
"Kita harus segera pergi, Queen," ucap Lea.
"Pergi? Pergi ke mana?" tanya Queen yang saat ini tengah menemani Xin tidur.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan Xin sejak tadi sangat rewel karena ketidak hadiran Ethan di sampingnya. Bahkan putrinya itu terus memanggil Ethan berulang kali, sampai akhirnya ia lelah dan mulai tertidur.
"Kita harus membantu mereka, Queen. Aku tidak mau jika sampai wanita ular itu berhasil dengan rencananya."
"Apa kedatangan kita tidak akan menghancurkan rencananya?" tanya Queen.
"Kurasa tidak, buktinya Tuan Kai memintaku mengajakmu datang ke sini," Lea memperlihatkan sebuah pesan yang dikirimkan oleh Kai.
"Ntah lah, Le. Aku tidak terlalu percaya dengan ucapan asisten pribadi Ethan itu," ucap Queen.
"Percaya atau tidak, kita tetap harus membantu mereka, Queen."
"Kamu sudah berbaikan dengan Miles?" tanya Queen dan Lea menjawabnya dengan senyuman.
*****
Akhirnya Queen ikut pergi bersama dengan Lea. Dengan menggunakan jasa taksi online, mereja tiba di sebuah hotel yang terbilang mewah, terutama bagi Queen dan Lea.
"Duduklah dulu di sini," pinta Lea, "Aku akan menghubungi Tuan Kain terlebih dahulu."
Saat Lea tengah menghubungi Kai, Queen memindai pandangan ke sekeliling. Ia bisa melihat bagaimana penampilan orang orang atau para tamu hotel tersebut, sungguh sangat berkelas. Lalu Queen melihat ke arah dirinya sendiri yang hanya menggunakan sebuah T-shirt dan celana panjang, serta sebuah sling bag.
"Bagaimana?" tanya Queen.
"Kita harus menunggu dulu. Mereka sedang menjalankan rencana saat ini. Setelah itu, Tuan Kai akan membawa Ethan dan Miles ke sini, sekaligus wanita ular itu," ucap Lea dengan kesal.
Mereka berdua pun duduk di salah satu sofa lobby. Queen terlihat sedikit gugup sementara Lea biasa saja. Kemarin itu memang Queen meminta Lea untuk berani, tapi kini saat menghadapi situasi malah ia yang mulai takut.
Sementara itu di klub malam,
"Ethan!" sapa Barbara dengan penampilan yang sangat amat seksi. Bahkan sejak ia memasuki klub, suara para pria yang menggodanya sudah terdengar.
"Kita pulang!" ujar Ethan mengajak Miles, yang mulai memainkan perannya.
Ethan menghela nafasnya kemudian tetap duduk di sana sambil melipat kedua tangan di dadda. Barbara mengangkat tangannya untuk memanggil seorang pelayan. Dengan sebuah senyuman dan kerlingan mata sebagai kode, pelayan itu sudah tahu apa yang harus ia kerjakan.
Sementara Barbara memberi kode pada pelayan, Miles memberi kode pada Ethan untuk tetap pada rencana. Miles tahu Ethan sudah merasa tidak nyaman berada di tempat itu dengan Barbara di dekatnya.
Pelayan itu kembali datang dan membawakan botol berisi alkohol dan 3 buah gelas yang berisikan es batu. Setelah meletakkannya di atas meja, pelayan itu pun pergi.
"Ayo diminum, biar aku yang mentraktir kalian," ucap Barbara.
"Tidak enak bila kamu yang mentraktir kami biar aku saja," ucap Miles.
"Aku saja!" ucap Ethan pada akhirnya, "sekarang katakan apa yang ingin kamu bicarakan. Aku tak punya banyak waktu."
Sambil menuang alkohol ke dalam gelas, Miles juga melihat ke arah Barbara yang mengerlingkan sebelah matanya pada Miles.
"Aku ingin minta maaf atas semuanya. Aku tahu aku salah karena telah mengkhianatimu, tapi apa aku tidak bisa memiliki kesempatan kedua?" tanya Barbara.
"Tidak!" jawab Ethan dengan tegas.
"Atau setidaknya izinkan aku menjadi temanmu. Ya, seperti Miles," pinta Barbara lagi.
Ethan melihat ke arah Barbara dan berdecak kesal, "tak akan pernah ada pertemanan di antara kita. Hubungan kita sudah selesai bertahun tahun yang lalu."
"Minumlah dulu, mungkin kepala dingin bisa membantumu untuk berpikir lagi. Aku hanya menginginkan pertemanan," ucap Barbara.
Ethan sudah tahu apa yang ada di dalam gelas miliknya. Sebenarnya ia ragu untuk melakukannya karena ia takut hal yang terjadi selanjutnya jika rencana mereka gagal dan rencana Barbara yang berhasil.
Tenang saja, Tuan. Aku pastikan rencana ini akan berhasil. Bahkan Tuan pasti akan sangat berterima kasih padaku. - Ethan mengingat perkataan Kai yang yakin bahwa rencananya akan berhasil.
Barbara meneguk alkohol di dalam gelasnya dan Ethan pun ikut menegaknya setelah melihat Barbara menghabiskan miliknya. Sementara itu, Ethan sama sekali tak menyentuh gelasnya karena ia harus dalam keadaan sadar agar tak larut dalam rencana Barbara.
Saat melihat Ethan menegak habis alkohol di dalam gelas, Barbara tersenyum.
🧡 🧡 🧡