
"Lepaskan aku, Elle!" teriak Rafael saat Mirelle kembali bergelayut di bahu Rafael, "Kamu itu berat!"
Melihat kesedihan di wajah adiknya, Marco langsung berkata, "Sini dengan kakak saja, Elle. Kamu jangan mengganggu Marco terus."
Namun, wajah sedih itu hanya sesaat. Mirelle langsung kembali tersenyum dan mendekati Marco.
"Kamu mau digendong?" tanya Marco.
"Tidak," jawab Mirelle.
"Lalu?" Marco yang mendapat jawaban tidak dari Mirelle justru menjadi bingung.
"Aku tak mau digendong kakak, aku mau digendong Rafael,' ucap Mirelle. Ia memanggil Marco dengan sebutan kakak, sementara untuk Rafael ia langsung memanggil dengan nama.
"Kamu akan membuatnya marah lagi, Elle."
"Aku suka," ucap Elle.
"Menyebalkan!" Rafael langsung meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam kelas.
Tak lama, bel sekolah kembali berbunyi. Itu tanda bahwa jam istirahat telah selesai dan para siswa diharap segera kembali ke kelas masing masing.
Di dalam kelas,
"Maafkan adikku, Raf," pinta Marco.
"Hmm."
"Aku akan bicara padanya lagi nanti."
"Hmm."
Marco hanya tersenyum kecil saat mendengar jawaban Rafael. Sahabatnya itu memang suka menjawab singkat, apalagi pada sesuatu yang tak terlalu disukainya.
Saat pulang sekolah,
"Ada apa, sayang? Mengapa wajahmu cemberut seperti itu?" tanya Queen.
"Mom, apa Mommy sudah bicara pada Daddy?"
"Tentang sekolahku," lanjut Rafael.
"Sayang, Elle menyayangimu sebagai kakaknya. Ia senang bermain denganmu."
"Tapi aku tak suka, Mom."
"Lalu jika kamu pindah, apa kamu yakin tak akan bertemu dengan gadis lain yang sifatnya sama dengan Elle? Apa kamu mau berpisah dengan Marco?" tanya Queen. Ia tahu Rafael sangat dekat dengan Marco, bahkan seperti saudara kembar.
"Elle masih kecil, sayang. Mommy yakin lama kelamaan ia akan berubah."
"Mommy yakin?" tanya Rafael.
"Ya, Mommy yakin, sayang."
"Tapi kalau nanti terus seperti itu, aku mau pindah sekolah saja ya, Mom. Ajak Marco juga. Biarkan saja Elle sendirian," ungkap Rafael kesal.
Queen hanya bisa tersenyum mendengarnya.
*****
"Uncle!" teriak Nala saat ia keluar dari Kampus.
"Masuklah," ucap One yang membukakan pintu untuk putri atasannya itu. One sudah mendedikasikan hidupnya untuk menjaga Nala, sejak kejadian waktu itu. Ia bahkan belum menikah, meski usianya sudah menginjak 36 tahun.
Nala mencebik melihat kedataran wajah One. Ia pun langsung masuk ke dalam mobil. Ia selalu duduk di kursi belakang karena One selalu meletakkan beberapa tas di kursi depan.
"Uncle! Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tanya Nala.
"Nyonya Alexa sudah menyiapkan makan siang untukmu. Aku harus segera mengantarmu pulang karena ada sedikit pekerjaan dengan Tuan Michael," jawab One.
"Ishh Uncle tidak seru!" ungkap Nala kesal.
Nathan kini berkuliah di luar negeri, tepatnya di Kota Auckland, New Zealand. Ntah mengapa ia memilih negara itu, padahal banyak universitas bagus di New York. Sementara Nicholas masih berada di bangku sekolah.
Alexa sendiri telah menyerahkan pekerjaannya pada orang orang kepercayaannya. Ia lebih banyak berada di rumah untuk menghabiskan waktu bersama putra putrinya, serta menunggu suaminya pulang. Kadang, ia menemani Michael di rumah sakit kalau ada jadwal operasi hingga malam hari.
Mobil yang dikendarai oleh One memasuki halaman Kediaman Keluarga Michael dan Alexa. One segera turun dan membukakan pintu untuk Nala.
"Masuklah, Nyonya Alexa sudah menunggumu. Uncle harus pergi mengantar beberapa barang untuk Ayahmu," One memang akan mengantar beberapa berkas mengenai rumah sakit. Beberapa hari ini One memeriksa hal yang janggal di rumah sakit karena persediaan obat yang selalu saja tak sinkron dengan jumlah saat pembeliannya.
"Lain kali Uncle harus makan siang denganku!" ucap Nala.
"Baiklah," One pun segera kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan kembali kendaraannya.
🧡 🧡 🧡
Kakak semua, terima kasih atas waktunya yang selalu disempatkan untuk membaca novel dari Cherry yang amatiran ini.
Maaf jika ceritanya kadang mutar muter kayak roller coaster, atau tak sesuai dengan harapan, maklum Cherry kalau lagi halu suka agak oleng, trus bikin alur jadi keluar jalur 🤣🤣
Aku juga lagi siapin cerita baru, cuma masih digodok biar maknyuss. Lagi bingung juga mau ceritain siapa lagi. (mulai oleng aku deh)
Sekali lagi terima kasih,