
"Kamu ini, mengapa tidak perhatian sekali dengan istrimu. Bahkan ia sudah mengandung sampai 9 minggu, ckk .... Apa kamu tak menyadari bahwa kamu tak ada cuti dalam menggempurnya?" ucap Mom Diva.
Ethan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sejujurnya, ia tak terlalu memperhatikan hal itu, lagipula bukan hanya dirinya yang menginginkan penyatuan, tapi Queen juga.
Satu bulan belakangan ini bahkan Queen yang lebih sering menggodanya dengan menggunakan lingerie tipis saat ia selesai menidurkan Xin. Siapa yang akan menolak jika dihadapkan pada hal seperti itu, apalagi Ethan sangat mencintai Queen.
"Dokter berpesan apa?" tanya Mom Diva.
"Biasa, Mom. Ia meresepkan vitamin dan memintaku menjaga agar Queen tidak kelelahan."
"Lalu?"
"Lalu apa, Mom?" tanya Ethan.
"Kamu juga dilarang untuk berhubungan dulu dengan Queen bukan?"
Ethan berdecak kesal, mengapa Mom Diva bisa tahu apa yang tadi dikatakan oleh dokter. Ia tak ingin mengatakannya karena ia yakin Mom Diva pasti akan memisahkan dirinya dengan Queen.
"Aku akan menjaganya, Mom," ucap Ethan.
"Mommy yang akan menjaga Queen. Mommy tidak yakin kamu tidak akan mengganggu Queen. Buktinya kamu saja tak menyadari kalau Queen sedang hamil," ucap Mom Diva.
"Tapi, Mom! Dad ...," Ethan meminta tolong pada Dad Alvin agar membantunya.
"Maaf, Ethan. Tapi kali ini Dad setuju dengan Mommy. Dad tak ingin terjadi hal buruk pada cucu Daddy. Jadi biar kali ini Mommy menjaga Queen. Kamu sebaiknya membantu Mommy dengan menjaga Reyn dan Xin," ucap Dad Alvin.
Ethan menghela nafas pelan, sepertinya kali ini ia harus mengikuti keputusan Mom Diva lagi.
"Dad, apa Daddy mau membantuku?" tanya Ethan di hadapan Dad Alvin dan Mom Diva.
"Katakanlah," ucap Dad Alvin.
"Bantu aku mengurus perusahaan. Aku tak ingin lagi kehilangan momen saat Queen mengandung. Aku sudah kehilangan momen itu saat Queen mengandung Xin. Jadi kali ini, aku ingin merasakan perasaan itu," ungkap Ethan.
Mom Diva tersenyum ke arah Dad Alvin dan menganggukkan kepalanya. Sebenarnya sejak tadi, inilah yang ditunggu oleh Mom Diva. Ia ingin Ethan meluangkan waktunya untuk Queen dan tidak hanya fokus pada dirinya sendiri.
"Dad akan membantumu."
"Thank you, Dad."
Kebahagiaan seakan melengkapi keluarga Frederick dengan berita kehamilan Queen. Mereka tak menyangka bahwa keluarga mereka akan menjadi lebih besar seperti sekarang.
*****
7 bulan kemudian,
Lea kini tengah berkunjung ke kediaman Keluarga Frederick. Ia sedang berkunjung ke sana bersama dengan Baby Marco. Sejak ketahuan hamil, Lea memang jarang keluar rumah karena mertuanya begitu ketat menjaganya.
Selain karena Miles adalah putra mereka satu satunya, Baby Marco juga adalah cucu pertama mereka, jadi mereka sangat menjaga Lea, terutama nutrisinya.
"Marco, kamu tampan sekali," puji Queen yang kini perutnya sudah membesar. Ia bahkan kesulitan berjalan karena kakinya sudah bengkak.
"Kapan kata dokter kamu akan melahirkan?" tanya Lea.
"Seharusnya minggu kemarin, tapi ternyata aku masih belum merasakan sakit perut."
"Kamu sudah periksa ke dokter?"
"Sudah. Kata dokter semua bagus, tak ada masalah."
"Tapi sebaiknya kamu bersiap siap dan selalu berhayi hati," pesan Lea.
"Tentu saja. Aku sudah membayangkan bayiku bersahabat dengan Marco. Mereka pasti akan menjadi sahabat yang luar biasa."
"Hmm ... Aku juga menyukai itu. Tadinya kalau anakmu perempuan, aku berniat menjodohkannya dengan Marco," ucap Lea sambil tertawa.
"Kalau begitu, buatlah satu lagi, siapa tahu perempuan. Jadi kita bisa berbesan," kini Queen yang tertawa. Namun sesaat kemudian ia meringis.
"Ada apa, Queen?" tanya Lea.
"A-aku ....," Queen bisa merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari pangkal pahanya. Ia melihat ke bawah dan kini semakin yakin bahwa ketubannya telah pecah.
"Kamu mau melahirkan?" tanya Lea yang langsung bangkit dan memanggil Mom Diva.
Mereka langsung membawa Queen ke rumah sakit dan tak lupa untuk menghubungi Ethan. Ya, Ethan tak ingin kehilangan momen saat Queen melahirkan. Putranya itu ingin menemani Queen meski Dad Alvin sering memprovokasinya.
*****
Ethan berlari menyusuri koridor rumah sakit. Ia melihat keberadaan Mom Diva di sana.
"Mom!" panggil Ethan.
"Masuklah, tadi dokter sudah mengijinkan," ucap Mom Diva.
Ethan pun masuk ke dalam ruang bersalin, sementara Mom Diva akan menunggu kedatangan Dad Alvin di luar. Sudah memiliki dua orang cucu, tapi baru kali ini ia berada di rumah sakit untuk menunggu kelahiran cucunya. Perasaan haru seakan menyeruak begitu saja dari dalam hati Mom Diva, membuatnya berkaca kaca.
Ethan masuk ke dalam ruang bersalin.ia mengenakan baju khusus dan langsung berdiri di samping Queen.
"Maaf aku terlambat," ucap Ethan. Ia harus menyelesaikan beberapa hal karena Ethan ingin fokus menemani Queen setelah ini. Sebenarnta ia sudah menyelesaikannya minggu kemarin, tapi ternyata ada yang tertinggal, hingga ia harus pergi ke perusahaan untuk menyelesaikannya.
"Hmm ...," Queen sedikit meringis ketika rasa mulas itu kembali datang. Dokter kembali memeriksa dan ternyata sudah waktunya.
Queen memegang tangan Ethan. Rasa sakit kini sudah menjalar hingga ke bagian pahha, membuat Queen merasa pegal sekali. Secara perlahan dokter membantu Queen untuk mengatur pernafasan dan memberitahu kapan waktu yang tepat untuk mengejan.
Setelah tiga kali mengejan, akhirnya suara bayi terdengar begitu nyaring di dalam ruang bersalin. Rasa haru seketika menyelimuti Ethan. Pada akhirnya ia bisa melihat serta merasakan pengalaman ini.
"Ini putra anda, Tuan," seorang perawat memberikan putra mereka ke dalam gendongan Ethan.
Tanpa terasa, air mata jatuh di pipi Ethan. Ia kembali mencium kening Queen sambil menggendong putra mereka, "Terima kasih, Sayang. I love you."
🧡 🧡 🧡