Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Sulit Dibohongi



Elyna diam sejenak. Sambil diam dia mengamati ekspresi semua orang. Di mulai dari Letty, Miller hingga berhenti pada Dominic. Wajah kaget mereka membuat kecurigaan di dalam hati Elyna.


"Pasti mau bohong lagi," gumamnya di dalam hati.


"Sayang, senjata seperti apa yang kau maksud? Mommy dan Daddy tidak mengerti apa yang kau maksud." Sambil tertawa kecil Letty berusaha mencairkan suasana. Sebenarnya wanita itu sudah kebingungan saat ini.


"Ada pistol dan pisau di bawah tempat tidurku. Ada juga tulisan Las Vegas dan ...." Elyna diam sejenak. "Queen Star. Kenapa aku tidak asing dengan kata Queen Star?"


"Siapa Queen Star? Kita tidak merasa memiliki saudara bernama Queen. Bukankah begitu?" Letty mencubit lengan Miller. Berharap pria itu membantunya mencari alasan.


"Ya. Apa yang dikatakan Mommymu benar. Sepertinya senjata itu milik pengawal yang berjaga di rumah kita. Mereka juga ikut merapikan kamarmu saat kau ada di rumah sakit. Mungkin mereka meninggalkan senjata berbahaya itu di bawah tempat tidurmu," dusta Miller.


Elyna menyipitkan kedua matanya. "Sudah ku tebak. Sekuat apapun aku menjebak Mommy dan Daddy. Tetap saja mereka tidak mau menceritakan yang sebenarnya terjadi. Sebaiknya sekarang aku cari tahu sendiri aja," batin Elyna di dalam hati.


"Sayang, apa kau tidak percaya sama Mommy dan Daddy? Kenapa ekspresimu seperti itu?" Letty lagi-lagi berusaha untuk memikat hati Elyna agar putrinya itu tidak curiga lagi.


"Aku percaya sama semua yang Mommy katakan. Justru sekarang aku lagi berpikir. Kira-kira di las Vegas nanti aku tinggal dimana dan berapa lama di sana?" Elyna jauh lebih pintar. Wanita itu kini mengalihkan pembicaraan. Dia menatap Dominic yang kini juga menatapnya dengan tatapan penuh arti.


"Dominic tinggal di Las Vegas. Kau bisa tinggal di rumah Dominic. Kau bebas mau menginap di sana berapa lamapun yang kau mau. Bukankah begitu, Dominic?" Letty menatap ke arah Dominic.


"Benar, Tante. Elyna bisa tinggal di rumah." Dominic terlihat pasrah saja.


"Dominic tinggal di Las Vegas? Apa semua ini ada hubungannya? Mommy bilang kalau aku dan Dominic berteman. Lalu dia tinggal di Las Vegas. Aku menulis banyak sekali kata-kata Las Vegas. Aku pasti akan menemukan petunjuk nantinya," batin Elyna.


"Kapan kalian akan berangkat?" Miller mengeluarkan dompet dari saku lalu memberikan sebuah kartu kepada Elyna. "Pakai ini. Kau bisa menggunakannya jika ingin berbelanja apapun."


"Terima kasih, Dad." Elyna menyambutnya dengan senyuman. "Sebenarnya aku ingin segera berangkat. Tetapi Dokter memintaku untuk menghabiskan infus ini." Elyna menatap sedih ke arah botol infus yang tergantung.


"Sayang, semua ini demi kesehatanmu juga. Turuti apa kata Dokter ya."


Elyna mengangguk. "Mommy sama Daddy pulang saja. Setelah diizinkan pulang, aku akan segera berangkat ke Las Vegas. Mommy sama Daddy gak perlu antar aku ke Las Vegas."


"Baiklah sayang. Mommy dan Daddy juga sudah jauh lebih tenang setelah melihatmu baik-baik saja. Kau sama Dominic yang akur ya. Jangan bertengkar."


Dominic berdehem pelan. Sedangkan Elyna hanya senyum saja mendengarnya.


"Kalau begitu Mommy dan Daddy pulang dulu." Letty mendaratkan kecupan di pucuk kepala Elyna. "Setelah tiba di Las Vegas hubungi Mommy."


"Ya, Mom."


Miller menepuk pundak Dominic. "Paman titip Elyna. Jika dia merepotkanmu, kau bisa hubungi kami," bisik Miller. Dominic hanya menjawab dengan anggukan saja.


...***...


Dominic terlihat senang melihat Elyna sudah tidak diinfus lagi. Setelah dokter itu pergi, Dominic segera mendekati Elyna. "Setelah makan kita pergi," ucap Dominic sembari meletakkan makanan yang akan di lahap Elyna di atas meja yang sudah disiapkan di tempat tidur.


"Aku bisa makan di pesawat. Aku tidak selera untuk makan." Dominic mengusap tengkuknya dengan mata yang terlihat lelah.


Semalaman pria itu tidak ada tidur karena ia ingin memastikan kalau Elyna baik-baik saja. Entah kenapa selama beberapa hari ini Dominic berpikir kalau ada seseorang yang berniat untuk mencelakai Elyna meskipun Dominic tidak melihat langsung siapa orang tersebut.


"Kalau begitu aku juga tidak makan. Aku juga tidak selera makan." Elyna mendorong makanan itu agar menjauh. Dia ingin segera menurunkan kakinya. "Pergi sekarang saja, tidak perlu mengundur waktu lagi."


"Jangan seperti itu. Jadwal keberangkatan sudah ditentukan. Kita masih memiliki waktu untuk sarapan." Dominic tidak setuju.


"Apa kau bilang? Kita? Tapi di sini yang makan hanya aku saja. Aku memang tidak tahu seberapa dekat dan seperti apa kedekatan kita sebelum aku amnesia. Tetapi aku tidak bisa makan jika ada orang di depanku yang tidak makan. Kau juga harus makan makanan ini agar cepat habis."


Dominic melirik sarapan yang sudah tersaji di atas meja. Pria itu menghela napas sebelum duduk di ujung tempat tidur. "Aku makan satu roti ini saja," jawab Dominic sembari melahap roti bakar. Elyna tersenyum saja sebelum mulai makan.


"Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain? Maksudku kau terlihat sangat bebas. Bisa pergi kemanapun yang kau suka. Sebenarnya hidup seperti ini yang aku impikan. Jadi aku tidak perlu repot-repot menetap di satu tempat. Aku bebas pergi kemanapun. Tapi uang yang aku dapat tetap mengalir saja setiap bulannya. Bahkan setiap harinya. Kira-kira pekerjaan apa yang bisa menghasilkan uang banyak per hari?" Elyna menatap Dominic lagi meminta solusi.


"Untuk apa kau memikirkan penghasilan per hari Jika sekali bertindak saja kau bisa memenuhi kehidupanmu selama setahun?" jawab Dominic dengan santai. "Aku ini seorang pengusaha. Aku merintis semua itu dengan susah payah. Usaha yang sekarang berkembang membutuhkan banyak pengorbanan. Bahkan tidak sedikit orang yang memandangku sebelah mata dulu. Sekarang uang itu yang bekerja untukku. Jadi aku hanya tinggal menikmatinya saja."


"Bisnis? Sayangnya aku tidak menyukai dunia bisnis." Wajah Elyna terlihat kecewa.


"Lalu apa yang kau sukai?"


Elyna mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu."


"Sebagai seorang wanita, kau tidak perlu fokus mencari uang. Bukankah nanti kau akan menikah? Semua kebutuhanmu akan dipenuhi oleh pria yang menikahimu."


"Tidak begitu juga," sahut Elyna tidak setuju.


Keadaan kembali senyap ketika Dominic tidak lagi bicara. Elyna fokus dengan makanan yang ada di hadapannya agar segera habis. Sedangkan Dominic memilih untuk memandang Elyna secara diam-diam.


"Semakin lama kau terlihat semakin menarik. Jika kita sering-sering bersama seperti ini, aku takut jika pada akhirnya aku akan jatuh cinta padamu," gumam Dominic di dalam hati.


Setelah menunggu hampir 10 menit akhirnya Elyna berhasil menghabiskan makanannya. Wanita itu turun lalu merapikan penampilannya sendiri. Tidak banyak barang yang dibawa oleh Elyna. Hanya ponsel dan tas berisi uang dan kartu. Pakaiannya jiga telah berganti dengan pakaian baru. Tadi pagi Letty sempat mengirimkan orang untuk mengirimkan baju ganti untuk Elyna.


"Oke. Sekarang saatnya kita berangkat. Kita akan ketinggalan pesawat jika terlalu lama berada di rumah sakit ini," ajak Elyna penuh semangat.


Dominic mengangguk lalu berjalan lebih dulu sedangkan Elyna mengikutinya dari belakang. Sambil berjalan Dominic merogoh saku celananya untuk memastikan kunci mobil telah Ia bawa. Mereka berjalan dengan cepat menuju ke lokasi parkir.


Selama berjalan, Dominic sama sekali tidak bicara dengan Elyna. Mereka sama-sama diam karena Dominic sendiri juga sudah tidak tahu harus bicara apa. Dia tidak mau sampai salah bicara dan membuat Elyna curiga. Hingga tiba-tiba saja sebuah kejadian tidak terduga terjadi.


Dominic menahan langkah kakinya ketika ia tahu ada seseorang yang sedang mengarahkan senjata apinya ke arah mereka. Dengan sigap pria itu menarik tangan Elyna dan membawanya untuk tiarap. "Awas!" Bersamaan dengan itu, suara tembakan terdengar dengan jelas.


DUARRR DUAARR