LOVE IN REVENGE

LOVE IN REVENGE
Rumah bagaikan penjara?



Setelah semuanya siap, mereka langsung pergi dari hotel dan menuju ke rumah Deniz.


Selama perjalanan, Deniz sama sekali tidak berbicara sedikit pun, begitu juga dengan Adriana.


Adriana sibuk memainkan ponselnya dan terkadang tertawa dengan lepas, hal itu membuat Deniz terganggu dan menjadi emosi.


Dia berhenti sebentar lalu menatap Adriana yang masih mengacuhkannya.


"Berikan ponselmu!" ucapnya sambil menatap Adriana dengan tajam.


"Ponselku? Untuk apa?" tanya Adriana heran.


"Lama sekali!" Deniz langsung mengambil ponsel Adriana dan melemparnya ke luar kaca jendela.


Adriana berteriak dengan kencang karena terkejut.


"Ponselku!" teriaknya lalu memukuli tubuh Deniz.


Dia berharap Deniz akan mengambilnya lagi karena ponsel itu sangat penting.


"Diam! Atau kau juga mau kulempar ke sana?" tanya Deniz dengan wajah yang penuh kekesalan.


Adriana terdiam, matanya berkaca-kaca karena ulah Deniz. Setelah melanjutkan perjalanan, Deniz merasa tenang karena tidak ada hal berisik yang dapat mengganggunya lagi.


Sesampainya mereka di rumah, Deniz membuka dan menutup kembali pintu mobilnya dengan keras hingga membuat Adriana mengikutinya karena kesal.


Deniz menoleh, "Beraninya kau membanting pintu mobilku dengan begitu keras?!" Ucapnya dengan tajam.


Adriana membuang muka karena tidak ingin membuat masalah dengan manusia seperti itu.


Dia membawa kopernya sendiri, sama sekali tidak menyentuh barang-barang Deniz yang ada di dalam bagasi mobil itu.


Rumah Deniz memang sangatlah mewah. Memiliki tiga lantai, halaman depannya sangat luas dipenuhi dengan rumput hijau dan tanaman lainnya.


"Bi, antarkan wanita itu ke kamarnya, jangan satu lantai dengan kamarku!" ucap Deniz pada salah satu pelayan di situ.


Pelayan itu mengiyakannya lalu membantu Adriana membawa barang-barangnya ke kamar yang diminta oleh Deniz.


Saat sampai di kamar itu, Adriana terpukau karena ruangan itu sangatlah besar dan nyaman. Semua furniture di sana sepertinya sudah lengkap bagi Adriana.


"Bi, Deniz di mana? Kenapa dia tidak ada?" tanya Adriana kebingungan.


setelah mengucapkan itu, Pelayan itu pergi untuk menyiapkan makan malam Tuan dan Nona mereka.


Adriana tersenyum karena gembira. Dia berpikir dia akan bebas jika tidak satu kamar dengan Deniz. Dia bisa melakukan hal sesuka hatinya di kamar itu.


"Tapi, bagaimana caraku mengubungi Richard? Kasihan dia, pasti sangat kesepian," ucap Adriana lalu kembali sedih dan duduk di sofa.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan muncullah sosok pria yang dibencinya.


"Ini!" ucapnya sembari meletakkan Map yang dibawanya ke atas meja.


Adriana menatap Map itu lalu membukanya tanpa berbicara sedikit pun.


Dia membaca isi kertas itu dengan teliti.


...Surat Peraturan Untuk Adriana :...


...1. Dilarang masuk ke dalam kamar Deniz tanpa izin!...


...2. Dilarang mengurusi semua urusan Deniz!...


...3. Dilarang keluar rumah tanpa izin Deniz!...


...4. Dilarang menghubungi siapapun termasuk Tito dan Richard!...


....................


Setelah dia membaca peraturan nomor keempat, Adriana membanting Map itu lalu berdiri menatap Deniz.


"Apa maksudmu?! Aku tidak boleh menghubungi Kakak dan Sahabatku sendiri?!"


"Seperti yang kamu baca, Ingat! Jika kau melanggar satu saja dari semua peraturan itu, maka akan ada konsekuensinya!" ucap Deniz lalu keluar dari kamar Adriana.


Adriana sangat marah tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia sangat rindu dengan Richard, tapi apa boleh buat? Deniz memang sangat kejam!


"Untuk apa dia menikahiku? Dia bilang dia mencintaiku? Tapi ini apa?!" ucapnya sambil melempar lagi Map peraturan itu.


Dia menangis di dalam kamar itu. Sepertinya kamar itu adalah saksi atas segala kesedihan Adriana selama menikah dengan Deniz.