
Saat di dalam mobil, Deniz menatap Adriana penuh dengan kebencian.
"Antarkan dia ke rumahnya saja! Aku sibuk, tidak bisa mengantar ke rumah sakit," ucap Deniz tiba-tiba.
Adriana menoleh padanya tapi dia hanya acuh. Adriana mengelus wajahnya yang masih terasa sakit dan nyeri.
"Dasar pria yang tidak punya hati!" umpat Adriana dalam hatinya.
Selama perjalanan menuju ke rumah, Adriana hanya diam saja dan begitu pula dengan Deniz. Padahal, besok adalah hari pernikahan mereka, tetapi sikap mereka masih seperti orang yang sangat asing.
Sesampainya di rumah Tito, Adriana langsung turun dari mobil dan masuk kerumahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Hal itu membuat Deniz semakin kesal dengannya.
"Dasar gadis tidak tahu terima kasih!" umpatnya sambil menatap langkah Adriana.
Para pelayan di sana segera menghampiri Adriana yang berjalan dengan lemas. Mereka memapah tubuh Adriana agar tidak terjatuh ke lantai.
"Nona, ada apa? Apa yang perlu dibantu?" tanya salah satu dari mereka.
"Tidak usah, Bi. Adriana baik-baik saja," jawab Adriana sembari menyinarkan senyuman.
Beberapa pelayan membawa Adriana ke kamarnya. Mereka membiarkan Adriana sendirian di sana karena permintaannya.
"Kenapa harus pulang ke sini lagi sih?!" teriaknya penuh emosi.
Dia terdiam sejenak, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncullah seseorang yang tak lain adalah Tito.
"Adriana, kamu itu harus nurut sama Kakak, dan juga Deniz. Deniz itu calon suami kamu kan?" ucap Tito sembari berjalan menuju Adriana.
Adriana menoleh, "Tapi Kak. Adriana itu tidak cinta sama dia, kenal pun tidak!" jawabnya.
"Iya, Kakak tau. Tapi buktikan pada Deniz kalau kamu itu calon istri yang baik, dan patuh pada suami," balas Tito dengan sangat lembut.
Adriana diam, sama sekali tak merespon perkataan Tito tadi.
"Adriana mau sendiri!" ucap Adriana kemudian.
Tito lantas berjalan menuju pintu kamar itu meninggalkan Adriana sendirian di sana.
"Aksesoris pernikahanmu sudah disiapkan oleh Deniz, malam ini dia akan menjemputmu untuk pergi ke hotel," ucap Tito sebelum menutup kembali pintu kamar.
Adriana kembali diam, dia merasa tenaganya sudah habis untuk melawan dua orang pria yang tidak memiliki hati!
Saat malam tiba, Adriana sama sekali belum keluar dari kamarnya. Dia sangat malas jika harus bertatap muka dengan Tito.
"Adriana! Adriana!" panggil Tito dari luar kamarnya.
Adriana tak berkutik sedikit pun, dia masih diam di tempatnya seperti tadi.
"Adriana! Deniz sudah menunggumu di bawah," teriak Tito sambil terus mengetuk pintu kamar Adriana.
"Adriana, Deniz sud ...."
"Iya Kak! Adriana dengar!" bentak Adriana sambil membuka pintu kamarnya.
Dia melewati Kakaknya begitu saja. Dia langsung menuju ke ruang tamu dan melihat Deniz sendirian di sana.
"Hah, tumben sekali dia tidak membawa para PENJAGA yang tidak becus itu!" umpat Adriana dalam hatinya.
"Selamat malam, calon istriku yang cantik!" sapa Deniz sembari berdiri dari duduknya.
"Tidak usah basa-basi! Ayo cepat," balas Adriana melaluinya begitu saja.
Dia membuka pintu rumah dan melihat halaman rumahnya yang dipenuhi oleh mobil! Mobil siapa itu? Dia memicingkan mata dan melihat isi mobil tersebut.
"Apa!? Segini banyak penjaga yang dibawanya hanya untuk menjemputku? Bodoh sekali orang ini!" teriak Adriana sangat terkejut.
Tapi seseorang menyenggolnya dari belakang.
"Siapa yang anda katakan bodoh?" tanya Deniz.
"Tentu saja, anda!" jawab Adriana lalu masuk ke dalam mobil yang akan ditempatinya bersama Deniz.
Saat sampai di hotel, ternyata hotel itu adalah milik keluarga Albert juga. Pantas saja Deniz mengadakannya di sana.
Mereka berdua langsung menuju lantai VIP yang sudah dipesan oleh Deniz. Ketika mereka memasuki ruangan yang ditempatinya,
Adriana begitu terkejut karena ruangan itu sangat indah dan mempesona. Terlihat sangat mewah tentunya!
"Malam ini anda tidur di sofa, dan saya tidur di kasur," ucap Deniz seketika.
Mata Adriana melotot lalu menatap Deniz dengan tajam.
"Apa anda gila?! Membiarkan saya tidur di sofa? Sungguh tidak adil!" bantahnya dengan keras.
Deniz menatap Adriana lalu tersenyum.
"Silakan tidur di kasur, aku tadi hanya bercanda, sayang."
Adriana tak menjawabnya lagi, dia langsung merebahkan diri di kasur yang sangat lembut dan empuk itu.
Tapi tiba-tiba kasur itu menjadi sempit, Deniz juga berbaring di sana? Apa maksudnya ini!
"Loh, kenapa Anda juga tidur di sini?" tanya Adriana.
"Bukankah kita besok menikah? Jadi, apa salahnya jika sekarang kita tidur berdua! Di kasur yang sama!" jawab Deniz lalu memejamkan matanya.
Adriana sangat kesal, dia membalikkan badannya agar tidak menatap Deniz. Dia mencoba untuk tidur tetapi cukup sulit baginya.
Hingga akhirnya mereka berdua terlelap karena hari itu sangatlah melelahkan.