Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Brandon Lagi



Brandon berjalan cepat menuju ke ruangan tempat Pangeran Denzel berada. Setelah anak buah yang ia kirimkan gagal membawa Elyna pergi, pria itu segera memiliki keinginan untuk bertemu dengan Pangeran Denzel.


"Ternyata dia sudah maju satu langkah di depan. Aku tidak bisa diam saja. Aku harus tahu apa alasannya membawa wanita itu pergi. Dan kemana dia memindahkannya?"


Brandon menahan langkah kakinya ketika melihat pengawal pribadi Pangeran Denzel berdiri di depan pintu. Melihat ekspresinya saja sudah membuat Brandon bisa menebak kalau kali ini dia pasti akan mengalami kesulitan untuk bertemu dengan Pangeran Denzel.


"Pangeran sedang istirahat. Temui Pangeran lain hari. Karena setelah Yang Mulia Raja meninggal, Pangeran lebih sering menghabiskan waktunya di dalam kamar."


Brandon mengukir senyuman. "Aku datang bukan untuk mengganggu pangeran. Justru aku datang ke sini untuk memberi semangat agar Pangeran tidak terus terpuruk di dalam kamarnya. Dia harus segera bangkit. Bagaimanapun juga kerajaan kita membutuhkan seorang pemimpin. Semua orang juga masih dalam suasana duka. Tetapi sebagai calon Raja Pangeran tidak bisa bersikap selemah ini."


Brandon masih belum mau menyerah. Apapun caranya dia harus bertemu dengan Pangeran Denzel hari ini. Pria itu tidak akan tenang sebelum mendengar kabar tentang Elyna.


"Pergi!" Pengawal itu mengibaskan tangannya. "Apapun yang kau katakan, tetap tidak akan mengubah keadaan. Pangeran tidak mau bertemu dengan siapapun. Jadi, pergilah sebelum aku memanggil pengawal untuk mengusirmu!"


"Kau bahkan lupa siapa dirimu! Kau ini juga hanya seorang pengawal. Jadi jangan bertingkah seolah kau adalah anggota kerajaan!" Sepertinya Brandon mulai emosi melihat tingkah laku pria dihadapannya.


Pengawal itu tertawa geli mendengarnya. "Tapi setidaknya tugasku memang di sini. Jadi aku memiliki hak untuk mengusir siapa saja yang tidak ingin ditemui oleh Pangeran!" Nada bicaranya semakin tinggi. Brandon kali ini tidak memiliki pilihan lagi selain pergi. Sambil mengepal kuat tangannya, Brandon memutar tubuhnya dan pergi dari sana. Bersamaan dengan itu, pengawal itu terlihat sangat lega.


"Hampir saja dia tahu kalau Pangeran tidak ada di dalam. Sebenarnya Pangeran pergi ke mana? Kenapa sampai detik ini dia tidak juga kembali. Aku sangat mengkhawatirkannya. Bisa-bisanya ia memerintahkanku untuk menjaga kamar kosong seperti ini."


Brandon bersembunyi di balik dinding. Ternyata pria itu tidak akan menyerah begitu saja. Dia memikirkan rencana lain agar bisa masuk dan menemui Pangeran.


Pelayan wanita itu terlihat ketakutan. Bahkan tubuhnya sampai gemetar. Kalau saja Brandon tidak ikut memegang nampannya mungkin nampan berisi air hangat itu sudah jatuh ke lantai sejak tadi.


"Dia yang memintaku untuk membuatkan minuman hangat ini," jawab pelayan wanita itu terbata-bata.


"Bagus. Ternyata semudah ini menemukan cara untuk mengalahkannya." Brandon kembali memandang pelayan wanita itu sembari mengeluarkan sebuah serbuk dari dalam sakunya.


"Tuan, apa yang ingin anda lakukan?"


"Diam jika kau masih ingin hidup!" ancam Brandon dengan senyumnya. "Bawa minuman ini kepada pria itu dan pastikan dia menghabiskannya."


Setelah mendengar ancaman dari Brandon pelayan wanita itu tidak berani lagi membantah. Dia segera membawa minuman hangat yang sudah dicampur oleh Brandon dengan serbuk tersebut. Pelayan wanita itu sendiri tidak tahu serbuk itu beracun atau tidak.


Lagi-lagi dari balik dinding Brandon mengawasi apa yang terjadi di sana. Pria itu mengukir senyuman lebar ketika melihat minuman yang ada di gelas tersebut diteguk hingga habis.


Pelayan wanita itu segera berputar dan kembali dengan membawa gelas yang telah kosong. Sambil berjalan ia melirik ke arah Brandon yang masih mengawasinya. Pelayan wanita itu segera berlari kencang dengan wajah ketakutan.


"Sepertinya setelah aku menjadi raja di istana ini, aku akan menyingkirkan orang-orang yang tidak setia. Pelayan seperti tadi sama sekali tidak berguna. Bisa-bisanya ia menurut untuk mencelakai tuannya sendiri. Tapi, bukankah memang tidak ada yang benar-benar setia? Apalagi sampai mengorbankan nyawa mereka hanya untuk melindungi seorang."


Pengawal setia Pangeran tergeletak di lantai. Hal itu membuat Brandon segera melangkah menuju ke arah pintu. Dia memastikan lokasi di sana benar-benar sunyi sebelum menerobos masuk ke dalam. "Aku tidak punya cara lain lagi. Kali ini aku harus berhasil membuat pameran berpihak kepadaku."