Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Kakak Ipar



"Kak Elyna, Ini kamar kakak. Kakak istirahat saja di dalam. Aku tahu Kakak pasti sangat kelelahan selama perjalanan menuju ke sini," ucap Faith sembari menunjukkan kamar yang akan ditempati oleh Elyna selama wanita itu tinggal di sana.


"Terima kasih Faith. Tapi aku tidak mau istirahat. Aku ingin bertemu dengan Dominic lagi," jawab Elyna sambil tersenyum malu.


Faith langsung saja merangkul lengan Elyna untuk meledek. "Memang kalau lagi kasmaran kita tidak mau ya jauh-jauh dari pria yang kita cintai. Aku juga sudah pernah merasakan posisi yang sekarang Kak Elyna rasakan. Bahkan sampai setelah menikah dan hamil juga aku masih merasakan hal yang sama. Aku tidak mau jauh-jauh dari Kak Zion. Aku ingin selalu ada di sampingnya. Tetapi sekarang Kak Dominic ingin bertemu dengan papa. Sepertinya mereka akan membahas pernikahan Kak Dominic dan juga Kak Elyna. Jadi sebaiknya kita tidak mengganggu mereka. Jika Kak Elyna tidak mau istirahat, temani aku memetik buah saja bagaimana?" Faith berusaha untuk membuat calon kakak iparnya agar tetap merasa nyaman selama berada di kediamannya.


Tanpa banyak bicara lagi, Elyna segera mengangguk setuju. Dua wanita itu pergi menuju ke halaman belakang. Di luar pagar ada banyak sekali tanaman yang sedang berbuah. Faith akan mengajak kakak iparnya untuk memetik buah yang ada di sana.


"Faith, sebenarnya Dominic itu pria yang seperti apa? Kira-kira makanan kesukaannya apa? Lalu hal-hal apa saja yang tidak ia sukai?" tanya Elyna ingin tahu. Sebentar lagi mereka akan menikah. Elyna ingin menjadi istri yang sempurna di mata Dominic.


Faith menahan langkah kakinya lalu memandang wajah Elyna. "Kak Dominic menyukai semua makanan yang Kak Elyna masak."


"Tapi aku tidak pintar memasak," jawab Elyna dengan wajah sedih. "Itu berarti Dominic tidak akan pernah bahagia selama menikah denganku, karena aku tidak pandai memasak." Di detik itu Elyna baru sadar kenapa selama ini Letty terus saja memaksanya untuk menjadi wanita seutuhnya yang pintar memasak dan pintar berias. Elyna merasa menyesal karena pernah mengabaikan keinginan sederhana orang tuanya itu.


"Kak Elyna tidak perlu sedih seperti itu. Nanti aku akan mengajari Kak Elyna memasak. Kak Elyna tenang saja. Hal yang paling dibenci oleh kak Dominic adalah berbohong. Mulai sekarang sebaiknya Kak Elyna buang jauh-jauh sifat buruk itu. Apapun keadaannya sebaiknya Kak Elyna katakan saja yang sebenarnya. Jangan menutupinya dan terus berbohong di depan Kak Dominic."


Elyna mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan mengingat semua perkataanmu. Terima kasih Faith karena sudah membantuku. Sekarang ayo kita pergi memetik buah. Aku juga sudah tidak sabar memakan buah langsung dari pohonnya."


"Buahnya ada di luar pagar. Sebenarnya itu adalah pohon liar. Aku harus mengambil jaket dulu sebelum keluar karena udara di sana sangat dingin. Apakah Kak Elyna tidak mau menggunakan jaket?"


"Tidak. Aku sudah terbiasa dengan suhu dingin."


"Baiklah kalau begitu tunggu Aku di sini. Aku akan segera kembali." Faith segera masuk lagi ke dalam rumah. Wanita itu melangkah menuju kamar tidurnya untuk mengambil jaket. Karena dalam keadaan hamil baik tidak bisa melangkah lebih cepat dari biasanya.


Elyna memandang keluar pagar. Wanita itu mengernyitkan dahi ketika melihat sosok yang sangat ia kenali berdiri di luar sana. Namun ia terlihat ragu. Dia masih tidak percaya kalau Pangeran Denzel juga ada di sekitar rumah. Untuk memastikan kalau apa yang ia lihat memang benar Pangeran Denzel apa bukan. Pada akhirnya wanita itu segera keluar dari pagar. Dia ingin menyapa pria itu dan melihat wajahnya dari jarak yang begitu dekat.


"Apa mereka hanya mirip saja? Tapi tidak mungkin. Aku yakin pria ini benar-benar Pangeran Denzel," gumam Elyna di dalam hati. Wanita itu terus saja melangkah mendekati pria yang kini berdiri di pinggiran jalan dengan posisi membelakanginya. Pria itu seperti sedang menunggu seseorang.


"Permisi," sapa Elyna dengan suara ragu-ragu. Mendengar suara Elyna membuat pria itu segera memutar tubuhnya. Mereka berdua sama-sama kaget karena tidak menyangka akan bertemu di tempat seperti ini.


"Kenapa Elyna bisa ada di sini? Apa ini sebuah kebetulan lagi?" gumam Pangeran Denzel di dalam hati.


"Pangean, Apa benar ini anda?" tanya Elyna tidak percaya.


"Elyna, Kenapa kau bisa ada di sini. Lalu rumah siapa ini?" Pangeran Denzel memandang rumah mewah yang ada di hadapannya.


"Ini rumah Faith adiknya Dominic," jawab Elyna apa adanya. Wanita itu memandang ke arah rumah sejenak sebelum memandang wajah Pangeran Denzel lagi. "Apa kabar? Apa semua baik-baik saja! Bagaimana keadaan Istana setelah kejadian itu?"


Pangeran Denzel berdehem pelan sebelum memalingkan wajahnya. "Tidak lama lagi aku akan dilantik menjadi seorang Raja. Mereka memintaku untuk segera mencari istri untuk menduduki posisi Ratu."


"Lalu apa pangeran sudah menemukannya?" tanya Elyna ingin tahu.


"Sudah," jawab Pangeran cepat. Hal itu membuat Elyna mengangguk dengan napas yang lega. "Tapi sayangnya wanita itu sudah menjadi milik pria lain."


Mendengar lanjutan kalimat yang diucapkan oleh Pangeran Denzel membuat Elyna mematung. Wanita itu tahu kalau sosok yang dimaksud oleh Pangeran Denzel adalah dirinya sendiri.


Awalnya Pangeran Denzel sangat bahagia ketika bertemu dengan Elyna lagi. Tetapi sekarang justru pria itu merasa sedih kembali. Ia harus merasakan yang namanya patah hati di cinta pertamanya. Walaupun begitu Pangeran Denzel tetap menerima kekalahannya dengan lapang dada.


"Jangan lupa undang aku nanti. Aku juga ingin memberikan ucapan selamat atas pernikahan kalian berdua." Pangeran Denzel berusaha mengukir senyuman meskipun senyuman itu adalah senyuman terpaksa.


Elyna mengangguk pelan. Wanita itu memandang ke arah rumah lagi. Dia merasa Faith terlalu lama. Padahal wanita itu hanya mengambil jaket saja. Hingga tanpa disadari oleh Elyna tiba-tiba saja Pangeran Denzel melangkah mendekat. Tanpa permisi pria itu memeluk Elyna dengan erat.


"Pangeran, Apa yang anda lakukan? Cepat lepaskan saya." Elyna berontak. Dia ingin Pangeran segera melepas tubuhnya. Wanita itu takut sampai kejadian ini dilihat oleh Dominic dan membuat pria itu salah paham lagi.


"Sebentar saja. Bibirku mungkin berkata kalau aku siap untuk kehilanganmu. Tetapi sebenarnya hatiku ini sangat rapug. Aku tidak bisa kehilangan lagi. Kemarin aku sudah sangat sedih karena kehilangan orang tua yang begitu berharga dalam hidupku dan aku berpikir kalau rasa kehilangan itu akan segera pergi setelah aku bertemu denganmu. Tetapi ternyata aku salah. Kini justru aku akan kehilangan orang yang berharga lagi di dalam hidupku."


Mendengar cerita Pangeran Denzel membuat Elyna tidak tega. Hingga akhirnya ia diam saja ketika Pangeran Denzel memeluknya.


Namun sayangnya di waktu yang bersamaan Dominic juga sudah ada di sana. Faith khawatir ketika tidak menemukan Elyna di manapun. Hingga akhirnya wanita itu menemui Dominic dan mereka semua berpencar untuk mencari keberadaan Elyna. Tidak disangka kini justru Dominic melihat wanita yang ia cintai sedang berpelukan dengan pria lain tanpa melakukan penolakan sedikitpun.


"Elyna."


Suara Dominic membuat Elyna segera memaksa Pangeran Denzel agar segera melepas pelukannya. Pangeran Denzel melangkah mundur untuk beberapa langkah sebelum memandang ke arah Dominic yang sudah berdiri tidak jauh dari posisi mereka berada.


"Apa kabar Dominic? Sudah lama kita tidak bertemu," siapa Pangeran Denzel sambil tersenyum hangat. Meskipun sudah terbukti salah tetap saja pria itu bersikap seolah-olah tidak ada masalah di sana.


"Dominic, aku bisa menjelaskan semuanya. Kau hanya salah paham saja. Tadi pangeran-"


Dominic mengangkat satu tangannya ia tidak mau Elyna melanjutkan ceritanya. "Jangan jelaskan apapun. Aku tahu kau tidak akan mungkin mengkhianatiku. Aku juga tahu jika di dalam hatimu hanya namaku yang ada di sana." Dominic memandang sinis ke arah Pangeran Denzel.


"Untuk apa Anda datang ke sini? Apakah anda memiliki niat buruk? Anda ingin merebut Elyna lagi dari sisiku?" tuduh Dominic asal saja.


"Aku bahkan tidak tahu jika kalian ada di sini," jawab Pangeran apa adanya. Karena memang sebenarnya seperti itulah yang terjadi. Pangeran Denzel sama sekali tidak tahu kalau Elyna ada di kota kecil tersebut.


"Jangan berbohong. Tidak mungkin ini semua hanya kebetulan saja," jawab Dominic. Pria itu tidak mau percaya.


"Domini, Kenapa kau ini sensitif kali ketika bertemu denganku. Apa kesalahan yang sudah pernah aku perbuat? Bukankah aku sama sekali tidak pernah melukaimu. Apa lagi berniat untuk mencelakaimu? Sejak pertama kali kita bertemu sikapmu sudah dingin seperti ini padaku!" protes Pangeran Denzel.


Elyna segera merangkul lengan Dominic. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk kembali menenangkan hati kekasihnya.


"Pangeran, maafkan kami karena tidak bisa menemani Anda lebih lama lagi. Sepertinya Anda juga sedang menunggu seseorang. Saya yakin anda ada di sini karena ada urusan. Kami harus kembali masuk ke dalam karena keluarga kami sudah menunggu. Permisi!" ucap Elyna. Kali ini wanita itu memaksa Dominic agar ikut masuk dengannya. Elyna tidak mau ada pertengkaran di sana.


Dominic hanya menurut saja ketika Elyna memaksanya masuk. Toh dia juga malas berlama-lama memandang wajah Pangeran Denzel. Ketika sudah tiba di dalam rumah, Dominic memalingkan wajahnya. Dia masih memperlihatkan sikap marah dan cemburu akibat pelukan yang dilakukan oleh Pangeran Denzel tadi. "Bagaimana rasanya ketika tubuhmu dipeluk oleh pria lain? Apa rasanya begitu hangat?" ujar Dominic tanpa memandang.


"Tentu saja rasanya hangat. Apalagi tadi Pangeran memelukku ketika cuaca sangat dingin," jawab Elyna cepat. Hal itu membuat Dominic menatap sinis ke arahnya. Namun dengan cepat Elyna tertawa. Dia menarik kedua pipi kekasihnya dengan begitu kuat. "Sayang, jika kau cemburu seperti ini kau terlihat semakin tampan. Sering-seringlah cemburu agar aku merasa sangat dicintai," ucap Elyna dengan suara manisnya.


Dominic mendengus kesal sebelum memeluk Elyna. Pelukannya sangat erat sampai-sampai Elyna kesulitan untuk bernapas. "Dengarkan aku. Hanya aku yang boleh memelukmu. Hanya aku yang boleh menyentuh tubuhmu ini. Sekali lagi jangan biarkan orang lain terutama pria memelukmu. Jika mereka memaksa, bunuh saja. Bukankah selama ini kau selalu membawa senjata?" bisik Dominic.


Elyna tersenyum mendengarnya. Wanita itu memejamkan mata untuk merasakan kehangatan yang kini diberikan oleh Dominic kepadanya. "Tadinya aku merasa bersalah karena sudah membiarkan tubuhku ini untuk dipeluk oleh Pangeran Denzel. Tetapi ternyata dibalik itu semua ada hikmah yang begitu besar. Sekarang aku semakin percaya kalau Dominic benar-benar mencintaiku. Hanya saja memang caranya berbeda dari pria lain ketika ia menunjukkan rasa cinta itu," gumam Elyna di dalam hati.