
"Mommy! Mommy!" teriak Elyna hingga membuat suaranya memenuhi seisi rumah. Wanita itu masuk ke dalam rumah dan melangkah dengan begitu gusar. Wajahnya sudah tidak bersahabat lagi. Kali ini dia akan memaksa ibu kandungnya untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi.
"Mommy!" teriaknya lagi. Kali ini lebih kuat karena Letty tidak juga muncul.
"Elyna! Kenapa kau berteriak!" Miller berdiri di dekat guci keramik besar. Pria itu menatap Elyna dengan wajah tidak suka. Meskipun amnesia, tetap saja putrinya selalu menunjukkan wajah yang menyebalkan.
"Tidak perlu Mommy. Daddy juga pasti tahu tentang kehidupanku sebelum amnesia," batin Elyna. Wanita itu langsung saja menghampiri Miller yang masih berdiri menunggunya. "Dimana Mommy, Dad? Aku butuh Mommy."
"Sebenarnya ada apa?" Miller merendahkan nada bicaranya.
"Aku baru saja datang ke mall yang diceritakan oleh Mommy. Aku memasuki beberapa toko yang Mommy bilang adalah toko langgananku. Aku tiba di tempat itu semua pelayan yang ada di sana memandangku seperti pelanggan baru. Aku merasa yakin kalau Mommy sudah membohongiku. Selama ini penampilanku tidak seperti yang Mommy ceritakan bukan? Aku yakin Daddy pasti mengetahui sesuatu. Cepat bantu aku untuk mengingat semuanya. Aku tidak mau dibodoh-bodohi Mommy seperti ini." Dari raut wajah Elyna saja Miller sudah tahu kalau putrinya sangat kecewa. Entah seperti apa jadinya jika dia sampai bertemu langsung dengan Letty.
"Sudah kubilang cepat atau lambat Elyna pasti akan mengetahuinya. Jika sudah seperti ini aku harus bagaimana?" gumam Miller di dalam hati.
Elyna merangkul dengan Miller lalu menatapnya dengan tatapan penuh harap. "Daddy ... please."
"Sebenarnya kau ini wanita yang tomboy. Sejak dulu Mommymu menginginkan anak perempuan yang feminim. Jadi dia memanfaatkan amnesia mu ini untuk mengubahmu menjadi wanita yang feminim. Kalau menurut Daddy, Mommymu sama sekali tidak bersalah. Dia hanya ingin yang terbaik untukmu Elyna. Daddy harap kau tidak menyalakan Mommy atas kesalahan yang baru saja dia perbuat. Tidak ada di dunia ini seorang ibu yang ingin mencelakai apalagi menyusahkan putrinya. Suatu saat nanti ketika kau sudah menjadi seorang ibu kau akan mengerti apa tujuan Mommy melakukan semua ini kepadamu." Miller terlihat sangat bijaksana. Padahal sebenarnya yang terjadi, dia tetap berusaha membela istrinya.
Elyna yang tadinya ingin marah langsung terdiam. Penjelasan Miller membuat hatinya sedikit tenang. Sekarang rasa penasaran yang selama beberapa hari ini mengganggu pikirannya telah terjawab sudah. "Pantas saja aku selalu tidak nyaman jika menggunakan pakaian yang ada di lemari. Aku merasa pakaian itu bukan milikku." Elyna kembali ingat dengan perusahaan yang sempat diucapkan oleh Dominic. Lagi-lagi wanita itu memandang Ayah kandungnya. "Lalu bagaimana dengan perusahaan yang dikatakan oleh Dominic. Tadi kami sempat bertemu, lalu Dominic bilang kalau selama ini aku memang berpenampilan cantik. Terutama ketika aku berada di perusahaan."
"Beberapa bulan ini kau mengurus perusahaan nenekmu yang bernama Sonia. Awalnya kau menolak untuk berada di perusahaan itu tetapi lama-kelamaan kau mulai menyukainya. Daddy dan Mommy sengaja tidak membahas soal perusahaan agar kau bisa istirahat di rumah. Nanti ketika kondisimu sudah benar-benar pulih Mommy dan Daddy berencana untuk menceritakan soal perusahaan itu lagi. Sekarang biar Daddy menghandle perusahaan itu. Kau tidak perlu memikirkannya lagi."
"Selama ini apa aku pernah dekat dengan seorang pria. Sebenarnya seperti apa hubunganku dengan Dominic. Kenapa aku merasa sangat dekat dengannya tetapi aku selalu ingin marah saja jika ada di hadapannya." Elyna memandang ke arah lain sembari membayangkan wajah Dominic.
Elyna mengangguk. "Ya, memang kelihatan jelas kalau dia adalah pria yang baik. Tapi entah kenapa aku selalu saja merasa ada sesuatu yang membuatku ingin marah ketika bertemu dengannya." Elyna memandang ke arah Miller lagi. "Aku ingin istirahat di kamar. Terima kasih atas penjelasannya Daddy. Setidaknya sekarang aku sudah jauh lebih tenang. Tolong jangan sering-sering membohongiku karena itu hanya akan membuat perasaanku menjadi tidak nyaman dan rasa kepercayaanku terhadap Daddy dan Mommy berkurang." Elyna segera melepas rangkulannya di lengan Miller dan segera berlari menuju ke kamarnya. Sedangkan Miller justru mengintip ke balik dinding. Dia tahu sejak tadi Letty mengupingnya di balik sana.
"Sekarang apa kau masih memiliki niat untuk membohonginya. Aku sudah bilang meskipun dia amnesia tapi dia tetap Putriku yang cerdas. Kita tidak seharusnya membohongi Elyna."
Letty keluar dari tempat persembunyian lalu mengukir senyuman terpaksa di depan Miller. "Bukankah masalahnya sudah beres? Kau sudah menjelaskan semuanya dan sekarang Elyna tidak lagi marah padaku."
Miller berjalan menghampiri Letty. "Apa kau masih belum merasa bersalah karena sudah membohongi putrimu sendiri?"
"Dia juga sering membohongi kita jadi apa bedanya. Justru tiba-tiba saja aku kepikiran untuk menjodohkan Dominic dengan Elyna. Di saat seperti ini mereka sangat dekat. Aku akan cari cara agar bisa segera timbul rasa cinta di antara mereka."
"Elyna belum sembuh total, sebaiknya jangan memaksanya melakukan hal-hal yang menurutmu benar. Jika memang Elyna dan Dominic berjodoh, mereka pasti akan bersatu. Sekarang ayo temani aku ke belakang. Aku ingin memberi makan ikan." Miller menggandeng pinggang Letty lalu membawanya menuju ke arah pintu kaca yang ada di samping. Meskipun dia tahu kalau perbuatan istrinya salah tetapi tidak ada sedikitpun rasa marah di dalam hatinya terhadap Letty. Pria itu benar-benar sangat mencintai istrinya.
...***...
Elyna baru saja selesai mandi. Karena tidak ada baju lain, malam itu dia terpaksa memakai gaun berwarna putih yang tersedia di dalam lemari. Sebentar lagi adalah jadwal makan malam. Bahkan pelayan juga sudah memanggilnya untuk mengatakan kalau makanan di bawah telah siap dihidangkan. Malam ini Miller dan letty tidak ada di rumah karena mereka harus menghadiri beberapa urusan selama beberapa hari.
"Sepertinya tidak buruk memakai gaun. Aku berpenampilan seperti ini pasti akan membuat Mommy senang. Kapan lagi aku menyenangkan hati Mommy?" gumam Elyna di dalam hati. "Wanita itu membuka laci untuk memeriksa isi di dalamnya. Selama beberapa waktu ini hanya laci tersebut yang belum ia periksa. Elyna terlihat kaget ketika ia melihat tulisan Las Vegas. Lagi-lagi rasa penasaran di dalam hatinya muncul.
"Ada apa dengan Las Vegas? Kenapa aku harus menulis kata Las Vegas di mana-mana. Bahkan isi laci ini dipenuhi dengan kata Las Vegas dan foto-foto ini?" Letty mengangkat salah satu foto dan memandangnya dengan serius. "Apa seperti ini kota Las Vegas?"