Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Wanita Feminim



"Elyna, ini kamarmu. Sejak dulu kau sangat menyukai warna merah muda bahkan hingga kau dewasa. Mommy dan Daddy sempat merekomendasikan beberapa warna lain untuk mengganti suasana kamar ini tetapi kau menolaknya. Di sini ada beberapa barang favoritmu. Kau suka sekali berbelanja tas dan sepatu hak tinggi. Sebagai wanita kau memang benar-benar sangat feminim."


Letty tersenyum bahagia ketika ia menjelaskan segala sesuatu yang sudah ia persiapkan di dalam kamar Elyna. Berbeda dengan Miller yang tidak memberi komentar apapun. Pria itu tahu kalau kamar ini baru saja di cat warna merah muda karena sebelumnya berwarna abu-abu. Bahkan pakaian milik Elyna semua telah disimpan rapi di dalam gudang. Letty memasukkan beberapa pakaian wanita dan membeli beberapa tas dan sepatu untuk mengkoleksinya di dalam lemari. Wanita itu benar-benar ingin menyihir putrinya untuk menjadi wanita yang feminim.


"Apa benar ini semua barang-barangku? Kenapa kelihatannya masih baru? Apa Aku tidak pernah memakainya?" tanya Elyna dengan wajah ragu.


"Sebenarnya kau memiliki prinsip kalau punya barang itu hanya boleh satu kali pakai saja. Jadi semua barang-barang ini memang barang-barang baru karena barang-barang yang sudah kau pakai langsung kau buang begitu saja. Mungkin sekarang sudah dikutip oleh pekerja yang ada di rumah ini," dusta Letty semakin menjadi.


Lagi-lagi Elyna memasang wajah tidak yakin meskipun penjelasan Letty terdengar masuk akal. "Aku ingin istirahat. Apa aku boleh meminta Mommy dan Daddy untuk pergi keluar? Aku butuh menyesuaikan diri dengan kamar ini karena perasaanku masih sangat asing."


"Tentu sayang. Mommy dan Daddy juga ingin istirahat." Letty memberi kecupan di pucuk kepala Elyna sebelum mengusap rambutnya dengan lembut. "Kau juga harus istirahat. Nanti jika makan malam telah tiba, Mommy akan memanggilmu."


Elyna hanya menjawab dengan anggukan saja. Dia memandang Letty dan Miller yang kini meninggalkan kamar tidur pribadinya. Setelah pintu kembali tertutup rapat, Elyna kembali memandang beberapa koleksi tas dan sepatu baru yang ada di lemari. Wanita itu berjalan mendekat dan memperhatikannya dengan seksama. "Apa benar barang-barang ini milikku."


Sebelumnya memang Elyna pernah sesekali memakai hak tinggi namun ia lebih sering memakai sepatu. Hak tinggi akan membuatnya kesulitan ketika ia ingin melompat dari gedung satu ke gedung lainnya. Elyna cepat-cepat melepas sepatu hak tinggi itu karena takut celaka. Wanita itu berjalan ke arah jendela untuk melihat pemandangan yang tersaji dibaliknya.


Miller segera menggenggam tangan Letty. Hal itu membuat Letty kaget. Dia memandang ke arah pintu kamar Elyna lalu memandang wajah suaminya lagi.


"Ada apa? Jika ada yang ingin kau bicarakan sebaiknya kita bicarakan di dalam kamar saja. Aku takut Elyna mendengar pembicaraan kita."


"Kau benar-benar telah membohongi Elyna. Aku tidak suka."


Letty menghela napas kasar lalu menarik tangan suaminya. Dia tidak mau memberi komentar apapun sebelum mereka tiba di kamar.


Ketika Miller ingin bicara lagi tiba-tiba saja Letty mencium pipi pria itu hingga membuatnya kembali terdiam. "Apa kau tuli? Aku sudah bilang kita bicara di kamar. Aku tidak mau Elyna mendengarnya." Miller pada akhirnya kembali membisu. Pria itu mengikuti langkah Letty yang kini membawanya ke dalam kamar.