
Malam itu, Adriana masih terbaring di kasurnya sejak siang tadi. Dia merasa sangat lemah karena ulah Deniz yang terlalu berlebihan tadi.
"Nona ...." panggil Pelayan dari luar ruangan.
Adriana mendengarnya, tapi dia tak kuat untuk berbicara sepatah kata pun.
"Nona ... Ini sudah malam, ayo makan malam dulu!" teriaknya lagi dari luar pintu.
Karena merasa ada yang tidak beres, Pelayan itu membuka pintu kamar yang kebetulan tidak terkunci dari dalam. Dia melihat wajah Adriana yang sangat pucat.
"Nona! Ada apa? Badannya sangat panas," ucapnya khawatir.
Pelayan itu langsung berlarian keluar sambil berteriak memanggil Deniz.
Tak lama kemudian, nampak Deniz memasuki kamar tidur Adriana. Wajahnya terlihat sama sekali tidak perduli dengan keadaan Adriana saat itu.
"Kenapa lagi? Kamu itu bisanya cuma merepotkan saya!" ucap Deniz dengan sinis.
Adriana merasa sangat marah, dia memaksakan diri untuk berdiri dan berbicara dengan Deniz.
"Mas! Kamu itu kenapa seperti ini?! Aku salah apa sama kamu!" ucapnya yang masih gemetaran.
"Kamu mau tahu?" ucapnya dengan suara yang serak.
Adriana masih diam dengan mata yang berkaca-kaca. Dia menunggu kelanjutan dari jawaban suaminya itu.
"Karena Kakak anda! Saudara anda yang begitu kejam!" jawabnya dengan penuh amarah.
Deniz melempar beberapa barang yang ada di sekitarnya. Hal itu membuat Adriana bingung sekaligus ketakutan.
"Mas! Kakak aku kenapa? Kakak aku itu orang yang baik!" bantah Adriana dengan air mata yang berjatuhan.
"Jadi ...." ucap Deniz memulai pembicaraannya.
Beberapa waktu yang lalu ....
"Aghhh! Aku benci kamu, Mas! Aku benci!" teriak seorang wanita di dalam sebuah kamar.
"Tega kamu sama aku, kita udah jalanin hubungan sepuluh tahun dan dengan mudahnya kamu putusin gini aja!" teriaknya merasa frustasi.
Seseorang membuka pintu kamarnya dan memeluknya dengan erat. Mencoba untuk menenangkannya.
"Hei, kamu kenapa Emma? Cerita sama Kakak, jangan begini caranya," ucap laki-laki itu yang ternyata adalah Deniz.
"Aku ga terima, Kak! Tito mutusin hubungan kita begitu aja! Dia bilang dia udah cinta sama orang lain!" jawabnya sambil terus menangis.
Emma mendorong Deniz hingga terbentur ke dinding. Dia langsung mengambil pisau lipat yang ada di laci kamarnya.
Emma menusukkan pisau itu ke beberapa bagian tubuhnya. Deniz tak sempat lagi untuk mencegah perbuatan konyol itu.
Dia menghampiri Emma, tapi itu semua sudah terlambat. Emma sudah meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Emma! Emma bangun!" teriak Deniz begitu histeris.
Deniz memeluk Emma sangat erat, dia hanya memiliki Emma saat itu. Deniz tidak terima jika Adiknya harus mati karena hal yang tidak masuk akal.
"Kakak janji, Kakak akan membalaskan dendam kamu melalui Adik Tito!" ucap Deniz penuh dendam dan kekejaman.
Sejak kejadian itu lah, Deniz menjadi orang yang lebih kejam dari sebelumnya. Dia sangat merasa kehilangan sosok yang dicintai dan disayanginya.
(Flashback off)
Adriana terjatuh ke lantai. Dia duduk termenung di sana. Perasaannya sangat hancur hari itu. Dia tidak menyangka hal ini akan terjadi.
"Mas, a—aku ga tau apa-apa! Jangan jadiin aku alat pembalas dendam kamu!" ucap Adriana tersedu-sedu.
Deniz masih diam, dia belum puas dengan penderitaan yang dirasakan oleh Adriana saat itu.
"Kamu dengar ya, yang kamu alamin saat ini belum seberapa dengan apa yang akan terjadi di masa depan!"
Deniz pergi keluar dari kamar itu, dia menuju kamarnya tanpa membuat Adriana tenang terlebih dahulu.
Adriana masih termenung di posisinya. Dia meringkuk sedih mencoba kuat dengan keadaannya saat ini.
"Aku salah apa? Kenapa Mas Deniz jahat banget! Akkhhh!" dia berteriak histeris sambil memberontak ditempatnya saat itu.
Adriana masih sangat terpukul, para pelayan juga merasa sangat kasihan tapi mereka semua sudah dilarang oleh Deniz untuk masuk ataupun menolong Adriana.