LOVE IN REVENGE

LOVE IN REVENGE
ANCAMAN



"Sudah kukatakan aku tidak akan melakukannya, Ra!" teriak Miles yang semakin hari semakin kesal dengan sikap Barbara.


"Aku tidak peduli kamu mau atau tidak melakukannya, aku akan terus memaksamu atau ... Kamu mau aku mengirimkan foto foto kita pada istrimu itu? Aku ingin melihat bagaimana wajah istrimu saat melihat foto foto bahwa suaminya telah tidur dengan wanita lain," ancam Barbara.


"Sialannn kamu, ra! Jangan mengganggu istriku! Sekali saja kamu menyentuh atau mengganggunya, aku sendiri yang akan menghancurkanmu."


"Kamu akan menghancurkanku? Lalu bagaimana jika aku hamil anakmu? Apa kamu akan membunuh anakmu sendiri?" ucap Barbara.


"Jangan mengancamku, ra! Aku tak pernah tidur denganmu, bahkan aku tak merasakan apa apa. Itu semua pasti hanya akal akalanmu saja."


"Mau itu akal akalanku, yang pasti kita sudah berada di atas tempat tidur berdua dengan tubuh polos. Bukankah begitu, Miles?"


"Sialannn kamu, ra!" umpat Miles sekali lagi.


"Kalau begitu turuti semua permintaanku. Bukankah tidak sulit apa yang kuminta, kamu hanya perlu membawa Ethan padaku, sebelumnya berikan obat itu padanya."


"Aku tidak mau! Aku tidak akan menyakiti sahabatku sendiri," ucap Miles.


"Kamu tak ingin menyakiti sahabatmu, tapi kamu akan menyakiti istrimu!"


"Aku tidak takut dengan semua ancamanmu, ra!"


"Tidak takut?" Barbara tertawa dengan kencang, seakan menganggap bahwa perkataan yang keluar dari mulut Miles hanyalah bualan.


"Kamu tidak takut, tapi kamu selalu datang ke sini menemuiku. Bukankah itu berarti kamu takut?" Barbara kembali berdiri di belakang Miles. Seperti biasa ia akan meninggalkan tanda lipstik di kemeja Miles tanpa diketahui oleh pria itu.


"Aku tidak takut, ra. Aku ke sini untuk mengatakan padamu sekali lagi bahwa aku tak akan membantumu sama sekali."


"Kalau begitu bersiaplah, bukan hanya Ethan yang akan menerima hal buruk, tapi kamu juga. Sana pergi, aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Sampaikan salamku pada Uncle dan Aunty. Aku berharap mereka masih bisa hidup setelah mendengar bahwa kehancuran akan mendatangi mereka!" Barbara kembali tertawa dengan kencang, sementara Miles mengepalkan kedua tangannya.


Tanpa berbasa basi lagi, Miles segera meninggalkan hotel di mana Barbara menginap. Hotel itu juga adalah tenpat di mana ia bertemu dengan Ethan dan Queen.


Kedua orang tua Miles bukanlah keluarga kaya raya. Mereka hidup dari hasil kerja mereka selama ini. Miles bisa membuka cafe juga karena hasil kerjanya selama bekerja di cafe milik Ethan. Ethan memberikan ia gaji yang besar, Miles juga mendapatkan komisi setiap bulan, bahkan bonus akhir tahun.


Namun kini Barbara mengancam hidupnya, tepatnya mengancam akan mengusik kehidupan kedua orang tuanya, hanya agar Miles membantunya untuk kembali mendapatkan Ethan.


Miles bahkan belakangan menjadi acuh pada Lea karena ia lelah sekali. Ia terus memikirkan bagaimana cara untuk menghentikan Barbara, menjaga keluarganya, dan menyelamatkan Ethan.


Dengan langkah lebar, Miles keluar dari hotel. Rambutnya sudah berantakan karena ia terus menjambaknya karena kesal dengan ancaman Barbara.


Dari kejauhan, sepasang mata melihat Miles. Tanpa terasa bulir air mata keluar dan membasahi pipinya. Ia melihat ke arah ponsel di mana ia kembali mendapatkan sebuah foto Miles dengan wanita yang sama. Namun kali ini dengan alamat di mana ia bisa menemukan Miles.


Lea terduduk di kursi taman, ia memegang ponselnya, berharap Miles menghubunginya. Namun tak ada, justru kembali sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dan memperlihatkan sebuah testpack dengan dua garis.


Air mata tak dapat terbendung lagi, hati Lea sangat sakit melihatnya. Ia menghapus air matanya dan menyimpan ponselnya di dalam saku. Ia pun naik sepeda motor miliknya dan kembali ke cafe.


"Xin adalah putriku, putri kandungku," ucap Ethan sekali lagi.


"Apa yang kamu katakan, Ethan?" tiba tiba saja Dad Alvin muncul di pintu masuk. Ia rencananya hanya ingin mengambil beberapa surat yang tertinggal karena akan digunakan untuk meeting, akan tetapi ia malah mendengar sebuah kebenaran.


Kedua orang tuanya diam menatap ke arahnya. Mom Diva memang merasa curiga karena semakin lama wajah Xin semakin mirip dengan Ethan, hanya matanya saha yang mengikuti warna mata Queen. Namun, ketika mendengar kebenaran langsung dari mulut Ethan, membuat Mom Diva tak bisa berkata kata.


"Apa kamu tidak menceritakan semua kebenaran pada Mommy sebelumnya, Ethan?" tanya Mom Diva.


"Maaf, Mom. Aku ..."


Mom Diva bangkit dari duduknya dan berlalu dari sana. Meskipun ia menginginkan Queen menjadi menantunya dan sangat berharap bahwa Xin adalah cucunya, tapi ia tak pernah menyangka bahwa kedua putranya bisa melakukan hal yang menyakiti hatinya.


Sebuah tangan melingkar di pinggang Mom Diva, "Maafkan aku, sayang. Mungkin ini semua adalah kesalahanku. Aku bukanlah pribadi yang baik," bisik Dad Alvin.


Mom Diva memutar tubuhnya dan menangkup pipi Dad Alvin dengan kedua tangannya, "Ini bukan salahmu. Aku memang terlalu memanjakan Enzo dan aku juga lalai menjaga Ethan."


"Tidak, sayang. Kamu adalah Mommy terbaik. Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu dan mencintaimu."


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Mom Diva.


"Tentu saja kita harus menikahkan mereka berdua, segera! Setelah itu, kita harus pastikan mereka tinggal di sini. Rumah ini akan kembali ramai dengan anak anak dan kita bisa memberikan cinta yang terbaik untuk mereka semua."


"Apa mereka mau tinggal di sini?"


"Aku tidak tahu, tapi kita bisa memaksa mereka. Bilang saja itu salah satu syarat yang harus mereka penuhi," jawab Dad Alvin.


Mom Diva akhirnya kembali me ruang tamu bersama Dad Alvin. Di sana terlihat bagaimana interaksi ketiganya, membuat hati Mom Diva menghangat.


"Kalau saja Reyn ada di sini."


Dad Alvin melihat ke arah jam di pergelangan tangannya, "Aku pergi dulu. Aku harus menjemput Reyn."


"ya ampun, aku juga lupa," Mom Diva menepuk dahinya.


Namun saat mereka berjalan keluar, terlihat hanya tinggal Queen dan Xin saja di ruang tamu.


"Di mana Ethan?" tanya Mom Diva.


"Ia pergi untuk menjemput Reyn."


🧡 🧡 🧡