
Hari ini Elyna memutuskan untuk jalan-jalan di pusat kota. Wanita itu merasa bosan karena selama beberapa hari ini terkurung di dalam rumah. Dia bahkan menolak Letty untuk ikut bersama dengannya. Elyna hanya tidak ingin merepotkan orang tuanya yang sudah paruh baya tersebut.
Elyna juga butuh kebebasan. Dia ingin kembali menemukan jati dirinya yang telah terlupakan. Meskipun ia percaya dengan apa yang dikatakan oleh Letty selama ini. Tetapi entah kenapa wanita itu tahu kalau ada yang disembunyikan darinya.
Siang itu Elyna memutuskan untuk jalan-jalan di salah satu mall yang sempat dikatakan Letty sebagai mall favoritnya untuk berbelanja. Elyna memperhatikan baju, tas dan sepatu yang tersusun rapi pada tempatnya. Wanita itu merasa aneh karena tidak ada gejolak untuk berbelanja di dalam dirinya. Melihat barang-barang itu membuatnya biasa saja. Bahkan Elyna sama sekali tidak tertarik untuk membelinya.
"Mommy bilang ini adalah toko langgananku. Bahkan Mommy pernah berkata kalau dalam seminggu aku bisa berulang kali datang ke toko ini. Tapi kenapa tidak ada satu karyawan pun yang mengenaliku. Bahkan mereka menatapku seperti pelanggan baru," gumam Elyna sambil memegang baju yang terpajang di hadapannya.
"Nona, ada yang bisa kami bantu?" Seorang karyawan datang menghampiri Elyna. Karyawan itu mengukir senyuman ramah. Dia melirik ke arah baju yang kini ada di hadapan Elyna. "Apa Anda ingin baju itu? Kebetulan sekali barangnya baru saja datang. Hanya ada dua warna. Saya yakin jika memakai gaun ini anda pasti akan terlihat semakin cantik," bujuk karyawan itu untuk kembali meyakinkan Elyna.
"Apakah kau karyawan baru di toko ini?" tanya Elyna penuh selidik.
Karyawan itu mengernyitkan dahinya dengan wajah bingung. "Saya bekerja di toko ini sejak toko ini dibuka, Nona."
Elyna diam sejenak. Wanita itu kembali meletakkan baju yang sempat ada di genggaman tangannya. "Sepertinya saya tidak jadi beli. Saya hanya sedang mencari seseorang. Dia bilang dia bekerja di tempat ini. Sepertinya ia sudah membohongi saya," dusta Elyna sambil tersenyum. Karyawan toko itu hanya menatap Elyna dengan senyuman penuh arti. Dia memperhatikan Elyna sampai Elyna melangkah jauh.
"Tadinya aku pikir dia orang kaya karena sudah berani masuk ke toko ini. Tidak aku sangka ternyata dia orang miskin. Berani sekali dia memegang gaun ini. Apa dia tidak berpikir, kalau sampai dia mengotori gaun ini dia harus menggantinya?" ketus karyawan toko itu.
Mendengar umpatan yang keluar dari mulut karyawan toko itu membuat Elyna menahan langkah kakinya. Dia tidak suka ada yang menghinanya seperti ini. Wanita itu memutar tubuhnya lalu menghampiri lagi karyawan toko tersebut.
"Aku bahkan bisa membeli semua barang yang ada di toko ini. Kenapa kau memandangku sebelah mata? Bukankah tadi sudah ku jelaskan kalau aku ke sini hanya ingin mencari seseorang bukan untuk berbelanja. Apa itu artinya aku tidak memiliki uang?" ketus Elyna kesal.
Karyawan toko itu memandang Elyna lalu memperhatikannya lagi dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bukan meminta maaf, justru karyawan toko itu tertawa. "Bukan hanya sekali dua kali saya bertemu dengan wanita seperti anda. Biasanya mereka tidak memiliki uang dan masuk ke toko ini hanya untuk gaya-gaya saja. Ketika melihat harganya yang begitu mahal, mereka memutuskan untuk pergi karena tidak sanggup beli. Tidak hanya satu dua orang saja yang berkata kalau dia sanggup membeli semua isi toko ini. Tetapi nyatanya tidak ada satu orang pun yang berhasil melakukannya. Jika memang Anda benar-benar bisa membeli seisi toko ini, kenapa tidak anda beli saja? Bukankah Anda orang kaya? Untuk apa anda perhitungan dengan uang yang anda miliki?" tantang karyawan toko tersebut dengan wajah yang begitu berani.
Pasukan Queen Star yang sejak tadi mengamati Elyna mulai emosi. Rasanya ingin sekali mereka memberi pelajaran kepada karyawan toko itu karena sudah berani menghina Elyna di depan umum. Kini Big Boss mereka harus menjadi perhatian semua pelanggan yang ada di toko tersebut.
"Ya, kau benar. Bisa saja aku membeli seisi toko ini, tetapi sayangnya baju yang kau jual di toko ini sama sekali tidak mengikuti seleraku. Jadi aku tidak akan membeli semuanya!" tolak Elyna.
"Lagi-lagi mencari alasan karena tidak sanggup beli," sindir karyawan toko sambil tertawa.
Elyna dan karyawan toko itu sama-sama memutar tubuh mereka dan memandang ke arah belakang. Dominic berdiri dengan setelan jas berwarna abu-abu. Pria itu terlihat sangat tampan. Dari penampilannya saja semua orang sudah bisa tahu kalau dia pasti sanggup untuk membeli seisi toko tersebut.
"Tuan, apa Anda bersama dengan Nona ini?" tanya sang karyawan toko mulai takut.
"Ya. Dia temanku. Kenapa kau tega menghinanya hingga seperti ini? Jangankan membeli seluruh barang yang ada di toko ini, bahkan memecatmu dari pekerjaan ini saja sangat mudah untuk dia lakukan. Apa orang yang berduit harus dinilai dari penampilannya?" Dominic melirik penampilan Elyna
Meskipun Letty sudah menyiapkan baju dan segala produk wanita yang bermerek di dalam lemari Elyna, tetapi tetap saja pada akhirnya Elyna lebih memilih kaos dan celana pendek. Dan itu justru membuatnya terlihat seperti seorang brandal. Jadi wajar saja jika karyawan toko itu tidak percaya dengan penampilannya.
"Maafkan saya, Tuan. Hari ini sudah ada beberapa wanita yang menyusahkan saya. Bahkan tanpa mereka sadari, saya harus membayar baju yang mereka kotori dengan gaji pribadi saya. Saya tidak mau hal itu terulang lagi." Karyawan toko itu kembali memandang ke arah Elyna. "Maafkan saya, Nona. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Ke depannya saya akan lebih hati-hati dalam berbicara."
Elyna menghela napas kasar sebelum pergi. Bahkan wanita itu sama sekali tidak mau menyapa Dominiv yang masih berdiri di sana.
Dominic mengangkat satu alisnya ke atas lalu memandang kepergian Elyna. Sambil tersenyum pria itu mengikuti Elyna dari belakang. Ada banyak hal yang ingin Ia bicarakan bersama dengan Elyna. Hari ini ia sengaja berangkat ke kota tempat Elyna tinggal hanya untuk mendapat perhatian wanita itu. Dominic tidak mau sampai usahanya sia-sia.
"Elyna, tunggu!" Dominic segera berlari lalu berdiri di hadapan Elyna untuk menghalangi wanita itu. "Kenapa kau selalu saja menghindariku? Apa aku telah melakukan kesalahan hingga membuatmu marah seperti ini? Sebelum kecelakaan Kita adalah teman baik. Kenapa setelah kecelakaan kau bersikap secuek ini kepadaku?"
"Bukan hanya Mommy. Tetapi aku yakin kau juga sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Aku lelah dengan kebohongan yang ada. Aku memang amnesia. Aku tidak ingat dengan hal-hal yang pernah terjadi di dalam hidupku. Tapi bukan berarti semua orang bisa memanfaatkan masalah ini untuk membodohiku. Apa kau tahu rasanya perasaanku saat ini. Aku sangat kecewa kepada ibu kandungku sendiri setelah aku tahu dia membohongiku. Aku tahu kalau sebelum amnesia Aku tidak pernah berbelanja di toko itu. Tapi kenapa dia harus membohongiku hingga seperti ini. Apa tidak ada cara lain?"
Dominic diam sejenak. Tiba-tiba ia kembali ingat dengan apa yang dikatakan Zean sebelum berangkat ke kota tersebut. "Benar kata Papa. Elyna bukan tipe wanita yang mudah untuk dibohongi meskipun ia dalam keadaan amnesia. Wanita ini benar-benar cerdas. Mungkin kecerdasan inilah yang sudah membuatnya berhasil memimpin Queen Star selama ini," gumam Dominic di dalam hati.
"Kenapa kau diam saja? Apakah kau tahu sesuatu?"
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja kau katakan. Selama ini kita menjalin hubungan sebagai teman. Kita berbicara sekedarnya hanya untuk membahas masalah-masalah ringan. Dari yang aku lihat, kau memang wanita yang feminim dan cantik karena kau sudah bekerja di sebuah perusahaan."
"Perusahaan?" tanya Elyna dengan mata membulat. "Perusahaan mana? Apakah kau bisa membawaku ke sana? Mommy sama sekali tidak membahas masalah ini kepadaku!"
Dominic membisu dengan wajah bingung. "Gawat! Apa Aku baru saja salah bicara?" gumamnya di dalam hati.