LOVE IN REVENGE

LOVE IN REVENGE
Konsekuensi yang sepadan untukmu!



Hari sudah berganti, Adriana terbangun dari tidurnya. Pagi itu dia masih merasakan kesedihannya di hari sebelumnya.


"Sudahlah, Adriana. Lupakan saja!" ucapnya menyemangati diri sendiri.


Dia bangkit dari tidurnya lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Setelah itu dia berganti pakaian biasa karena hari itu tidak ada rencana pergi ke mana pun.


Adriana turun ke meja makan, dia melihat Deniz sudah ada di sana sedang sarapan roti sandwich.


"Mas, kenapa tidak membangunkan aku? Biar aku bisa bikinin kamu nasi goreng," ucap Adriana lalu duduk di hadapan Deniz.


Deniz melemparkan sandwichnya lalu menatap Adriana dengan sangat tajam.


"Saya tidak suka jika diajak bicara saat makan!" bentaknya sambil berdiri dan menarik tangan Adriana.


Dia membawa Adriana ke dalam kamarnya. Lalu Deniz melemparkan Adriana ke lantai layaknya sebuah boneka.


"Ini belum seberapa, anda harus menerima konsekuensi yang lebih berat!" ucapnya lalu dia pergi dari sana.


Adriana memegangi pergelangan kakinya yang terkilir karena Deniz mendorongnya cukup keras.


Adriana memaksakan diri untuk ke dapur mencari salah satu pelayan di sana.


"Bi! Bibi!" teriaknya memanggil para pelayan.


"Ada apa, Nona?"


"Saya boleh pinjam ponsel sebentar? Tolong, Bi. Boleh ya?" ucap Adriana memohon dengan mata yang berkaca-kaca.


Pelayan itu terlihat bingung dan ketakutan, tapi dia merasa kasihan dengan keadaan Adriana di sana.


"Baiklah, Nona. Ini," Pelayan itu memberikan ponselnya pada Adriana.


"Terima kasih, Bi," Adriana berlari ke dalam kamarnya.


Saat di dalam kamar, Adriana langsung menekan tombol nomor Richard.


"Untung aku sudah menghapal nomor Richard!" ucapnya merasa lega.


Adriana menekan tombol telepon, dia masih terlihat takut seakan-akan Deniz ada di dekatnya.


"Richard! Ini aku, Adriana," balas Adriana dengan cepat.


"Adriana, Ini nomor siapa? Ada apa dengan nomormu?" tanya Richard penasaran.


"Ponselku dibuang oleh Deniz. Richard aku mohon, tolong aku! Sungguh aku benar-benar tidak nyaman di sini!" ucap Adriana yang mulai meneteskan air mata.


"Hei, jangan menangis. Aku akan menolongmu, jangan khawatir!" ucap Richard menenangkan Adriana.


"Richard, aku rindu padamu. Jangan pernah ...."


Tiba-tiba ponsel itu diambil oleh seseorang dan dilemparkan ke lantai kamar itu.


Ponsel itu hancur berkeping-keping, Adriana menatap orang yang melemparnya dengan gugup.


"Beraninya kau menelpon orang lain tanpa seizin aku?!" bentak orang itu yang ternyata adalah Deniz.


Adriana sangat ketakutan, dia hanya bisa terdiam di tempat tak berkutik sedikit pun.


Deniz menarik tangannya lalu membawa dia ke lantai atas. Para pelayan merasa ngeri melihat kejadian itu, mereka sudah menduga apa yang akan terjadi selanjutnya.


Saat di lantai atas, Deniz membawa Adriana ke kamar pribadinya. Dia mendorong Adriana ke dalam kamar mandi yang ada di sana.


"Mas! Maafkan aku!" ucap Adriana memohon.


Dia sudah mulai menangis, tapi Deniz tetap saja tidak merasa kasihan sedikit pun padanya.


Deniz memaksa Adriana agar masuk ke dalam Bathub, dan setelah itu dia menyalakan air dengan sangat deras hingga menutupi sekujur tubuh Adriana.


Adriana terlihat lemas karena sesekali Deniz menekankan kepalanya ke dalam air hingga membuat Adriana sulit bernapas.


"Mas! Sudah, Mas!" teriak Adriana memohon.


Tapi Deniz memanglah orang yang kejam, apalagi dia menyimpan sebuah rasa dendam terhadap Adriana dan Kakaknya.


"Kau harusnya tahu! Siapa orang yang pernah kalian sakiti di masa lalu!" ucap Deniz lalu meninggalkan Adriana yang terkulai lemas di dalam Bathub.