Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Kekhawatiran



Faith tidak bisa tidur dengan nyenyak ketika mereka tahu kalau sampai jam segini Elyna dan Dominic belum juga pulang ke rumah. Berulang kali mereka menghubungi nomor Elyna dan juga Dominic. Namun keduanya sama-sama tidak bisa dihubungi. Jam sudah menunjukkan pukul 3 Pagi. Rasanya sudah tidak wajar jika Elyna dan Dominic masih ada di club malam. Biasanya juga sepasang kekasih itu sudah ada di rumah sebelum jam dua pagi.


"Sayang, ini sudah sangat malam. Tidurlah. Tidak baik untuk kesehatan anak kita,” ucap Zion sambil berbaring.


"Aku tidak bisa tidur sebelum mendapat kabar dari Kak Elyna dan juga Kak Dominic. Kak Zion, bangunlah. Jangan tidur saja. Cepat cari mereka. Aku ingin tahu Mereka ada di mana.” Faith merasa kesal karena sejak tadi Zion terlihat sangat santai. Wanita itu maunya sang suami juga panik seperti yang sekarang dia rasakan. Faith berpikir kalau Zion terlalu sepele.


Zion yang merasa sangat mengantuk akhirnya duduk di atas tempat tidur. Pria itu memandang istrinya dengan wajah lelah. "Bagaimana kalau mereka sekarang sedang bersenang-senang di sebuah hotel? Apa aku juga harus memergoki mereka?" tebak Dominic asal saja. Pria itu juga tersenyum kecil setelahnya yang menunjukkan kalau dia hanya bercanda bicara seperti itu agar istrinya tidak langsung serius.


"Kak Zion, apa yang baru saja Kak Zion katakan? Aku yakin Kak Dominic bukan pria seperti itu. Dia tidak akan mungkin menyentuh Kak Elyna sebelum menikahinya.” Faith berjalan menghampiri Zion. Wanita itu menarik tangan suaminya agar segera turun dari tempat tidur. "Cepatlah bersiap-siap. Cari keberadaan Kak Dominic dan juga Kak Elyna. Jika kau tidak mau mencari mereka. Biar aku saja yang keluar untuk mencarinya,” ancam Faith agar suaminya segera bergerak.


Pada akhirnya Zion tidak memiliki pilihan lain. Pria itu beranjak dari tempat tidur. Sebelum ganti pakaian, Zion memeluk istrinya dan mencium Faith sejenak sebelum melangkah ke lemari untuk memakai baju.


"Lalu setelah aku berhasil menemui mereka. Apakah kau akan memberiku hadiah?”


Faith mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan suaminya. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa sekarang semua harus ada bayarannya?” Ekspresi wajah Faith yang berubah membuat Zion takut.


Zion tertawa kecil mendengar istrinya. Dia tidak mau sampai Faith marah. "Aku hanya bercanda Sayang. Aku akan segera mencari mereka meskipun kau tidak membayarku dengan apapun.” Zion menghela napas kasar.


Zion melangkah menuju ke arah meja. Pria itu akan melacak keberadaan mobil yang kini ditumpangi oleh Dominic dan Elyna. Karena saat ini Dominic menggunakan salah satu mobil milik Zion.


Faith yang tidak mau ketinggalan segera duduk di samping Zion. Wanita itu juga mau melihat bagaimana cara suaminya bekerja.


Wajah Zion berubah serius ketika melihat titik lokasi tempat mobil yang ditumpangi Dominic. Mobil itu terparkir di salah satu parkiran rumah sakit yang ada di kota tersebut.


"Zion, kenapa kau diam saja? Apakah kau sudah berhasil melacak keberadaan mereka? Apa arti titik berwarna biru itu? Apakah itu adalah tempat mereka berada!" tanya Faith semakin tidak sabar.


"Mereka ada di rumah sakit. Tapi siapa yang sakit?” ujar Zion bingung.


"Rumah sakit?" Faith semakin khawatir. Wanita itu segera merangkul lengan suaminya. "Kita harus segera ke sana untuk memeriksanya. Ayo cepat. Kita harus berangkat,” ajak Faith dengan penuh semangat.


"Sekarang sudah sangat malam. Biar aku saja yang berangkat. Kau tetaplah di rumah dan istirahat. Aku tidak mau nanti kau jatuh sakit karena di luar cuacanya sangat dingin,” tolak Zion. Pria itu mengambil jaket dan senjata apinya. Dia memandang wajah istrinya lagi yang kini terlihat sedih.


"Tapi aku ingin tahu bagaimana keadaan Kak Elyna dan juga Kak Dominic. Bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadap mereka?"


"Sayang, percayalah padaku. Aku akan segera berangkat ke sana dan memeriksanya. Setelah itu aku akan segera menghubungimu. Jika memang terjadi sesuatu kau ajak saja Papa untuk berangkat ke rumah sakit,” ucap Zion memberi solusi.


Namun solusi yang diberikan Zion memang tepat kali ini. Faith tidak berani untuk memaksa kehendaknya lagi. Bagaimanapun juga sudah ada janin di dalam rahimnya. Dia tidak bisa egois.


"Baiklah. Kalau begitu sekarang cepat berangkat dan segera kabari aku. Oh iya, berapa lama jarak tempuh menuju ke rumah sakit ini?" Faith menatap serius wajah suaminya.


"Tidak sampai setengah jam.” Zion segera mengecup pucuk kepala Faith. “Aku berangkat dulu. Ingat, jangan keluar rumah tanpa izin dariku. Aku akan segera menghubungimu nanti."


Faith masih duduk di sofa dengan wajah yang gelisah. Wanita itu mengambil ponselnya lagi dan berusaha untuk menghubungi Dominic. Berharap kali ini panggilan teleponnya bisa tersambung. Namun pada akhirnya wajahnya lagi-lagi kecewa. "Mereka akan segera menikah. Aku harap tidak terjadi sesuatu terhadap mereka berdua,” gumam Faith di dalam hati.


***


"Pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya. Sekarang pasien hanya butuh istirahat total. Besok pagi pasien akan kembali sadar. Saya harap ada seseorang yang menjaga pasien di ruangan ini. Jika terjadi sesuatu segera kabari kami,” ucap salah satu dokter yang bertugas untuk mengobati Pangeran Denzel.


"Baiklah, Dok. Kami akan tetap disini untuk menemani pasien,” jawab Dominic.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu segera pergi meninggalkan ruangan tempat Pangeran Denzel dirawat. Baru saja pintu tertutup rapat, tiba-tiba sudah terbuka lagi dan Zion muncul di sana dengan wajah yang khawatir.


"Kak Dominic, apa yang terjadi? Kenapa kalian ada di rumah sakit?" Zion kembali bernapas lega ketika melihat Elyna dan juga Dominic baik-baik saja. Perhatian pria itu tertuju kepada seseorang yang kini masih berbaring di atas tempat tidur. "Siapa dia? Apa dia keluarga kita?” tanya Zion penasaran.


"Dia Pangeran Denzel. Apakah kau tidak ingat?" sahut Dominic.


"Wajahnya ditutup dengan perban. Bagaimana bisa aku mengenalinya?” sahut Zion. Pria itu melangkah lebih dekat lagi. Ia juga merasa kasihan melihat keadaan Pangeran Denzel yang begitu mengenaskan. “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa sampai celaka seperti ini. Dan kenapa dia bisa ada di kota ini juga? Apa dia mengikuti kalian?" tebak Zion asal saja.


"Kami juga tidak tahu kenapa dia bisa ada di kota ini. Beberapa hari yang lalu dia dan Elyna sempat bertemu. Lalu setelah itu dia tidak ada kabar lagi. Hingga tadi malam ketika kami ingin bermain di salah satu klub yang ada di kota ini kami tidak sengaja bertemu dengannya. Taksi yang ia tumpangi kecelakaan tepat di depan klub malam yang akan kami datangi."


"Lalu apa yang dikatakan dokter? Apa kondisinya baik-baik saja? Apakah Kak Dominic sudah menghubungi pihak Kerajaan Belanda agar mereka segera mengutus orang untuk datang ke sini."


"Sudah. Mereka sudah dalam perjalanan,” jawab Dominic lagi. Zion memperhatikan ke arah Elyna yang kini terlihat melamun.


"Sebaiknya kau segera pulang untuk menemani Faith. Biar kami berdua yang menjaga Pangeran Denzel di sini. Faith sedang hamil. Tidak baik jika ditinggal tinggal seperti ini. Dia pasti akan terus membutuhkan suaminya,” ucap Elyna memberi solusi.


Zion mengangguk pelan. Dia kembali memandang ke arah Pangeran. "Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku. Kak Dominic dan Kak Elyna juga harus tetap jaga kesehatan."


Elyna dan Dominic sama-sama menggangguk. Bersamaan dengan itu Zion segera pergi meninggalkan rumah sakit.


"Elyna, sebaiknya kau istirahat saja di sana.” Dominic menunjuk tempat tidur yang memang disiapkan sebagai tempat istirahat untuk keluarga pasien.


"Aku belum mengantuk,” sahut Elyna dengan suara pelan. Bahkan dari matanya saja sudah terlihat kalau sebenarnya wanita itu sangat kelelahan.


"Kau harus menjaga kesehatanmu, Elyna. Tolong Jangan membantah lagi. Tidurlah."


“Baiklah.” Elyna tidak bisa banyak protes. Wanita itu segera beranjak dari kursi yang ia duduki dan melangkah menuju ke tempat tidur. Sebelum berbaring ia kembali memandang ke arah Dominic. “Tolong bangunkan aku jika terjadi sesuatu.” Dominic hanya menjawab dengan anggukan saja. Pria itu segera duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur Pangeran Denzel.


Setelah berbaring Elyna tidak benar-benar tidur meskipun ia sudah memejamkan matanya. Wanita itu masih bisa mendengar apa yang akan diucapkan oleh Dominic. Bahkan wanita itu juga bisa tahu kira-kira apa yang kini dilakukan oleh calon suaminya itu.


Tetapi sayangnya Dominic memang tidak melakukan hal apapun. Pria itu hanya duduk saja sambil menatap wajah Pangeran Denzel yang kini ditutup dengan perban berwarna putih. "Kecelakaan yang ia alami sangat mengerikan. Tetapi dia masih diberi kesempatan untuk tetap hidup. Pangeran bangunlah. Masa depan Anda masih panjang. Jangan pernah berhenti hanya karena seorang wanita. Mungkin saat ini saya hanya pandai bicara saja karena jika sampai hal itu menimpa saya Saya juga tidak tahu apa yang harus saya lakukan."


Elyna tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh Dominic. Sebenarnya wanita itu juga tidak bahagia dengan posisinya yang sekarang. Dia tidak pernah bermimpi ingin diperebutkan oleh dua pria karena Elyna tahu hal itu hanya akan membuat salah satu pihak kecewa. Tetapi semua sudah terjadi. Elyna tidak bisa menghindar lagi.


"Aku harap setelah ini Pangeran tidak lagi mencintaiku. Dia harus bisa bangkit dan menjadi dirinya sendiri. Tidak lagi larut dalam kesedihan karena kehilangan orang-orang yang berharga,” gumam Elyna di dalam hati.


Matahari kembali muncul menerangi dunia. Elyna segera terperanjat kaget ketika dia sadar kalau tadi dia sempat ketiduran. Wanita itu langsung memutar tubuhnya dan memandang ke arah tempat tidur. Di sana ia melihat Dominic masih duduk di kursi. Pria itu dengan setia menemani Pangeran Denzel meskipun jelas-jelas Pangeran Denzel adalah orang yang selalu membuatnya cemburu.


"Kau belum tidur? Apakah kau tidak lelah?” tanya Elyna. Wanita itu berjalan untuk menghampiri calon suaminya.


"Sepertinya dia akan segera bangun. Lihatlah tangannya mulai bergerak-gerak," ucap Dominic sembari menatap ke arah tangan Pangeran Denzel.


Elyna juga ikut memandang ke arah tangan Pangeran Denzel. Kedua mata wanita itu melebar ketika melihat Pangeran Denzel mulai membuka matanya secara perlahan.


"Sepertinya dia memang sudah sadar. Cepat panggil dokter,” perintah Elyna. Wanita itu melangkah lebih dekat lagi agar ia bisa berbicara dan mendengar apa yang dikatakan oleh Pangeran Denzel.


Dominic segera menekan tombol yang disediakan di sana. Pria itu juga beranjak dari kursi dan mendekati pangeran.


"Kenapa mereka berdua bisa ada di sini? Lalu sekarang aku ada di mana? Kenapa sekujur tubuhku terasa kaku,” gumam pangeran di dalam hati. Pria itu berusaha mengeluarkan suara. Namun apa yang dibicarakan sulit untuk didengar.


"Pangeran apa yang sekarang Anda rasakan apa anda sudah merasa jauh lebih baik atau masih ada yang terasa sakit tanya Elyna penuh selidik.


"Elyna sekarang aku ada di mana?" tanya Pangeran setelah beberapa kali ia bersusah payah untuk mengatakan kalimat yang jelas


"di rumah sakit Pangeran mengalami kecelakaan wajah Pangeran harus diperban karena ada cedera yang serius di sana tetapi anda tenang saja Dokter bilang perban ini juga akan segera dibuka setelah lukanya kering.


"Dari mana kalian tahu kalau aku mengalami kecelakaan. Apa kalian yang sudah membawaku ke rumah sakit?"


"Taksi yang anda tumpangi mengalami kecelakaan di depan klub malam. Kebetulan sekali malam itu kami juga ingin bermain-main di dalam klub malam tersebut tetapi rekan Anda tewas di lokasi kejadian.


"Rekan? Aku tidak bersama siapapun ketika pergi ke klub malam tersebut," sahut Pangeran Denzel dengan wajah bingung.


"Ada seorang wanita yang juga ikut bersama anda di dalam taksi tersebut. Kami juga tidak mengenalinya ketika kami melihat wajahnya. Dia terlihat sangat asing. Tadinya Kami pikir dia adalah orang yang anda kenali pangeran."


"Lalu sekarang dia ada di mana? Maksudku apa dia sudah dikebumikan?"


"Belum. Wanita itu masih ada di ruang jenazah. Kami tidak tahu di mana keluarganya. Dia tidak meninggalkan identitas apapun. Rencananya kami ingin bertanya kepada anda. Tapi jika anda juga tidak mengenalinya, Kami sekarang juga kami tidak tahu harus bagaimana," jawab Elyna.


"Kalau begitu kita kebumikan saja seperti biasa. Pangeran juga tidak mengenalinya," sahut Dominic memberi solusi.


"Ya. Tapi sebelum dikebumikan Aku ingin melihat wajahnya."


Elyna dan Dominic mengangguk setuju. "Tetapi setelah dapat izin dari dokter. Karena kondisi Anda juga sangat memprihatinkan saat ini."


"Baiklah," jawab Pangeran Denzel pasrah.