LOVE IN REVENGE

LOVE IN REVENGE
MENYUSUN RENCANA



"Le, aku tahu bagaimana perasaanmu dan aku juga tak akan memaksakan apapun padamu. Hanya yang kusarankan agar kamu berpikir dengan kepala dingin sebelum memutuskan sesuatu," ucap Queen.


Lea mengeluarkan ponsel dari dalam tas miliknya, kemudian membukanya. Ia memperlihatkan pesan yang dikirimkan oleh seseorang beserta foti yang ada di sana. Tak pernah sekalipun Lea membalas pesan tersebut.


"Ini ...?"


"Hmm ... Inilah foto yang dikirimkan padaku. Menurutmu kalau hal itu terjadi dalam pernikahanmu dengan Ethan, apa yang akan kamu lakukan?"


Queen menghela nafasnya pelan. Ia memejamkan matanya sesaat. Ia tahu ini tak akan mudah, bahkan tadi Miles juga mengatakan bahwa tujuan utama Barbara adalah Ethan dan wanita itu hanya memanfaatkan Miles.


"Mungkin kita juga harus ikut bertindak membasmi ulat bulu itu, Le. Ia telah mengganggu kita," ucap Queen tiba tiba.


Lea menautkan kedua alisnya. Ia yang sedari tadi merasa sedih, tiba tiba menjadi bingung. Ia memegang dahi Queen dengan sebelah tangan dan dahinya sendiri dengan sebelah tangan yang lain.


"Kamu tidak demam," ujar Lea.


"Aku tidak sakit, Le."


"Lalu ... Mengapa aku tidak yakin bahwa yang barusan berbicara itu adalah dirimu?"


"Aku harus berubah, Le. Aku tidak ingin menjadi wanita lemah yang ditindas atau menerima perlakuan yang tidak baik padaku. Aku punya Reyn dan juga Xin. Bukankah aku harus kuat, maka aku bisa menjaga dan melindungi mereka," ucap Queen.


Lea menatap Queen kemudian tersenyum. Ia bangga pada sahabatnya yang kini telah menjadi pribadi yang lebih kuat.


"Sepertinya sekarang aku yang harus belajar darimu untuk selalu kuat," ucap Lea sambil memeluk Queen.


"Mungkin kamu masih sedih dan sakit hati, tapi kurasa kita harus mempercayai Ethan dan Miles untuk saat ini. Jika tidak, maka mereka akan semakin sulit mengambil keputusan," ucap Queen.


"Ya ampun, Queen. Mengapa kamu jadi begitu bijaksana? Aku semakin menyayangimu," ucap Lea.


Tak ingin bersedih berlarut larut, apalagi kini Queen telah menguatkannya. Lea pun segera membersihkan diri sementara Queen kembali ke kamar tidurnya untuk menjaga Xin.


*****


"Apa yang sudah kamu dapatkan, Miles?" tanya Ethan.


Ethan sangat yakin bahwa Miles tak serta merta hanya diam saja saat diancam oleh Barbara. Ia pasti berada di dekat Barbara untuk melakukan sesuatu.


"Aku?"


"Ya. Aku tahu kamu tak akan mungkin mau berada dekat dengan wanita seperti Barbara. Bahkan saat dulu ia masih menjadi kekasihku, kamu selalu menasihatiku untuk menjauh darimu. Jadi, cepat berikan padaku,apa yang kamu dapatkan?" Ethan menengadahkan tangannya bersiap untuk menerima sesuatu.


"Dengan ini saja kita tak bisa membuat polisi menangkapnya. Kita harus punya bukti lain yang lebih kuat," ucap Miles.


"Karena itu lah aku menghubungimu. Aku membutuhkan bantuanmu," ucap Miles.


"Katakan," baru saja Miles mau berbicara, pintu ruang kerja diketuk dan nampak sosok Kai di sana. Pria itu masuk dengan sedikit mengendap seperti takut ketahuan seseorang.


"Masuk Kai. Untuk apa kamu mengendap endap seperti itu?" ujar Ethan.


"Di sini ada Nona Queen?" tanya Kai sedikit gugup. Ia memang menghindari pertemuan dengan wanita itu karena ia merasa tak enak hati.


"Ada," ujar Ethan ingin menggoda Kai. Ia tahu bahwa asisten pribadinya itu sedang menghindar.


Semakin gugup lah Kai. Ia bahkan melangkahkan kakinya dengan ragu


"Ishh kalian berdua ini!" gerutu Miles, "Queen tidak ada. Dia ada di atas, cepatlah ke sini!"


Kai mencebik kesal karena merasa dikerjai oleh atasannya, sementara Ethan justru tertawa.


Kini mereka duduk bersama di ruang kerja Ethan. Mereka membicarakan tentang permasalahan Barbara dan mencoba mencari penyelesaian yang benar, agar wanita itu tak akan pernah mengganggu mereka lagi.


"Apa kamu memiliki ide, Kai? Biasanya ide mu selalu 'out of the box', sampai sampai waktu itu aku mengira bahwa kamu benar benar menjalin hubungan dengan Queen dan mengkhianatiku," ucap Ethan.


"Tuan, mengapa kamu mengungkitnya lagi? Bukankah sekarang Nona Queen sudah kembali?" gerutu Kai.


"Tetap saja! Gara gara dirimu, aku tak bisa merasakan bagaimana saat Queen hamil dan melahirkan," ungkap Ethan kesal.


"Itu mudah, hamili saja lagi. Jadi anda bisa merasakannya," jawab Kai tanpa berpikir, karena hal itulah yang terlintas di kepalanya.


"Ishhh ...," Ethan berdecak kesal.


Kai menghela nafasnya, lalu mulai memaparkan ide yang ada dalam kepalanya.


"Kamu gila! Kalau sampai gagal, bisa bisa keinginannya jadi kenyataan," ucap Ethan.


"Tapi boleh juga idemu, Kai. Aku akan menemuinya dulu. Kamu siapkan semuanya. Terakhir, tinggal Ethan yang menyelesaikan," ucap Miles.


"Tenang saja, Tuan. Aku yakin rencana ini tak akan gagal," ucap Kai dengan meyakinkan.


🧡 🧡 🧡