LOVE IN REVENGE

LOVE IN REVENGE
JANGAN TAKUT LAGI



Queen tak dapat menahan air matanya ketika kedua orang tua Renata memeluk Reyn dengan sayang. Mereka seakan tak ingin melepas kepergian Reyn untuk ikut bersama dengan Keluarga Frederick.


"Aku akan sering sering membawa Reyn ke sini atau kalian boleh berkunjung ke rumah kami. Kami akan sangat senang menerima kalian," ucap Dad Alvin saat itu dan diangguki oleh Mom Diva.


Kedua orang tua Renata telah meminta informasi pada Queen, di mana letak makam Renata. Mereka ingin menemui putri mereka meski hanya akan menemui nisan nya saja.


*****


"Mereka adalah keluarga yang baik, hanya saja mereka salah meluapkan amarah. Seharusnya Enzo lah yang menerima semua kemarahan itu," ucap Mom Diva saat mereka berada di dalam mobil.


Sama seperti diriku yang salah membalaskan rasa dendamku pada Queen. Aku tak ingin berakhir dengan penyesalan. - batin Ethan, kemudian menoleh ke samping di mana Queen duduk.


"Bagaimana kalau hari ini kita berjalan jalan dulu ke mall, setelah itu kita makan malam," ucap Dad Alvin.


Ethan merasa itu adalah ide yang bagus. Setidaknya kecanggungan di antara dirinya dengan Queen bisa sedikit tercairkan.


Mereka menyambangi arena permainan yang ada di mall tersebut. Reyn terlihat antusias saat melihat arena permainan yang terlihat luas dan memiliki berbagai macam wahana. Xin yang tadi tertidur, kini sudah terbangun karena mendengar suara tawa anak anak.


Mereka menghabiskan waktu bersama, bahkan Reyn terus menarik tangan Queen untuk menemaninya bermain. Untung saja Xin sangat tenang berada dalam gendongan Ethan. Xin malah kadang bertepuk tangan saat melihat Reyn bermain seluncuran.


Sesekali Queen menoleh ke arah Xin, dan matanya pun bertemu dengan mata Ethan yang sedang memperhatikannya. Dengan segera Queen memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada Reyn. Ia harus kembali menetralkan degup jantungnya yang semakin lama semakin tidak baik baik saja.


Acara hari itu ditutup dengan makan malam bersama. Kali ini, Reyn duduk di antara Dad Alvin dan Mom Diva, sementara Xin duduk di antara Ethan dan Queen. Mom Diva selalu tersenyum saat melihat keduanya, terutama ketika mereka bekerja sama memberi suapan demi suapan pada Xin secara bergantian.


Kalau saja .... - batin Mom Diva.


*****


Sudah 1 bulan terlewati sejak Queen tinggal di Kediaman Keluarga Frederick. Hari ini, ia berencana kembali ke Frankfurt. Tak mungkin ia terus meninggalkan pekerjaannya di cafe, sementara Miles dan Lea tetap memberikan gaji untuknya.


"Aku yang akan mengantarmu," ucap Ethan.


"Tidak perlu, aku bisa naik kereta."


"Ku antar atau aku tidak mengijinkanmu kembali," ancam Ethan. Pria itu masih dalam mode dominannya. Ia tak suka jika Queen tak menurut padanya, apalagi ini demi keamanan dan keselamatan wanita itu.


Queen menghela nafasnya pelan. Ia tahu ia tak memiliki pilihan.


"Baiklah," ucap Queen pada akhirnya. Ia tak ingin berdebat, apalagi jika dilihat oleh Reyn dan Xin.


Mereka kini telah berada di dalam mobil, setelah menyelesaikan drama antara Reyn dengan Queen.


"Datanglah lagi dan menginaplah, Reyn pasti akan sangat bahagia."


Namun, Queen menautkan kedua alisnya ketika Ethan membelokkan mobilnya menuju bandara. Ia mengira mereka akan menggunakan jalur darat.


"Mengapa kita ke sini?" tanya Queen.


"Kita akan ke Frankfurt dengan menggunakan pesawat," jawab Ethan.


"Tapi ..."


"Kalian akan terlalu lelah jika menggunakan jalur darat. Kasihan Xin, ia masih terlalu kecil."


Setelah memarkirkan mobilnya di area parkir bandara, Ethan membantu Queen mengeluarkan barang barang mereka, sementara Queen mengeluarkan Xin.


"Ayo!" Ethan tetap menggandeng sebelah tangannya, meski tangan sebelahnya lagi sibuk membawa barang.


Ethan mengurus semuanya hingga Queen dan Xin hanya perlu duduk dan menunggu. Tak lama, Ethan sudah selesai dan kembali menggandeng tangan Queen. Mereka seperti sebuah keluarga kecil yang akan pergi berlibur.


"Kamu ikut?" tanya Queen.


"Tentu saja! Aku tak akan membiarkanmu pergi sendiri. Aku harus memastikan kamu selamat sampai di tujuan," ucap Ethan sambil mengambil alih Xin dari gendongan Queen.


Sambil menunggu panggilan untuk keberangkatan, Ethan mendudukkan Xin di pangkuannya. Ia bermain main dengan putrinya itu dan sesekali mengecup pucuk kepalanya. Interaksi tersebut tertangkap oleh mata Queen, membuat jantungnya kembali berdetak cepat.


Kedekatan antara Ethan dan Xin membuat dirinya sedikit takut. Tak hanya takut jika Ethan mengetahui semuanya dan mengambil Xin, tapi juga jika Xin lebih memilih Ethan dibanding dirinya.


Ethan melihat kegelisahan di wajah Queen. Ia langsung menggenggam tangan Queen, "Jangan takut lagi padaku, okay? Aku tak akan berbuat seperti dulu. Aku berjanji."


Meskipun Queen bisa melihat kejujuran dan ketulusan di mata Ethan, tapi ia belum sepenuhnya percaya.


"Daddy .... Jalan jalan," ucap Xin yang mengundang senyum terbit di wajah Ethan, sesuatu yang sudah lama tak dilihat oleh Queen.


"Ya, kita akan berjalan jalan. Kamu suka?" tanya Ethan.


"Hmm," Xin mengangguk dan tersenyum, membuat rambut cepol dua nya sedikit bergoyang.


Panggilan untuk memasuki pesawat telah terdengar. Ethan, Queen, dan Xin masuk ke dalam pesawat. Xin duduk di antara mereka berdua, tentu saja dengan tangannya terus berpegangan pada Ethan. Queen menghela nafasnya pelan saat melihat hal itu.


Egois kah aku? - batin Queen.


🧡 🧡 🧡