
2 bulan berlalu, Barbara telah dijatuhi hukuman penjara akibat rencana pembunuhan pada Ethan Frederick. Selain itu, Barbara juga dideportasi ke negara asalnya, yakni Italia. Ia tak diizinkan untuk menginjakkan kaki lagi di Negara Jerman.
Kini, kehidupan Keluarga Ethan dan Queen semakin tenang dan bahagia. Ethan dan Queen tetap tinggal bersama dengan Dad Alvin dan Mom Diva. Mereka berdua telah sepakat untuk tetap tinggal di sana dan menemani kedua orang tua Ethan.
Dad Alvin dan Mom Diva tentu saha menyambut hal itu dengan sangat antusias. Mereka bahkan berterima kasih pada Queen karena mau tinggal bersama dengan mereka saat kebanyakan menantu memilih untuk tinggal sendiri.
"Mommy!" panggil Reyn saat putranya itu memasuki ruang tamu.
"Reyn, sudah Mommy katakan jangan berteriak. Mommy tak akan ke mana mana," ujar Queen.
"I love you, Mom," ucap Reyn sambil memeluk Queen.
Reyn memang sangat dekat dengan Queen, sementara Xin lebih suka menempel pada Ethan.
"Apa yang kamu inginkan, sayang?" tanya Queen yang sedang berkutat dengan masakannya. Sedikit lagi ia akan menyelesaikan makan siang untuk putra putrinya.
Kebetulan Dad Alvin dan Mom Diva sedang bertemu dengan sahabat lama mereka dan makan siang bersama.
"Ada acara berkemah di sekolah. Aku boleh ikut ya," pinta Reyn.
Queen tersenyum, "Tentu saja, sayang. Kamu boleh pergi, asal kamu bisa menjaga diri."
"Ehmmm ...," ujar Reyn mengangguk, "Aku tak akan merusak kepercayaan Mommy."
Queen kembali tersenyum dan mengusap kepala Reyn. Putra kecilnya itu kini sudah besar, bahkan tingginya hampir menyamai dirinya, meskipun usianya baru hampir 9 tahun.
"Mom, apa Mommy sakit?" tanya Reyn yang sangat peka dengan apa yang berhubungan dengan Queen.
"Tidak, sayang. Belakangan ini Mommy hanya sedikit lelah saja."
"Kalau begitu Mommy istirahat saja. Aku akan memanggil Aunty untuk meneruskan masakan Mommy," ucap Reyn.
"Tinggal sedikit lagi, sayang. Lagipula Aunty sedang menemani Xin bermain di taman belakang."
"Aku yang akan menemani Xin, Mom. Aku akan meminta Aunty untuk membantu Mommy."
Reyn langsung pergi dari dapur dan pergi ke taman belakang. Di sana terlihat salah satu pelayan yang sedang berkejaran dengan Xin.
"Aunty!" panggil Reyn.
"Iya, Reyn," Maria adalah wanita berusia 40 tahun yang sudah tak memiliki keluarga. Ia bekerja di Keluarga Frederick sejak sebelum Enzo meninggal.
Maria menjadi saksi bagaimana keterpurukan keluarga Frederick saat musibah itu terjadi. Namun sekarang, ia bisa melihat bagaimana kebahagiaan kini serasa tak habis habisnya datang.
"Aku akan menemani Xin, Aunty. Bisakah Aunty menemani Mommy memasak?" pinta Reyn.
Prangggg
Baru selesai Reyn meminta tolong, terdengar suara barang pecah dari dalam rumah.
"Mommy!" teriak Reyn yang langsung kembali berlari masuk ke dalam rumah.
Maria yang juga mendengarnya, langsung menggendong Xin dan mengajaknya masuk.
"Mommy ....," Reyn langsung mendekati Queen yang terjatuh di dapur dengan wajah yang pucat.
"Aunty, tolong telepon Daddy," pinta Reyn saat melihat Maria datang ke dapur sambil menggendong Xin.
Pelayan lain yang juga mendengar itu, langsung masuk ke dapur dan meminta Reyn keluar dari sana. Mereka yang akan membantu Queen, serta membersihkan dapur dari pecahan kaca dan tumpahan makanan.
*****
Reyn dan Xin duduk di samping tempat tidur Queen. Para pelayan memindahkan Queen ke kamar tidur dan membiarkan Reyn dan Xin di sana sambil menunggu Ethan datang.
Ethan yang langsung pulang saat dihubungi oleh Maria, meninggalkan meeting yang sedang berlangsung. Ia meminta Kai yang menggantikannya untuk melanjutkannya. Ethan juga menghubungi dokter agar segera datang ke rumah.
"Queen ... Sayang," panggil Ethan saat memasuki kamar tidur mereka, bersamaan dengan dokter yang juga baru datang.
"Mommy tidak akan apa apa kan, Aunty?" tanya Reyn. Ia sangat takut kehilangan Queen karena pernah berpisah dengan Queen selama 4 tahun.
"Kita tunggu Mommy diperiksa oleh dokter dulu ya," jawan Maria.
Reyn pun mengangguk dan mengikuti langkah Maria menuju ruang keluarga. Sambil menunggu, Maria mengambilkan makan siang untuk Reyn dan Xin.
"Kita makan dulu ya," ucap Maria.
"Aku tidak lapar, Aunty," ucap Reyn.
"Dengarkan, Aunty. Mommy sedang diperiksa dokter, kita jangan membuat Mommy bersedih lagi karena melihat kalian tidak mau makan. Ini adalah masakan Mommy. Ia sudah memasaknya dengan sepenuh hati," ucap Maria.
Reyn melihat ke arah makanan di depannya. Ia tersenyum saat melihat makanan yang ia yakini sudah disiapkan oleh Queen dengan sepenuh hati. Untung saja tak semua hasil masakan itu tumpah.
Akhirnya Reyn memakan makan siangnya, begitu juga dengan Xin. Mata Reyn tak lepas dari pintu kamar tidur Queen. Ia terus menunggu dokter yang memeriksa Queen keluar dari sana karena ia ingin mengetahui apa yang terjadi pada Queen.
Di dalam kamar,
"Bagaimana keadaannya?" tanya Ethan dengan wajah gelisah, apalagi melihat wajah Queen yang terlihat pucat.
Dokter tersebut tersenyum sambil membuka stetoskopnya dan menggantungnya di leher.
"Kalau aku tidak salah, saat ini Queen sedang mengandung," ucap sang dokter yang sudah berusia hampir sama dengan kedua orang tua Ethan itu.
"Mengandung? Queen hamil?" tanya Ethan.
"Ya, tapi untuk pastinya, bawalah dia menemui dokter kandungan."
Wajah Ethan pun sumringah. Apakah kerja kerasnya selama dua bulan belakangan ini telah menghasilkan sesuatu? Ia hampir menggempur Queen setiap malam tanpa jeda sejak hari pernikahan mereka.
"Terima kasih, Uncle," ucap Ethan.
"Uncle mengucapkan selamat terlebih dulu. Daddy dan Mommymu pasti akan sangat bahagia mendengar berita ini, karena di rumah ini akan hadir penghuni baru yang akan semakin meramaikannya."
"Aku akan segera mengunjungi dokter kandungan untuk memastikannya. Sekali lagi terima kasih, Uncle."
"Uncle pamit dulu," Ethan pun mengantarkan Dokter tersebut keluar. Mata Reyn yang menangkap itu, langsung membuatnya datang menghampiri Ethan meski makan siangnya belum selesai.
"Dad," panggil Reyn.
"Iya, Reyn."
"Bagaimana keadaan Mommy?" tanya Reyn.
"Mommy baik baik saja. Apa kamu ingin melihatnya?" tanya Ethan dan Reyn langsung menganggukkan kepalanya.
Bersama dengan Ethan, Reyn memasuki kamar. Di atas tempat tidur, Queen masih terbaring dengan memejamkan matanya.
"Mengapa Mommy tak membuka mata? Bukankah Mommy baik baik saja?"
"Sepertinya Mommy sedang lelah. Biarkan Mommy beritirahat dulu. Kamu tahu Reyn, sepertinya sebentar lagi kamu akan memiliki adik lagi," ucap Ethan.
Mata Ethan membulat dan ia tersenyum, "benarkah, Dad?"
"Dad akan mengajak Mommy menemui dokter untuk memastikannya lagi. Apakah kamu senang?"
"Tentu saja, Dad! Aku senang memiliki banyak adik. Dengan begitu Grandpa dan Grandma tak akan pernah kesepian," jawan Reyn.
Ethan mengusap pucuk kepala Reyn dan ikut tersenyum bahagia.
Kamu memang anak yang baik, Reyn. Daddy sangat berterima kasih pada Enzo dan Renata yang menghadirkan dirimu di tengah tengah keluarga kami. Daddy sangat menyayangimu. - batin Ethan.
🧡 🧡 🧡