Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Musuh



Di sebuah ruangan berukuran luas, beberapa pembisnis telah berkumpul untuk membahas bisnis gelap yang akan mereka lakukan. Di antara pembisnis itu, ada Raja Belanda Palsu. Pria itu duduk dengan tenang menikmati posisinya yang sekarang. Hatinya merasa lega ketika anak buah yang ia kirim memberi kabar kalau wanita yang pernah menguping pembicaraan mereka mengalami kecelakaan dan amnesia.


"Tuan, jika bisnis ini berhasil. Kita akan mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat. Keuntungan ini nantinya akan kita bagi rata," ucap pria muda yang sejak tadi bertugas untuk menjelaskan detail rencana mereka.


"Aku setuju!" sahut si Raja Palsu. Disambung oleh yang lainnya. Mereka semua setuju. Rencana besar ini siap untuk direalisasikan.


Setelah semua orang pergi, tersisa Raja Belanda palsu. Dia memeriksa keuangannya yang terus saja bertambah setiap harinya. Seorang pria berjalan menghampirinya.


"Tuan, ada yang ingin saya sampaikan."


"Katakan saja," sahut si Raja Palsu tanpa mau memandang.


"Kamu telah berhasil menyelidiki identitas wanita itu." Setelah satu bulan lamanya, akhirnya pria itu berhasil mengetahui identitas asli Elyna.


"Ya. Aku tahu dia pasti bukan wanita biasa." Raja Palsu masih belum tertarik. "Bukankah dia amnesia? Seharusnya tidak ada yang perlu kita khawatirkan lagi bukan?"


"Dia pemimpin geng mafia bernama Queen Star. Mungkin saat ini kita bisa tenang karena dia tidak akan membongkar rahasia kita. Tetapi jika dibiarkan hidup, kedepannya wanita ini justru akan menjadi masalah bagi kita. Dokter bilang ingatannya bisa saja kembali dalam waktu dekat."


"Lalu apa rencana yang sudah kau siapkan? Kau datang ke sini bukan hanya sekedar menjelaskan hal tidak penting itu bukan?"


"Lalu, bagaimana dengan rencana kedua?"


"Rencana kedua Anda harus mati."


Raja palsu itu menahan kegiatannya lalu menatap bawahannya dengan begitu tajam. "Apa maksudmu? Apa kau sudah bosan hidup?" umpatnya dengan wajah dipenuhi emosi.


"Sebagai Raja Belanda Anda harus sudah mati. Kita harus berhasil menguras harta kerajaan sebelum akhirnya membuat drama kematian anda sendiri. Bukankah Raja Belanda yang asli memang sudah tidak ada di dunia ini? Kita akan melibatkan wanita ini ke dalam kematian itu hingga akhirnya Pangeran akan balas dendam kepadanya."


Raja Belanda palsu langsung tersenyum. "Kau memang selalu memiliki ide yang brilian. Baiklah kalau begitu aku setuju dengan rencana yang kedua. Bukankah jika Pangeran berhasil membunuh wanita itu kita akan mendapat dua keuntungan hanya dengan satu tindakan?"


"Anda benar Tuan. Inilah yang saya pikirkan sejak awal. Tetapi resikonya anda tidak bisa lagi menjadi pemimpin Belanda. Apa Anda siap? Bukankah ini adalah impian Anda selama ini. Sampai-sampai anda rela untuk operasi wajah."


"Memang sangat disayangkan jika aku harus meninggalkan Belanda. Tetapi setidaknya aku sudah bisa membawa harta yang begitu banyak. Aku akan hidup bahagia di tempatku yang baru. Aku akan membentuk wilayah kekuasaanku sendiri."


"Baiklah Tuan. Kalau begitu mulai dari sekarang Anda harus fokus untuk mengumpulkan harta kekayaan. Dengan begitu, pengorbanan anda selama ini tidak akan menjadi sia-sia."


Raja Palsu itu hanya tersenyum saja mendengarnya. Rasanya dia sudah tidak sabar dengan kekayaan kerajaan Belanda yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.