
Saat di dalam mobil, Richard menatap wajah Adriana yang terlihat tidak beres.
"Adriana?" tanya Richard.
Adriana masih diam dengan muka yang terlihat kebingungan.
"Gimana pertemuannya? Orangnya asik? Kamu mau kan nikah sama dia?" tanya Richard berbelit-belit.
Adriana menatap Richard, dia bingung harus menjawab apa.
"Mungkin aku harus jawab bohong, biar Richard ga khawatir dan mikirin masalah aku," ucap Adriana dalam hatinya.
"Adriana, aku nanya loh," panggil Richard sekali lagi.
"Ha? Oh, iya. Aku bakal nikah sama dia, doain ya semoga lancar!" jawab Adriana dengan wajah yang tegang.
Richard menghembuskan napas. Dia merasa lega karena Adriana menemukan pasangan hidup yang sudah jelas asal-usul dan pekerjaannya.
"Aku lega banget. Semoga lancar ya! Dan secepatnya punya anak, biar aku ada keponakan!" goda Richard yang membuat Adriana kembali tertawa.
Richard mengajak Adriana untuk mampir ke kantornya sebentar karena dia harus mengambil file untuk meetingnya nanti sore.
"Kamu mau ke Mall atau pulang?" tanya Richard saat di dalam mobil.
Adriana menggeleng, "Anterin aku ke kantor Kak Tito ya. Aku mau bicara sama dia," jawab Adriana lalu tersenyum.
Richard mengangguk sambil mengiyakan permintaan Adriana. Dia memutar arah mobilnya dan menuju ke perusahaan Arweld Club.
Saat sampai di sana, Adriana meminta Richard untuk pulang, lalu dia masuk ke dalam perusahaan dan menuju ke ruangan Tito.
Saat mengetuk pintu ruangan, Tito langsung menyambutnya dengan baik.
"Ayo masuk, sayang. Mau makan siang apa? Nanti biar Kakak pesankan di kantin," Tito duduk di kursi kerjanya dengan santai.
Sedangkan Adriana langsung merebahkan diri di sofa yang ada di sana.
"Adriana udah makan siang, Kak. Sama Deniz," jawab Adriana dengan muka jengkelnya.
"Wah wah wah! Sepertinya kalian sudah mulai akrab, bagaimana dengan pernikahannya?" tanya Tito lalu duduk di sebelah Adriana.
"Dua hari lagi. Orang itu sepertinya sudah tidak waras! Bahkan aku tidak mengenalinya, tapi dengan mudahnya dia menjadikan aku sebagai istrinya!" umpat Adriana seakan-akan meluapkan emosinya di sana.
"Sudahlah, sayang. Kamu pasti mencintainya, percayalah!" bujuk Tito lalu kembali berdiri dan mengambil beberapa berkas di atas mejanya.
"Iya, sama Richard. Sahabatmu itu," jawab Tito lalu mendekati Adriana.
Dia mencium kening adik kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang. Lalu dia keluar ruangannya meninggalkan Adriana sendirian di sana.
"Terus ngapain aku ke sini? Buang-buang waktu saja!" ucapnya pada diri sendiri.
Tak lama itu, pintu ruangan kembalu terbuka. Adriana langsung menoleh dan menunggu siapa yang masuk ke situ.
"Halo! Adriana kesayanganku!" ucap seorang pria yang ternyata adalah Deniz.
"Ngapain ke sini? Kak Tito lagi meeting!" ucap Adriana dengan kasar.
"Saya ke sini mau mencari anda, pernikahan kita dimajukan menjadi besok. Tidak ada kata penolakan!" ucapnya lalu keluar lagi dari kantor begitu saja.
Adriana melotot, "Hei baj*ngan! Lelucon itu sangatlah tidak lucu!" teriak Adriana.
Dia membanting tas nya ke lantai dengan sangat keras. Mukanya berubah menjadi merah padam karena emosi.
"Memangnya dia pikir pernikahan itu seperti sekolah? Dasar bod*h! Manusia seperti itu sangat tidak pantas menjadi pengusaha yang terkenal!" umpat Adriana sekencang mungkin.
Dia merasa menjadi orang gila saat itu. Bahkan beberapa karyawan di sana ketakutan mendengar teriakan yang begitu histeris karena mengira jika Tito sedang menyiksa Adriana di sana.
"Pak Tito meledak lagi ya emosinya?"
"Sepertinya di dalam sana sedang terjadi pergelutan besar!"
"Kasihan, Adriana. Dia masih muda padahal."
"Apa yang kasihan? Adriana kenapa?" ucap Tito yang tiba-tiba datang di sana.
Semua karyawan yang membicarakannya tadi tercengang.
"Loh, jika Pak Tito sedang di sini, lantas kenapa Adriana berteriak sangat histeris?" kira-kira seperti itu arti sorotan mata semua karyawan.
"Jawab!?" bentak Tito.
"Adriana berteriak di dalam ruangan Bapak. Begitu histeris, kami mengira Bapak yang membuatnya begitu," ucap salah satu karyawannya.
Tito khawatir dengan Adriana lalu dia berlarian menuju ke ruangannya. Dia berpikir ada seseorang yang melakukan kejahatan terhadap adik kesayangannya itu.