
"Adriana!" Tito berteriak sambil membuka pintu ruang kantornya.
Dia melihat Adriana yang duduk di sofa dengan muka terlihat merah padam karena emosi.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Tito lalu memeluk Adriana.
"Apa sih, Kak! Jauhin Adriana!" bentak Adriana sambil mendorong Tito hingga tersandar di sofa.
"Kamu kenapa? Kata karyawan Kakak tadi, kamu teriak ketakutan," ucap Tito sambil berusaha menenangkan Adriana.
Adriana berdiri, "Adriana benci sama Kakak! Kakak tuh jahat! Jangan cari Adriana!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Adriana pergi dari sana sambil berlarian. Para karyawan sudah menduga jika mereka sedang mengalami perkelahian besar.
Sedangkan, di kantor Albert Group, Deniz sedang sibuk mengatur susunan acara untuk pernikahannya besok.
"Dave! Kemari!" panggil Deniz pada sekretarisnya.
Dave datang lalu menundukkan badan padanya, "Ada apa, tuan?"
"Cari tahu, sedang apa calon istriku sekarang," perintahnya pada Dave.
Dave mengangguk lalu dia mengambil ponselnya untuk mengerahkan para penjaga untuk mencari keberadaan Adriana.
"Jika Daniel kemari, suruh dia langsung datang ke ruangan ini," ucapnya lagi lalu menatap laptopnya lagi.
"Baik, Tuan."
Dave kembali ke meja kerjanya. Dia sibuk mengurus penataan acara pernikahan Deniz dengan Adriana besok.
"Halo, bro!" sapa Daniel yang datang ke kantor Deniz.
Deniz tersenyum lalu dia mempersilakan Daniel duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
"Lo yakin mau nikah secepat ini? Wah, padahal gue kira lo cinta banget sama Rosie!" ucap Daniel tak menduga hal itu.
"Lo mau tau? Alasan gue nikah sama cewe ini?" ucap Deniz yang membuat Daniel penasaran.
Daniel mengangguk sambil mendekatkan telinganya ke muka Deniz. Mereka membicarakan itu tanpa didengar oleh orang lain. Mereka berbisikan layaknya anak kecil yang merahasiakan sesuatu.
Daniel tertawa dengan puas setelah mendengar jawaban dari Deniz. Dia menggelengkan kepalanya karena tak menyangka Deniz akan melakukan hal itu.
"Tapi jangan gini lah, bro. Lo ga kasian sama tuh cewe?" tanya Daniel lagi.
"Ga bakal!"
Deniz kembali fokus dengan kerjanya sedangkan Daniel sibuk dengan ponselnya sambil tersenyum memandang layar ponsel.
Saat itu juga, Adriana sedang berjalan kaki menuju ke rumah Richard. Dia tidak mau pulang ke rumah Kakaknya, karena masih tidak ingin menatap muka Tito.
Tanpa dia sadari, anak buah yang dikerahkan oleh Dave saat itu sedang mengawasinya dari belakangnya.
Saat sampai di rumah Richard, Adriana menangis tak henti-hentinya. Dia menceritakan semua yang terjadi tadi sore di kantor Kakaknya.
"Kenapa Deniz terlalu memaksakanmu?" tanya Richard heran.
"Aku ga tau, aku juga bingung," jawab Adriana sambil sesegukan karena menangis.
Richard sangat marah, dia mengambil jaketnya dan kunci mobil lalu berjalan menuju ke depan pintu.
Tapi detik itu juga, seseorang mengetuk pintu rumahnya dengan kasar hingga membuat Adriana ketakutan.
"Adriana! Saya tahu anda berada di dalam! Cepatlah keluar atau rumah ini akan saya hancurkan!" teriak orang itu.
Adriana mengenali suara itu, tapi tidak dengan Richard. Adriana menghampiri Richard dan memeluk tangannya dengan erat.
"Itu Deniz. Jangan dibuka!" ucap Adriana melarang Richard.
Richard emosi dan dia mengabaikan larangan Adriana. Dia segera membuka pintunya dan muncullah wajah Deniz dengan beberapa anak buahnya di sana.
Deniz mencengkram leher Richard lalu menariknya keluar. Adriana sangat ketakutan lalu dia memberanikan diri menghampiri Richard di luar.
"Jangan lukai Richard! Dia ga salah apa-apa!" teriak Adriana di tengah pertengkaran itu.
"Anda itu calon istri saya! Bukan dia! Tidak baik bagi anda untuk masuk kerumahnya hanya berdua saja!" teriak Deniz di depan muka Adriana.
"Itu hak saya! Dia ini sahabat saya! Dia orang yang baik dan tidak baj*ngan seperti anda!" balas Adriana tak kalah kencang.
Tapi tiba-tiba Richard memukul Deniz dengan keras. Hal itu membuat Deniz berpaling lalu hendak membalas pukulan itu ke wajah Richard.
Tapi Adriana menghalanginya, dia berdiri di tengah-tengah dua orang pria yang sedang berkelahi itu. Hingga tak sengaja pukulan yang harusnya mendarat di muka Richard, justru mendarat di muka Adriana.
"Akh …" teriak Adriana sambil memegangi wajahnya yang sangat kesakitan.
"Adriana!" teriak Richard dan Deniz bersamaan.
Richard hendak menghampirinya tapi dia ditahan oleh anak buah Deniz.
Deniz mengangkat tubuh Adriana dan masuk ke dalam mobil untuk membawa Adriana ke rumah sakit terdekat.
"Jangan sampai anda melukainya untuk kedua kalinya! Maka hidup anda tidak akan selamat!" teriak Richard pada Deniz.
Dia menatap dua anak buah Deniz yang masih menahannya.
"Bisa lepaskan saya? Bilang pada bos kalian, dia itu hanya pria baj*ngan yang tidak tahu etika!" ucap Richard penuh kekesalan.
Kedua anak buah tadi melepaskan tangan Richard lalu mereka masuk ke dalam mobil dan menyusul mobil Deniz tadi.