LOVE IN REVENGE

LOVE IN REVENGE
DADDY DI SINI



Queen terus memeluk Xin. Gadis kecilnya sedari tadi tak berhenti menangis, bahkan saat ini masih sesengukan dan isakan masih terdengar.


"Daddy ...," ucap Xin lirih.


"Daddy di sini, sayang," Miles merentangkan kedua tangannya sekali lagi. Ia sudah mencoba menenangkan gadis kecil itu, namun selalu gagal.


"No ... No ... Xin mau Daddy," ucap Xin dengan terisak. Ia memeluk boneka kecilnya dan merebahkan tubuhnya sendiri di sofa.


"Apa kita harus menghubungi Ethan?" tanya Miles.


"Aku sudah mencoba menghubunginya, tapi ponselnya selalu di luar jangkauan," jawab Lea.


"Tidak usah. Aku tidak ingin Xin terlalu bergantung pada Ethan."


"Tapi Xin belum berhenti menangis, Queen," ucap Lea lagi.


"Nanti juga akan berhenti kalau ia sudah lelah. Xin masih kecil dan ia akan cepat lupa."


Lea menghela nafasnya pelan. Meski ia ingin sekali menarik Ethan kembali, tapi ia juga tak ingin Queen merasa tak enak hati dengan Ethan. Saat ini Queen sedang menata hatinya. Mungkin kalau ia sudah bisa menerima Ethan sepenuhnya, Queen sendiri yang akan menghubungi Ethan.


Sementara itu di bandara, perasaan Ethan sedari tadi tidak enak. Ntah mengapa kakinya merasa sulit melangkah menuju pesawat, padahal sudah dua kali panggilan ia dengar untuk masuk ke dalam pesawat.


Ethan meraih ponsel yang ada di dalam sakunya. Ia mencoba menyentuh layar, serta tombol power, tapi ternyata ponselnya mati total. Ia bahkan tak membawa pengisi daya, karena yang ia pikirkan hanya kebutuhan Queen dan Xin saja.


Panggilan terakhir pun terdengar. Meskipun ia ingin tetap berada di Kota Frankfurt, tapi ia tak ingin Queen merasa tertekan dengan kehadirannya. Hanya saja Ethan merasa ingin selalu berada di dekat Queen dan Xin.


Akhirnya, meski langkahnya terasa berat, Ethan masuk ke dalam pesawat. Ia duduk sambil menatap jendela pesawat yang menampakkan Kota Frankfurt.


Aku pasti akan segera kembali dan menjemput kalian. Aku tak akan membiarkan situasi seperti ini terlalu lama. - batin Ethan.


*****


Sesampainya di Kediaman Keluarga Frederick, Ethan langsung masuk ke dalam kamar tidurnya. Ia membersihkan diri, kemudian berbaring di atas tenpat tidurnya. Ia menyesap wangi sprei yang biasa ditiduri oleh Xin. Wangi bedak bayi dan Ethan sangat menyukainya.


Ia mengambil bantal kecil yang biasa digunakan oleh Xin, lalu memeluknya. Ethan memejamkan matanya dan membayangkan bahwa saat ini ia sedang memeluk putrinya.


Sementara itu di Kota Frankfurt, Queen mulai sedikit panik karena tubuh Xin yang tiba tiba menghangat. Ia langsung mengambil baskom kecil dan mengisinya dengan air. Ia mengambil handuk dan mulai mengompres dahi Xin.


"Apa kami sangat merindukan Daddy, hmm?" gumam Queen.


"Apa Mommy saja sudah tak cukup untukmu?"


Queen mengangkat handuk kecil yang terasa hangat itu dan mulai merendam dan memerasnya kembali, kemudian meletakkannya lagi ke dahi Xin.


Apa kali ini aku harus mengalah? - batin Queen.


Semalaman Queen tidak bisa tidur dengan nyenyak karena ia harus terbangun untuk memeriksa keadaan Xin. Hingga pagi ini, Queen merasa sangat mengantuk. Namun ia lega karena Xin sudah tidak demam lagi, hanya saja gadis kecilnya itu masih sering berteriak dan menangis mencari Ethan.


Seperti biasanya, Queen akan membawa Xin ke cafe. Sementara ia bekerja, Xin biasa akan bermain bersana Miles ataupun di tempat bermain anak di belakang cafe.


"Kamu terlihat pucat, Queen," ucap Lea.


"Hmm ... Semalaman aku tidak bisa tidur."


"Mengapa? Apa kamu memikirkan Ethan?" goda Lea.


"Bukan aku yang memikirkan Ethan, tapi putriku yang selalu memikirkannya, hingga ia demam."


Lea mengusap punggung Queen, "Xin adalah putrimu dan Ethan. Sudah pasti ia juga memiliki keterikatan dengan Ethan. Aku juga bisa melihat bagaimana Ethan menyayangi Xin."


"Oleh karena itu lah semalaman aku jadi banyak berpikir. Apa aku harus mengalah dan menerima Ethan kembali?"


"Aku tahu hatimu belum yakin. Biarlah untuk saat ini kamu egois. Kamu harus melihat keseriusan Ethan lebih dulu agar hatimu lebih yakin," ucap Lea.


"Hmm ..."


Huaaaa ... Huaaaa .....


Dari area bermain di belakang cafe, terdengar suara tangisan Xin. Seorang anak laki laki tengah berdiri di depan Xin dan membantu gadis kecil itu berdiri.


"Ada apa, Xin?" Queen yang sedang lelah, langsung menghampiri Xin dan memegang bahu putrinya itu.


"Dia yang jatuh, dia yang nangis!" celetuk anak laki laki yang membantu Xin berdiri.


Queen menghela nafas pelan. Biasa Xin tak mudah menangis. Ia gadis kecil yang tangguh, bahkan terluka pun ia tak menangis. Namun sejak kepergian Ethan kemarin, sedikit saja yang membuatnya sedih atau terluka, ia langsung menangis.


Huaaaa ... Huaaaa .....


Xin kembali menangis ketika mendengar suara anak laki laki itu seakan memarahinya.


"Daddy!" teriak Xin sambil menangis.


"Daddy di sini, Xin."


🧡 🧡 🧡