LOVE IN REVENGE

LOVE IN REVENGE
TAK ADA KERAGUAN



Perjalanan dari Kota Frankfurt menuju Kota Munich, dilalui oleh Ethan dengan banyak berpikir. Ia tak mengemudi dengan kecepatan tinggi karena ia tak ingin emosinya membuat dirinya celaka yang tentu saja akan kembali menyakiti keluarganya.


Selain itu, ia harus meng-konfirmasi apa yang tadi dikatakan oleh Miles dan juga Lea. Benarkah Xin adalah putrinya?


Sejak pertama kali bertemu dengan Xin, ia memang merasa dekat. Bahkan anak kecil itu selalu merasa nyaman dalam pelukannya.


Namun, ia masih terus berpikir tentang malam itu. Mengapa di pagi hari nya, Queen tidak membahasnya sama sekali.


"Arghhh!!!" Ethan terus mengumpat kesal. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang hatinya telah terselimut dendam saat itu. Ia juga menceraikan Queen secara sepihak.


Ethan tahu mengapa Queen tak mau memberitahukan kebenarannya. Wanita itu pasti takut jika ia mengambil Xin secara paksa, seperti saat ia mengambil Reyn. Tapi ... Queen juga tidak berhak menyembunyikan semua itu darinya.


Ethan memperlambat laju kendaraannya ketika ia hampir sampai di Kediaman Keluarga Frederick. Ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan dan menelungkupkan wajahnya.


Ia tahu bahwa ia tak boleh bertindak gegabah. Jika memang benar Xin adalah putrinya, ada kemungkinan Queen akan kembali membawanya pergi, dan mungkin kali ini akan lebih sulit lagi mencarinya.


Hal itu juga pasti akan berdampak pada Reyn. Ethan tak ingin Reyn kembali seperti Reyn yang diam dan tak memiliki keceriaan. Ia sudah menganggap Reyn sebagai putranya dan akan selalu seperti itu sampai nanti.


Ethan menarik nafasnya, kemudian membuangnya perlahan. Ia akan menjadi Ethan yang baru, yang tidak emosi dalam mengambil sebuah tindakan. Ia harus membuat Queen berada di sampingnya, dengan begitu otomatis Xin pun akan selalu ada di dekatnya.


Ia pun melajukan kembali kendaraannya, dan masuk ke dalam Kediaman Keluarga Frederick.


"Halo, Reyn," sapa Ethan saat melihat Reyn tengah duduk di sofa sambil mengerjakan tugas sekolahnya.


"Daddy!" Xin melepaskan diri dari Queen dan berjalan ke arah Ethan. Melihat itu, Ethan tersenyum kemudian merentangkan kedua tangannya.


Xin langsung memeluknya dan mencium pipi Ethan, "Muahh!!"


"Kamu merindukan Daddy, hmm?" tanya Ethan pada Xin. Ia memperhatikan wajah Xin dengan seksama. Ia memang tak terlalu memperhatikan, karena fokusnya hanya pada Queen.


Queen yang melihat interaksi itu merasakan sesuatu di dalam hatinya. Namun ia tetap tak akan mengatakan apapun.


"Daddy akan mandi dulu, okay? Setelah itu Daddy akan menemanimu," ucap Ethan kemudian mencium pipi Xin.


Betapa bahagianya jika pulang ke rumah dan disambut oleh anak anak. Rasa lelah pun serasa hilang. Namun, ia juga ingin disambut oleh istri yang akan selalu tersenyum padanya. Ethan melihat ke arah Queen yang terlihat sengaja fokus pada Reyn saat ini.


Aku pasti akan membuatmu kembali padaku, Queen. - batin Ethan.


*****


1 minggu terlewati,


Ethan selalu mengantarkan Reyn ke sekolah bersama dengan Queen. Semua itu karena permintaan Reyn dan Ethan turut senang dengan permintaan keponakannya itu. Ia bisa berduaan di dalam mobil bersama dengan Queen karena Xin dititipkan pada Mom Diva.


"Kita sarapan dulu," ujar Ethan.


"Di rumah saja. Kasihan Aunty harus menjaga Xin," ucap Queen. Sebenarnya perutnya juga sudah berteriak minta diisi, tapi ia juga tak ingin merepotkan Mom Diva karena terlalu lama menemani Xin.


"Mommy menyukai Xin. Tenanglah. Ayo," Ethan membukakan pintu untuk Queen, dan langsung meraih tangan Queen, menggandengnya.


Queen melihat ke arah tangannya. Jantungnya masih terus berdetak cepat setiap kali Ethan menggenggam tangannya. Ia seperti teringat bagaimana dulu sikap Ethan yang seperti ini, bahkan membuatnya jatuh hati dengan cepat.


Queen berusaha menarik tangannya, tapi justru membuat genggaman Ethan semakin erat.


Keduanya duduk berhadapan di cafe tersebut. Sedari tadi Queen merasa sedikit risih karena Ethan terus melihat ke arahnya. Queen bahkan harus memalingkan wajahnya agar tak terus menerus ditatap.


"Queen, apa kamu tak ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya Ethan.


"Tidak," jawab Queen.


"Apa kamu masih membenciku?" tanya Ethan lagi.


"Aku tidak membencimu. Aku tahu apa yang kamu lakukan semua karena rasa sayangmu pada adikmu," jawab Queen.


"Kalau begitu, berikan aku kesempatan kedua," ucap Ethan


Queen menatap Ethan, begitu pula Ethan. Ia tak melepaskan tatapannya pada Queen. Ingin sekali ia melihat Queen menganggukkan kepalanya, tapi ...


Suara ponsel Ethan menghentikan pembicaraan mereka. Ethan dan Queen bisa melihat nama yang tertera pada ponsel, karena Ethan meletakkannya di atas meja.


"Angkatlah, Tuan Kai pasti membutuhkanmu," ucap Queen karena Ethan hanya menatap layar ponsel tersebut tanpa ada niat untuk menjawabnya.


"Tuan," sapa Kai.


"Ada apa?" tanya Ethan.


"Hasilnya sudah keluar."


"Bagaimana?"


"Positif. 99,9%," jawab Kai.


Ethan memejamkan matanya. Kini tak ada lagi keraguan di hatinya, Xin benar benar putrinya. Dan malam itu, ia benar benar menghabiskan malam panjang bersama Queen.


Ia akan tetap menjadi milikku, selamanya milikku. - batin Ethan.