
Panas! Itulah yang kini dirasakan oleh Ethan. Ethan berusaha menahan dirinya yang mulai terbawa has srat dan gair rah. Bahkan, ia bisa merasakan obat tersebut sampai ke ubun ubun kepalanya. Ia seakan tak mampu lagi berpikir.
Sialannn!! obat perang sang macam apa yang dia masukkan ke dalam minumanku. - batin Ethan.
Sementara Miles melihat bahwa Ethan sudah mulai mencengkeram sofa untuk menahan diri, ia juga memperhatikan Barbara yang terlihat lebih kacau dari Ethan. Wanita itu bahkan sudah mengangkat gaunnya yang hanya sepahha hingga naik ke batas pinggang.
Wanita ini benar benar mencemari penglihatanku. - batin Miles yang memberi tanda pada Kai yang berada di sofa yang ternyata tak jauh dari sana.
Kai langsung memerintahkan anak buah Keluarga Frederick untuk membawa Barbara ke sebuah kamar yang telah dipesan oleh Barbara sebelumnya. Ya, Kai sudah mencari tahu sebelumnya bahwa Barbara memesan kamar VIP di klub malam tersebut, bukan di hotel.
Setelah memastikan Barbara mendapatkan obat ampuhnya serta penawarnya, Kai dan Miles membawa Ethan menuju hotel di mana ia telah memberitahukan pada Lea.
Mengapa? Tentu saja karena Lea yang membawa dokter serta obat penawar yang dibutuhkan oleh Ethan.
*****
"Apa?!" teriak Queen tak percaya.
"Maafkan aku, Nona. Aku tahu kesalahanku sangat besar padamu tapi saat ini hanya dirimu yang mampu membantu Tuan Ethan. Obat perangg sang yang diberikan oleh Nona Barbara adalah jenis yang sangat kuat, bahkan jika aku membawanya ke rumah sakit, tak akan mampu membantu," ucap Kai lagi.
Oleh karena itu juga Kai mengirimkan pesan pada Lea. Setelah memeriksa obat perangg sang yang digunakan oleh Barbara, ia sempat menghubungi dokter, tapi ternyata dokter tak ingin ambil resiko.
"Maaf," ucap Kai sekali lagi. Baru kali ini ia berbicara lagi dengan Queen setelah kesalahannya waktu itu.
Kai, Miles, dan Lea tak bisa melakukan banyak hal. Lea juga hanya bisa menguatkan Queen.
Bawa saja ia ke bathtub, Queen. Lalu nyalakan air dan masukkan es batu ke dalamnya. Apa kamu memerlukan bantuanku untuk memesannya ke bagian kitchen? - tanya Lea tadi.
Setelah itu, Queen meminta ketiganya untuk keluar dari kamar. Ia melihat Ethan membungkus dirinya sendiri dengan selimut. Ia mendengar semua yang dikatakan oleh Kai dan ia juga merutuki asisten pribadinya itu yang memasukkan Queen dalam rencananya.
"Pergilah, Queen. Tinggalkan aku sendiri. Aku tidak apa apa," ujar Ethan sambil memejamkan matanya.
Queen terdiam melihat dahi Ethan yang sudah mengeluarkan peluh. Wajah Ethan menampakkan kesakitan yang sangat luar biasa.
"Aku tak mungkin meninggalkanmu," ucap Queen.
"Pergilah, Queen. Panggilkan saja dokter ke sini. Aku yakin Dokter pasti memiliki obat penawar meski dosisnya kecil. Berikan saja padaku obat penawar itu dalam jumlah besar, aku yakin sakit ini akan hilang."
Queen mengambil tissue kemudian menyeka peluh yang ada di dahi Ethan.
"Cepat pergi, Queen. Aku tak bisa menahannya lagi!" ungkap Ethan.
"Sudah kukatakan bahwa aku tak akan pergi meninggalkanmu. Kalau terjadi apa apa denganmu, bagaimana? Xin akan menangis karena tidak ada dirimu."
"Queen ...," tubuh Ethan semakin merasakan sakit. Ia terus memaki dan merutuki Kai yang selalu saja gagal dalam menyelesaikan rencananya.
Mungkin Kai berhasil menyingkirkan Barbara dari Ethan, tapi kini Ethan dihadapkan dengan Queen yang tak mungkin bisa ia tolak. Namun, ia juga tak ingin menyakiti wanita itu.
Tanpa menunggu Ethan dan tanpa rasa malu atau pun canggung, Queen membuka pakaiannya. Biarlah kali ini ia disebut wanita murr ahan yang menyerahkan tubuhnya begitu saja. Tapi, ia juga tak ingin Reyn dan Xin kehilangan sosok ayah.
Ethan yang melihat apa yang dilakukan Queen malah terus berteriak, "Pakai lagi pakaianmu, Queen. Sialannn!!! Ahhhh!!! Mengapa obat ini terlalu kuat."
Queen yang sudah tak memakai pakaian apapun, alias polos, naik ke atas tempat tidur. Ia mendekati Ethan yang masih menggulung dirinya dengan selimut. Queen tersenyum saat melihat Ethan memejamkan matanya.
Cupp
Queen mencium bibir Ethan, membuat panas di tubuh Ethan semakin naik. Melihat Ethan mulai membuka matanya, Queen kembali mencium Ethan, kini dengan lebih dalam.
"Kamu tak akan menyesal, Queen?" tanya Ethan.
Queen menggelengkan kepalanya, "Aku tak akan menyesal. Sama seperti dulu ketika kamu melakukannya, kamu membuat Xin ada dalam hidupku. Satu satunya keluarga yang kumiliki pada akhirnya."
"Maaf," ucap Ethan sebelum ia membuka selimutnya dan membalas ciuman Queen. Ia menahan tengkuk Queen dan menyesapnya dalam.
"Lakukanlah," ucap Queen.
Ethan membuka pakaiannya sendiri, hingga kini keduanya polos.
🧡 🧡 🧡
Lanjut apa skip? 🤣