Love In Las Vegas

Love In Las Vegas
Happy Ending



Dominic duduk di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Pria itu sedang menunggu istrinya yang masih mandi. Meskipun sudah hampir pagi, tetap saja Elyna dan Dominic memutuskan untuk mandi sebelum tidur. Mereka merasa tubuh mereka sangat lengket karena terlalu banyak beraktivitas hari ini.


"Kenapa lama sekali?" protes Dominic. Dia meletakkan ponselnya di atas nakas lalu berjalan ke kamar mandi. Sebelum memanggil Elyna, Dominic menahan langkah kakinya melihat tiket bulan madu yang ada di atas meja. Paket bulan madu itu adalah hadiah dari Zean. Sebagai ayah dia juga tidak mau kalah dari yang lain. Pria itu ingin memberikan hadiah yang berkesan untuk putranya.


"Besok aku dan Elyna sudah berangkat untuk bulan madu. Sepertinya sangat mendadak sekali. Padahal kami masih ingin istirahat di rumah ini," gumam Dominic di dalam hati. Pria itu kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ke kamar mandi tempat Elyna berada.


"Sayang, apa kau baik-baik saja di dalam sana? Kenapa lama sekali?"


Tiba-tiba saja pintu terbuka. Elyna berdiri di depan pintu dengan handuk melilit di dadanya. Ia terlihat sangat cantik dan seksi. Dominic benar-benar tergoda ketika melihat penampilan Elyna malam itu. Satu alisnya terangkat ke atas.


"Sayang, kau sangat cantik. Apa kau sengaja berpenampilan seperti ini karena ingin menggodaku?" Dominic mengecup bibir Elyna dengan lembut. Pria itu tahu kalau penampilan istrinya sudah memberikan kode kalau malam ini mereka tidak sekedar tidur saja. Ada kegiatan lain yang harus mereka selesaikan. Yang pastinya mereka akan bersenang-senang sampai pagi.


Elyna membalas ciuman Dominic. Cukup lama mereka berciuman di sana. Hingga tidak lama kemudian, Elyna merasa kalau saat itu Dominic mengangkat tubuhnya dan membawanya terbang. Dominic membawa Elyna ke tempat tidur. Pria itu membaringkan tubuh Elyna di sana sebelum kembali melanjutkan cumbuannya.


"Sayang, apa aku boleh ...." Dominic butuh persetujuan Elyna walau saat itu dirinya sudah dipenuhi dengan hasrat yang membara. Hanya sekali tarik saja maka tubuh polos itu akan terpampang dengan indah di hadapannya.


Elyna mengangguk perlahan. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher jenjang Dominic . Ia kembali mencium bibir Dominic dan memejamkan mata. Rasanya sudah tidak ada lagi rasa malu-malu. Kali ini Elyna bersikap dewasa. Dia memang ingin memberikan kebahagiaan yang sempurna untuk suaminya.


Dominic yang sudah tidak tahan mulai menurunkan bibirnya di leher jenjang Elyna. Dalam sekejap Elyna membuka kedua matanya. Wanita itu merasa ada getaran aneh yang membuatnya merasa geli.


"Tidak, Dominic !" Elyna tiba-tiba mendorong tubuh Dominic dengan sekuat tenaganya. Dia duduk dan menarik handuk yang tergeletak di lantai lalu memakainya. "Aku harus memeriksanya," ujar Elyna sebelum berlari dan masuk lagi ke kamar mandi.


"Sayang, ada apa?" teriak Dominic geram. Hasratnya sudah di ubun-ubun tetapi kini justru istrinya kabur.


Dominic duduk di atas tempat tidur dengan wajah kecewa. Walau begitu, Dominic kembali menenangkan pikirannya. Ia terus saja menebak-nebak kira-kira apa yang dipikirkan istrinya sampai-sampai wanita itu berubah pikiran dan lari ke kamar mandi. Bahkan Dominic belum sempat untuk membuka pakaiannya sendiri.


Di dalam kamar mandi, Elyna memandang pantulan dirinya di depan cermin. Ia mencuci mukanya dengan air agar kembali segar. Ternyata wanita itu menangis. Entah apa yang sudah membuatnya sampai menangis seperti itu.


"Aku sudah mempersiapkan semuanya sejak kemarin. Aku ingin memberikan yang terbaik untuknya di malam pertama kali. Bahkan aku sudah memperhitungkan waktunya hingga berulang kali. tetapi pada akhirnya aku gagal. Ini sangat memalukan. Aku yakin Dominic pasti sangat kecewa padaku."


Elyna kembali membayangkan saat Dominic mencium lehernya. Wanita itu memegang lehernya dan merasakan sensasi yang aneh di sana. Hubungannya dengan Dominic selama ini hanya sebatas ciuman bibir saja. Elyna dan Dominic tidak pernah melebihi batas. Dominic benar-benar pria baik yang mau menjaga wanitanya.


"Apa yang kini dipikirkan Dominic ?" gumam Elyna di dalam hati. Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka. Dominic masuk dan berdiri di ambang pintu. Ia melihat wajah Elyna yang berada di cermin. Bibirnya tersenyum seolah tidak terjadi masalah.


"Apa wajahmu sudah jauh lebih segar?" tanya Dominic dengan tatapan yang tenang. "kau masuk ke dalam kamar mandi hanya ingin cuci muka?"


Elyna hanya diam. Ia terlihat gugup karena merasa bersalah. Hingga tiba-tiba saja kepalanya menunduk. Memandang wastafel yang ada di depannya.


"Maafkan aku," lirih Elyna tanpa berani memandang Dominic.


"Apa yang salah? Kita baru saja menikah. Tidak ada yang melakukan kesalahan di sini," ucap Dominic dengan serius.


"Berhentilah berpura-pura. Aku tahu betapa kecewanya kau malam ini. Aku tahu kalau tadi kau sudah sangat menginginkannya."


"Ya memang aku sudah sangat menginginkannya. Tetapi jika istriku belum siap aku tidak bisa memaksanya," jawab Dominic.


"Bukan tidak siap. Tetapi aku ...."


Dominic menunggu Elyna menyelesaikan kalimatnya. Namun, Elyna bukan menyelesaikan kalimatnya melainkan memutar tubuhnya dan memandang wajah Dominic dengan sedih.


"Aku datang bulan. Baru saja," ujar Elyna dengan wajah frustasi.


Dominic melipat tangannya di depan dada. "Hanya karena itu saja kau sampai menangis?"


Dominic segera memeluk Elyna. Pria itu berusaha untuk membuat istrinya agar tidak merasa bersalah lagi.


"Ya. Aku merasa gagal. Aku tidak bisa memberimu malam pertama yang indah."


Cup. Dominic mengecup bibir Elyna hingga wanita itu membisu.


"Itu berarti malam indahnya ketika kita bulan madu. Bukanlah bagus kalau begitu," ucap Dominic dengan senyuman.


Elyna mengeryitkan dahi. "Aku tidak sedang bercanda."


"Dominic!" teriak Elyna.


"Elyna, ayo kita tidur dan lupakan malam ini. Aku tidak meminta apapun. Aku hanya khawatir kau sakit tadi."


Elyna tertegun saat mendengar perkataan Dominic. Suami yang sangat sempurna seperti itulah Elyna menjuluki Dominic. Kedua matanya berkaca-kaca karena terlalu bahagia mendapatkan suami seperti Dominic .


"Tidak bisa. Aku akan jadi istri yang gagal jika-"


Dominic tertawa geli. Ia menarik tubuh Elyna dan memeluknya dengan mesra. "Sayang, kau belum boleh disentuh. Bagaimana mungkin kau menyalahkan takdir?" Dominic mulai protes.


"Dominic, maafkan aku. Tapi aku tidak sengaja." Elyna masih menyesali semua yang terjadi.


Dominic geram mendengar perkataan Elyna hingga pada akhirnya pria itu mengangkat istrinya dan meletakkannya di atas pundaknya.


"Dominic, kau mau membawaku ke mana. Cepat turunkan aku!" protes Elyna.


Tiba-tiba saja Dominic menahan laka kakinya karena dia ingat akan sesuatu. "Apakah kau sudah memakai pembalut?"


Elyna mengernyitkan dahinya sebelum menjawab. "Sudah. Tapi kenapa kau bertanya seperti itu. Cepat turunkan aku. Kepalaku terasa pusing."


Elyna sebenarnya bisa saja turun dengan menggunakan trik bela diri yang ia miliki. Namun, sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukan trik bela diri di malam pertama mereka. Wanita itu ingin terlihat seperti wanita lemah tak berdaya di depan suaminya.


"Tidak akan. Jika aku menurunkanmu sebelum tiba di tempat tidur, maka kau akan terus saja berbicara tidak jelas. Sekarang sudah malam. Sudah waktunya kita tidur. Jadi jangan lagi ucapkan omong kosong yang tidak penting seperti tadi," ucap Elyna sambil berjalan cepat menuju ke tempat tidur. Pria itu melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 4. Mereka harus segera tidur. Jika tidak maka mereka tidak akan bisa bangun dan sarapan pagi bersama dengan keluarga besar mereka nanti.


Dominic meletakkan tubuh Elyna di atas tempat tidur dengan hati-hati. "Aku akan mengambilkan baju tidur di lemari. Tetap di sini. Jangan pergi kemana-mana. Aku tahu pasti perutmu terasa tidak nyaman." Dominic bicara dengan nada mengancam. Namun Elyna tidak marah sama sekali. Justru wanita itu tersentuh mendengar ucapan suaminya. "Kenapa dia baik sekali? Aku benar-benar beruntung karena sudah memiliki suami seperti dia."


Dominic muncul sambil membawa piyama berwarna merah. Pria itu meletakkannya di atas tempat tidur lalu meminta Elyna untuk segera memakainya.


Tanpa banyak bicara lagi Elyna segera mengambil piyama pilihan suaminya lalu memakainya. Malam itu ia terlihat semakin cantik.


"Oke, Sekarang waktunya kita tidur. Kemarilah."


Dominic naik ke atas tempat tidur lebih dulu. Pria itu mengulurkan tangannya untuk dijadikan bantal oleh Elyna. Dia ingin tidur bersama dengan istrinya sambil berpelukan. Momen seperti ini adalah momen yang selalu dinanti-nanti oleh Dominic sebelum mereka sah menjadi suami istri.


Tanpa banyak kata lagi, Elyna segera naik ke atas tempat tidur. Wanita itu berbaring di samping Dominic dan menjadikan lengan pria itu sebagai bantal.


"Sebelum menikah aku sudah sering membayangkan momen seperti ini. Apakah Kau juga memikirkan hal yang sama denganku?" Elyna menahan kalimatnya. Dia membuat usapan lembut di dada bidang Dominic. "Ketika kita berdua berbaring bersama di atas ranjang dan kamar yang sama di rumah kita. Setiap malam kita bercerita satu dua kata hanya untuk bertukar pikiran. Lalu besok paginya kita sama-sama bangun dengan wajah yang ceria. Aku ada di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Kau bangun dan mandi dan mempersiapkan diri untuk bekerja." Elyna terlihat bersemangat menceritakan cerita singkatnya itu.


Dominic mengernyitkan dahi. "Kenapa impianmu itu terdengar sangat membosankan. Aku bukan pria yang bekerja di kantor. Jadi setiap harinya aku tidak akan bangun pagi untuk pergi ke perusahaan. Aku ini pria yang bebas. Apa kau lupa?" protes Dominic tidak setuju.


Elyna memajukan bibirnya. "Aku belum selesai cerita. Kenapa kau sudah protes?"


"Oke baiklah. Lanjutkan ceritanya. Aku akan mendengarkanmu sambil berdoa semoga kau tidak mengatakan kalimat yang aneh-aneh lagi."


Elyna tertawa mendengar perkataan Dominic. "Kau tidak bekerja di perusahaan. Setelah mandi kau mempersiapkan diri untuk bekerja membantuku di dapur untuk memasak. Jadi jangan terlalu percaya diri!" Elyna mencubit perut Dominic.


Dominic tertawa mendengarnya. Pria itu mengecup pucuk kepala Elyna sebelum memeluknya lagi dengan erat. "Sudah malam. Sebaiknya kita segera tidur."


Elyna mengangguk setuju. Wanita itu juga mulai memejamkan mata karena memang tubuhnya sangat lelah saat ini. Dia ingin segera tidur.


Seperti itulah cinta Elyna. Gadis cantik yang jago bertarung itu pada akhirnya melabuhkan hatinya kepada pria yang pernah ia pandang sebagai musuh bebuyutan.


Elyna tidak pernah bisa memungkiri kata-kata yang selalu saja ia ucapkan. Awalnya mereka berdua menolak untuk dijodohkan tetapi pada akhirnya mereka berdua justru saling jatuh cinta. Memang jodoh tidak ada yang tahu.


Terkadang orang yang sangat dekat dengan kita belum tentu menjadi jodoh kita. Sedangkan orang yang selalu bermusuhan dengan kita bisa jadi dialah yang akan menjadi jodoh kita. Hargai setiap orang. Jangan terlalu membenci dan jangan terlalu mencintai. Karena ada banyak sekali kisah yang benci jadi cinta.


"Dominic, jika aku ingat-ingat lagi. Waktu itu kita pernah balapan mobil. Sebenarnya itu tidak di sengaja. Tetapi aku pernah berucap. Siapapun yang melajukan mobil itu maka akan menjadi jodohku. Apa perkataanku itu adalah doa?"


Elyna mengernyitkan dahi ketika Dominic tidak juga merespon perkataannya. Wanita tersenyum manis melihat suaminya sudah tidur. "Pasti dia sangat kelelahan. Selamat tidur suamiku."