Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Seperti Kenal?



Las Vegas


Setelah pesawat mendarat di Las Vegas, Dominic terlihat tersenyum ceria. Sudah lama ia merindukan wilayah kekuasaannya itu namun terlalu banyak urusan yang harus ia selesaikan di luar. Seperti biasa, kedatangan Dominic disambut hangat oleh anak buahnya. Mereka sudah menyiapkan mobil khusus untuk menjemput Dominic dan juga Elyna.


Sama halnya dengan Elyna. Setibanya di Las Vegas, Elyna tidak berhenti untuk memuji keindahan kota kecil tersebut. Dari orang-orangnya, wilayah bahkan dari udara yang ada di Las Vegas sangat disukai oleh Elyna.


"Apa aku baru pertama kali ada di tempat ini?" tanya Elyna sambil berjalan. Dia memandang wajah Dominic lagi menanti jawaban.


"Aku tidak tahu," jawab Dominic. "Mungkin kau pernah ke sini sebelum Kau mengenalku," sambungnya lagi.


"Tempat ini terasa sangat tidak asing. Sepertinya aku pernah ke sini sebelumnya. Tapi Aku tidak tahu juga," jawab Elyna ragu-ragu. "Mungkin di dalam mimpi."


Dominic hanya tersenyum saja mendengarnya. Mereka segera masuk ke dalam mobil. Mobil tersebut meluncur cepat meninggalkan bandara.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, lagi-lagi Elyna tidak hentinya mengagumi keindahan kota Las Vegas. Rasanya wanita itu ingin sekali menetap di kota itu dalam waktu yang lama.


Dominic yang sempat sibuk dengan ponselnya menghentikan kegiatannya lalu memandang ke arah Elyna. "Apa kau suka?"


"Ya." Elyna memandang lagi ke arah gedung-gedung tinggi. "Apa itu kasino?"


"Ya. Ada banyak kasino di kota ini. Jika kau berkenan, nanti malam aku akan membawamu bermain di salah satu Kasino yang ada di Las Vegas."


"Terima kasih," jawab Elyna cepat.


Dominic kembali diam. Pria itu meminta supir untuk menghentikan laju mobilnya ketika mereka melewati sebuah butik. Hal itu lagi-lagi membuat Elyna terlihat bingung.


"Kenapa harus berhenti? Apa ini rumahmu?" tanya Elyna bingung. Karena memang bangunan butik itu seperti rumah.


"Kita akan membeli beberapa baju untukmu." Dominic segera turun. Diikuti oleh Elyna setelahnya. Kedatangan mereka sudah di sambut oleh karyawan butik yang memang sudah tidak asing lagi melihat Dominic.


Karyawan butik itu memandang ke arah Dominic sejenak sebelum menunduk hormat. "Selamat sore, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong carikan baju yang cocok untuk teman saya." Dominic melirik jam di pergelangan tangannya. Dia memandang ke arah Elyna lagi. "Aku masih ada urusan. Apa kau bisa sendiri? Aku akan segera kembali."


"Bukankah seharusnya di sini aman?" tanyanya untuk kembali memastikan.


"Nona Elyna akan baik-baik saja. Tetapi jika anda masih ragu, saya akan meminta beberapa penjaga datang dan mengawasi di sekitar butik ini."


Dominic mengangguk. "Bagus!" Pria itu segera masuk ke dalam mobil. Mereka kembali pergi menuju ke lokasi yang sudah di tentukan.


Di dalam butik, Elyna kembali ingat kalau tas dan ponselnya tertinggal di dalam mobil. Padahal tadinya Elyna ingin segera menghubungi Letty untuk memberitahunya kalau sudah tiba di Las Vegas. "Gawat! Aku harus mengejar Dominic sebelum jauh." Elyna pergi begitu saja ketika karyawan butik sedang sibuk memilihkan pakaian yang cocok untuknya.


"Dominic!" teriak Elyna ketika mobil Dominic belum jauh dari sana. Wanita itu terus saja berlari mengejar sambil berteriak hingga suara klakson yang begitu memekakan membuat Elyna berhenti. Wanita itu mematung ketika menyadari kalau kini sedang berdiri di tengah jalan.


Seorang pria turun dari mobil lalu menghampiri Elyna. Pria itu adalah Pangeran Denzel. Ternyata dia memiliki urusan di Las Vegas hingga tanpa sengaja lagi-lagi dia bertemu dengan Elyna.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Pangeran Denzel segera menarik Elyna dan membawanya ke tepian jalan. Bersamaan dengan itu, mobil yang sempat berhenti segera jalan lagi.


"Kau?" Elyna masih ingat dengan wajah Pangeran Denzel karena memang belum lama ini mereka bertemu.


"Oh ya, waktu itu kita belum kenalan. Perkenalkan, namaku Denzel." Pangeran Denzel mengulurkan tangannya hingga membuat Elyna terlihat semakin bingung. "Kau tidak mau berkenalan denganku?"


Elyna segera menyambut uluran tangan Pangeran Denzel. "Elyna Miller."


Pangeran Denzel tersenyum. "Nama yang indah." Pria itu memperhatikan keadaan sekitar. "Kau sendirian?"


"Aku bersama dengan temanku. Dia memintaku untuk menunggu di butik itu. Tetapi ponsel dan tasku tertinggal di dalam mobil. Tadinya aku ingin mengejarnya."


Pangeran Denzel melirik jam di pergelangan tangannya. "Waktunya sudah tiba. Aku tidak bisa berlama-lama di sini," gumam Pangeran Denzel bingung.


"Apa kau masih memiliki banyak urusan? Aku juga ingin kembali masuk ke dalam. Senang bertemu denganmu." Elyna langsung saja memutar tubuhnya karena ingin masuk ke dalam. Sedangkan Pangeran Denzel masih berdiam diri di tempatnya sekarang.


"Jika nanti kita bertemu untuk yang ketiga kalinya, aku akan mengenalmu lebih jauh lagi. Kau wanita yang cantik dan menarik Elyna," gumam Pangeran Denzel di dalam hati.