LOVE IN REVENGE

LOVE IN REVENGE
AKU MENCINTAIMU, QUEEN



Janji pernikahan kembali terucap dari bibir Ethan dan Queen. Namun kali ini, rasa cinta Ethan jauh lebih besar daripada Queen.


Keduanya saling tersenyum sesaat setelah mengikrarkan kembali janji pernikahan mereka. Ethan kemudian mencium dahi Queen dengan dalam dan penuh dengan rasa cinta.


"Aku akan membuatmu bahagia. Jika kamu menangis pun, itu karena kebahagiaan yang melimpah ruah," ucap Ethan.


"Aku percaya."


Sekali lagi Ethan mencium Queen, tapi kali ini tepat di bibirnya, "I love you."


Setelah ini, acara resepsi akan langsung digelar. Ethan menatap kagum pada kedua orang tuanya yang bisa merampungkan semuanya hanya dalam waktu tiga hari saja.


Resepsi pernikahan itu terbilang ramai karena mereja mengundang keluarga, sahabat, serta rekan bisnis.


Di sebuah meja bundar khusus tamu VIP, terlihat Keluarga Williams, Keluarga Sebastian, Keluraga Asher, dan Keluarga Thomas. Mereka langsung berangkat saat mengetahui bahwa putra Alvin Frederick akan menikah.


Beberapa bodyguard disiagakan di sekeliling mereka. Namun, hanya ada sepasang mata bodyguard yang memperhatikan putri semata wayang dari Alexa Williams. Dia lah One, sang bodyguard khusus yang selalu menemani Nala kemana pun gadis kecil itu melangkah.


Perawat yang dulu menemani Nala sudah dipecat oleh Alexa ketika dengan mata kepalanya sendiri Alexa melihat bagaimana perawat itu sedang mencoba menenggelamkan putrinya di dalam bathtub.


Sejak saat itu, Alexa mempercayakan Nala pada One. Ia sangat yakin, orang kepercayaan Zero tak akan pernah mengecewakan.


*****


Secara bergantian, para tamu memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin itu. Pasangan pengantin itu sendiri tak berhenti tersenyum kepada para tamu.


"Sepertinya gigiku kering," ucap Ethan.


Queen menautkan kedua alisnya dan melihat ke arah Ethan.


"Aku terlalu banyak tersenyum, padahal senyumku ini mahal dan hanya ingin kuberikan padamu."


Blushhhh


Wajah Queen langsung memerah ketika mendengar gombalan Ethan. Pria itu selalu saja membuat jantungnya berdetak dengan cepat. Seperti saat ini, ia selalu menggenggam tangan Queen dan membiarkan dirinya yang berjabat tangan dengan para tamu. Ia tak membiarkan siapa pun menyentuh wanitanya.


"Dasar bucin posesif!" gerutu Miles yang kini berdiri di hadapan Ethan.


"Terserah aku," ujar Ethan.


"Menyebalkan!" Miles pun menggandeng tangan Lea, kemudian mengajaknya turun dari pelaminan.


1 jam


2 jam


3 jam berlalu ...


"Kita ke kamar saja, aku sudah pamit pada Dad dan Mom," ujar Ethan.


"Lalu bagaimana Reyn dan Xin?" tanya Queen.


"Dad dan Mom akan membawa mereka pulang," jawab Ethan.


"Apa Xin tidak menangis?" tanya Queen lagi.


Ethan menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Banyak cucu dari teman Dad yang datang. Xin sangat senang bertemu dengan mereka, bahkan tak ingin berpisah."


"Benarkah?"


"Hmm ... Jadi mereka tak akan mengganggu malam pengantin kita," bisik Ethan yang membuat wajah Queen memerah dan jantungnya berdetak sangat cepat. Ethan selalu saja membuatnya seperti ini.


"Kamu sangat menggemaskan!" ujar Ethan yang mencubit hidung Queen..


Queen memegang daddanya untuk menetralkan detak jantungnya. Ia merasa tak baik baik saja setiap kali berdekatan dengan Ethan, meskipun mereka sudah melakukan lebih dari sekedar sentuhan, bahkan sudah ada Xin di antara mereka.


Ethan menggandeng tangan Queen dan mengajaknya memasuki lift khusus yang akan membawa mereka sampai ke sebuah kamar hotel terindah di Hotel milik Keluarga Williams itu.


Saat pintu lift terbuka, Ethan langsung menggendong tubuh Queen. Queen yang kaget pun langsung mengalungkan tangannya ke leher Ethan hingga kini tubuh mereka begitu dekat. Ethan semakin tersenyum saat melihat wajah Queen yang semakin memerah.


Ia membawa Queen masuk ke dalam kamar hotel dengan fasilitas luar biasa tersebut. Tak banyak yang bisa menggunakan kamar khusus tersebut, hanya Keluarga Williams, kerabat, serta pengusaha yang tentu saja rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit untuk bisa merasakan keindahan Kota Munich dari lantai tertinggi hotel tersebut.


Masuk ke dalam kamar, Ethan merebahkan tubuh Queen di atas tempat tidur. Ia mengungkung wanita yang kini telah sah menjadi istrinya setelah melewati acara pengucapan janji pernikahan dan sebuah resepsi yang terbilang mewah.


"Aku ingin mandi dulu," ujar Queen.


"Nanti saja. Saat ini aku benar benar merindukanmu. Tiga hari adalah waktu yang sangat lama bagiku. Dad dan Mom kejam sekali memisahkan diriku darimu, bahkan untuk menelepon saja tidak diperbolehkan," gerutu Ethan.


Queen tersenyum kemudian membelai pipi Ethan, "Aku juga merindukanmu, sangat."


Mendengar ucapan Queen, senyum di wajah Ethan semakin melebar. Ia langsung nelum mat bibir Queen dan menyessapnya dalam. Bahkan keduanya saling berbalas bagai tak bertemu berbulan bulan.


Dengan cepat Ethan melepaskan gaun pengantin yang ia pilih sendiri itu dengan mudahnya. Tentu saja karena Ethan sudah membayangkan malam pengantinnya. Ia tak ingin kesusahan membuka gaun milik Queen dan menyebabkan rudalnya terlalu lama menganggur.


Setelah memastikan tubuh Queen polos, Ethan membuka pakaiannya sendiri. Kini keduanya sudah bagai bayi yang baru lahir ke dunia, tanpa sehelai benang pun.


"Aku mencintaimu, Queen. Dan untuk selamanya aku akan selalu menjadikanmu ratuku."


Queen tersenyum dan Ethan kembali menyambar bibir pink milik Queen. Keduanya larut dalam pergul latan panas di malam pengantin mereka. Kini keduanya menyatu dalam keadaan sadar dan menikmati setiap detik dari sentuhan, des sahan, serta er rangan yang membuat malam itu menjadi semakin indah untuk keduanya.


🧡 🧡 🧡