
Hari itu, Adriana berjalan ke kantor Kakaknya. Dia hendak mengantarkan bekal makanan yang tadi sempat tertinggal.
"Coba saja Kak Tito tidak perlu kelupaan seperti ini, mungkin aku sudah sampai di rumah Richard," keluh Adriana di tengah teriknya matahari.
Dia memang sudah terbiasa jalan kaki jika bepergian. Menurutnya itu sudah menjadi bagian dari hidupnya, karena Adriana paling tidak suka jika naik kendaraan terutama mobil.
Di Kantor Alwerd Club ....
Adriana langsung memasuki kantor dan menuju ruangan kakaknya tercinta itu. Dia begitu ramah hingga tak sedikit orang di sana yang begitu menyukainya dan mengaguminya.
"Sudah saya bilang! Kamu itu bukan siapa-siapa saya lagi, kamu itu hanya masa lalu saya!" teriak Tito di dalam ruangan.
"Tito, aku tahu aku memang salah. Tapi apa kamu tidak mau memaafkan ku sekali lagi saja?! Kumohon," jawab seorang wanita yang bersama Tito saat itu.
Adriana mendengarkan percakapan mereka dari depan pintu, dia merasa ada yang tidak beres lalu dengan cepat dia membuka pintu ruangan dan masuk begitu saja.
"Ada apa ini?" tanya Adriana memecahkan keheningan.
Kedua orang di sana menoleh ke arah Adriana bersamaan. Tito terlihat kebingungan namun berbeda dengan wanita satu itu.
"Adriana? Kamu ngapain ke sini, sayang?" tanya Tito heran.
"Kak, tadi Adriana cuma mau nganterin bekal. Tapi siapa wanita ini?" tanya Adriana bingung.
"Dia bukan siapa-siapa, cepat pergi!" usir Tito pada wanita itu.
Wanita itu terlihat sangat sakit hati dan langsung pergi dari ruangan itu tanpa bersuara sedikit pun.
Adriana menatap kepergiannya, tapi Tito terlihat acuh dan seperti sudah melupakan semuanya.
"Beneran Kak? Ga ada apa-apa?" tanya Adriana lagi untuk memastikan.
"Ga, sayang. Kamu taruh saja bekalnya di situ, Kakak mau meeting bentar," ucap Tito lalu mengelus pundak Adriana dan pergi dari sana.
Adriana tersenyum dan dia menaruh kotak bekal tadi di atas meja kerja Tito. Setelah selesai, Adriana langsung berjalan menuju ke rumah Richard.
Hari itu, mereka hendak pergi membeli bekal makanan karena besok mereka akan pergi piknik di sebuah bukit. Mereka berdua memang sering traveling hanya berdua saja tanpa mengajak orang lain.
"Richard!" panggil Adriana saat dia sampai di depan rumahnya.
Richard menoleh, "Kamu baik-baik aja kan? Kok baru sampe?" tanya dia khawatir.
"Ga apa-apa kok. Aku tadi nganterin bekal Kak Tito yang ketinggalan," jawab Adriana tersenyum.
"Kenapa ga ngabarin? Aku khawatir dari tadi nungguin kamu," ucap Richard sambil mengelus wajah Adriana dengan lembut.
"Oh iya, aku lupa."
Richard menggeleng lalu dia menggandeng tangan Adriana masuk ke dalam mobilnya. Dia tahu Adriana tidak suka mobil, tapi dia harus memaksanya karena mereka sudah terlambat.
"Jalan kaki aja!" bantah Adriana dengan kesal.
"Ga bisa, Na. Kita udah telat," jawab Richard menyabarkan.
Adriana menghela napas dengan kasar lalu masuk ke mobil dengan perasaan enggan.
Selama di dalam mobil, Adriana hanya memasang muka cemberut. Tak jarang dia mengacuhkan Richard ketika mengajaknya berbicara saat itu.
"Na, jangan marah dong. Ini kan demi waktu juga," ucap Richard menyerah membujuk Adriana.
"Iya!" jawabnya ketus.
"Senyum dong biar cantik," rayu Richard sambil menyentil dagu Adriana.
"Iya Richard! Iya!" bentak Adriana dengan senyuman yang terlihat sangat dipaksakan.
Richard tertawa kecil lalu kembali fokus menyetir mobilnya.