
Semalaman Ethan tak bisa memejamkan matanya. Ntah mengapa ia merasa gelisah. Ia sudah memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri.Bahkan ia sudah menelungkupkan tubuhnya, tapi tetap tak bisa tidur.
Ia memeluk bantal kecil milik Xin dan kembali menghirup harum putrinya yang masih tersisa di bantal.
Aku merindukan kalian. - batin Ethan.
Ia sangat tersiksa karena tak bisa melihat Queen dan putrinya.
"Argghhh!!!" teriak Ethan di dalam kamar tidurnya. Untung saja kamar tidurnya kedap suara, hingga suaranya tak akan mengganggu penghuni lain.
Hingga akhirnya sampai pagi Ethan tak bisa memejamkan matanya. Baru sehari tak bertemu dengan keduanya, membuat hatinya resah. Hal ini semua karena ia merasa bertanggung jawab pada Queen dan juga Xin. Selain itu, ia juga merasa sangat bersalah pada Queen atas apa yang telah ia lakukan dulu.
Ethan membersihkan diri, kemudian turun menuju ke meja makan. Ia melihat Dad Alvin, Mom Diva, dan Reyn sudah berada di sana. Mom Diva menautkan kedua alisnya saat melihat putranya yang berwajah sendu.
"Ada apa denganmu, Ethan?" tanya Mom Diva.
"Aku tidak apa-apa, Mom."
"Tapi Dad melihat bahwa kamu tidak baik baik saja," ujar Dad Alvin.
"Aku hanya kurang tidur saja," ucap Ethan akhirnya.
Dia pasti tak bisa tidur karena memikirkan Queen dan Xin. - batin Mom Diva.
"Kalau begitu hari ini kamu tidak perlu ke perusahaan. Biar Dad yang akan mengurus semuanya dan Dad juga yang akan mengantar Reyn," ucap Dad Alvin.
"Dan Mommy akan menemani Dad ke perusahaan kemudian Mommy juga yang akan menjemput Reyn. Kamu istirahat saja, okay," ucap Mom Diva melanjutkan.
"Thank you, Dad, Mom," ucap Ethan.
Sebenarnya ia ingin pergi ke perusahaan, setidaknya ia bisa melarutkan diri ke dalam pekerjaan, sehingga bisa sedikit melupakan rasa rindunya pada Queen dan Xin. Namun, rencananya gagal karena kedua orang tua nya memintanya untuk beristirahat.
*****
Setelah kedua orang tua nya pergi, Ethan bukan beristirahat. Ia malah mengambil koper kecil dan memasukkan beberapa pakaian ke dalamnya. Setelahnya, ia memesan taksi online untuk membawanya pergi.
Bandara,
Itu lah tempat yang dituju oleh Ethan. Ia tak bisa menunggu hingga Queen membuka hatinya. Ia akan memaksa wanita itu untuk menikah dengannya. Biar lah ia menggunakan Xin untuk membantunya.
Ethan langsung menuju ke area keberangkatan. Ia sudah memesan tiket saat berada di dalam taksi online tadi. Ia bahkan memesan tiket dengan waktu keberangkatan yang tercepat, hingga memaksa supir taksi tersebut untuk ngebut.
"Hahhh ...," Ethan menghela nafasnya pelan. Ia sudah melakukan keputusan yang tepat. Ia tak ingin mundur, apapun alasannya. Kali ini, ia harus membawa Queen dan Xin pulang, serta menikahinya.
Perjalanan ke Kota Frankfurt hanya memerlukan waktu satu jam lebih sedikit. Ia sangat senang saat menginjakkan kakinya di kota tersebut. Ia tersenyum dan menghirup udara di sana banyak banyak. Ia segera memanggil taksi untuk mengantarnya langsung ke cafe milik Miles dan Lea.
*****
Huaaa ... Huaaa ...
Ethan mendengar suara tangisan dari area belakang cafe. Ia sangat mengenal suara itu.
"Xin ...," gumam Ethan yang langsung meletakkan kopernya sembarangan dan berjalan ke area belakang.
"Daddy!" teriak Xin sambil menangis.
Ethan yang melihat hal itu langsung berjalan mendekat. Betapa ia merindukan putri kecilnya.
"Daddy di sini, Xin," Ethan setengah berlutut kemudian merentangkan kedua tangannya.
Xin yang mendengar suara itu langsung menoleh dan tersenyum. Ia melepaskan diri dari Queen dan berjalan ke arah Ethan. Sementara itu Queen dan Lea merasa aneh melihat Ethan yang tiba tiba ada di sana.
Plukkk ...
Xin memeluk Ethan dan Ethan langsung mengangkat putri kecilnya itu, "Kamu merindukan Daddy?"
Xin tak menjawab, tapi hanya mengeratkan pelukannya. Ethan kemudian melihat anak laki laki yang tadi berada di dekat Xin.
"Aiden, kamu di sini?" tanya Ethan saat menyadari bahwa anak laki laki yang berada di sana adalah Aiden, putra Anthony dan Kimberly. (bisa dibaca di novel "Separuh Jiwaku"
"Uncle!" Aiden melangkah mendekati Ethan.
"Dengan siapa kamu di sini?"
"Dad dan Mom ada di sini, di depan," jawab Aiden.
Saking terburu buru nya tadi, Ethan bahkan tak melihat siapa saja yang ada di sana. Keluarga Anthony adalah keluarga yang menampung Ethan saat ia melakukan 'homestay' selama pertukaran mahasiswa.
Aiden pun berjalan ke depan. Sebelum Ethan masuk kembali ke dalam cafe sambil menggendong Xin, ia menghampiri Queen kemudian kembali menggandeng tangan wanita yang sudah mengisi hatinya itu.
"Kita ke depan. Aku akan mengenalkanmu pada sahabatku," ucap Ethan.
Jantung Queen kembali berdetak cepat. Ia memang selalu seperti itu saat Ethan menggandeng tangannya. Hangat yang disalurkan oleh Ethan seakan menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat dirinya tak fokus.
Sementara itu Lea hanya bisa melihat saja kepergian mereka. Bahkan ia dari tadi belum berbicara apapun.
Mengapa mereka meninggalkanku sendiri di sini? Apa aku tidak terlihat? Sepertinya aku harus meminta Miles segera ke sini, aku memerlukannya untuk memastikan bahwa aku benar benar terlihat. - batin Lea.
🧡 🧡 🧡