
Pagi itu, Deniz bangun lebih awal dari Adriana. Dia menatap Adriana yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Dasar gadis malang, anda akan merenungi nasib anda setelah menikahiku!" ucapnya dengan sinis.
Deniz langsung berdiri lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan.
Tak lama itu, Adriana terbangun karena suara air dari kamar mandi yang mengganggu tidurnya. Dia menatap seisi ruangan itu, mencoba mengingat di mana dia berada?
"Ahh, tentu saja. Aku sedang berada di tempat yang hampir mirip dengan penjara!" ucapnya kemudian.
Dia berdiri menatap gaun yang sudah terpajang di situ. Sangat cantik dan mewah, cocok dengan jas yang ada di sebelahnya juga.
"Andai saja jika yang memakai jas itu adalah orang yang kucintai,begitu indah hari ini!" ucapnya lalu mengambil kain handuk dan bersiap-siap mandi.
Deniz keluar dari kamar mandi, dia menatap Adriana yang sibuk mencari sesuatu di dalam kopernya.
"Dasar gadis tidak jelas!" umpatnya lalu berjalan menuju kamar ganti.
Beberapa waktu kemudian ....
Semuanya sudah selesai membersihkan badan, mereka masih menunggu tukang salon yang akan membantu mereka nantinya.
"Lama sekali!" teriak Deniz yang sudah tak sabaran.
"Tunggu saja sebentar lagi, Pak."
Deniz menatap Adriana dengan tajam. Dia paling tidak suka jika dipanggil 'Pak' apalagi oleh calon istrinya sendiri.
Saat semua sudah siap, acara diadakan pada gedung aula di dalam hotel itu. Mereka berdua disambut oleh penjaga Deniz untuk mengantarkan mereka ke tempat acara dimulai.
Begitu memasuki ruangan, lampu penyorot yang berwarna emas menerangi langkah jalan mereka. Lagu romantis yang diputar menambahkan suasana yang begitu hangat saat itu.
Ketika acara inti sudah selesai, Adriana dan Deniz turun ke tempat para tamu untuk menyapa mereka.
"Deniz!" teriak seorang wanita lalu menghampiri Deniz dan Adriana.
Wajah Deniz terlihat marah dan lesu. Dia berhenti berjalan lalu menunggu wanita itu sampai ketempatnya.
"Ada apa?" tanya Deniz dengan malas.
Deniz masih diam. Wajah Adriana berubah menjadi pucat karena takut, dia tidak pernah mengira jika Deniz memiliki seorang mantan kekasih.
"Kamu itu ternyata wanita mur*han ya! Kamu itu tidak jauh beda dengan perusak hubungan orang!" hinanya pada Adriana di depan semua tamu.
Adriana memeluk erat tangan Deniz karena takut. Tapi Deniz melepaskannya dengan paksa, dia pergi entah kemana.
Tak lama kemudian beberapa security datang untuk menenangkan suasana tadi. Wanita tadi dipaksa pergi oleh security, sedangkan Adriana dibawa ke ruang VIP untuk menenangkan diri.
"Kamu kenapa pergi tadi!?" tanya Adriana pada Deniz.
"Terserah saya, itu hak saya dan anda tidak berhak untuk mengaturnya!" jawab Deniz lalu berdiri menghadap ke Adriana.
Adriana membuang muka dan duduk di sofa yang ada di sana. Dia merasa sudah dipermalukan di depan banyak orang terpandang. Dia begitu malu hingga tak tahu bagaimana cara menyikapi masalah itu.
Beberapa jam kemudian ....
Acara telah usai, semua tamu sudah pulang begitu juga Richard dan Tito.
Adriana pergi duluan ke kamar mereka karena dia tidak ingin melihat wajah Deniz saat itu. Dia masih marah dan kecewa dengan Deniz.
"Huh! Dia kira aku ini seorang perebut pacar orang? Perusak hubungan orang? Tentu saja tidak!" teriak Adriana di dalam ruangan yang sunyi itu.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, dia menatap seseorang yang masuk ke dalam sana. Ya! Tentu saja Deniz yang masuk ke sana!
"Siapkan barangmu, satu jam lagi kita berangkat," ucapnya singkat lalu memainkan ponsel di sofa.
"Ke mana?" tanya Adriana tak kalah singkat.
"Rumahku."
Adriana mengeluh lagi, awalnya dia kira mereka akan tinggal di rumah Kak Tito. Tapi kenapa justru tinggal di rumah seorang yang tidak dicintainya?!
"Kenapa tidak pulang ke ...."
"Tidak ada bantahan!" ucap Deniz memotong pembicaraan Adriana.
Adriana mendecakkan lidah karena kesal. Dia membereskan semua barang dengan penuh emosi hingga semua barang tak terkemas dengan rapi.