
Keesokan harinya, saat mereka sudah sampai di bukit tempat mereka akan piknik. Suasana hati Adriana sangat bahagia, di sana begitu sejuk dan alami.
"Ri, nanti kapan-kapan ke sini lagi ya!" ucap Adriana sambil menghirup udara segar.
"Pasti, dong. Kamu suka?" tanya Richard senang.
Adriana mengangguk dengan senyuman yang terlihat sangat puas. Tapi kemudian raut mukanya berubah drastis. Dia memegang perutnya hingga membuat Richard berpaling dengannya.
"Kamu kenapa?" tanya Richard.
"Laper. Makan dulu yok," ajak Adriana lalu dia menarik tangan Richard agar ikut dengannya.
Mereka berdua mengambil banyak makanan dari mobil, sebenarnya mereka tidak menginap disana. Tapi mereka membawa makanan seperti orang yang akan seminggu tidak pulang ke rumah.
"Eh, Richard. Aku mau nanya dong," ucap Adriana di tengah makan.
"Apa?" jawab Richard.
"Kemarin pas di kantor Kak Tito, aku liat wanita nangis-nangis. Kayak mohon gitu, kamu kenal ga?" tanya Adriana serius.
"Ya ngga lah, emangnya aku satpam di sana?" Richard tertawa kecil karena merasa jika itu adalah pertanyaan aneh.
"Kukira kamu tahu."
Saat mereka menyelesaikan makan siang, Adriana mengajak Richard untuk menyusuri sungai yang ada di sana.
"Airnya dingin banget! Pengen mandi di sini," pekik Adriana pada Richard yang sudah berjalan jauh di depannya.
Richard menoleh sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dia memutar balik dan menyusul Adriana yang masih asyik bermain dengan air.
"Na, ayo jalan! Nanti kesorean loh," ajak Richard lalu menarik tangan Adriana.
Mereka berlarian di pinggir sungai dengan gembira seperti anak kecil. Bahkan mereka baru kembali ke mobil saat pukul 15.50 sore.
"Ayo pulang, nanti kemalaman lagi sampe di rumah," ucap Richard lalu membantu Adriana membereskan sisa makanan tadi siang.
Sesekali mereka menepi di jalan untuk membeli makanan, tentu saja itu permintaan Adriana! Sesekali dia menepi untuk membeli es krim, siomay, bakso, martabak, dan lainnya.
"Masih lapar?" tanya Richard bosan.
"Udah kenyang banget malahan!" jawab Adriana bersemangat.
Richard tersenyum, dia ikut senang jika melihat Adriana bahagia. Richard memang orang yang sangat setia, bahkan dia belum punya pacar sejak bersahabat dengan Adriana karena dia tak ingin menyakiti sahabat perempuannya itu.
Saat malam hari, Adriana masuk ke dalam kamarnya tapi setelah itu Tito juga masuk ke sana.
"Ada apa, Kak?" tanya Adriana heran.
"Sayang, Kakak mau bicara sebentar," jawab Tito tersenyum kecut.
"Baiklah, apa?"
"Kamu mau kan menikah dengan partner kerja Kakak? Orangnya tampan, pekerja keras, pengusaha besar juga," ucap Tito pada Adriana.
Adriana melotot, "Kak! Adriana belum mau nikah! Adriana masih umur 21 tahun dan BELUM MAU NIKAH!" bantah Adriana sekuat tenaganya.
"Tapi sayang, dia itu umurnya juga baru 28 tahun. Apa salah …"
"SALAHNYA BANYAK! POKOKNYA ADRIANA GA MAU DIJODOHIN!" pekiknya lagi lalu melempar Tito dengan bantal.
"Kamu ketemu sama dia dulu ya. Setidaknya hargai ucapan Kakak! Kalau tidak, kamu tidak usah berteman dengan Richard lagi, dan semua fasilitas atau pun warisan dari keluarga kita akan Kakak ambil!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Tito keluar dari kamar Adriana dengan emosi yang hampir meledak.
Begitu juga Adriana, dia menangis tersedu-sedu karena tidak ingin dijodohkan oleh siapapun itu.
Adriana menutup mukanya dengan bantal, dia bingung hendak memilih yang mana. Sahabat atau Jodoh?
"Aku juga ingin memilih jodohku sendiri! Jangan seperti jaman old!"