
Letty tersenyum bahagia melihat putrinya pulang. Sudah sejak lama ia menantikan kepulangan Elyna. Tetapi wanita tangguh itu terus saja mengulur waktu. Ada banyak sekali masalah yang ia alami setelah Ia memutuskan untuk berpacaran dengan Dominic. Dan Letty berusaha untuk memakluminya dan menekan rasa rindu yang selalu saja menyiksanya.
"Elyna sayang, akhirnya kau pulang juga. Mommy sangat merindukanmu. Mommy pikir kau sudah tidak ingat pulang lagi." Letty segera memeluk Elyna dengan begitu erat. Wanita itu mengecup pipi kanan dan kirinya karena sangat rindu.
"Mommy, aku juga sangat merindukan Mommy. Bagaimana kabar Mommy? Apa Mommy sehat-sehat saja?"
"Seperti yang kau lihat. Mommy sakit karena terlalu merindukanmu. Tetapi setelah bertemu denganmu Mommy merasa jauh lebih baik," jawab Letty. Dia mengusap lagi punggung putrinya karena terlalu bahagia.
Elyna memandang Ayah kandungnya yang juga berdiri di sana. Pria itu segera membuka tangannya dan memeluk putrinya dengan penuh kerinduan. "Daddy senang mendengar kabar kalau kau tidak amnesia lagi."
"Daddy kelihatan semakin tua," ledek Elyna sembari memeluk Miller.
"Daddy semakin tua karena terlalu banyak memikirkanmu," jawab Miller. Pria itu melepas pelukannya lalu memandang wajah Elyna yang terlihat sedikit kurusan. "Apa Kau sering terlambat makan? Kenapa wajahmu semakin kecil seperti ini?"
"Daddy jangan mempermasalahkan wajah dan berat badanku. Kenapa sejak tadi keluarga calon suamiku tidak mendapat sambutan dari Daddy dan juga Mommy?"
Letty dan Miller mengangkat kepala mereka dan memandang ke depan. Karena terlalu merindukan Elyna sampai-sampai mereka tidak menyadari kehadiran Zean dan yang lainnya di depan sana.
"Zean, maafkan aku. Aku terlalu merindukan putriku sampai-sampai tidak menyadari kehadiranmu di sini."
"Ya, aku bisa memahaminya," jawab Zean sambil tersenyum.
Letty memandang ke arah Dominic, Zion dan juga Faith. Namun wajah wanita itu terlihat bingung ketika melihat sosok yang begitu asing baginya. "Elyna, Apa itu Pangeran Denzel yang pernah kau ceritakan kepada Mommy?" tanya Letty dengan nada berbisik agar yang lainnya tidak mendengar.
"Ya mom. Kak Denzel yang akan mengurus segala keperluan pernikahan kami nanti," jawab Elyna. Sejak tadi wanita itu tidak bisa mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Hanya Dominic satu-satunya pria yang sejak tadi ia pandang.
"Elyna, bawa Dominic dan yang lainnya masuk ke dalam. Mommy akan ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk kita semua." Letty merangkul lengan Miller dan masuk bersama dengan suaminya. Bersamaan dengan itu Elyna juga membawa Dominic dan yang lainnya masuk ke dalam. Beberapa pelayan terlihat sibuk membawa barang bawaan Elyna dan juga yang lainnya.
"Kak Elyna, aku tidur di kamar bawah ya," minta Faith. Wanita itu kini merangkul lengan calon kakak iparnya."
"Ya. Aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan kamar bawah untukmu dan Zion. Tetapi kamar Dominic dan Kak Denzel ada di atas. Rumah ini memiliki kamar yang banyak yang diletakkan di lantai dua. Kalau di bawah hanya ada beberapa kamar saja," jelas Elyna apa adanya. Wanita itu juga memperkenalkan beberapa pelayan terbaik yang bekerja di rumahnya kepada Faith. "Nanti ketika kau butuh sesuatu tanyakan saja kepadanya. Dia pasti akan melayanimu dengan sebaik mungkin. Pelayan itu merupakan pelayan kepercayaan Mommy dan aku juga. Hasil kerjanya tidak pernah mengecewakan," puji Elyna sambil tersenyum.
Faith mengangguk setuju. Wanita itu memandang suaminya yang kini masih asik mengobrol dengan Miller dan juga Zean. "Kalau begitu aku masuk duluan ke kamar. Beri tahu Kak Zion dimana kamar kami."
"Oke," jawab Elyna. Wanita itu segera menghampiri Dominic dan juga Pangeran Denzel. Elyna ingin mengantarkan mereka ke kamar. Semua orang harus istirahat sejenak dan bersiap-siap sebelum makan malam tiba.
"Kenapa kalian berdua mematung seperti ini? Ayo ikat denganku naik ke lantai atas. Kamarku juga ada di atas. Kamar yang lain ada di bawah," ucap Elyna.
Dominic memasukkan satu tangannya ke dalam saku dan memperhatikan wajah Elyna dengan seksama. "Kenapa kau memandangku seperti itu? Apa kau juga ingin bilang kalau aku terlihat kurusan?" protes Elyna dengan wajah cemberut.
"Aku ingin bilang kalau semakin hari kau semakin cantik Elyna," puji Dominic hingga membuat wajah Elyna memerah karena malu.
"Kalian ini! Apa tidak bisa sebelum bermesraan melihat situasi dulu. Kalau begitu aku duluan naik ke lantai atas," ujar Pangeran Denzel. Pria itu segera berjalan menuju ke tangga. Dia tidak mau terlalu lama berada di sisi Dominic dan Elyna karena mereka berdua hanya membuatnya iri saja.
"Kau sudah membuat Kakak angkatku marah Elyna sayang," ucap Dominic. Pria itu merangkul pinggang Elyna lalu mengajaknya naik ke lantai atas. Elyna sendiri hanya tertawa saja mendengarnya.
Setelah semua orang masuk ke dalam kamar masing-masing untuk istirahat sejenak, di saat itu juga Letty dan Miller sedang sibuk di dapur untuk mengatur para pelayan yang akan menyiapkan makan malam. Setelah acara makan malam selesai mereka semua akan berkumpul untuk membahas pernikahan antara Elyna dan Dominic. Letty ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga suami putrinya.
"Sayang, semua makanan sudah lengkap. Apa kita akan menunggu mereka di sini? Apa kita tidak perlu ganti pakaian?" tanya Miller bingung.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa semakin tua kau tidak lagi memperhatikan penampilanmu. Bukannya aku menuntutmu agar kembali cantik seperti muda dulu. Tetapi aku tidak mau dipandang sebagai suami yang gagal mengurus istrinya. Sekarang ayo kita ke kamar dan mandi. Mereka semua juga pasti akan mandi dan ganti pakaian. Pakaian yang kita kenakan ini sudah berbau tidak sedap."
Letty tertawa mendengar perkataan suaminya. Walaupun begitu dia tidak mau banyak protes. Letty segera mengikuti Miller berjalan menuju ke kamar.
...***...
Elyna mengeluarkan semua pakaian yang ia miliki. Wanita itu kelihatan bingung. Dia tidak tahu harus memakai baju yang mana. Semua gaun yang pernah disiapkan oleh Letty di dalam lemari telah hilang. Kali ini Elyna benar-benar kesal dengan keputusan yang diambil oleh ibu kandungnya.
"Sebenarnya apa yang Mommy pikirkan! Ke mana baju-baju yang sudah ada di lemari? Kenapa Mommy membuangnya begitu saja tanpa izin dariku!"
Elyna segera keluar dari kamarnya. Sebelum berlari menuju ke tangga ia memperhatikan keadaan sekitar. Setelah melihat tidak ada orang di sana wanita itu segera berlari untuk turun ke bawah. Dia ingin mendatangi Letty dan meminta bantuan ibunya untuk berubah menjadi wanita yang cantik malam ini.
Di dalam kamar, Letty terlihat sibuk merapikan dasi yang dikenakan oleh Miller. Sesekali terdengar tawa mereka. Suara ketukan pintu membuat mereka berdua saling memandang dengan wajah penuh tanya. Belum juga memberi izin untuk masuk tiba-tiba saja pintu kamar itu sudah terbuka dan Elyna masuk ke dalam kamar.
"Mommy buang ke mana semua gaun yang ada di dalam lemariku?" protes Elyna. Wanita itu duduk di atas tempat tidur. Dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Wanita itu hanya tahu kalau kini semua gaun-gaun indah yang pernah tersusun di lemari telah tilang dan entah diletakkan di mana.
"Bukankah kau tidak suka dengan gaun-gaun yang pernah Mommy pilihkan? Jadi Mommy memberikan gaun itu kepada orang lain. Saat kau menghubungi Mommy dan mengatakan kepada Mommy kalau kau tidak amnesia lagi, Mommy mengambil keputusan seperti itu. Mommy takut ketika pulang nanti kau hanya marah-marah saja dan menjadikan gaun-gaun itu sebagai alasan untuk menyalahkan Mommy karena sudah terlalu banyak membohongimu ketika kau amnesia."
"Kenapa Mommy membuangnya? Sekarang aku harus pakai baju apa?" ujar Elyna dengan wajah frustasi. "Aku tidak akan sempat lagi untuk membeli baju di butik. Acara makan malam juga sebentar lagi akan segera dimulai. Aku yakin yang lainnya sudah bersiap-siap dan kini akan segera menuju ke meja makan. Jika Mommy ingin membuangnya seharusnya Mommy katakan dulu padaku. Jadi aku bisa menyiapkan gaun lain untuk aku pakai malam ini."
Kali ini Elyna benar-benar marah. Dia ingin terlihat cantik di depan Dominic. Tidak lagi berpenampilan tomboy seperti biasanya. Bahkan Wanita itu sudah terbiasa memakai hak tinggi. Semua itu ia lakukan demi terlihat sempurna di depan calon suaminya.
"Sayang, maafkan Mommy. Mommy tidak ada niat sedikitpun untuk membuatmu sedih seperti ini." Letty segera duduk di samping Elyna. Miller yang juga ada di sana merasa bersalah karena tidak bisa mencegah istrinya untuk membuang semua pakaian yang ada di lemari. Sebenarnya Miller sendiri juga tidak bisa menyalahkan istrinya. Dua wanita yang ada di hadapannya itu memiliki pemikiran masing-masing.
"Begini saja, Mommy punya sebuah gaun yang menurut Mommy sangat cocok untuk kau kenakan. Mommy menyimpan gaun ini karena Mommy menggunakan gaun itu saat pertama kali makan malam dengan Daddy mu. Demi menyimpan kenangan yang ada Mommy tidak mau memakai gaun itu lagi dan menyimpannya dengan rapi di dalam lemari. Mommy rasa berat badan kita sama. Kau pasti cocok untuk mengenakannya."
Tanpa banyak bicara lagi Elyna segera melangkah menuju ke lemari. Dia mengambil kotak berisi gaun yang sudah lama tersimpan rapi di bawah sana. Wanita itu membawanya untuk ditunjukkan di depan Elyna.
"Mommy yakin gaun ini cocok di tubuhku?" tanya Elyna ragu meskipun Letty belum juga membuka kotaknya.
"Mommy sangat yakin kalau gaun ini pasti pas di tubuhmu. Tetapi Mommy tidak yakin kalau kau menyukainya. Bukankah sejak dulu selera kita tidak pernah sama?"
Letty segera membuka kotak tersebut. Dia tersenyum bahagia melihat gaun berwarna hitam yang terlipat rapi di dalam sana. Wanita itu segera mengangkat gaunnya dan memperlihatkannya di hadapan Elyna. Pertama kali melihat gaun itu Elyna langsung takjub. Wanita itu beranjak dari tempat tidur dan memegang gaun itu dengan begitu hati-hati.
"Mommy, gaun ini bagus sekali. Aku ingin segera mengenakannya," ucap Elyna dengan wajah penuh antusias. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk melihat penampilannya setelah memakai gaun tersebut.
"Ya Mommy akan menyihirmu menjadi wanita paling cantik malam ini. Sekarang pergilah ke kamar mandi dan pakai gaun ini. Setelah itu Mommy akan membantumu untuk berhias."
Elyna mengangguk cepat. Wanita itu memeluk gaun hitam tersebut Lalu membawanya ke kamar mandi. Letty terlihat jauh lebih lega sekarang. Wanita itu memandang Miller yang tersenyum penuh arti.
"Kenapa kau masih berdiri di sini? Cepat pergi ke meja makan dan ajak mereka mengobrol jika mereka sudah tiba di sana. Aku yakin Elyna pasti muncul terakhir karena dia harus berhias terlebih dahulu."
"Aku masih tidak menyangka kalau jatuh cinta bisa membuatnya berubah total seperti ini," ucap Miller. Pria itu memandang ke arah Letty lagi. "Bukankah dia sangat mirip denganmu. Dulu kau juga sulit untuk diatur dalam hal penampilan. Tetapi lama-kelamaan seleramu berubah dan kau mulai suka untuk memakai gaun."
"Dia putriku jelas saja dia mirip denganku. Cepat pergi dari sini. Elyna akan segera keluar dan aku harus membantunya berhias. Bukankah kau juga sudah rapi?"
Miller mengecup pucuk kepala Letty sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar. Sedangkan Letty berjalan menuju ke kamar mandi untuk memeriksa putrinya di dalam sana.