LOVE IN REVENGE

LOVE IN REVENGE
Bertemu dengan calon suami?



Pagi itu, Adriana bangun lebih awal. Dia menelpon Richard yang kebetulan saat itu sudah bangun juga.


"Kenapa Kakakmu memaksakan untuk menjodohkanmu?" tanya Richard.


"Aku ga tau, tolongin aku ya. Aku ga mau nikah sekarang!" pinta Adriana dengan suara yang bergetar.


"Kamu jangan nangis, nanti kamu ketemu sama orangnya dan aku yang bakal nemenin kamu," jawab Richard menenangkan.


"Bener ya? Kalo gitu aku siap-siap dulu."


"Jam 8 aku jemput, tapi NAIK MOBIL!"


Setelah itu Richard mematikan sambungan teleponnya. Adriana juga tidak membantah dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan.


Setelah itu dia memilih baju kemeja dan celana panjang yang terlihat sangat minimalis namun begitu trendy.


Setelah siap, Adriana turun ke bawah untuk sarapan bersama Kakaknya. Selama sarapan dia hanya diam saja meski terkadang Tito mencoba untuk memecahkan keheningan.


"Jam 10 jangan lupa ketemu sama Deniz!" ucap Tito mengingatkan.


"Hm."


"Berangkat sama siapa? Harus naik mobil," ucap Tito lagi.


"Hm."


Tito membanting sendok ke piringnya lalu dia pergi dari meja makan. Adriana mendengar suara pintu kamar yang dibanting dengan amat keras oleh Kakaknya yang sedang emosi.


"Sok banting meja! Giliran laptopnya dibanting ga berani!" umpat Adriana lalu menyelesaikan sarapannya.


Setelah sarapan, dia keluar rumah dan melihat mobil Richard yang sudah terparkir di sana. Dia langsung menghampirinya dan masuk begitu saja ke dalam mobil.


"Nona Putri, sudah siap?" tanya Richard cengingiran.


"Siap, Pangeran."


Mereka tertawa lalu Richard melajukan mobilnya menuju ke restoran tempat mereka akan bertemu dengan Deniz. Tapi Adriana sudah meminta Richard agar menunggu di parkiran saja dari pada ikut masuk ke dalam nanti.


"Udah sampe," ucap Richard.


"Aku masuk dulu ya, jaga diri!" ucap Adriana lalu keluar dari mobil.


Saat di dalam restoran, seseorang langsung melambaikan tangan ke arah Adriana. Adriana langsung mengerti dan menuju ke meja tempat orang itu.


"Adriana, bukan?" tanya dia.


"Iya, anda Pak Deniz?" tanya balik Adriana.


"Jangan panggil saya, Pak. Itu terlalu tua," balas Deniz.


"Tentu."


Mereka memesan makanan yang diinginkan lalu suasana kembali hening seketika.


"Jadi, kamu sudah punya pacar?" tanya Deniz tiba-tiba.


"Ga ada," jawab Adriana singkat.


"Kamu setuju kan dengan perjodohan ini? Nanti saya akan berikan semua fasilitas yang kamu mau, apapun itu!" ucap Deniz dengan gayanya yang begitu arogan.


"Maaf, tapi kenapa anda mau menikah dengan saya?" tanya Adriana heran.


"Anda itu cantik. Anda baik, pintar, anak pengusaha, dan lebih lagi, kakak anda sangat baik pada saya," jawabnya panjang lebar.


Adriana menghela napas, "Lalu? Apa anda pikir saya akan tertarik dengan semua harta kekayaan anda? Wajah tampan itu? Badan yang kekar?" tanya Adriana menantang.


Deniz terdiam, dia memandang Adriana dengan tatapan benci namun ditahan olehnya. Adriana juga hanya diam dan bersikap profesional.


Detik itu juga, pesanan mereka datang. Mereka berdua langsung makan bersama tanpa berbicara sedikit pun.


Setelah selesai, Deniz membuka suaranya.


"Saya harap, anda siap menikah dengan saya dua hari lagi," ucapnya.


"Anda tidak usah memaksa!" bantah Adriana.


"Jika tidak, perusahaan keluarga anda akan hancur! Kakak tersayang anda akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya, begitu juga dengan sahabatmu yang saat ini menunggu di parkiran mobil," ucap Deniz lalu meninggalkan Adriana di sana.


Adriana terdiam, dia memikirkan kata-kata itu. Di hatinya hanya terpikir nasib Kakak dan Richard, dia sama sekali tidak memikirkan semua harta yang dimilikinya.


Tapi Adriana langsung berlari menuju ke mobil Richard. Dia khawatir jika Deniz sudah menghabisinya saat itu juga.