LOVE IN REVENGE

LOVE IN REVENGE
MEMBAHAGIAKANMU



"Akhirnya dia datang," ucap Anthony pada Kimberly saat melihat Ethan menghampiri mereka bersama seorang wanita, seorang anak perempuan, dan juga Aiden.


"Halo, Kak," sapa Ethan pada Anthony.


"Aku kira kamu sudah tak mengenaliku lagi dan melewatiku begitu saja," ucap Anthony.


"Aku tak akan mungkin melupakanmu, Kak. Bahkan aku masih ingat pada Uncle dan Aunty. Aku merindukan mereka."


"Datanglah ke New York, Dad dan Mom pasti akan senang bertemu denganmu," ucap Anthony.


"Duduklah dulu," ucap Kimberly yang tengah menggendong putri kecilnya. Setelah melahirkan Aiden, Kimberly fokus merawat buah hatinya itu, hingga Aiden berusia 4 tahun, ia kembali hamil. Saat ini putrinya, Adeline, sudah berusia 2 tahun dan Aiden 7 tahun.


Queen ingin pergi dari sana karena ia tak mengenal Anthony ataupun Kimberly. Selain itu ia merasa tak memiliki hubungan dengan Ethan, statusnya saat ini hanya lah ibu dari putri Ethan, bahkan Ethan belum mengetahui bahwa Xin adalah putrinya. Demikian lah pikir Queen.


Namun, Ethan menahan Queen dengan tetap menggenggam tangan wanita itu. Ia pun meminta Queen untuk duduk di sebelahnya, berhadapan dengan Anthony dan Kimberly.


"Istrimu?" tanya Anthony. Pasalnya mereka belum pernah mendapat undangan pernikahan dari Ethan, tapi saat ini ia sudah melihat Ethan bersama seorang wanita dan juga seorang anak perempuan.


"Hmm ... Istri dan putriku," jawab Ethan. Ethan tak ingin orang lain menilai Queen buruk, karena itu lah ia mengakui Queen di hadapan Anthony dan Kimberly.


Anthony menautkan kedua alisnya, "Menyebalkan sekali, kamu tak mengundangku."


"Sayang ...," Kimberly menyentuh lengan Anthony agar suaminya itu tak menggoda Ethan.


"Aku kesal, sayang. Masa dia tak mengundang kakaknya sendiri," Anthony berdecak kesal.


"Maaf. Aku terburu buru menikahinya karena terlalu mencintainya," ujar Ethan.


"Daddy, I love you," ucap Xin tiba tiba sesaat setelah Ethan mengatakan cinta.


"I love you too, sweetheart," ucap Ethan kemudian mencium pipi Xin.


Sedari tadi, Queen melihat interaksi antara Xin dengan Ethan. Ia bahkan tak fokus pada Anthony ataupun Kimberly. Ia merasa Ethan sangat amat menyayangi Xin, bahkan pria itu kembali datang ke sini.


"Datanglah ke mansionku, aku ingin membicarakan bisnis denganmu," ucap Anthony sambil menyerahkan selembar kartu nama.


"Siap laksanakan! Sampai kapan kakak akan berada di sini?" tanya Ethan.


"Selama liburan sekolah Aiden."


"Baiklah, nanti aku akan datang," ini akan menjadi salah satu alasan bagi Ethan untuk tetap berada di Kota Frankfurt, benar benar suatu kebetulan yang menyenangkan.


Setelah itu, mereja berbincang hangat. Namun Queen meminta izin untuk kembali bekerja karena pengunjung yang datang sudah mulai banyak. Anthony, Kimberly, dan kedua buah hati mereka pun pergi dari cafe tersebut, tapi tidak dengan Ethan. Ia masih setia berada di sana dan menemani Xin yang tak ingin lepas darinya.


"Daddy jangan pergi," pinta Xin.


"Daddy tidak akan pergi. Kalau pun daddy pergi, maka Daddy akan mengajak Xin dan Mommy, okay?"


"Okay!" jawab Xin tersenyum.


Sementara itu di dekat meja kasir,


"Queen, pulanglah," ucap Lea.


"Aku memberimu izin. Sebaiknya kamu segera menyelesaikan masalahmu dengan Ethan. Pikirkanlah kesehatan jiwa Xin," ucap Lea pada akhirnya. Kalau harus menunggu hati Queen kembali terbuka untum Ethan, Lea takut itu justru akan menyakiti Xin. Bagaimana pun, hati seorang anak sangat lah rapuh.


Queen menghela nafas pelan, "Baiklah, Le. Aku pasti akan memikirkan yang terbaik. Terima kasih. Maaf aku jadi makan gaji buta saja jadinya."


"Tidak apa, Miles ini yang menggajimu," ujar Lea.


"Miles itu kan suamimu, berarti itu uangmu juga, Le."


"Benar juga. Tapi aku sedang kesal dengannya. Sudah sejak tadi aku mengirim pesan padany, tapi ia belum muncul juga di sini. Ke mana kira kira dia?" tanya Lea sedikit kuatir.


"Kemarin ia sempat bilang ingin membeli beberapa bahan yang kurang," jawab Queen.


"Ahhh itu lebih mengesalkan! Biasa dia mengajakku, kenapa kali ini tidak? Apa dia memiliki wanita lain?" ungkap Lea kesal.


"Hei, jangan berbicara seperti itu. Aku tahu Miles adalah pribadi yang baik dan bertanggung jawab. Ia sangat mencintai dan menyayangimu," ucap Queen.


"Aku selalu berharap begitu," ucap Lea sambil menatap pintu masuk cafe itu.


*****


Ethan mengajak Queen ke sebuah hotel. Xin sudah merengek tak ingin jauh dari Ethan. Oleh karena itu juga Queen mengikuti ke mana Ethan pergi.


Kamar yang dipesan oleh Ethan memiliki dua kamar di dalamnya. Ia tak ingin membuat Queen tak nyaman jika hanya ada satu kamar dengan satu tempat tidur.


"Beristirahatlah, aku yang akan menemani Xin," ucap Ethan.


Ethan bisa melihat raut lelah di wajah Queen. Tadi Lea juga mengatakan padanya bahwa semalaman Queen menjaga Xin yang demam.


"Tapi ..."


"Tidak apa, biar aku yang akan menjaganya. Sebaiknya kamu beristirahat," ucap Ethan sekali lagi.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih," Queen masuk ke dalam salah satu kamar. Ia membersihkan diri kemudian berbaring di tempat tidur. Melihat bahwa Xin begiti nyaman berada di dekat Ethan, membuat Queen lega dan akhirnya perlahan ia memejamkan matanya dan terlelap.


Sementara itu di kamar yang lain, Ethan memandikan Xin, dan memakaikan pakaian tidur lucu untuk putrinya itu.


"Daddy buatkan susu dulu, okay," ucap Ethan.


"Okay, daddy," jawab Xin dengan nada yang lucu dan wajah yang menggemaskan.


Setelah habis menegak susunya, Xin pun tertidur dalam pelukan Ethan. Ethan tersenyum melihat wajah Xin yang semakin lama semakin mirip dengan dirinya dan Queen.


"Maukah kamu membantu daddy, sayang. Bujuklah Mommymu agar menerima daddy kembali. Daddy berjanji akan mencintainya dan menyayanginya. Daddy sungguh menyesal dengan perlakuan daddy pada Mommy dulu, tapi Daddy tak menyesal dengan adanya dirimu. Daddy menyayangimu, Felice Xinly Frederick," ucap Ethan kemudian melabuhkan ciumannya di kening putrinya.


Setelah putrinya terlelap, Ethan melangkah ke kamar sebelah. Ia membuka pintu dan tersenyum saat melihat Queen sudah terlelap dan sepertinya telah mengarungi alam mimpi.


"Maafkan aku, Queen. Untuk segalanya. Aku berjanji aku akan membahagiakanmu, sekarang dan selamanya."


🧡 🧡 🧡