
Queen masih teringat akan kejadian tadi pagi menjelang siang di lobby hotel, di mana ia bertemu dengan Barbara, yang ia ketahui adalah mantan kekasih Ethan.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Ethan langsung duduk di samping Queen, di atas sofa ruang duduk di kamar hotel. Ya, ia masih berada di hotel yang sama karena Xin masih tak mau lepas dari Ethan.
Queen menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin menanyakan apapun. Apa hak-nya untuk bertanya, sementara ia bukanlah siapa siapa Ethan.
"Jangan berbohong padaku. Aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu. Apa semua ini karena Barbara?" tanya Ethan.
Queen diam dan bagi Ethan itu adalah jawaban ya. Ethan langsung meraih kedua tangan Queen kemudian menggenggamnya.
"Barbara dulu memang adalah kekasihku, tapi aku tak pernah mencintainya. Dulu, ia memaksaku untuk menerima cintanya. Ia berkata bahwa ia pasti bisa membuatku mencintainya. Namun, 6 bulan setelahnya, Enzo mengalami kecelakaan dan meninggal. Hingga saat itu, tak ada rasa yang timbul dariku padanya. Aku pun memutuskan hubungan secara sepihak karena menganggap bahwa wanita tidaklah penting bagiku dan hanya akan menambah kesakitan dalam hidupku dan keluargaku. Aku tak ingin kejadian Enzo terulang lagi dan membuat keluargaku kembali bersedih," Ethan berusaha menjelaskan.
"T-tapi kamu menyukai sentuhannya, ciumannya," ungkap Queen.
Ethan langsung tersenyum mendengar bagaimana Queen terlihat cemburu. Ethan langsung memegang dagu Queen dan mengarahkan wajah Queen hingga menghadap ke arahnya.
"Kamu cemburu?" tanya Ethan sambil tersenyum.
"Tidak! Aku tidak cemburu," jawab Queen yang langsung menyanpingkan kembali wajahnya. Namun sekali lagi Ethan mengarahkan wajah Queen hingga menghadapnya.
"Dengarkan aku dan percayalah padaku. Tak pernah ada hal seperti itu di antara aku dengan Barbara. Aku tak memiliki rasa padanya, untuk apa aku melakukan itu dengannya."
"Tapi kamu juga melakukan hal seperti itu padaku, meski tak memiliki rasa padaku," ucap Queen. Ia masih ingat bagaimana Ethan selalu menggenggam tangannya, bahkan sampai mereka melakukan sebuah hubungan penyatuan.
"Itu karena tanpa kusadari, aku memiliki rasa padamu, maka dengan mudah aku bisa melakukannya. Meskipun berawal dari sebuah kesalahpahaman, tapi aku tak ingin salah hingga akhir. Jadi aku berharap padamu, untuk tak pernah mempercayai apa yang diucapkan oleh Barbara. Ia akan selalu mencari celah untuk merusak hubungan orang lain, selama itu akan menguntungkannya."
Queen terdiam kembali. Ia menatap jendela yang menghadap ke Kora Frankfurt di malam hari. Kini yang ada dalam pikirannya adalah, apa yang dilakukan oleh Miles di hotel, bersama dengan Barbara.
*****
Sudah 3 hari ini, Lea merasa Miles sedikit berbeda. Tepatnya ketika suaminya itu tak kembali ke rumah dan tak dapat dihubungi.
Perbedaan itu juga terlihat bagaimana Miles seakan menjauh dari Lea, membuat Lea semakin bingung. Dan tepat hari ini, Miles pulang ke rumah. Pria itu langsung membuka kemejanya dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor.
Lea tak ingin berpikiran negatif tentang suaminya, tapi ia juga tak bisa terus berdiam diri. Ia bangkit dari duduknya dan mengambil kemeja yang bekas digunakan oleh Miles.
Tak ingin Miles memergokinya, Lea kembali duduk di atas tempat tidur sambil bersandar dan memainkan ponselnya. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, Lea memang sedang berbalas pesan dengan Queen.
Suamimu adalah milikku.
Dan sebuah foto menyertai pesan tersebut. Terlihat Miles yang terlelap berbalut selimut, bersama dengan seorang wanita. Cantik, ya itulah yang Lea tangkap dari penampilan wanita itu.
Jantung Lea tiba tiba berdebar dengan cepat, bahkan ia tak bisa berpikir dengan jernih. Biasa ia tak begini, boasa ia mampu berpikir dengan kepala dingin.
Ceklekkk
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Miles keluar dari sana dengan menggunakan handuk kimono. Pria itu langsung masuk ke area wardrobe dan mengganti dengan piyama tidur.
Lea menghela nafasnya dalam dan berusaha tenang, meskipun saat ini da-danya bergemuruh dan ingin berteriak.
"Kamu sudah makan?" tanya Lea.
"Sudah."
Miles meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian langsung berbaring dan memejamkan matanya. Pria itu bahkan membelakangi Lea.
"Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Lea akhirnya.
"Tidak ada. Aku lelah, Le. Aku ingin tidur," ucap Miles dan akhirnya mematikan lampu tidur di sebelahnya.
Le? Ia bahkan tak memanggil sayang seperti biasanya? Ia benar benar berubah. - Lea memegang da-danya lagi yang saat ini benar benar terasa sakit.
Lea membaringkan tubuhnya dan turut membelakangi Miles. Jauh, semakin jauh ia merasa dirinya dengan Miles sejak saat itu. Tanpa terasa, buliran air sudah jatuh membasahi pipinya.
Kuharap ini semua hanya mimpi buruk, yang akan segera menghilang saat aku terbangun nanti. - batin Lea.
🧡 🧡 🧡