
Pangeran Denzel telah tiba di Kerajaan. Bersama dengan pengawalnya, dia langsung menghadap ke ruang Yang Mulia Raja. Sepanjang perjalanan ia terus saja memikirkan ayah kandungnya itu. akhir-akhir ini memang pria yang biasa ia panggil Papa itu terlihat jauh berbeda. Namun Pangeran Denzel berpikir kalau itu hanyalah sifat alami seseorang yang sudah tua saja.
Pintu ruangan terbuka lebar. Pangeran Denzel langsung menuju ke tempat tidur tempat Raja berada. Pria itu membungkukkan tubuhnya memberi hormat sebelum mengeluarkan suara.
"Yang Mulia, apa anda baik-baik saja? Saya dengar anda sakit. Bagaimana kondisi anda yang sekarang?"
"Panggil aku papa seperti biasa. Kita tidak berada di acara resmi, putraku!" Raja palsu itu langsung membuka matanya dan tersenyum lebar. "Papa hanya merindukanmu. Kau sudah terlalu lama menjelajahi dunia hingga lupa kalau kau adalah seorang pangeran."
Satu-satunya kelemahan dalam kerajaan itu karena Pangeran Denzel yang tidak pernah mau menetap di Belanda. Pria itu menyerahkan tugas kerajaan kepada sang ayah. Itulah yang membuat Pangeran sendiri tidak tahu kalau ternyata orang yang paling dipercaya oleh ayah kandungnya sendiri kini telah berhasil merebut posisinya sebagai Raja. Bahkan tega menguburkan jasad sang Raja di tengah hutan.
"Bukankah kita sudah pernah membahas masalah ini. Aku tidak mau posisi Raja. Aku menikmati hidupku yang sekarang." Pangeran Denzel memalingkan wajahnya. "Aku harap papa tidak lagi memaksaku untuk menempati posisi Raja!"
"Lalu, apa yang akan terjadi dengan kerajaan kita jika suatu saat nanti papa meninggal?"
Pangeran Denzel kaget. Pria itu langsung memiringkan kepalanya memandang Raja. "Itu tidak akan terjadi!"
Raja Palsu tertawa. "Aku ini hanya manusia. Ada masanya hidup dan ada waktunya untuk mati. Jadi, jangan memandang ayahmu yang sudah tua ini seolah-olah memiliki nyawa cadangan."
"Sejak dulu aku memang sudah tahu kalau Pangeran Denzel tidak pernah mau menduduki posisi sebagai Raja. Itulah yang membuatku tertarik untuk merebutnya. Hingga akhirnya dengan sudah payah aku khianati kepercayaan raja lalu merebut posisinya. Tetapi rencanaku jadi gagal setelah wanita sialan itu mengetahui rencana kami. Selama dua masih hidup, aku tidak bisa tenang," gumamnya di dalam hati.
"Aku akan memimpin kerajaan jika papa sudah tiada. Untuk sekarang, bebaskan aku bermain. Masih banyak tempat yang belum aku kunjungi. Aku tahu, setelah menjadi Raja aku tidak akan sebebas sekarang lagi."
Raja palsu itu mengangguk. Sekarang dia merasa sedikit tenang. Pria itu akan membuat sebuah rencana besar. Dimana di dalam rencananya itu dia akan melibatkan Elyna di dalamnya. Dia ingin Elyna mati di tangan Pangeran. Kesalahpahaman itu akan memberi keuntungan besar baginya.
"Baiklah. Sekarang kau boleh pergi. Tapi untuk beberapa hari ini, menetaplah di sini."
"Baik, Pa. Permisi." Pangeran Denzel menunduk hormat sebelum pergi. Sambil berjalan pria itu memperhatikan pengawal yang kini berjaga di sekitar kamar. "Sudah beberapa kali aku menemui papa tetapi aku tidak melihat Brandon ada di samping Papa. Kemana perginya dia? Apa papa sudah tidak mempekerjakannya lagi? Tapi, itu tidak mungkin. Setahuku, selama bertahun-tahun pria itu menjadi satu-satunya orang yang dipercaya oleh papa. Bahkan banyak sekali rahasia yang dia ketahui," batin Pangeran Denzel.
"Denzel, ada lagi yang ingin kau tanyakan?" tanya Raja Palsu bingung ketika Pangeran Denzel hanya diam di ambang pintu.
Pangeran Denzel memutar tubuhnya lalu menatap Raja palsu. "Dimana Brandon?"