
Keesokan harinya, Adriana sama sekali tak berani untuk keluar dari kamarnya. Dia masih teringat ucapan Deniz semalam.
"Adriana!" teriak Deniz dari luar kamarnya.
Deniz mengetuk pintu Adriana beberapa kali dengan keras.
"Iya! Sebentar, Mas."
Adriana berjalan membuka pintu kamarnya dengan bergetar. Dia masih sangat takut sejak kejadian semalam.
"Cepat buatkan aku sarapan, semua pelayan dan penjaga di sini sudah kupecat!" ucap Deniz sambil membetulkan posisi jam tangannya.
"Loh, kenapa Mas?" tanya Adriana heran.
"Aku mau kamu yang mengurus rumah ini, sendirian! Anggap saja ini salah satu hukumanmu yang ringan," jawab Deniz lalu pergi turun ke meja makan.
Adriana mengikutinya dari belakang, dia langsung menyiapkan bahan untuk dimasaknya.
"Buatkan juga aku segelas teh hangat," ucap Deniz tiba-tiba.
"Iya, Mas."
Adriana sibuk memasak dengan lincah. Tangannya sangat sibuk membuat nasi goreng yang mulai tercium harum.
Saat nasi goreng sudah siap, Adriana membuat teh hangat. Dia membawakan teh itu ke meja makan.
Tapi tiba-tiba teh itu tumpah mengenai kakinya. Adriana terjatuh karena kesakitan, dia mengelus kakinya dan tak ingat akan gelas yang sudah pecah berkeping-keping di lantai.
"Adriana," teriak Deniz lalu berlutut di hadapan Adriana.
Deniz mengecek kaki Adriana yang sudah memerah karena terkena air panas.
"Udah, Mas. Aku ga kenapa-kenapa kok, cuma luka sedikit," ucap Adriana sambil menjauhkan tangan Deniz dari lukanya.
"Ini sangat parah, ayo ke rumah sakit!" Deniz mengangkat tubuh Adriana memasuki mobilnya.
Dia meninggalkan sarapannya begitu saja, Rumah pun tak sempat dikuncinya karena sangat khawatir dengan keadaan Adriana.
Saat sampai di rumah sakit, Deniz berteriak memanggil dokter dan juga suster di sana.
"Mas Deniz, jangan berteriak di rumah sakit. Orang lain menatap kita!" ucap Adriana sambil memukuli bahu Deniz.
"Dokter! Cepat layani istri saya! Atau rumah sakit ini akan saya tutup sekarang juga!" teriak Deniz lagi penuh emosi.
Para dokter terlihat berlarian ke arah mereka berdua. Dokter itu menunduk tak berani menatap wajah Deniz.
"Maaf, tuan Deniz."
"Cepat urusi istri saya sekarang! Jangan sampai dia merasa kesakitan lagi!" ucap Deniz lalu menempatkan tubuh Adriana ke tempat tidur pasien.
Deniz sudah lima belas menit menunggu di koridor rumah sakit. Dia memandang arlojinya sedari tadi.
"Lama sekali Adriana di dalam!" Deniz berdiri lalu mengintip dari cela pintu ruangan Adriana diperiksa.
Tapi kemudian pintu itu terbuka, Deniz cepat-cepat mundur agar tidak mengenai wajahnya.
"Tuan Deniz," ucap dokter itu.
"Ada apa? Mana istri saya?" tanya Deniz.
"Istri anda sedang di dalam, kakinya masih diberi perban oleh perawat. Sebaiknya Nona Adriana harus lebih banyak istirahat ...."
"Tentu saja! Istri saya itu selalu beristirahat di rumah!" ucap Deniz memotong pembicaraan dokter itu.
"Tapi, pikirannya sangat berat. Bahkan dia hampir mengalami penyakit Depresi," sambung dokter itu.
"Ah, anda ini sangat suka bercanda," ucap Deniz dengan gemetar lalu tertawa kecil.
"Ya sudah kalau begitu saya tinggal sebentar," Dokter itu langsung pergi meninggalkan Deniz.
Deniz memikirkan perbuatannya terhadap Adriana, apakah dia terlalu berlebihan? Atau Adriana yang terlalu lemah?
"Mungkin Adriana yang terlalu lebay, padahal hukuman yang kuberikan belum ada apa-apanya dibanding masa yang akan datang," batin Deniz lalu tersenyum jahat.
Dia sudah memikirkan hukuman apa lagi yang akan dilakukannya pada Adriana. Menurutnya dia harus membuat Adriana lebih menderita lagi.