LOVE IN REVENGE

LOVE IN REVENGE
JAGA DIRIMU



Setelah perjalanan sekitar 1 jam, akhirnya mereka sampai di Kota Frankfurt. Mereka menggunakan taksi online dari bandara menuju ke cafe di mana Queen bekerja. Memang Queen juga tinggal tak jauh dari sana, tapi sebelum ia kembali ke Munich, ia ingin menitipkan Queen pada Miles dan Lea.


"Queen?" Lea kaget saat melihat Queen yang sudah memasuki cafe.


"Halo, Le. Aku merindukanmu," ucap Queen sambil memeluk Lea.


Lea melihat bagaimana Xin memeluk Ethan dengan erat. Bahkan anak kecil itu tak menyambut Lea seperti biasanya, malah merasa nyaman dengan merebahkan kepalanya di bahu Ethan.


Melihat reaksi Queen pada Lea dan tak banyak bertanya, Lea yakin bahwa Ethan belum mengatakan atau pun meminta penjelasan dari Queen. Sebenarnya Lea sedikit bernafas dengan lega karena hal itu. Ia takut jika Queen tahu, maka Queen akan beranggapan jika ia bukanlah seorang sahabat yang baik.


"Di mana Miles?" tanya Ethan.


"Di atas," jawab Lea.


Ethan pun berinisiatif menemui Miles. Ia ingin menyerahkan Xin pada Queen, namun Xin malah memeluknya erat, tak ingin melepaskan.


"Kalau begitu biar denganku saja," ucap Ethan pada akhirnya. Ia membawa Xin dalam gendongannya dan naik ke lantai atas.


Lea tersenyum kecil saat melihat bagaimana Xin sangat posesif pada Ethan.


"Kamu tak ingin kembali padanya Queen?" tanya Lea saat ia melihat pandangan mata Queen yang terus memperhatikan Ethan dan Xin.


"Aku bingung, Le," jawab Queen.


"Sepertinya Xin begitu nyaman di pelukan Ethan," ujar Lea.


"Apa aku egois, Le?" tanya Queen sambil menghela nafas pelan.


Lea langsung memeluk Queen, "Kamu harus memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Aku tahu kamu sakit dan terluka, tapi jika kamu terus memendam semuanya sendirian, maka akan semakin terluka."


"Kamu bisa melihat bagaimana Ethan menyayangi Xin kan?"


"Hmm ... Karena itu juga lah aku takut. Aku takut jika ia mengambilnya lagi dariku atau bahkan Xin yang memilihnya dan aku kembali sendirian," ujar Queen.


"Aku rasa Ethan bukan pria seperti itu. Sebelumnya ia mendendam karena tidak tahu permasalahannya dan karena ia terlalu menyayangi adiknya. Mungkin sekarang ia sudah bisa berpikir lebih jernih," ucap Lea.


Sementara itu di lantai atas,


Tokk ... Tokk ... Tokk ...


"Masuklah," ucap Miles.


Ethan membuka pintu dan melihat sahabatnya tengah berkutat dengan beberapa lembar kertas.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Ethan.


"Tidak, duduklah," ucap Miles.


"Halo cantik," sapa Miles pada Xin. Seperti biasa, Miles akan menggendong Xin setiap bertemu. Namun kali ini ia tak mampu menariknya dari pelukan Ethan.


"Ayo, daddy ingin menggendongmu. Daddy rindu," ucap Miles lagi. Namun tetap saja Xin tak melepaskan pelukannya dari Ethan.


"Jangan mengganggunya, nanti ia malah menangis."


Miles mencebik kesal karena merasa tersisihkan. Biasanya ia adalah daddy kesayangan bagi Xin. Bukan Miles namanya jika ia tak memaksa. Ia terus mencoba menarik Xin dari Ethan, yang akhirnya malah membuat Xin menangis.


"Daddy!" teriak Xin sambil memeluk leher Ethan semakin erat.


Kini Ethan yang berdecak kesal dengan apa yang dilakukan oleh Miles.


"Aku ke sini bukan untuk membuatmu mengganggu putriku. Aku ingin meminta tolong padamu untuk menjaga Queen. Aku menitipkannya padamu. Maaf jika aku merepotkanmu, tapi Queen ingin kembali ke sini."


"Apa kamu sudah mengatakan sekua padanya?" tanya Miles.


Ethan menggelengkan kepalanya, "Aku sudah memiliki hasil test DNA. Bahkan Queen tak akan bisa mengelak jika aku memberikan itu. Namun aku tak ingin kembali menyakitinya. Biarlah seperti ini sekarang, aku akan mencoba untuk meluluhkan hatinya. Mungkin memang aku yang harus berjuang, karena memang aku memiliki banyak kesalahan," ucap Ethan.


Miles menepuk bahu Ethan, "Aku akan membantumu. Aku yakin apa yang kamu lakukan pasti semua ada penyebabnya. Hanya saja yang satu ini kamu terlihat gegabah."


"Aku tahu. Dendamku membutakan mataku, hingga tak melihat kebenaran yang tersembunyi di dalamnya," Ethan memeluk Xin dan mengelus punggungnya.


"Oleh karena itu lah kali ini aku tak akan memaksakan kehendakku. Aku menginginkan Queen dan Xin selalu ada di dekatku, tapi aku tahu bahwa ia masih menyimpan sakit hati padaku."


"Aku pasti akan menjaga mereka. Datanglah ke sini sering sering, aku juga akan merindukanmu," ucap Miles sambil mengerlingkan matanya.


"Menjijikkan," Ethan berdecak kesal.


"Ia sudah tertidur," ucap Miles saat melihat Xin lagi.


"Hmm ... Mumpung Xin sudah tertidur, aku titipkan di sini. Ia pasti akan menangis jika melihat aku pergi," ucap Ethan.


"Baiklah, baringkan dia di sini. Aku akan menjaganya."


"Terima kasih, Miles. Terima kasih juga sudah menjaga Queen dan Xin. Tapi aku tetap marah karena kamu mengaku sebagai suami Queen."


"Aku tak pernah mengakuinya, tapi memang Xin memanggilku Daddy."


Ethan akhirnya berpamitan pada Miles. Setelahnya ia turun dan menemui Lea serta Queen.


"Aku pamit. Jaga dirimu dan Xin. Jika ada waktu, aku akan datang, atau sempatkanlah dirimu untuk kembali ke Munich. Reyn pasti merindukanmu. Begitu juga diriku," Kalimat terakhir hanya bisa diucapkan oleh Ethan di dalam hati.


Ethan keluar dari cafe dan masuk ke dalam taksi online yang sudah ia pesan sebelumnya. Queen hanya bisa menatap kepergian Ethan dengan tatapan yang tak bisa ia artikan dan perasaan yang tak bisa ia jelaskan.


Baru saja Ethan pergi, suara tangisan menggema di lantai atas, membuat Lea dan Queen langsung beralih dari sana dan naik ke lantai atas.


🧡 🧡 🧡