
"Kamu akan pergi, Queen?" tanya Lea.
Saat ini mereka sedang berada di cafe dan duduk berhadapan, sementara Ethan menemani Xin bermain di area belakang cafe.
"Hmm ... Aku ingin mencobanya sekali lagi, bersamanya. Aku tak tahu akan seperti apa, tapi aku melakukannya untuk Xin dan juga untuk Reyn."
"Aku turut berbahagia untukmu, Queen."
"Terima kasih, Le. Apa kamu sakit? Wajahmu sedikit pucat," ucap Queen.
"Hmm ... Belakangan ini aku agak lelah karena harus menangani cafe seorang diri."
"Miles? Apa dia tidak membantumu?" tanya Queen.
"Ia sedang sibuk mencari investor untuk memperbesar cafe dan membuka cabang ke dua kami," jawab Lea.
Pikiran Queen kembali pada saat ia melihat Miles dan Barbara.
"Kamu yakin hanya itu, Le? Ingatlah bahwa aku sahabatmu, kamu bisa menceritakan apapun padaku."
Lea tersenyum meski ia harus memaksakan, "Aku tidak apa apa, lagipula jika semua sudah sesuai kemauan Miles, cafe akan kembali berjalan normal dan aku hisa beristirahat."
"Jika ada apa apa, hubungi aku, okay. Aku akan berada di Kota Munich, hubungi aku jika kamu ke sana. Dan maafkan aku yang selama ini sudah merepotkanmu."
Lea kembali tersenyum, "Kamu tak pernah merepotkanku, Queen. Aku menyukai Xin, bukankah aku ibunya juga? Ingat, jangan pisahkan aku terlalu lama dengan putriku."
Lea berusaha untuk bercanda, akan tetapi Queen bisa melihat ada kesedihan di mata Lea. Hanya saja ia tak ingin bercerita dan Queen tak dapat memaksa untuk saat ini.
"Kalau begitu, kunjungi kami di munich," pinta Queen.
"Aku akan ke sana untuk menemui Xin. Jangan lupa untuk mengundangku saat pernikahan kalian," bisik Lea saat ia mengucapkan kalimat terakhir.
"Tentu saja, aku tak akan melupakan sahabat terbaikku."
"Lea, di mana Miles?" tanya Ethan saat ia masuk kembali ke dalam cafe sambil menggendong Xin.
"Ia sedang pergi bertemu dengan investor."
"Oooo, kalian ingin memperbesar cafe ini lagi?" tanya Ethan lagi.
"Hmm ... Dan kami juga akan membuka cabang ke dua kami di Kota Berlin," jawab Lea.
"Kalian luar biasa," puji Ethan.
"Terima kasih," meskipun tampak senyuman di wajah Lea, tapi saat ini hatinya sedang gundah. Tadi pagi, Miles kembali berangkat pagi pagi. Setelah itu, Lea kembali mendapatkan pesan beserta foto yang menyertainya.
Aku sedang sarapan bersama kekasihku, yang adalah suamimu ❤
"Istirahatlah dulu, Le. Serahkan semuanya pada pelayan. Kulihat mereka semua sudah menguasai bagiannya masing masing," ucap Queen.
"Baiklah, nanti akan kulakukan ratuku," ucap Lea sambil bercanda. Lalu Lea bangkit dan mendekati Xin.
"Mommy ingin menggendongmu, sayang," Xin melihat ke arah Lea dan langsung berpindah. Ia bahkan memeluk Lea dengan sayang, seakan mau berpisah lama. Lea mengelus rambut Xin dan menghirup wanginya.
"Mommy Lea menyayangimu, Xin. Ingat, dengarkan selalu Daddy dan Mommy, okay?!"
Setelahnya, Ethan, Queen, dan Xin pun meninggalkan cafe. Kini Lea duduk sendiri di salah satu kursi yang menghadap langsung ke arah jendela. Ia termenung sambil sesekali menghapus buliran air mata yang hampir jatuh ke pipinya.
Apa kamu masih mencintaiku, Miles? - batin Lea.
*****
Ethan membawa Queen dan Xin kembali ke Kota Munich. Saat ini mereka sedang menuju ke kediaman Frederick dengan menggunakan taksi.
"Sebaiknya aku mencari kontrakan saja," ucap Queen.
"Apa kamu tak ingin tinggal bersamaku?" tanya Ethan.
"Bukan begitu, tapi kita bukan suami istri dan aku tidak enak dengan Uncle dan Aunty."
"Kita akan menikah secepatnya dan aku ingin kamu ada dalam pengawasanku, begitu juga Xin. Aku akan mengatakan semuanya pada Dad dan Mom, kuharap mereka tak memukulku ataupun mengusirku," ucap Ethan.
Taksi yang mereka tumpangi kini telah sampai di Kediaman Keluarga Frederick. Ethan turun bersama Xin dan Queen. Ia meminta tolong pada supir taksi dan penjaga keamanan untuk menurunkan barang barang.
Dad Alvin tengag berada di perusahaan. Untuk sementara ia kembali menjalankan perusahaan dengan dibantu oleh Kai.
"Mom," sapa Ethan saat memasuki rumah. Ethan tahu kebiasaan Mom Diva, kalau tidak di dapur, pasti di taman belakang.
Mom Diva yang tengah menunggu waktu untuk menjemput Reyn di sekolah pun tersenyum saat mendengar suara putranya itu.
"Kamu sudah kembali?" Senyum di wajah Mom Diva semakin lebar ketika melihat kehadiran Queen dan Xin di rumahnya.
"Hmm ... Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Mommy."
"Baiklah, tunggu sebentar," Mom Diva langsung meletakkan alat berkebunnya dan mencuci kedua tangannya. Ia langsung menggendong Xin terlebih dahulu, tapi ternyata Xin sama sekali tak mau lepas dari Ethan.
"Ia hanya mau denganku, Mom. Ia sudah menempel dengan sangat lekat," ujar Ethan tersenyum.
"Sekarang katakan pada Mommy, apa yang mau kamu bicarakan," ucap Mom Diva.
"Aku akan menikahi Queen, Mom," ucap Ethan, membuat Mom Diva menoleh ke arah Queen.
"Kamu tidak dipaksa kan?" tanya Mom Diva pada Queen dan dijawab gelengan oleh Queen.
"Kamu yakin, Queen?" tanya Mom Diva lagi.
"Mommy jangan menghasut Queen lagi. Aku sudah berusaha meyakinkannya, jangan membuatnya meragukanku," ucap Ethan sedikit kesal.
Mom Diva tersenyum, "Mommy hanya mencoba bertanya saja. Mommy tak ingin Queen melakukan semuanya karena keterpaksaan, apalagi mengingat ... "
"Mom!" Ethan menghela nafasnya pelan kemudian kembali menatap Mom Diva, "ada satu hal lagi yang harus kukatakan, Mom."
Mom Diva menautkan kedua alisnya saat melihat keseriusan di wajah putranya itu.
"Xin adalah putriku, putri kandungku."
🧡 🧡 🧡