tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Lily


Ethan menoleh dan menatap heran ke arah istrinya.


"Tentu saja,kenapa tidak!",jawab Ethan santai.


Lily tahu ciuman apa yang dimaksud Ethan,namun bukan itu yang di inginkan Lily saat ini.


"Tapi aku tidak mau sekedar ciuman.Bisakah kita melakukan hal yang lebih?",tanya Lily sambil berbisik manja setelah menarik dasi suaminya agar mendekat padanya.


"Tapi kamu tahu sendirikan bagai....."


Belum sempat Ethan menyelesaikan kata-kata nya,Lily telah mendaratkan ciuman ke bibir Ethan dengan cukup intens.


Ethan pun tak bisa menolak dan menikmati ciuman yang diberikan Lily padanya.


Sebenarnya dia pun tak sanggup menahan perasaannya yang membuncah pada istrinya.Namun ingatan saat Lily mengalami pendarahan,membuatnya khawatir dan tak ingin mengambil resiko hanya demi memuaskan gairahnya.


Ethan segera melepaskan ciumannya,setelah mampu mengendalikan perasaannya.


"Sayang,maafkan aku,tapi aku benar-benar tidak ingin mengambil resiko demi keselamatanmu dan anak kita",ucap Ethan lirih seraya berusaha menahan diri.


Bulir air mata terlihat menggenang di sudut mata Lily.Rasa kesal bercampur kecewa menggelayuti pikirannya sekarang.


"Apa benar hanya itu alasan kak Ethan?Bukannya dokter sudah mengatakan jika hubungan ini tidak akan mempengaruhi bayi di trisemester kedua?Lantas kenapa kakak tidak ingin menyentuhku?",tiba-tiba Lily melontarkan kata-kata pedas yang membuat Ethan tersudut.


Entah karena trauma masa lalu atau karena pengaruh hormon,Lily meneteskan air mata dan terus berbicara aneh,membuat Ethan semakin panik.


"Bukan begitu maksudku,sayang.Kamu salah paham!Aku tidak ada alasan lain selain demi keselamatan kalian!",Ethan berusaha menjelaskan maksudnya.


"Kalau begitu demi keselamatan mentalku,kak Ethan ke kantor sekarang dan untuk sementara tinggallah disana!Aku sedang tidak ingin melihat wajah Kak Ethan di kamar",ucap Lily kesal.


Lily pun berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan koper.Dia menarik dengan asal pakaian Ethan dan memasukkannya dengan acak lalu mendorongnya keluar kamar.Setelah itu,giliran Ethan yang Lily tarik dari kamar.


"Praakk!!"


Terdengar suara bantingan pintu,di ikuti suara kunci setelahnya.Lily benar-benar marah,bahkan sampai mengusir Ethan.


Perawat yang terkejut mendengar suara bantingan pintu,segera berlari menuju asal suara.Dia terkejut mendapati majikannya berdiri dengan sebuah koper.Dia tengah mengetuk-ngetuk pintu kamarnya sendiri dan berbicara pada Lily.


"Ada apa tuan?Apa bu Lily baik-baik saja?"


Tiba-tiba suara perawat mengagetkan Ethan.


"Tidak apa-apa.Ibu Lily baik-baik saja.Dia cuma sedikit ngambek.Pengaruh bayi mungkin",ucap Ethan mencari alasan.


Perawat Lily mengangguk paham.


"Oh ya ners.tolong pantau Bu Lily dengan baik ya!Hubungi saya segera jika dia tak membuka pintu hingga waktu makan siang",pesan Ethan


"Baik tuan."


Dengan langkah berat,Ethan berangkat kerja seraya mendorong kopernya keluar kamar hotel


...****************...


Ethan baru saja tiba di kantor sambil mendorong koper menuju ruangannya.Para sekretaris yang menyambutnya,nampak heran melihat Ethan membawa koper,sementara tak ada jadwal keberangkatan dalam agendanya,selain mengecek persiapan proyek Event seni di venue.


Deni yang ikut dalam barisan sekretaris pun nampak bingung,melihat temannya itu datang dengan wajah lesu sembari mendorong koper.


"Kamu mau kemana?",tanya Deni begitu masuk ke ruangan Ethan.


Ethan yang merebahkan tubuhnya di atas kursi,terlihat sangat kesal.Dia memejamkan matanya berusaha menahan sesuatu yang mengganjal pikirannya,sampai-sampai tak merespon ucapan Deni.


"Ethan!Kamu kenapa?!",tanya Deni sekali lagi.


Ethan membuka matanya dan menatap Deni sayup.


"Kalau kamu tidak ingin cerita,aku keluar sekarang",ucap Deni seraya berbalik.


Belum sempat Deni beranjak dari tempatnya,Ethan sudah lebih dulu buka suara.


"Lily mengusirku dari kamar hotel!"


Seketika Deni berbalik,namun di barengi dengan tawa yang pecah,mendengar berita yang disampaikan oleh Ethan.


Ethan semakin kesal,setelah mendengar tawa Deni.Deni pun coba menahan tawanya dan mengatur nafas, saat melihat tatapan Ethan yang bersiap mencengkeramnya.


"Kamu di usir?Bagaimana bisa?Pasti kamu melakukan sesuatu yang membuatnya kesal kan?",tanya Deni beruntun.


Ethan sedikit malu untuk menceritakannya,namun dia tak punya solusi lain selain meminta pendapat sahabatnya satu-satunya.Meski dia sendiri tak yakin jika Deni bisa memberinya solusi.


"Dia marah gara-gara kami tak pernah berhubungan intim sama sekali selama lima bulan lebih"


Deni melotot ke arah Ethan


"Apa!"


Ethan dengan kesalnya mengulang sekali lagi ucapannya,menyangka Deni tak mendengarnya dengan baik.


Deni mengayun-ayunkan tangannya seolah menangkis sesuatu dihadapannya.


"Kamu gila ya!Jelas saja Lily marah padamu!",Deni terdiam sesaat


"Tapi kamu sabar juga bisa tahan sampai lima bulan tak menyentuh istrimu.Ternyata bukan cuma umurmu yang tuir,gairahmu juga sudah tuir!",Deni berdecak kagum seraya menyindir


Seketika bundelan berkas melayang ke arah Deni.Namun Deni segera menghindar dan mengejek Ethan dengan mimik wajahnya.


"Kau kira aku tidak tersiksa!Otakku sampai benar-benar tumpul gara-gara berusaha menahannya"


Deni kembali tertawa mendengar keluh kesah sahabatnya yang semakin aneh semenjak ia menikah.Ternyata Ethan benar-benar sangat polos dalam hal percintaan,tak sejalan dengan karirnya yang cemerlang.


"Memang apa kata Jenny?Apa ada larangan dari dia untuk kalian berhubungan intim?"


"Jenny bilang boleh-boleh saja,asal bermain aman!Tapi aku sama sekali tak mengerti maksudnya.Apaaaa lagi itu bermain aman?Bukankah berhubungan intim sama sekali tak aman bust Ibu hamil?Bagaimana kalau tiba-tiba Lily pendarahan lagi?",celoteh Ethan dengan semangatnya.


Namun Deni benar-benar tak bisa mengontrol dirinya untuk tak tertawa melihat kepolosan sahabatnya itu.


"Aduh Ethan,sepertinya kamu cocok jadi komedian stand up!Bahanmu tidak akan habis saking polosnya dirimu ini.Dasar bayi gede",ucap Deni seraya menepuk-nepuk lengan Ethan


Kesal dengan omongan Deni,Ethan memukul balik tangan Deni dengan pelan.


"Bukannya memberi solusi,kamu malah menambah beban pikiranku saja.Kalau tidak bisa membantu,sebaiknya kamu kembali ke ruanganmu sana",ucap Ethan dongkol


"Cup cup cup.Jangan marah bayiku yang malang!Kenapa kamu tidak coba menanyakannya langsung pada Jenny,apa maksudnya bermain aman?"


Ethan membelalakkan matanya.


"Kamu gila ya?!Kamu pikir urat maluku sudah putus sampai berani menanyakannya secara langsung pada Jenny!Meski dia sepupuku,tapi dia perempuan!Mana masih gadis lagi!"


Deni sangat ingin tertawa,namun dia berusaha menahannya karena takut Ethan akan marah lagi.


"Kamu ini pintar tapi juga bodoh!"


"Maksudmu?!Kamu sedang mengejekku ya?!",Ethan semakin dongkol dibuatnya.


"Sekarang sudah memasuki era modern Pak Ethan yang tampan.Bukannya kamu bisa searching cara bermain aman untuk ibu hamil?Memang benar kata orang,polos dan bodoh beda-beda tipis!",Deni menghela nafas panjang.


Tiba-tiba Ethan serasa mendapat angin segar.Kenapa juga dia tidak terpikir sejak kemarin-kemarin.


"Den,kamu memang sahabat terbaikku!",ucap Ethan dengan wajah sumringah


"Ya,giliran sudah menemukan pencerahan,baru jadi sahabat terbaik.Giliran marah,sahabat baik pun jadi sasaran amukan"


Namun Ethan tak peduli dengan celotehan Deni dan segera menatap layar ipadnya.


"Sepertinya hari ini aku harus mengambil alih tugasmu.Aku akan membiarkanmu berimajinasi dan mencari cara untuk berbaikan dengan istrimu",ucap Deni seraya berlalu pergi.


"Terima kasih Den,kamu memang yang terbaik!",teriak Ethan


"Ya,ya,memang terbaik.Jadi naikkan lagi gajiku!"teriaknya saat sudah di ujung pintu


Akhirnya Ethan tenggelam dalam konsentrasinya meneliti,menelaah,menghayati maksud dari kata bermain aman!


...****************...


Ethan menghubungi perawat Lily saat makan siang.Dia menanyakan keadaan Lily.Setelah mendengar jawaban positif dari sang perawat Ethan pun bernafas lega.


"Oh ya ners,hari ini aku akan memberimu cuti dan bonus selama kamu berlibur.Jam 5 sore akan ada mobil yang mengantarmu pulang kerumah dan menjemputmu lagi lusa",terang Ethan.


"Terima kasih banyak tuan"


"Ya,bersenang-senanglah selama liburan",ucap Ethan lalu menutup telpon


Ethan kembali menyelesaikan tugas kantor yang tak terlalu menumpuk.Deni pun tak nampak lagi karena tengah berangkat menuju venue tempat Event seni akan di gelar.


Tepat jam lima sore,Ethan berjalan menuju kamar hotelnya dengan membawa seikat bunga mawar yang sudah dipesannya sejak siang.


Setelah perawat Lily pergi,dia turun ke lantai bawah mengambil pesanan mawarnya dan meminta kunci cadangan kamarnya dari resepsionis agar bisa masuk meskipun Lily melarangnya.


Dia membuka pintu kamarnya.Setelah melepas sepatu dan kaos kakinya, dia berjalan mencari Lily.Ruang tamu dan meja makan nampak sepi.Ethan pun menyimpan bunga mawar yang ia bawa di atas meja makan dan berjalan menuju kamar tidurnya.


Baru saja akan menarik gagang pintu,tiba-tiba Lily membukanya dari dalam


"Kenapa kamu ad...."


Belum sempat Lily melanjutkan ucapannya,Ethan segera membungkam mulut Lily dengan bibirnya.Dia mencium istrinya dan memeluknya dengan erat.Seakan gayung bersambut,kemarahan Lily pun mereda dan membalas ciuman Ethan seraya menggelayutinya,mencengkeram punggung dan rambut suaminya dengan kuat.


Ethan mendorong mundur tubuh Lily hingga ke tepi ranjang dan membantunya untuk duduk.Ethan melepaskan ciumannya dan berlutut dihadapan Lily.


"Mungkin ini akan membuatmu sedikit tidak nyaman,jadi katakan padaku jika kamu merasa sakit,aku akan segera menghentikannya",ucap Ethan lembut


Lily tersenyum sambil mengangguk paham.


Dengan segera Ethan melepaskan pakaiannya.Dia kembali menciumi istrinya seraya membuka kancing dress Lily hingga tak lagi menutupi tubuhnya.Ethan menggendong Lily dan berganti posisi duduk di tepi ranjang dengan Lily yang sudah berada pangkuannya.


"Kali ini kamu yang harus pegang kendali",bisik Ethan nakal lalu kembali mencumbui istrinya.


Terukir senyum nakal di bibir Lily saat mendengar kata-kata genit Ethan.Dia terlihat menikmati sentuhan yang suaminya berikan untuknya.


Setelah beberapa jam sibuk dengan ipadnya,akhirnya Ethan tahu cara bermain aman yang dimaksud Jenny.Ethan pun mulai sadar bahwa cinta saja tidak cukup untuk membina sebuah rumah tangga.Apa yang menurutnya terbaik untuk pasangannya,belum tentu bisa membuat dia bahagia.


Hari itu,menjadi momen bagi Ethan untuk mempelajari ilmu tentang rumah tangga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Deni terlihat grasah-grusuh sekembalinya dari Venue.Dia khawatir pada Ethan karena ponselnya tak aktif sejak tadi.


'Bagaimana jika dia frustasi dan melakukan hal bodoh?'


Sekelebat pikiran negatif memenuhi otaknya.Setibanya di kantor,ia segera menuju ruangan Ethan.Ruangannya sepi,namun kopernya masih ada di sudut ruangan.Artinya dia belum berbaikan dengan Lily.Deni semakin bingung karena kantor sudah sepi.Para staff kantor sudah pulang.


Deni pun menelpon sekretaris Ethan


"Halo,angela!Apa kamu tahu pak Ethan kemana?",tanya Deni begitu sambungan teleponnya terhubung.


"Entahlah,tapi tadi dia pamit untuk turun kebawah.Katanya dia ingin mengambil paket dan tak kembali setelahnya"


Deni nampak bingung


"Paket?!"


"Iya"


"Baiklah,terima kasih infonya"


Deni kembali sibuk dengan layar handphonenya.Dia menghubungi resepsionis untuk memastikan apa benar Ethan ke lantai bawah.


"Halo,ini aku Deni.Apa kamu melihat Pak Ethan kebawah mengambil paket!",tanya Deni cemas


"Pak Ethan?!Oh,iya.Tadi dia menunggu seseorang yang mengantar seikat bunga mawar,lalu meminta kunci cadangan kamarnya.Katanya dia tidak sengaja menghilangkannya".


Deni segera bernafas lega setelah mendengar ucapan dari resepsionis.


"Baiklah kalau begitu.Terima kasih atas infonya"


Deni segera membuang tubuhnya ke sofa dan tertawa lepas


"Hah!Ethan,akhirnya kau dewasa juga!Pantas saja kamu mematikan handphone.Dasar tua bangka kurang matang!",umpatnya


Mengetahui Ethan dan Lily sudah berbaikan,Deni pun merindukan pujaan hatinya,Nina.Dia pun segera menghubunginya.


"Halo,sayang...."


Akhirnya Deni lah yang bermalam di ruangan Ethan.Dia menghabiskan malamnya menelepon sang pacar sambil bergerak kesana kemari memutar badannya karena kegirangan dengan obrolan romantisnya.Dia tak lagi peduli dan penasaran dengan keadaan Ethan.