
Malam itu,
Queen yang sangat peka terhadap suara, tiba tiba terbangun karena mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Ia masih dalam mode memejamkan matanya karena ia tahu saat ini ia berada di hotel bersama dengan Ethan dan Xin.
Tak ingin menunjukkan bahwa ia terbangun, Queen tetap diam. Ia bahkan tak membuka matanya sama sekali karena takut Ethan melihat pergerakannya, meski hanya matanya saja.
Queen mendengar langkah kaki mendekatinya. Ingin sekali rasanya ia membuka mata, namun ia terus berusaha menguatkan diri agar tak terbangun.
"Maafkan aku, Queen. Untuk segalanya. Aku berjanji aku akan membahagiakanmu, sekarang dan selamanya."
Queen bisa merasakan hembusan nafas Ethan di pipinya. Bahkan ia tahu bahwa jarak wajah Ethan dengannya kini hanya beberapa centimeter saja.
Cuppp
Sebuah benda kenyal mendarat di kening Queen. Hangat dan lembut, itu yang Queen rasakan.
"Izinkan aku mencintaimu sekali lagi, untuk selamanya. Terima kasih sudah melahirkan Xin untukku. Aku memang bodoh yang tidak mengetahui mana mimpi, mana kenyataan. Kalau saja saat itu aku tahu bahwa apa yang kulakukan bukanlah sekedar mimpi, aku pasti akan bertanggung jawab sepenuhnya padamu. Terima kasih juga karena mengijinkan Xin berada di dekatku, meski aku adalah seorang pria yang tidak baik, yang hanya memikirkan rasa dendam," Ethan menghela nafasnya pelan dan beranjak dari sana, sementara Queen kini tengah berusaha menetralkan detak jantungnya yang tak biasa.
Apa ia sudah mengetahui bahwa Xin adalah putri kandungnya? Tapi siapa yang memberitahunya? Miles? Lea? - kini mata Queen terbuka. Kamar hotel yang ia tempati sudah kosong, sunyi,dan tenang. Hanya ada dirinya di sana.
Ia duduk dan bersandar di kepala tempat tidur. Masih dengan jantung yang berdebar cepat. Seketika rasa takut menghinggapinya, apakah kejadian dulu akan terulang lagi. Bahkan sekarang Xin sedang bersama dengan Ethan.
Queen langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berlari keluar kamar tidur. Ia langsung membuka pintu kamar tidur yang ditempati oleh Ethan dan Xin. Ia ingin memeriksa dan memastikan apakah Ethan membawa Xin. Padahal sedari tadi ia sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Ethan, tapi rasa khawatir masih menghinggapinya.
Saat Queen membuka pintu kamar Ethan, ia melihat pria itu berada di atas tempat tidur dan memeluk Xin, masih dalam keadaan mata terbuka.
"Queen?" panggil Ethan saat melihat Queen membuka pintu kamarnya.
Ia langsung bangkit dan mendekati Queen yang tubuhnya terasa bergetar.
"Ada apa? Apa kamu tidak bisa tidur?" tanya Ethan, "Atau kamu bermimpi buruk?"
"Tolong jangan mengambilnya dariku. Jangan bawa Xin pergi dariku, aku mohon ....," tiba tiba saja Queen berlutut di hadapan Ethan, "Kalau kamu mau menganbil Xin, bunuh saja aku terlebih dahulu agar aku tak merasakan sakit."
Hati Ethan kembali mencelos. Ia merasa sangat menyesal dan bersalah kembali. Ternyata selama ini, Queen masih sangat takut pada dirinya, meski mereka berdekatan. Dan ketakutan itu akibat dirinya pernah mengambil Reyn secara paksa dari Queen.
Jika dengan Reyn saja Queen bisa se-trauma itu, apalagi jika ia mengambil Xin. Ethan langsung memegang kedua bahu Queen, kemudian memeluknya. Biarkan saja ia disebut lancang atau apa, ia hanya ingin menguatkan wanita itu.
"Aku tak akan mengambil Xin darimu, maafkan aku," Ethan mengusap rambut Queen.
Ethan membawa Queen duduk di sofa di luar kamar. Ia tak ingin pembicaraan mereka mengganggu kenyamanan tidur Xin. Ethan kini memegang tangan Queen kemudian memegang dagu Queen agar wanita itu menatap ke matanya.
"Dengarkan aku. Aku sudah tahu semuanya. Semua yang terjadi hingga hari ini. Pertama, maaf karena aku mendendam padamu karena adikku. Seharusnya aku berterima kasih padamu, bukan menyakitimu.
Kedua, maaf atas malam yang mungkin menyakitkan bagimu. Malam itu aku tidak begitu sadar, aku bahkan mengira semuanya hanya mimpi. Apalagi ketika tak menemukan dirimu di sampingku pagi itu, itu semakin menguatkan pemikiranku bahwa semua hanya mimpiku, halusinasiku.
Malam itu aku ingin berbicara padamu, tapi saat aku berada di kantor, Kai datang dan menyerahkan surat perceraianku. Bahkan ia mampu mengurus semuanya tanpa memerlukan tanda tanganku juga tanda tanganmu. Hatiku juga sakit saat menerima surat itu, yang artinya kita bukan lagi suami istri.
Namun, keegoisanku dan harga diriku di hadapan Kai, menutupi rasa sakit yang ternyata semakin hari semakin dalam sejak kamu pergi. Aku merasa kosong, meskipun aku berhasil mengambil Reyn darimu, apalagi setelah mengetahui bahwa bukan dirimu kekasih adikku.
Saat aku mengetahui bahwa Xin adalah putriku ....," Ethan terdiam sesaat, ntah mengapa kali ini ia tak dapat menahan bulir air mata yang mengalir di pipinya.
"Aku ... Aku merasa gagal menjadi seorang suami, bahkan mungkin aku tak layak dipanggil daddy oleh Xin. Tapi setiap kali ia memanggilku, hatiku terasa menghangat, hingga aku tak bisa melepasnya. Hatiku, pikiranku, bahkan seluruh tubuhku ini seakan sudah dipenuhi oleh dirimu dan Xin.
Aku tahu aku jahat, bahkan sangat jahat. Aku juga tak berharap kamu akan kembali padaku dan mencintaiku seperti dulu. Tapi ... Izinkan aku menjadi daddy yang baik untuk putriku, hmm."
Queen mendengar setiap patah kata yang diucapkan oleh Ethan. Ia bisa melihat ketulusan dari tatapan mata mantan suaminya itu. Ingin ia mengatakan sesuatu, tapi bibir lidahnya seolah kelu, membuatnya terus terdiam.
"Daddy ...," suara kecil Xin terdengar dari dalam kamar tidur. Ethan langsung bangkit setelah sebelumnya mencium punggung tangan Queen, "Aku akan menemuinya dulu."
Bahkan saat ia terbangun, dirimu lah yang ia panggil. Apa aku akan tega memisahkan nya lagi dari ayahnya? - batin Queen.
🧡 🧡 🧡